#Mudik2017 : Masjid Cheng Ho, Jejak Thionghoa Muslim di Surabaya

17 Juni 2017 kemarin,  kami ngikut Yangti (panggilan neneknya anak2) yg menjemput Aunti Nindya yg landing jam 17.00 sore di juanda sepulang dr Ambon. Berangkat jam 10. 05 pagi kami melaju dr rumah di kota Pasuruan. Sengaja berangkat awal,  krn kami hendak melihat 2 lokasi wisata ruhani atau kental dg peribadatan. 

Tidak bermaksud SARA,  ketika yg kami tuju adalah saudara sesama anak bangsa di NKRI yg beretnis Thionghoa/Cina, Masjid Cheng Ho di Genteng dan Sanggar Agung di Kenjeran, Surabaya. Tidak juga membuat opini akan polemik di medsos, apakah agama itu warisan? karena sdh jelas dan terang benderang,  agama adalah cahaya kalbu kebenaran yg disinergikan  dg akal fikiran. 

Seperti yg sdh diduga,  perjalanan di luar/pinggiran Surabaya sll lancar, berkebalikan saat di dalam kota.  Sll menghadirkan uji kesabaran setiap terjebak dlm kemacetan, di belahan bumi surabaya yg sdh jauh lebih bermartabat,  rapi,  indah dan teratur. 

Tulisan ini,  khusus mengupas Masjid Cheng Ho,  sementara Utk Sangar Agung Klenteng Budha di Kenjeran, dikelas di tulisan berikutnya. Sdh banyak yg menuliskan keunikan Masjid yg terlihat seperti Klenteng ini.  Salah satunya detik travel yg sebagian sy kutip disini. 

Masjid Cheng Ho

Takjub dan mengagumkan.  Itu kata yg bs terucap,  padahal sdh kedua kalinya sy kemari. Merah,  kuning dan hijau membalut bangunan yang terlihat seperti klenteng (lihat foto diatas, pic by the jazz). Siapa sangka, bangunan ini adalah masjid. Masjid Cheng Ho, paduan unik dari China, Timur Tengah dan Jawa di Surabaya. 

Pengambilan nama Cheng Hoo ini sebagai bentuk rasa syukur dan penghormatan segenap muslim di Surabaya dan Indonesia, terhadap Laksamana, bahariawan asal China beragama Islam. Selama perjalanannya di kawasan Asia Tenggara, Cheng Ho tidak hanya berdagang dan menjalin persahabatan, tapi juga menyebarkan agama Islam di Indonesia.

Masjid yang bernama lengkap Masjid Muhammad Cheng Hoo ini berdiri di atas lahan seluas 21×11 m2 dan luas bangunan utama 11×9 m2. Masjid yang didominasi warna merah, kuning, hijau dengan ornamen bernuansa Tiongkok lama ini memiliki 8 sisi di bagian atas bangunan utama.

Ketiga ukuran dan angka ada maknanya yakni, angka 11 adalah ukuran Ka’bah saat baru dibangun. Sedangkan angka 9 melambangkan Walisongo. Sedangkan 8 artinya melambangkan Pat Kwa (dalam bahasa Tionghoa artinya keberuntungan atau kejayaan). Masjid Cheng Hoo ini mampu menampung sekitar 200 jamaah.

“Perpaduan gaya Tiongkok dan Arab ini memang menjadi ciri khas Masjid Cheng Hoo. Arsitektur Masjid Cheng Hoo diilhami Masjid Niu Jie di Beijing. Masjid Cheng Hoo juga tidak melepaskan nuansa Timur Tengah seperti pintu utama masjid, serta bergaya Jawa seperti tembok yang susunan batu batanya terlihat. 

Di sisi utara Masjid Cheng Hoo terdapat relief dan replika kapal dan wajah Laksamana Cheng Ho. Di lokasi ini, juga sering menjadi tempat foto para wisatawan.
Relief dan replika kapal dan Cheng Hoo bertujuan untuk menunjukkan bahwa Muhammad Cheng Hoo adalah pelaut, muslim dari Tionghoa yang taat, saleh dan utusan perdamaian yang terpuji.

Masjid Cheng Hoo didirikan atas prakarsa para sesepuh, penasehat dan pengurus PITI (Pembina Iman Tauhid Islam). Selain itu, pengurus Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia Jawa Timur dan tokoh masyarakat Tionghoa di Surabaya juga diturutsertakan.

