​Pesona PURNAMA Bulan 🌕🎑🌇


Putih bulat menyapa di halaman
Mengintip disela hijau dedaunan

Dilangit gulita pekat kehitaman

Hiburlah orang2 yg kesepian

Temanilah insan yg kasmaran

Mulia hadirmu,  tak tergantikan
#bulan #bulanpurnama #malam #penfui #timor #ntt #alifis #asliindonesia

Dipublikasi di Relief Kehidupan | Tag , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

​Clash of We: Ketika Publik Semakin Terbelah

Oleh : Hasanuddin Ali

Penetrasi pengguna internet di Indonesia beberapa tahun belakangan ini memang fantastis, menurut laporan yang di rilis oleh Statista, tahun 2015 pengguna internet di Indonesia mencapai 93.4 juta orang atau mencapai 37,8 %  dari seluruh populasi penduduk Indonesia sudah terkoneksi dengan internet. Pengguna internet Indonesia akan terus bertambah dan diprediksikan tahun 2019 akan mencapai 133.5 juta jiwa.
Selain jumlah pengguna internet yang besar, tingkat konsumsi pengguna internet Indonesia juga termasuk tinggi, hasil survey yang dilakukan oleh Alvara Research Center tahun 2015 menyebutkan pengguna internet Indonesia menghabiskan waktu rata-rata 3 – 4 jam dalam sehari dalam mengkakses internet. Akses internet yang tinggi itu sebagian besar digunakan untuk akses browsing, social media, dan instant messaging.
Banyak yang mengatakan bahwa dalam era internet ini informasi menjadi semakin tidak terbatas, sekarang kita masuk di era informasi dimana selain informasi yang sangat melimpah, peredaran dan perputaran informasi semakin cepat dan dinamis. Informasi datang dan pergi dengan begitu cepatnya.
Menyikapi fenomena ini mesin pencari raksaa Google “harus mengatur” search engine nya dan Facebook mengkastemisasi newsfeednya agar sesuai dengan karakter dan interest setiap akun Facebook.

Cobalah Anda bersama teman-teman Anda memasukkan kata kunci yang sama di mesin pencari Google, maka Anda dan masing-masing teman Anda akan mendapatkan hasil pencarian yang berbeda. Begitu juga coba amati Facebook Anda, Anda akan tersadar bahwa yang ditampilkan di newsfeed Anda akan cenderung memiliki topik yang sama dari teman yang itu-itu saja.
Kenapa bisa demikian? Karena Google dan Facebook secara “diam-diam” telah mengamati dan mempelajari perilaku kita ketika berselancar di internet dan social media. Ketika kita sering posting terkait kuliner maka Facebook kita akan banyak dihiasi oleh kuliner. Jika kita sering mencari perihal kegamaan dari paham tertentu maka mesin pencari Google maka akan secara otomatis Google menampilkan hasil yang sesuai dengan paham keagamaan yang sering kita cari.
Niat baik dari Google dan Facebook tadi dalam jangka pendek mungkin bagus, karena informasi-informasi yang sampai kepada kita adalah informasi yang relevan dengan kepentingan dan kebutuhan kita. Namun dalam jangka panjang secara tidak sadar informasi yang sampai kepada kita hanya itu-itu saja. Kita terjebak kepada frame informasi dan pemikiran monoton dan monolitik. Kita pada akhirnya kehilangan keragaman informasi yang sebetulnya berguna untuk memperkaya wawasan kita.Konsekwensi logis dari fenomena ini adalah semakin terbelahnya publik akibat dari perbedaan-perbedaan informasi yang kita peroleh.
Samuel Huntington tahun 1992 pernah mengatakan bahwa dunia akan menghadapi fenomena Clash of Civilization setelah perang dingin usai, teori itu mengatakan bahwa identitas budaya dan agama seseorang akan menjadi sumber konflik utama di dunia di masa depan. Meski dikritik banyak orang, teori Huntington tersebut nampak ada benarnya juga ketika kita melihat berbagai konflik yang terjadi di dunia saat ini.
Teori Huntington itu muncul sebelum era internet dan social media mewabah didunia, sehingga tesis itu merespon fenomena global. Namun ketika saat ini internet dan social media tidak bisa kita pisahkan dari kehidupan sehari-hari, benturan-benturan peradaban justru terjadi dalam skala dan ruang lingkup yang kecil, bukan lagi benturan antar bangsa atau antara peradaban, tapi yang terjadi adalah benturan antar kelompok masyarakat atau bahkan antar individu. Saya kemudian menyebutnya Clash of “We”.
Masyarakat menjadi semakin terbelah antara aku atau kamu, antara kami atau mereka. Perdebatan tidak produktif semakin kerap terjadi, perdebatan itu bukan lagi untuk mencari yang benar atau salah tapi lebih menjurus pada menang-kalah. Kita pada akhirnya hanya akan mencari informasi yang cocok dengan keyakinan kita dan kita akan merasa puas apabila menemukan informasi yang mendukung argumentasi kita dalam mengalahkan pihak “lawan” meski informasi itu tidak jelas sumber dari mana.
Lalu apa yang harus kita lakukan dalam mengurangi dampak clash of “we” ini?. Pertama dan yang terpenting adalah perlu adanya kedewasaan diri dalam mencerna setiap informasi yang kita terima, selalu gunakan akal sehat, jangan mudah terseret dalam arus informasi yang muncul. Kedua, biasakan selalu cross check setiap informasi yang kita terima, informasi terpercaya adalah apabila informasi sudah diberitakan oleh media-media yang kredibel. Ketiga, yang terakhir jaga dan batasi jempol kita untuk tidak mudah menshare setiap informasi baik di social media atau grup-grup instant messaging yang kita ikuti.
Web ; hasanuddinali.com

