Dengarkan Sang Pakar Komodo : Bapa Sastrawan

7 November 2011

“Jelas sekali terlihat behavior Komodo kini berubah karena pengaruh manusia. Setiap datang turis, Komodo diumpani kambing. Hasilnya, Komodo yang terbiasa dekat dekat dengan manusia enggan kembali ke habitatnya – itu justru membahayakan dirinya sendiri. Beruntung kebiasaan diumpani sudah dihentikan,” sahut Prof. Ir. IDP Putra Sastrawan, MAg.Sc, Sang Pakar Komodo.

Kondisi komodo di Pulau Komodo dan sekitarnya cukup sehat. Mereka mendapat lingkungan yang ideal bagi pertumbuhannya. Yakni, cuaca yang panas, gersang, dan hewan-hewan calon mangsa yang harus mereka kejar. Kalau cuaca kurang panas, ia akan kekurangan vitamin D yang berguna untuk menguatkan tulang-tulangnya. Jika Komodo mendapat asupan makanan yang lebih dari cukup, maka tubuh komodo semakin menggembung. Sambungan tulang-tulangnya membengkak. Hal itu diperburuk oleh tubuh yang gembrot, komodo malas bergerak. “Tubuhnya semakin gendut sampai tidak bisa bergerak sama sekali. Dia hanya bisa makan terus sampai akhirnya mati.

Artikel ini asli (tidak aq rubah) dari Ciputraentrepreneurship.com dan okezone.com. Sengaja aq publish kembali di blog ini supaya bisa menambah wawasan tentang pentingnya Komodo dan Habitatnya dijaga supaya tetap asli dan alami, seminim-mungkin ada interaksi dengan manusia luar.
———————————————————————————–alifis@corner

Berkat ketekunannya mengurusi komodo, Prof Putra Sastrawan sangat dikenal di luar negeri. Dia banyak menjadi konsultan kebun binatang yang merawat komodo. Saat ini dia getol mempromosikan komodo sekaligus menjaga kelestariannya. Siapakah dia?

Putra-Sastrawan. Usianya memang sangat senior. Mei tahun depan dia berusia 70 tahun. Rambutnya terlihat tipis dan sudah banyak yang berwarna putih. Anda bisa membandingkannya fotonya di tahun 1998, ketika aq wisuda S1, Beliau saat itu menjabat Dekan FMIPA Univ. Udayana Denpasar. Tapi, semangat Putra untuk mendorong pelestarian komodo melebihi mereka yang masih muda. Apalagi, pengetahuannya sebagai profesor komodo membuat dia disegani, baik di dalam negeri maupun luar negeri. “Komodo itu sudah menjadi bagian dari hidup saya,” kata Putra, baru-baru ini.

Bapak tiga anak itu merupakan salah seorang ahli komodo dari Indonesia yang cukup dikenal di luar negeri. Sebab, dia merupakan salah seorang di antara segelintir orang yang sejak awal merawat komodo. Pada 1969, dia ikut terjun langsung di habitat asli reptil purbakala itu di Pulau Komodo, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Saat itu Putra mendampingi Dr Walter Auffenberg dari Florida State Museum University of Florida. Mereka meneliti kehidupan makhluk buas bernama latin varanus komodoensis itu.

Penelitian berlangsung sekitar tiga tahun. Hasil penelitian itu, Auffenberg menerbitkan buku berjudul Behavioral Ecology of Varanus Komodoensis in Komodo Island and the Adjacent Islands. “Buku itu adalah buku monumental tentang komodo yang pernah diterbitkan. Orang menyebutnya the Bible of Komodo (kitab Injilnya Komodo-Red),” katanya.
Baca entri selengkapnya »


Otak: Pusat Kontrol yang Canggih !!