Peletakan batu pertama pada 15 Oktober 2001 bertepatan dengan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Pembangunan masjid selesai pada 13 Oktober 2002. Kemudian diresmikan oleh Menteri Agama RI Prof Dr H Said Agil Husein Al Munawar pada 28 Mei 2003.

Masjid Cheng Hoo juga banyak dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah di Jawa Timur dan Indonesia. Ada yang dari Makassar, Jawa Barat, Jakarta dan berbagai daerah lainnya. Banyak juga wisatawan dari mancanegara baik yang muslim maupun non muslim. Ada dari Malaysia, Arab Saudi, China, selandia Baru, Inggris, Afrika dan lainnya. Kunjungan wisatawan baik dari nusantara maupun mancanegara rata-rata sebulan bisa mencapai 1.500 sampai 2.000 orang. 

Tentu saja, wisatawan mancanegara baik yang muslim maupun non muslim terkagum-kagum dengan Masjid Cheng Hoo,  sekaligus mengakui keberagaman budaya di Indonesia. Termasuk bangunan Masjid Cheng Hoo.

Di area masjid Cheng Hoo ini juga terdapat prasasti tiga bahasa, Indonesia, Mandarin dan Inggris, yang menjelaskan sejarah Laksamana Cheng Hoo di gedung kantor Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo dan Pembina Iman Tauhid Islam (PITI) di depan sisi selatan Masjid Cheng Hoo.

Kebetulan,  saat kami berkunjung, sdg diset di pelataran depan panggung buka puasa bersama Konsulat Jenderal Tionghoa bersama 500 anak Yatim. Smoga kebaikan RRT di Cheng Ho Indonesia diikuti dg sikap politiknya thdp warganya yg muslim.  Smoga… Aamiin. 
alifis@corner 170617 Erlangga,Pasuruan

Dipublikasi di Relief Kehidupan | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar

​LURUS MENUJU CAHAYA


Fitrah manusia menuju cahaya/ Dg berlari, berjalan atau tertatih menyapa/ Jalan lurus yg diimpikannya
Apa daya… Semakin diraih cahaya tak sambut sapa/ Godaan dunia merayu kuat mengikat/ Kegelapan menyelimuti sekelilingnya/ Dan dikalbu yg terdalam… Masih tetap mengharap cahaya

Slalu rindukan lah cahaya/ Apakah saat menjauh apalagi mendekat. 

Logawa senja,  Maghrib di Pasuruan
#logawa #kereta #mudik2017 #idulfitri 2017 #myadventure #cahaya #alhamdulillah #tanahjawa #fitrah

Dipublikasi di Alunan Kata | Tag , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

#Mudik2017 : Empati,  Telepati,  Transportasi dan Teleportasi

Mudik menjadi produk kultur khas Indonesia yang unik sekaligus spektakuler.  Tidak ada negara di dunia yang memiliki tradisi mudik dg follower aktif dlm order puluhan juta jiwa. Dirilis Kementerian Perhubungan mudik 2016 lalu diikuti sekitar 25 juta jiwa. Bagaimana dg 2017? Trend grafiknya tiap tahun selalu mengalami peningkatan. 


Manusia modern mungkin heran dg pemudik sbg pribadi yg naif, dan tidak futuristik.  Secara alami,  manusia memiliki eksistensi yg hidup di masa kini dan satu2nya pilihan adalah pasti bergerak dinamis ke masa depan. 

Bagaimana sebuah kultur klasik dan kuno yg bernama mudik, yg lekat dg masa lalu, kok ternyata diminati bahkan diamini oleh puluhan juta jiwa sebagaimana produk smartphone terbaru yg sll diburu dan digantikan kecanggihan dan kehebatan nya.  

Manusia modern yg hidupnya tenggelam dlm rutinitas fisik dan material,  bisa jadi memandang mudik sebagai problem sosial akut akibat dari ketidakmampuan manusia melepaskan diri dari masa lalunya. Tidak rasional,  bagaimana bisa manusia dg jumlah mencapai puluhan juta jiwa harus melakukan suatu perjalanan ke masa lalu baik melalui darat,  laut dan udara atau kombinasinya dg pengorbanan harta,  tenaga bahkan jiwa.  Hal yg ikonik sekaligus ironis.. mencari hal dan masalah,  sama sekali tidak mencerminkan gaya hidup manusia modern, yg efektif,  efisien dan serba praktis. 