*Sumber Gambar: https://foundersgrid.com/social-media-marketing/
 

Dipublikasi di Relief Kehidupan | Tag , , | Meninggalkan komentar

​#Mudik2017 : Flying With The Wind …✈✈✈

__________________________________🌲🌲🌲

Langit biru di gugusan Nusa Tenggara/Bagai kanvas luas tiada batas/Dilukisi comulus yg sesekali menyapa/Selebihnya  bersih jernih bagai permadani surga. . 
Ini harusnya jd tulisan penutup dari seri #Mudik2017, krn menelisik sepenggal perjalanan balik ke rumah,  di Tanah Timor,  NTT.  Kupang-Surabaya-Nganjuk-Kediri-Pasuruan-Malang. Itu Kota2 di Jawa Timur yg kami jelajahi.  Selintas petualangan dan kesan di persinggahan Kota2 tersebut.  Dari bendungan Kulak Secang,  Pertapaan Syekh Belabelu, Masjid Cheng Ho, Sanggar Agung Tri Dharma, Pujon Batu,  Cuban Rondo, Gumul, Kolam kodok.  Mudah dijangkau… 

Hanya Bromo, Penanjakan dr arah Probolinggo dg view dan petualangan eksotis, yg sdh direncana dr awal malah tdk jadi. Selebihnya,  kumpul silaturahmi dg keluarga. Kumpul keluarga, itulah momen yg paling membahagiakan. 

Back to Home… Home Sweet Home.  ada mudik ada balik. Banyak hal,  kesan,  pengalaman baru,  pembelajaran,  yg sll menyertai dlm sebuah perjalanan yg unik “mudik”. 

Tidak bs diceritakan satu persatu,  tdk mampu dituliskan runtut seiring waktu.  Jd tulisan di Blog ini ttg #mudik2017 sepertinya tdk akan dpt dibaca seperti rangkaian kisah yg terurut. 

Nusantara,  khususnya Nusa Tenggara dr angkasa pd ketinggian 8000 ~ 10000 kaki, sll menarik.  Inilah beberapa hasil jepretan yg menunjukkan betapa indahnya Indonesia,  kalo disadari oleh warga negaranya.  

Allah Maha Indah,  Allah Maha Kaya, Allah Maha Pencipta,  dan Allah Maha Kuasa. 

__________________________________⚓⚓⚓

Laut dalammu biru menua/Laut dangkalmu renyah tertawa/Garis pesisirmu bak perawan dlm pingitan/Alami berserak tak tersentuh perompak. ……… __________________________________🌵🌵🌵

Saat ini, Musim berganti, kemarau menghampiri/Tanah karangmu bagai mimikri/Kehijauan, Kekuningan lalu kecoklatan/Disinilah di Timor, Tanah airku. 