23 Mei 2009

Otak Manusia sebagai Pusat Kontrol
otak1
Otak manusia memiliki sistem yang mampu menjalankan sejumlah tugas sekaligus pada saat bersamaan. Misalnya, dengan struktur otaknya yang sempurna, seseorang yang sedang mengendarai mobil dapat sekaligus menyetel radio mobilnya dan membelokkan setir dengan mudah. Walaupun sedang melakukan beragam hal secara bersamaan, dia tidak menabrak mobil atau orang lain. Selain itu, dia dapat mengoperasikan pedal gas dengan kakinya. Dia dapat memahami berita yang didengarnya dari radio. Dia dapat menyambung kembali pembicaraannya dari tempat percakapan itu terhenti. Dan, yang terpenting, dia dapat mengarahkan semua hal ini secara sempurna, pada waktu yang bersamaan. Singkatnya, dengan bantuan kemampuan luar biasa otak, seseorang dapat menangani berbagai pekerjaan sekaligus. Kemampuan ini kalau di dunai komputer diadopsi menjadi multitasking, paralel processing, dll. Keselarasan ini dimungkinkan terjadi oleh adanya sambungan antar sel saraf di dalam otak.
Insight magazine menuliskan, Jutaan, bahkan miliaran rangsangan yang sampai ke otak dari dunia luar diterima dan diuraikan di dalam otak dengan serasi, lalu diperiksa dan dinilai. Otak lalu memberi tanggapan yang diperlukan kepada setiap sumber rangsangan. Operasi sistem yang rumit ini terus berfungsi dalam kehidupan seseorang tanpa henti. Keberadaan semua proses inilah yang menjadikan kita mampu melihat, mendengar, serta merasakan; dan kehidupan kita pun terus berlangsung.
otak_co
Salah satu unsur terpenting penyusun sistem sempurna di dalam otak adalah sel-sel saraf, yang berjumlah hampir mendekati angka 10 miliar. Sel-sel saraf otak, tidak seperti sel-sel lainnya, mengirimkan dan mengolah informasi dengan cara membangkitkan dan mengalirkan aliran listrik lemah.
Apakah yang menyebabkan terjadinya hubungan di antara sel-sel dan menghasilkan keselarasan di dalam otak? Jawabannya terletak pada struktur istimewa sel saraf. Sekitar 10 miliar sel di dalam otak memiliki sekitar 120 triliun sambungan. Dan 120 triliun sambungan ini benar-benar berada di posisi yang tepat. Bila terdapat kesalahan pada salah satu saja dari sambungan ini, akibatnya akan sangat berat. Seseorang yang mengalami hal ini takkan mungkin menjalankan kehidupannya dengan baik. Namun hal seperti ini tidak terjadi, dan manusia sehat menjalani kehidupannya secara normal. Ia menjalani kehidupan dengan sebaik-sebaiknya sementara triliunan proses ajaib yang tidak disadarinya sedang berlangsung di dalam otaknya.

Kecerdasan & Stimulus
Neno Warisman dalam Matahari Odi Bersinar karena Maghfi menuliskan, Keajaiban otak terdeteksi lebih dahsyat lagi bila dilihat pada level interneuron/glial ( tingkat sel yang lebih kecil dari neuron) yang mengadakan koneksi persambungan hingga mencapai sepuluh kali lipat sambungan neuron, yang berarti seribu miliar glial, dan menjadi bekal kecerdasan. Stimulus yang tidak positif pada interkoneksi tersebut bisa memutus sambungan-sambungan tersebut dan bahkan mungkin layu sebelum berkembang. sehingga dalam dunia anak yang tidak mendapat perhatian dan kasih sayang diinterpretasi sedikitnya sambungan-sambungan tersebut dan dalam kehidupannya dilabeli ‘nakal’, ‘bodoh’, ‘pas-pasan’, dll.

Tiruan??
robo1
Manusia telah berusaha meniru dengan menciptakan otak yang berupa chip termasuk juga sistem-sistem di dalam tubuh manusia, berupa robot yang tersusun atas hardware dan software dan dengan perilaku yang diadaptasi dari manusia, tetapi tak ayal tidak ada kesempurnaan yang bisa dilakukan.

Otak Einstein
Anda ingat Einstein yang dikatakan memiliki otak yang brillian?
Seperti dikutip Koran Tempo dari Reuters baru-baru ini, Einstein ternyata memiliki otak dengan materi abu-abu yang berbeda dibanding orang kebanyakan. Untuk mencari keanehan pada otak Einstein, sekaligus untuk menyelidiki apakah otak jenius memperlihatkan ciri khusus, Dr Dahlia W Zaidel, pakar di University of California, Los Angeles, memeriksa dua preparat otak Einstein yang dibuat segera sesudah meninggal pada 1955, pada usia 76 tahun. Preparat itu berisi contoh jaringan hippocampus otak. Hippocampus adalah bagian otak yang bertanggung jawab dalam mengingat dan belajar bahasa.