Secara filosofis,  mudik adalah sebuah perjalanan mahakarya seorang anak manusia.  Perjalanan tanpa batas. Seluruh aspek kemanusiaannya bergerak,  segenap jiwa raga indera melintas dimensi yg lebih tinggi dr ruang waktu. Analogi dalam ajaran Islam, mudik bs diibaratkan perjalanan Ibadah Haji sbg rukun islam paripurna,  setahun dlm siklus kehidupan perantauan,  tdk lengkap tanpa menjalani ritual mudik. Tdk lengkap status perantau, tanpa diselingi ritual mudik.  hehehe… 


Di dalam tradisi mudik,  ada empati yg melekatkan,  ada telepati yg mempercepat keharmonisan,  ada aspek transportasi jiwa raga yg mesti dipersiapkan dan dipertahankan dan yg canggih adanya teleportasi yg melengkapkan. 


Empati mudik

Mudik penuh haru biru.  Betapa tidak, ketika dlm rentang waktu yg bersamaan,  lautan manusia bergerak dlm arah yg acak menuju kampung halaman,  menuju haribaan dimana masa kecil dibesarkan,  kembali mendekap erat pangkuan orangtua.  

Dalam globalisasi dan modernisasi pd dasarnya tingkat kompetisi diseluruh aspek kehidupan begitu rumyamnya,  shg pergerakan acak manusia menuju tempat beraktualisasi,  eksistensinya seringkali menjauh dr kehidupan masa kecilnya, orangtua,  sanak saudara,  teman bermain dan tetangga. Demikian juga alam sekitar,  tempat2 bermain,  dan rumah yg telah menemani dan menaunginya selama itu. Rasa kebersamaan,  saling memiliki dan berbagi baik d keadaan susah dan senang yg dimiliki di masa lalu,  sangat di rindukan. Itulah empati mudik. 


Rindu dendam akan segera terluap mendekat masa mudik.  Handphone menjadi penghubung yg efektif menyelaraskan rasa2 kekeluargaan,  ada empati,  simpati diantara sgala peristiwa yg memisahkannya diantara waktu yg tercerabut. Hal tersebut sekaligus menjelaskan kenapa ada gairah dan semangat luarbiasa dr pemudik saat menuju tanah kenangan, Ombak tinggi lautan bukan rintangan,  Petir menggelar di ketinggian bukan halangan,  dan panas terik aspal jalanan diabaikan. 


Dan ketika semangat  itu terakumulasi di jalanan mendapat hambatan krn macetnya perjalanan, tertundanya keberangkatan..Empati bs lenyap berganti egoisitas pribadi dan kelakuan sendiri. 


Suasana kemacetan,  keresahan akan semrawutnya jalanan yg live disiarkan televisi akan dapat dirasakan oleh sanak saudara yg dikampung. Yg melihat dan mengikuti pergerakan mudik,  dpt merasakan sampai dalam hati,  bagaimana perjuangan mudik tdk lah sesederhana yg dirasakan,  dan tdk sekompleks yg dipikirkan.  Itulah empati mudik. Kehadiran empati dlm mudik amat diperlukan karena bs menjadi pendorong saling menghargai dan menempatkan orang lain sama berharganya dg diri sendiri. 


Telepati Mudik

Degradasi moral dan etika, dan individualisme di jaman ini,  turut memicu egoisitas & keakuan di jalanan,  mau menang sendiri dan hilangnya empati dlm mudik.  Karena mau  cepat sampai tujuan,  kadang2 ceroboh dlm berlalulintas. Akibatnya merugikan banyak sesama pemudik. Telepati ada saatnya bekerja saat  terjadi kecelakaan yg merengut korban luka atau jiwa.  Ada suatu link komunikasi yg kuat tanpa panca indera,  utk saling bertukar informasi dengan orang2 yg secara emosional dekat. Dalam film-film populer, telepati digambarkan begitu fantastis. Antara dua orang mampu saling bercakap-cakap tanpa perlu berbicara. ini ketika peak sinyal telepati mencapai maksimum.  Telepati dlm komunikasi normal biasanya terjadi krn menyangkut efektivitas doa2 yg diterima Allah SWT, terkait komunikasi personal insan manusia yg satu dg lainnya. selebihnya,  jaman ini sepertinya kalah greges dan ampuh dibandingkan dg WhatsApp, Facebook atau media berbasis teknologi komunikasi dan informasi ini. 