#timor #tanahjawa #mytripmyadventure #fly #mudik2017 #idulfitri1438h #idulfitri #kupang #explore #01Juli2017

| Meninggalkan komentar

#Mudik2017 : Referensi Sungkeman

Sungkeman bs menjadi sebuah kajian menarik yg perlu dicermati dg sebaik2nya. Terutama dlm Islam,  sungkeman ad bukan Rukun Islam maupun Iman. Pro kontra dlm memaknai sungkeman ad hal biasa dlm urusan khilafiah. Berikut referensi yg aq copy mentah2 dr aslinya,  dg sy tertekan link.  
Wujud (menyembah) itu memang hanya kepada Allah, bukan kepada orang tua. Lalu bolehkah kita sungkem? Atau adakah sujud yang bukan menyembah? Bagi yang terbiasa tidak sungkem, mungkin tidak mengapa, tetapi bagi orang yang terbiasa merendahkan dirinya dihadapan orang tua. Pada momen idul fitri, sungkem terasa sebagai berjuta bakti yang sulit diungkap dikarenakan sayang tak berhingga dari kedua orang tua kita. 
​Memang sungkem adalah gerakan membungkuk kepada orang tua, sebagai wujud kerendahan seorang anak kepada orang tua, dan bukannya bersujud atau menyembah orang tua. Sebenarnya membungkukkan badan tidaklah dilarang. Sebagaimana firman Allah swt dalam surah Al Israa ayat 24 Allah yang artinya:

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”

Ternyata, Banyak orang mengira bahwa arti atau makna sungkem adalah sujud yang diidentikkan dengan menyembah, sehingga banyak orang yang berpikir bahwa sungkem itu adalah menyekutukan-Nya. Anggapan semacam itu tentu tidak benar, mengingat kisah dimana Nabi Yusuf pernah menaikkan kedua orang tuanya ke atas sebuah Singgasana dan menerima sujud dari kedua orang tuanya. Sujud disini tidak diartikan sebagai menyembah, melainkan suatu penghormatan. Kisah sujud yang tidak semata-mata menyembah terdapat dalam Al-Quran surah Yusuf ayat 101 yang Artinya:

“Dan ia menaikkan kedua ibu-bapanya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. Dan berkata Yusuf: “Wahai ayahku inilah ta’bir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan. Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir, setelah syaitan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.

Sujud disini ialah sujud penghormatan bukan sujud ibadah. Persoalan hubungan kepada Allah taala dan juga hubungan kepada orang tua sangat tegas dalam Al-Quran. Kita dituntut untuk berbuat baik kepada orang tua, bahkan kita disuruh merendahkan diri kita dihadapan mereka, kecuali jika kita disuruh menyembah orang tua.

Sungkem dilakukan dalam posisi orang tua sedang duduk, sehingga jika si anak merendahkan diri tentunya dia harus melakukan jongok. Dalam hal ini, memang ada adat sungkem yang menggunakan sungkem secara berlebihan, dengan gerakan mirip “sembah” (kedua telapak tangan bertemu, diletakkan di atas kepala dan wajah), misalnya di kraton. Apabila gerakan itu memang ditujukkan untuk menyembah dan bukannya untuk sekedar menghormati, maka itu bisa dipastikan haram dan memang dilarang. Sebagaimana Allah swt berfirman dalam surah Al-Ankabut ayat 9 yang Artinya:

“Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu- bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”.

Batasan antara menyembah dengan penghormatan tentunya bukan dilihat dan didefinisikan dari sebuah gerakan, melainkan dari niatnya. Gerakan menyembah di tiap agama, budaya, bangsa akan berbeda. Ada yang menyembah dengan bersujud, membakar dupa, berjongkok, berbaring, bahkan juga berdiri dll. Tentunya perbedaan antara menyembah dengan bukan menyembah, adalah terletak pada niatnya. Berbuat baik, patuh dan menuruti perkataan orang tua, tetapi tidak menyembah mereka juga tertulis dalam surah Al Isra ayat 24. Allah SWT menegaskan:

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”

Sungkem adalah wujud kerendahan diri, bakti seorang anak kepada orang tua sebagaimana telah dibahas dalam surah Al Isra ayat 24 di atas. Allah menyuruh anak berbakti kepada orang tua agar supaya dijauhkan dari perbuatan sombong lagi durhaka. Sebagaimana firmannya dalam surah Maryam ayat 15 yang Artinya:

“dan seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka”.