Zaidel membandingkan kedua preparat itu dengan preparat sejenis dari 10 individu dengan kecerdasan biasa, yang meninggal pada usia antara 22-84 tahun. Zaidel menemukan, seluruh sel syaraf di sisi kiri hippocampus Einstein lebih besar dibanding sebelah kanan. Sementara itu, pada otak dengan kecerdasan biasa, keduanya sama besar dan berukuran lebih kecil. Zaidel mengatakan, ini menjadi tanda pembeda yang nyata antara otak Einstein dengan yang kecerdasannya biasa-biasa saja. Gambar berikut ini adalah foto dari otak Einstein yang diambil tahun 1955.
200px-Otak_Einstein
Neuron yang lebih besar di kiri hippocampus, menurut Zaidel, membuat otak kiri Einstein memiliki koneksi sel syaraf yang lebih kuat dibanding bagian kanan, khususnya antara hippocampus dengan bagian lain di otak, yang disebut neokortek. Neokortek adalah wilayah di mana detail, logika, analisa, dan pikiran inovatif bertempat tinggal.

Namun Zaidel tak mengetahui, apakah bagian itu sudah tak simetris sejak Einstein dalam kandungan ataukah diperolehnya ketika lahir, selama fase perkembangan, atau justru sebuah abnormalitas. “Juga,” Zaidel mengungkapkan, “Saya belum tahu bagaimana ketaksimetrisan ini berhubungan dengan kejeniusannya.”

Jika pun benar berhubungan, kelihatannya cara otak Einstein menjadi jenius melibatkan banyak bagian lain. Paling tidak, ada bukti bahwa otak Einstein memang memiliki beberapa kelainan. Kelainan itu, misalnya, seperti yang ditemukan periset McMaster University, Hamilton, Ontario, pada Juni 1999. Mereka menemukan bagian otak Einstein yang berhubungan dengan logika matematik, parietal inferior, lebih luas 15 persen pada kedua hemisfer otaknya. Mereka menemukannya sesudah membandingkan otak itu dengan 90 otak normal yang disimpan di McMaster.

Apapun itu,
Struktur yang bekerja secara mandiri di dalam otak ini, sebagaimana halnya sistem-sistem lain di dalam tubuh manusia, memiliki rancangan sempurna di setiap tahapannya. Kenyataan bahwa otak dapat menjalankan berjuta fungsinya tanpa kesalahan atau kerancuan menjadi bukti bahwa Allah, Pemilik Ilmu tak terbatas, telah menciptakannya beserta semua cirinya yang istimewa.


MISTERI LINTASAN LURUS

16 April 2009

“Perjalanan yang dulu biasa memakan waktu 25 menit dengan tongkat panjang, kini 5 menit lebih cepat dengan menggunakan ‘Tongkat Kelelawar’”, kata Andrew Saies. Andrew merupakan salah satu di antara ‘para pendekar bertongkat kelelawar’ yang kini bisa berkelana lebih leluasa berkat tongkat itu. Sebelum membahas tongkat ‘sakti’ kelelawar temuan para ilmuwan Eropa ini, sekali lagi marilah kita kaji kehebatan jurus ‘sang guru’, yakni kelelawar…
Masih ada sifat menakjubkan lain dari sistem ekolokasi kelelawar atau perangkat untuk menentukan tempat dengan gema. Pendengaran kelelawar telah tercipta sedemikian rupa sehingga ia tidak dapat mendengar suara lain selain dari yang dipancarkannya sendiri. Rentang frekuensi yang mampu didengar oleh makhluk ini sangat sempit, yang lazimnya menjadi hambatan besar untuk hewan ini karena Efek Doppler, sebuah istilah ilmiah di bidang fisika tentang gelombang suara. Menurut Efek Doppler, jika sumber suara dan penerima suara keduanya sama-sama tak bergerak, maka penerima akan mengindera frekuensi yang sama dengan yang dipancarkan oleh sumber suara. Akan tetapi, jika salah satunya bergerak, frekuensi yang diterima akan berbeda dengan yang dipancarkan. Dalam hal ini, frekuensi suara yang dipantulkan dapat jatuh ke wilayah frekuensi yang tidak dapat didengar oleh kelelawar. Jika ini yang terjadi, maka kelelawar tentu akan menghadapi masalah karena tidak dapat mendengar pantulan suaranya dari lalat yang bergerak menjauh.
Akan tetapi, hal tersebut tidak pernah menjadi masalah bagi kelelawar karena ia menyesuaikan frekuensi suara yang dikirimkannya terhadap benda bergerak seolah sang kelelawar telah memahami Efek Doppler. Misalnya, kelelawar mengirimkan suara berfrekuensi tertinggi terhadap lalat yang bergerak menjauh sehingga pantulannya tidak hilang dalam wilayah rentang suara yang tak terdengar oleh sang kelelawar. Jadi, bagaimana pengaturan ini terjadi?
data-kele