Transportasi & Teleportasi Mudik

Arus perpindahan manusia atau barang dari satu tempat ke tempat lainnya dengan menggunakan sebuah alat yang digerakkan oleh manusia atau mesin telah ada sejak jaman dahulu. Di Indonesia sarana transportasi masih menjadi problem. Ada peningkatan signifikan pada beberapa modal seperti Kereta Api,  tetapi utk jalan darat masih terkendala dg terbatasnya ruas jalan dibandingkan jumlah kendaraan,  terutama di jalur padat  atau kurang  tersedianya sarana karena ketidakmerataannya proses pembangunan. Ya,  transportasi selalu menjadi biang setiap terhambatnya proses mudik. Padahal faktor Manusia pun jadi keroknya. Keagungan nilai2 mudik,  turut menyeret pemudik utk membawa oleh2 yg secara fisik membebani perjalanan. Bawaan bertumpu,  berdus2…sdh jd pemandangan lazim saat mudik. Pemudik yg bijak,  biasanya barang2 tersebut diantarkan melalui jasa ekspedisi pengiriman paket. Sehingga kenyamanan dan ketenangan dlm perjalanan terjaga.

Betapa nyaman naik Kereta Api kelas ekonomi saat ini,  sdh berAC,  leluasa dan Prosedur yg amat mudah. Setiap penumpang dg  akan 3 box bawaan pun msih oke leluasa. Itulah wajah transportasi mudik,  penumpang adalah raja,  maka kepuasan layanan akn jd rekomendasi utama. 

Kenapa pula dg Teleportasi? ini sekedar khayalan kira2 apakah mudik msh menjadi produk kultur yg tetap diperhatikan dg pergerakan puluhan juta jiwanya.  Andai  teleportasi mudik sdh terwujud maka pemindahan sesuatu (materi) dari satu titik ke titik lain melalui sebuah proses penguraian dan pengembalian kembali susunan dari sesuatu tersebut… akan menjadi solusi brilian … 
Yang pernah menonton film Star Trek, Battle Star of Galactica, Time Tunnel, atau Time Machine, atau The One nya Jet Lee,pasti memahami  gambaran proses teleportasi, dimana sosok Capt.Kirkdan Spok dapat berlanglang buana ke berbagai tempat di angkasa ini melalui mesin teleportasi.

.
Mudik mungkin juga hanya tinggal cerita, sbg dongeng pengantar musim tidur, krn dimasa depan … kapanpun dimanapun,  dg teleportasi tdk akan ada antrean, macet jalanan,  kehabisan bakar… 

alifis@corner 150617 : 20:46

Pasuruan Kota. 

Dipublikasi di Relief Kehidupan | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