Kesadaran untuk berbuat baik kepada mereka karena sesungguhnya orang tualah yang telah membesarkan dan merawat kita diwaktu kecil. Sebagai mana Allah SWT berfirman dalam surah As Syura ayat 16 yang artinya:

” Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”

Apapun penafsiran dan sangkaan manusia dalam setiap baik dan buruknya amalan kita, sesungguhnya bagi diri kita adalah bagaimana niat kita dalam menjalankan ibadah. Niat inilah yang membedakan antara menyembah ataupun menghormat, dan sesungguhnya Allah lah yang maha mengetahui segala sesuatu. Sebagai mana Allah berfirman dalam surah Yunus ayat 37;

“Dan kebanyakannya dari mereka, tidak menuruti melainkan sesuatu sangkaan sahaja, (padahal) sesungguhnya sangkaan itu tidak dapat memenuhi kehendak menentukan sesuatu dari kebenaran (iktikad). Sesunguhhnya Allah Maha Mengetahui akan apa yang mereka lakukan”

Niat inilah yang membedakan antara perbuatan baik dan buruk juga dijelaskan dalam kitab Riyadhus sholihin: Dari Amiril Mukminin-Abu Hafash-Umar bin al-Khaththab bin Nufail bin Abdul Uzza bin Riyah bin Abdillah bin Qurth bin Razah bin Ady bin Ka’ab bin Luayyin bin Gholib al-Qurasyi al-Adawi r.a. berkata:

“Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: sesungguhnya segala perbuatan itu bergantung pada niatnya. Sesungguhnya tiap-tiap orang mempunyai sesuatu yang diniati (baik maupun buruk). Maka, barang siapa yang berhijrah (dari tempat tinggalnya ke madinah) untuk mencapai ridha Allah dan rasulNya (dan hijrah tersebut diterimaNya). Barang siapa yang hijrahnya untuk mencari harta dunia atau seorang perempuan yang akan dikawininya, maka hijrahnya (bukan untuk mencapai ridha Allah dan Allah tidak menerimanya), tapi hijrahnya untuk tujuan hijrah itu sendiri,” (H.R. Muttaaq alaih).

Sesungguhnya ridha orang tua kita adalah ridha Allah, sebagaimana hadits berikut :

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad, Ibnu Hibban, Hakim dan Imam Tirmidzi dari Sahabat dari sahabat Abdillah bin Amr dikatakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ridha Allah tergantung kepada keridhaan orang tua dan murka Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad (2), Ibnu Hibban (2026-Mawarid), Tirmidzi (1900), Hakim (4/151-152))

Berbakti Kepada Orang Tua Merupakan Sifat Baarizah (yang menonjol) dari Para Nabi. Dalam surat Ibrahim ayat 40-41: “Wahai Rabb-ku jadikanlah aku dan anak cucuku, orang yang tetap mendirikan shalat, wahai Rabb-ku perkenankanlah doaku.Wahai Rabb kami, berikanlah ampunan untukku dan kedua orang tuaku. Dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab.”

Kemudian dalam An Nahl ayat 19 tentang nabi Sulaiman ‘alaihi salam. Maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa, “Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah engkau anugrahkankepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan untuk mengajarkan amal shalih yang Engkau ridlai dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih.”

Ayat-ayat diatas menunjukan bahwa bakti kepada orang tua merupakan sifat yang menonjol bagi para nabi. Semua nabi berbakti kepada kedua orang tua mereka. Dan ini menunjukan bahwa berbakti kepada orang tua adalah syariat yang umum. Setiap nabi dan rasul yang diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala ke muka bumi selain diperintahkan untuk menyeru umatnya agar berbakti kepada Allah, mentauhidkan Allah dan menjauhi segala macam perbuatan syirik juga diperintahkan untuk menyeru umatnya agar berbakti kepada orang tuanya.

Bahwa berbakti kepada kedua orang tua dalam amal adalah yang paling utama. Dengan dasar diantaranya yaitu hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disepakati oleh Bukhari dan Muslim. Dari sahabat Abu Abdirrahman Abdulah bin Mas’ud radliallahu ‘anhu:

“Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang amal-amal paling utama dan dicintai Allah? Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘pertama Shalat pada waktunya (dalam riwayat lain disebutkan shalat diawal waktunya), kedua berbakti kepada kedua dua orang tua, ketiga jihad di jalan Allah’.” [HR. Bukhari I/134, Muslim No. 85, Fathul Baari 2/9]

referensi :

http://www.indonesiamenulis.com/2009/09/pengertian-dan-hukum-sungkem-sungkeman.html

ilustrasi : solopos

| Tag , , , , , , , | Meninggalkan komentar

​#Mudik2017 : Sungkem Bapak Emak…

Begitu berharganya waktu mudik, shg menemani ngobrol Pake / Make menjelang dan sesudah sholat berjamaah,  atau saat aktivitas ringan beliau2 aq bs ikut nimbrung dengarkan cerita kisah2 hidup dg suka sukanya, menjadi sangat istimewa. 