Di dalam otak kelelawar, terdapat dua jenis neuron (sel saraf) yang mengendalikan perangkat penginderaan dengan gelombang suara milik kelelawar. Sel saraf jenis pertama mengindera suara ultrasonik (suara di atas jangkauan pendengaran kita) yang terpantul, dan jenis yang kedua memerintahkan otot menghasilkan jeritan untuk membuat gema penentuan tempat. Kedua jenis sel saraf ini seolah bekerja sama dalam suatu kesesuaian sempurna sehingga penyimpangan amat kecil dalam sinyal terpantul akan memperingatkan sel jenis kedua dan menghasilkan frekuensi jeritan senada dengan frekuensi gema. Karenanya, tinggi nada suara ultrasonik kelelawar berubah menurut keadaan sekitarnya untuk mendapatkan daya guna sebesar-besarnya.
Sistem sonar atau perangkat penentuan keberadaan benda dan tempat melalui pantulan suara kelelawar tersebut sungguh rumit dan sempurna di setiap rinciannya. Karenanya, hal ini tidak mungkin dapat dijelaskan dengan proses evolusi melalui mutasi acak tak disengaja. Keberadaan serentak semua bagian sistem itu mutlak diperlukan agar dapat bekerja dengan baik. Selain harus mengeluarkan suara bernada tinggi, kelelawar juga harus mengolah sinyal terpantul, terbang berkelak-kelok, serta menyesuaikan jeritan sonarnya. Semua ini dikerjakan pada saat yang sama. Sudah pasti semua ini tidak dapat diterangkan sebagai peristiwa tanpa sengaja. Sebaliknya, ini pertanda pasti tentang betapa sempurnanya Allah menciptakan kelelawar.
kele

Penelitian ilmiah lebih jauh mengungkap contoh-contoh baru serangkaian keajaiban pada penciptaan kelelawar. Melalui setiap penemuan baru yang menakjubkan, dunia ilmu pengetahuan mencoba memahami bagaimana sistem ini bekerja. Sebagai contoh, penelitian baru terhadap kelelawar telah mengungkap temuan yang amat menarik dalam tahun-tahun belakangan. Beberapa ilmuwan yang ingin menguji sekelompok kelelawar yang tinggal di suatu gua, memasang pemancar pada beberapa anggota kelompok kelelawar itu. Kelelawar-kelelawar pun teramati meninggalkan gua di malam hari dan mencari makan di luar hingga fajar. Para peneliti menyimpan rekaman perjalanan ini. Mereka menemukan bahwa sebagian kelelawar melakukan perjalanan sejauh 50-70 kilometer dari gua tersebut. Temuan paling mengejutkan adalah mengenai kepulangannya, yang dimulai sesaat sebelum terbit matahari. Semua kelelawar terbang pulang dalam garis lurus ke gua masing-masing dari titik mana pun mereka berada. Bagaimana kelelawar dapat mengetahui di mana dan sejauh mana jarak keberadaan mereka dari gua asal mereka?
Kita masih belum mendapatkan pengetahuan terperinci tentang cara mereka menemukan jalan pulang. Ilmuwan tidak meyakini sistem pendengarannya berperan besar atas perjalanan pulang itu. Karena kelelawar sepenuhnya buta cahaya, para ilmuwan berharap menemukan suatu sistem lain yang mengejutkan. Pendek kata, ilmu pengetahuan terus mencari sejumlah keajaiban baru tentang penciptaan dalam diri kelelawar, satu di antara ribuan makhluk ciptaan Allah, Pencipta Maha Sempurna.
(Oleh Harun Yahya di Insight Magazine)


Tatkala menelusuri Nenek Moyang kita!

6 April 2009

2a1

Persis seperti pernyataan evolusionis yang lain tentang asal-usul makhluk hidup, pernyataan mereka tentang asal-usul manusia pun tidak memiliki landasan ilmiah. Berbagai penemuan menunjukkan bahwa “evolusi manusia” hanyalah dongeng belaka.