​Kesalehan Ritual dan Kesalehan Sosial

KH Ahmad Mustofa Bisri pernah mempopulerkan istilah saleh ritual dan saleh sosial. Yang pertama merujuk pada ibadah yang dilakukan dalam konteks memenuhi haqqullah dan hablum minallah seperti shalat, puasa, haji dan ritual lainnya. Sementara itu, istilah saleh sosial merujuk pada berbagai macam aktivitas dalam rangka memenuhi haqul adami dan menjaga hablum minan nas. Banyak yang saleh secara ritual, namun tidak saleh secara sosial; begitu pula sebaliknya.
Gus Mus tentu tidak bermaksud membenturkan kedua jenis kesalehan ini, karena sesungguhnya Islam mengajarkan keduanya. Bahkan lebih hebat lagi; dalam ritual sesungguhnya juga ada aspek sosial. Misalnya shalat berjamaah, pembayaran zakat, ataupun ibadah puasa, juga merangkum dimensi ritual dan sosial sekaligus. Jadi, jelas bahwa yang terbaik itu adalah kesalehan total, bukan salah satunya atau malah tidak dua-duanya. Kalau tidak menjalankan keduanya, itu namanya kesalahan, bukan kesalehan. Tapi jangan lupa, orang salah pun masih bisa untuk menjadi orang saleh. Dan orang saleh bukan berarti tidak punya kesalahan.
Pada saat yang sama, kita harus akui seringkali terjadi dilema dalam memilih skala prioritas. Mana yang harus kita utamakan antara ibadah atau amalan sosial. Pernah di Bandara seorang kawan mengalami persoalan dengan tiketnya karena perubahan jadual. Saya membantu prosesnya sehingga harus bolak balik dari satu meja ke meja lainnya. Waktu maghrib hampir habis. Kawan yang ketiga, yang dari tadi diam saja melihat kami kerepotan, kemudian marah-marah karena kami belum menunaikan shalat maghrib. Bahkan ia mengancam, “Saya tidak akan mau terbang kalau saya tidak shalat dulu”. 
Saya tenangkan dia, bahwa sehabis check in nanti kita masih bisa shalat di dekat gate, akan tetapi kalau urusan check in kawan kita ini terhambat maka kita terpaksa meninggalkan dia di negeri asing ini dengan segala kerumitannya. Lagi pula, sebagai musafir kita diberi rukhsah untuk menjamak shalat maghrib dan isya’ nantinya. Kita pun masih bisa shalat di atas pesawat. Kawan tersebut tidak mau terima: baginya urusan dengan Allah lebih utama ketimbang membantu urusan tiket kawan yang lain. Saya harus membantu satu kawan soal tiketnya dan pada saat yang bersamaan saya harus adu dalil dengan kawan yang satu lagi. Tiba-tiba di depan saya dilema antara kesalehan ritual dan kesalehan sosial menjadi nyata.
Syekh Yusuf al-Qaradhawi mencoba menjelaskan dilema ini dalam bukunya Fiqh al-Awlawiyat. Beliau berpendapat kewajiban yang berkaitan dengan hak orang ramai atau umat harus lebih diutamakan daripada kewajiban yang berkaitan dengan hak individu. Beliau juga menekankan untuk prioritas terhadap amalan yang langgeng (istiqamah) daripada amalan yang banyak tapi terputus-putus. Lebih jauh beliau berpendapat: 
“Fardhu ain yang berkaitan dengan hak Allah semata-mata mungkin dapat diberi toleransi, dan berbeda dengan fardhu ain yang berkaitan dengan hak hamba-hamba-Nya. Ada seorang ulama yang berkata, “Sesungguhnya hak Allah dibangun di atas toleransi sedangkan hak hamba-hamba-Nya dibangun di atas aturan yang sangat ketat.” Oleh sebab itu, ibadah haji misalnya, yang hukumnya wajib, dan membayar utang yang hukumnya juga wajib; maka yang harus didahulukan ialah kewajiban membayar utang.” Ini artinya, untuk ulama kita ini, dalam kondisi tertentu kita harus mendahulukan kesalehan sosial daripada kesalehan ritual. 

Kita juga dianjurkan untuk mendahulukan amalan yang mendesak daripada amalan yang lebih longar waktunya. Misalnya, antara menghilangkan najis di masjid yang bisa mengganggu jamaah yang belakangan hadir, dengan melakukan shalat pada awal waktunya. Atau antara menolong orang yang mengalami kecelakaan dengan pergi mengerjakan shalat Jum’at. Pilihlah menghilangkan najis dan menolong orang yang kecelakaan dengan membawanya ke Rumah Sakit. Sebagai petugas kelurahan, mana yang kita utamakan: shalat di awal waktu atau melayani rakyat yang mengurus KTP terlebih dahulu? 

Atau mana yang harus kita prioritaskan di saat keterbatasan air dalam sebuah perjalanan: menggunakan air untuk memuaskan rasa haus atau untuk berwudhu’. Wudhu’ itu ada penggantinya, yaitu tayammum. Tapi memuaskan haus tidak bisa diganti dengan batu atau debu. Begitu juga kewajiban berpuasa masih bisa di-qadha atau dibayar dengan fidyah dalam kondisi secara medis dokter melarang kita untuk berpuasa. “Fatwa” dokter harus kita utamakan dalam situasi ini. Ini artinya shihatul abdan muqaddamun ‘ala shihatil adyan. Sehatnya badan diutamakan daripada sehatnya agama. 