Puncak dr substansi mudik adalah sungkeman. momennya adalah setelah sholat Id, dan saat kluarga besar berkumpul.  Orang tua dlm hal ini Bapak Emak duduk di sofa dan anak2 beserta cucunya secara berurutan akan sungkem, duduk ngobrol,  menghaturkan hormat dan memohon maaf atas sgala salah dan khilaf anak selama ini. 

Singkatnya dlm bahasa jawa, bilang “Pake/Make ngaturaken sedoyo kalepatan kulo”.   “Bapak/Ibu mohon maaf atas sgala kesalahan ananda”.  setelahnya,  Pake Make akan menerima maaf anaknya,  dan juga meminta maaf jika ada salah serta mendoakan anak2 sukses di masa depan,  hidup bahagia dunia akhirat. 

Demikian jg,  anak2ku Aik,  Ata dan Azka selanjutnya jg sungkem ke Ortunya yaitu aq sbg Ayah dan istriku sebagai Ibunya. selanjutnya seluruh keluarga besar Anak2 dan cucu  Pake dan Make. 
Selesai bermaafan dilanjut dikeluarga besar Nenek Kakek sekampung dg berjalan kaki bersama… 
Istilah sungkem /sungkeman hanya dikenal di kultur Jawa. Bentuk lain bs dg salam2an dan berjabat tangan. Sungkeman lebaran adl mediasi eksistensial ortu dan anak2nya, harmonisasi dr nilai-nilai luhur penyadaran diri,  penghormatan, kerendahan hati,  wujud ucapan trimaksih, rasa sesal dan permohonan maaf seorang anak dlm dekapan orangtua.. seperti saat masa kecil. 

Sejarah Sungkeman dan maknanya

Seperti kita telah ketahui Indonesia adalah negara yang unik, tidak hanya kaya akan panorama alam memukau, budaya masyarakatnya pun sangat luhur. Kembali mengenai sungkeman, sungkem memiliki arti bersimpuh atau duduk berjongkok sambil mencium tangan orang yang lebih tua, biasanya adalah orangtua kita.

Di Indonesia sendiri tradisi sungkeman telah dilakukan secara turun-temurun sejak entah berapa tahun yang lalu. Khususnya di masyarakat suku Jawa, sungkeman tercatat telah dilakukan pada masa pemerintahan KGPAA, Sri Mangkunegara I, di mana pada waktu itu beliau bersama prajuritnya berkumpul bersama dan saling bermaafan saaat merayakan hari raya Idulfitri. Bahkan, pada tahun 1930, saat terjadi prosesi sungkeman di gedung Habipraya, Belanda nyaris saja menangkap Ir. Soekarno dan dr. Radjiman Widyodiningrat yang waktu itu menjabat sebagai dokter pribadi Sri Paku Bowono X, raja keraton Surakarta. (www.kompasiana.com)

Mengingat betapa luhurnya nilai-nilai sungkeman, mari kita cari tahu apa saja makna yang terkandung dari tradisi ini. Dikutip dari beberapa sumber, berikut rangkumannya.

Ritual penyadaran diri

Melalui sungkeman setiap orang diajak untuk menyadari bahwa dirinya bukanlah apa-apa tanpa hadirnya orangtua dalam kehidupannya. Sehingga orangtua wajib diperlakukan secara hormat oleh seluruh anak-anaknya. 

Melatih kerendahan hati

Sungkeman adalah ajakan kebaikan untuk menyadarkan, mendisiplinkan serta menghilangkan sikap ego di dalam diri. Hal ini terlihat dari bagaimana cara seseorang merendahkan tubuhnya dan dengan tulus “menyembah” orang yang telah berjasa dalam hidupnya.