2b1
Darwin mengemukakan pernyataannya bahwa manusia dan kera berasal dari satu nenek moyang yang sama dalam bukunya The Descent of Man yang terbit tahun 1971. Sejak saat itu, para pengikut Darwin telah berusaha untuk memperkuat kebenaran pernyataan tersebut. Tetapi, walaupun telah melakukan berbagai penelitian, pernyataan “evolusi manusia” belum pernah dilandasi oleh penemuan ilmiah yang nyata, khususnya di bidang fosil.
Kalangan masyarakat awam adalah yang umumnya tidak mengetahui kenyataan ini, dan menganggap pernyataan evolusi manusia didukung oleh berbagai bukti kuat. Anggapan yang salah tersebut terjadi karena masalah ini seringkali dibahas di media masa dan disampaikan sebagai fakta yang telah terbukti. Tetapi mereka yang benar-benar ahli di bidang ini mengetahui bahwa kisah “evolusi manusia” tidak memiliki dasar ilmiah.

David Pilbeam, salah satu ahli paleontologi dari Harvard University, menyatakan berikut ini:
Bila anda mendatangkan seorang ilmuwan cerdas dari bidang ilmu lain dan memperlihatkan padanya sedikit bukti yang kita miliki, ia pasti akan berkata, ‘lupakanlah: tidak terdapat cukup bukti untuk meneruskannya.(Richard E. Leakey, The Making of Mankind, Michael Joseph Limited, London 1981, hal. 43.)

William Fix, penulis sebuah buku penting dalam bidang palaeoantropologi, bertutur:

Terdapat banyak ilmuwan dan penyebar berita masa kini yang memiliki keberanian untuk berkata kepada kita bahwa ‘tidak ada keraguan’ tentang bagaimana manusia berawal. Andai saja mereka memiliki bukti.(William R Fix, The Bone Peddlers, Macmillan Publishing Company: New York, 1984, hal.150-153

Pernyataan tentang evolusi ini, yang “tanpa disertai bukti”, memulai pohon kekerabatan manusia dengan sejenis kera yang bernama Australopithecus. Menurut pernyataan tersebut, sejalan dengan waktu Australopithecus mulai berjalan tegak, otaknya tumbuh berkembang, dan melalui serangkaian tahapan untuk menjadi manusia yang kita dapati sekarang (Homo sapiens). Tetapi catatan fosil tidak mendukung skenario ini. Kendatipun pernyataan tentang keberadaan semua jenis bentuk peralihan, terdapat pembatas yang tidak dapat dilalui yang memisahkan fosil-fosil manusia dan kera. Bahkan, telah terungkap bahwa spesies-spesies yang dinyatakan sebagai nenek moyang bagi yang lain, ternyata merupakan jenis-jenis yang hidup sezaman pada periode yang sama. Ernst Mayr, salah satu pendukung terpenting teori evolusi di abad ke-20 mengakui kenyataan ini: “Rantai yang menghubungkan hingga Homo sapiens sebenarnya telah hilang”.(Scientific American, December 1992)
(Harun Yahya, Insight Magazine)


Airnya Turun Tidak Terkira

3 April 2009

AIRNYA TURUN, TIDAK TERKIRA…
siklus-air2
Dalam daur air, jutaan meter kubik air dapat terangkut dari laut ke atmosfer, dan kemudian kembali ke daratan. Kehidupan bergantung pada daur raksasa air ini. Jika kita berusaha mengendalikannya, kita tak akan mampu. Tak menjadi soal, sehebat apa pun semua teknologi di dunia yang kita kerahkan untuk itu. Melalui penguapan air di bumi, kita mendapatkan air, sumber pertama dan utama kehidupan, secara gratis dan mudah. Setiap tahun, kurang lebih 45 juta meter kubik air menguap dari lautan. Air yang menguap ini terbawa oleh angin melintasi daratan dalam bentuk awan. Dalam wujud hujan, setiap tahunnya sekitar 3-4 juta meter kubik air dipindahkan dari laut ke daratan, dan akhirnya sampai ke kita. Singkatnya, air dikirim ke kita dengan cara yang teramat istimewa.