Dalam bahasa Abdul Muthalib, kakek Rasulullah, di depan pasukan Abrahah yang mengambil kambing dan untanya serta hendak menyerang Ka’bah: “Kembalikan ternakku, karena akulah pemiliknya. Sementara soal Ka’bah, Allah pemiliknya dan Dia yang akan menjaganya!” Sepintas terkesan hewan ternak didahulukan daripada menjaga Ka’bah; atau dalam kasus tiket di atas seolah urusan shalat ditunda gara-gara urusan pesawat; atau keterangan medis diutamakan daripada kewajiban berpuasa. Inilah fiqh prioritas!
Syekh Yusuf al-Qaradhawi juga menganjurkan untuk prioritas pada amalan hati ketimbang amalan fisik. Beliau menulis:
“…Kami sangat heran terhadap konsentrasi yang diberikan oleh sebagian pemeluk agama, khususnya para dai yang menganjurkan amalan dan adab sopan santun yang berkaitan dengan perkara-perkara lahiriah lebih banyak daripada perkara-perkara batiniah; yang memperhatikan bentuk luar lebih banyak daripada intinya; misalnya memendekkan pakaian, memotong kumis dan memanjangkan jenggot, bentuk hijab wanita, hitungan anak tangga mimbar, cara meletakkan kedua tangan atau kaki ketika shalat, dan perkara-perkara lain yang berkaitan dengan bentuk luar lebih banyak daripada yang berkaitan dengan inti dan ruhnya. Perkara-perkara ini, bagaimanapun, tidak begitu diberi prioritas dalam agama ini.”
Dengan tegas beliau menyatakan:
“Saya sendiri memperhatikan –dengan amat menyayangkan– bahwa banyak sekali orang-orang yang menekankan kepada bentuk lahiriah ini dan hal-hal yang serupa dengannya –Saya tidak berkata mereka semuanya– mereka begitu mementingkan hal tersebut dan melupakan hal-hal lain yang jauh lebih penting dan lebih dahsyat pengaruhnya. Seperti berbuat baik kepada kedua orangtua, silaturahim, menyampaikan amanat, memelihara hak orang lain, bekerja yang baik, dan memberikan hak kepada orang yang harus memilikinya, kasih-sayang terhadap makhluk Allah, apalagi terhadap yang lemah, menjauhi hal-hal yang jelas diharamkan, dan lain-lain sebagaimana dijelaskan oleh Allah SWT kepada orang-orang yang beriman di dalam kitab-Nya, di awal surah al-Anfal, awal surah al-Mu’minun, akhir surah al-Furqan, dan lain-lain.”
Kesalehan ritual itu ternyata bertingkat-tingkat. Kesalehan sosial juga berlapis-lapis. Dan kita dianjurkan dapat memilah mana yang kita harus prioritaskan sesuai dengan kondisi dan kemampuan kita menjalankannya. Wa Allahu a’lam bia-shawab.

Mahbib, NU Online | Rabu, 14 September 2016
Nadirsyah Hosen, Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School

Dipublikasi di Remah2ilmu | Tag , , | Meninggalkan komentar

#Mudik2017 : Sepenggal Waktu Berdiam

Kali ini kami memprogram mudik lg, bahkan sdh dlm 3 tahun terakhir berturut. Menjadi keputusan hati yg melekat,  disaat ortu Emak,  Pak e, Yangti msh ada dan Alhamdulillah swehatt. 

Rencana pun disusun,  bagi2 waktu pun diatur,  Perjalanan pun ditimbang2… akhirnya tgl 7 Juni bada subuh…. aq dan si ragil Azka, OTW…  🙂 

Manusia adalah sang pengembara dlm ruang waktu yg tdk pernah bosan berkelana menjelajah masa lalu,  masa kini dan masa depan.  Ketika mudik, ada proses pemaknaan diri kita dlm harmonisasi dr ketiga masa tersebut… 

Sebuah kebahagiaan yg tdk bs dinilai dg materi, sy sbg anak bs merangkul dan mendekap Emak,  Pake. Bahagia itu Remeh dan bs didapat dr remah2 penggalan aktivitas hidup.  Sekedar membantu membalik tahu yg digoreng emak utk sahur di pekat mlm,  atau sekedar mendengarkan cerita masa muda Pake yg penuh laku dan liku… 

Menyatu dg gesitnya  gerakan taraweh di Mushola dekat rumah,  saling sapa dg tetangga sanak saudara…sebuah keadaan yg jauh berbeda,  tp kampung dan orang2nya sll menghadirkan nuansa sejuk,  alami,  dan rukun… 

Ada banyak situs,  sawah,  gunung,  yg menjadi tempat main di masa kecil tetap tdk berubah seiring waktu. Hamparan sawah tetap sama dg ingatan 40 tahun yg lalu… air,  hewan,  Langit nya… masih seperti dl.. 
Hidup di kampung jatigreges,  sketsanya tidak mudah buram diterangkan jaman… seakan hidup dlm keabadian. 