1a1

BERKAT GAYA HAMBAT
Hujan turun ke bumi dalam ukuran dan perhitungan yang tepat dalam berbagai halnya. Yang pertama adalah kecepatan jatuhnya air hujan. Saat dijatuhkan dari ketinggian 1.200 meter, sebuah benda berbobot dan berukuran sama dengan setetes air hujan akan terus-menerus mengalami percepatan (peningkatan kecepatan). Akhirnya, benda ini jatuh menumbuk permukaan bumi pada kecepatan 558 km/jam. Tapi anehnya, kecepatan rata-rata butiran air hujan hanyalah 8-10 km/jam; atau sekitar 60-70 kali lebih lambat.
Mengapa demikian? Penjelasannya terletak pada bentuk khusus dan istimewa dari butiran air hujan (untuk penjelasan selengkapnya tentang bentuk air hujan, silakan membaca kolom Editorial di halaman muka). Bentuk butiran air hujan meningkatkan pengaruh gesekan molekul udara terhadapnya. Akibatnya, air hujan mengalami gaya hambat yang berlawanan dengan arah jatuhnya, sehingga memperlambat kecepatannya menumbuk bumi. Apakah ini ada untungnya bagi kita? Lanjutkan membaca tulisan di bawah ini, dan cermati perhitungan dan angka yang ada. Akan dapat Anda bayangkan bencana yang bakal muncul di bumi andai butiran air hujan tidak berbentuk sama dengan yang ada sekarang, atau jika atmosfer tidak memiliki gaya hambat terhadapnya.
Awan sedikitnya berketinggian 1.200 m. Dampak yang ditimbulkan sebutir air hujan yang jatuh dari ketinggian tersebut setara dengan sebuah benda seberat 1 kg yang dijatuhkan dari ketinggian 15 cm. Ada pula awan hujan berketinggian 10.000 m. Dengan ketinggian ini, jatuhnya sebutir air hujan berakibat setara dengan jatuhnya suatu benda berbobot 1 kg dari ketinggian 110 cm. Apa yang Anda rasakan jika tubuh, rumah atau kendaraan Anda tertimpa benda seperti ini?

Menurut perkiraan, setiap detik sekitar 16 juta ton air menguap dari bumi. Angka ini sama dengan jumlah air yang turun ke bumi dalam setiap detiknya. Dalam satu tahun, angka ini mencapai sekitar 505.000.000.000.000 (505 triliun) ton air. Demikianlah, air terus-menerus mengalami daur secara seimbang menurut perhitungan tertentu, dan dikirim ke bumi dengan cara yang paling tidak berbahaya bagi kehidupan. Jumlah 505 triliun ton air sungguh sangat besar. Bayangkan jika air sejumlah ini ditumpahkan ke bumi begitu saja dalam satu waktu, di tempat yang acak, dan tidak diturunkan merata berupa hujan yang meliputi wilayah luas dalam rentang musim tertentu?
NAIK DULU SEBELUM TURUN
Penemuan radar cuaca telah memungkinkan pengetahuan tentang tahap-tahap pembentukan hujan. Pembentukan hujan terjadi dalam tiga tahap. Pertama adalah pembentukan angin; kedua, pembentukan awan; dan ketiga, pembentukan butiran air hujan.
Tahap pertama: akibat pergerakan air laut – misalnya ombak, riak dan pusaran – permukaan air laut senantiasa berbusa atau berbuih. Buih ini membentuk gelembung udara berjumlah tak terhitung, yang terus-menerus pecah dan melepaskan banyak butiran kecil air laut ke udara. Butiran yang kaya garam ini lalu diterbangkan angin dan naik hingga ke atmosfer. Butiran-butiran ini dinamakan aerosol, dan berperan menangkap uap air di udara. Aerosol membentuk awan yang terdiri dari butiran air dengan cara menangkap dan mengumpulkan uap air tersebut, yang menguap naik ke atas dalam bentuk butiran-butiran air teramat kecil.
Tahap kedua: awan terbentuk dari uap air yang mengumpul dan melingkupi butiran-butiran garam atau debu (sebagaimana disebut di tahap I). Karena ukuran butiran air pada awan ini sangatlah kecil (dengan garis tengah 0,01-0,02 mm), awan tersebut melayang dan terhampar di udara. Akibatnya, langit tertutupi oleh hamparan awan.
Tahap ketiga: butiran-butiran air yang melingkupi partikel-partikel garam dan debu menjadi semakin tebal dan jenuh. Akhirnya terbentuklah butiran-butiran air hujan. Tatkala menjadi semakin berat daripada udara atmosfer, butiran-butiran air hujan ini meninggalkan awan dan turun ke bumi sebagai hujan.
Inilah sekelumit tentang turunnya air hujan. Adakah peran manusia dalam daur air ini? Tidak ada sama sekali. Allahlah yang telah merancang daur air, yang dengannya kehidupan dapat berlangsung di bumi.
(Harun Yahya, Insight Magazine)


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.