Dipublikasi di Relief Kehidupan | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar

Al Qur’an di Android

Ingin mengaji dan mengkaji Al Qur’an tetapi tdk bawa versi cetak? Dijaman Hitech  saat ini, smartphone menjadi alternatif yg menyenangkan. 

Ada banyak aplikasi apk berbasis Android yg disediakan playstore. Masing2 berusaha menyuguhkan keunggulan fasilitas dan fitur nya. 

​Utk itu aq rekomendasikan  3 aplikasi Al Quran di Hp Android  yg bs menemani waktu luang kita, utk kholasan,  maupun kajian… kapanpun dan dimanapun,  dirumah,  sambil nungguin anak,  jaga toko,  istirahat di perjalanan,  menunggu jam kerja,  kantoran,  sdg pemulihan kesehatan….. insya Allah… 

*1. MyQuran Indonesia*

 Aplikasi Al Quran yang disertai dengan huruf latin sekaligus terjemahannya,  sesuai versi cetak dan bersertifikasi TASHIH Kemenag. aplikasi dr developer Indonesia ini juga sudah dilengkapi dengan petunjuk Tajwid berwarna dan fitur alarm yang dapat mengingatkan Anda waktunya membaca Al Quran.
_kelebihan : ada teks lainnya,  amat bermanfaat utk yg baru belajar baca Qur’an._
* 2. Quran Tajwid Indonesia*

Aplikasi Quran Tajwid Indonesia ini dilengkapi dengan panduan bacaan tajwid berwarna, tafsir muyassar lengkap sampai 30 juz, terjemahan bahasa Indonesia Depag dan dilengkapi pula dengan 45 variasi MP3 Murattal per surat serta dapat dapat dijalankan sesuai ayat yang dibaca.
_kelebihan : fiturnya baik utk yg sdg kholasan,  khataman dg blajar tajwid nya,  mudah klasifikasi juz,  dan bookmarknya._
*3. Al Quran AlHadi*

Al Quran Android al Hadi merupakan aplikasi yang dikembangkan oleh Pusat kajian Hadist dan buatan developer Indonesia, Al QuranAndroid terbaik ini dilengkapi dengan indeks tematik dan kajian ayat sehingga akan memudahkan Anda untuk memahami firman Allah.
Aplikasi android Al Quran ini berisi berisi kandungan Al Quran dalam bentuk tematik yang terstruktur, dari skema besar menuju skema yang lebih detil yang dilengkapi dengan ayat beserta arti. Melalui aplikasi ini Anda tidak hanya sekedar membaca namun mengetahui tema kajian ayat-ayat Al Quran dan dalil-dalil yang bersumber dari Al Quran secara mudah.
*kelebihan: sdh dilengkapi kajian kandungan Qur’an baik ayat maupun tematik.*
Smoga hp yg kita miliki selain utk media komunikasi/sosial juga dioptimalkan utk membaca, memahami dan mentadaburi firman Allah ta’ala. Aamiin YRA… 🙏🙏🙏

| Meninggalkan komentar

Ironi Kekuasaan

Abraham Lincoln mengatakan, _”Nearly all men can stand adversity, but if you want to test a man’s character, give him power.”_

Ironi Kehidupan/Tergilas Kekuasaan/Sejarah menuliskan dengan tinta hitam/Karena kuasa, merasa dan sok kuasa/Mudah membawa diri tergoda Melintas batas tanpa terasa?
Apa hendak mau dikata/Itulah genetika kuasa/Berita 9 menteri, 19 gubernur, 300 lebih bupati/wali kota/2 gubernur Bank Indonesia/Belum termasuk ketua, anggota Lembaga negara di Prop, Kab dan Kota/Jika disatukan tentu jd 1 desa…./Padahal sebelumnya… segudang prestasi mungkin sdh diraihnya
Tapi, memang…/Setiap peristiwa selalu muncul ironi/Inilah siklus hidup yang layak ditangisi…

semoga kita tdk mengalaminya…Aamiin YRA.

alifis@corner 

28012017 10:57

pic from: michelaurel.files.wordpress.com

Dipublikasi di Alunan Kata | Tag , , , , , , , | Meninggalkan komentar