Wujud ucapan rasa terima kasih

Khususnya dalam pernikahan kedua mempelai biasanya akan menjalani ritual sungkeman kepada orangtua kedua belah pihak. Prosesi ini adalah wujud rasa terima kasih dari anak kepada orangtuanya yang telah berjasa melahirkan dan membesarkannya. Selain itu, sungkeman adalah awal bagi anak untuk meminta izin kepada orangtua sebelum memasuki kehidupan berumah tangga serta memohon doa dan restu dari mereka berdua. (Upacara Perkawainan Adat Sunda, Pustaka Sinar Harapan, 1990)

Wujud rasa sesal dan permohonan maaf

Setiap orang tidak luput dari perbuatan salah, bahkan dalam hubungan antara orangtua dan anak hal ini kerap terjadi. Di sinilah nilai luhur sungkeman terbukti ampuh untuk memulihkan kembali hubungan yang telah rusak, di mana rasa sakit hati terobati dan rasa percaya dipulihkan.
Jika digali lebih dalam masih ada banyak nilai-nilai luhur sungkeman yang bisa kita pelajari. Namun, yang terpenting saat ini adalah bagaimana budaya sungkeman mampu dilestarikan sebagai salah satu warisan leluhur yang layak kita banggakan sebagai orang Indonesia.

Dipublikasi di Remah2ilmu | Tag , , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Orang Asing “The Stranger” 

Beberapa tahun setelah aku lahir, ayahku bertemu dengan seorang asing yang baru tiba ke kota kecil kami. Sejak awal, ayah terpikat dengan pesonanya dan segera mengundangnya untuk tinggal bersama keluarga kami.

Orang asing ini cepat diterima bukan hanya dirumahku, tetapi juga di masyarakat sekitar. Ia mudah bergaul dan diterima dengan cepat karena pesonanya. Saat aku tumbuh dewasa, aku tidak pernah mempertanyakan tempatnya di keluargaku. Dalam pikiran mudaku, ia memiliki kedudukan yang khusus. Orangtuaku adalah instruktur pelengkap:ibu mengajari tentang hal yang baik dan jahat, dan ayah mengajarkanku untuk taat.

Tapi orang asing ini adalah pendongeng kami. Dia membuat kami terpesona selama berjam -jam dengan petualangan, misteri, dan komedi. Jika aku ingin tahu mengenai politik, sejarah atau ilmu pengetahuan, ia selalu tahu jawaban tentang masa lalu, sekarang dan memahami bahkan tampak mampu memprediksi masa depan.

Ia mengajak keluargaku untuk menyaksikan pertandingan pertama Major League Baseball. Dia membuatku tertawa dan menangis. Orang asing ini tidak pernah berhenti berbicara, tapi ayahku tampak tidak keberatan. Lama -lama kami merasa ia bagian dari rumah kami, bukan orang asing lagi.

Kadang-kadang ibu akan bangun diam-diam sedangkan kami semua diam satu sama lain unuk mendengarkan apa yang ia katakan dan ibu pergi ke dapur dengan damai dan tenang. (Aku bertanya-tanya sekarang apakah Ibu pernah berdoa agar orang asing ini pergi?)

Ayah memimpin rumah tangga ini dengan nilai-nilai moral tertentu, tapi orang asing ini tidak pernah merasa berkewajiban untuk menghormati nilai-nilai tersebut. Kata-kata kotor misalnya, tidak diizinkan di rumah kami. Tetapi tamu lama kami ini, bagaimanapun, belakangan berhasil lolos dengan kata-kata makian yang membakar telingaku dan membuat wajah ayah dan ibu memerah. Ayahku tidak mengizinkan konsumsi alkohol atau merokok, tetapi orang asing ini mendorong kami untuk mencobanya secara teratur.

Dia membuat rokok terlihat keren, jantan.  Dia berbicara dengan bebas (terlalu bebas ) tentang seks. Komentarnya kadang terang-terangan, kadang sugestif, dan umumnya memalukan.

Kini aku tahu bahwa konsep hidupku tentang hubungan lebih banyak dipengaruhi oleh orang asing itu ketimbang ayah ibu atau yang diajarkan bapak dan ibu guruku.

Waktu demi waktu berlalu, ia mulai berani menentang nilai-nilai yang diajarkan orang tuaku, namun ia jarang ditegur. Mungkin karena kami akan kehilangan rasa humornya yang setiap saat akan menghibur kami di kala sepi.

Lebih dari 50 tahun telah berlalu sejak orang asing itu pindah ke rumah kami. Dia telah berbaur akrab dengan keluarga namun fisiknya sudah tak menarik seperti dulu lagi. Anda masih menemukan ia duduk di suatu tempat sambil menunggu seseorang yang akan mendengarkan ia berbicara dan bertingkah.

Kami memanggilnya “televisi” kini ia punya istri yang kami sapa “komputer”. Dan belakangan ia beristri muda namanya “laptop”. Anak pertama mereka adalah handphone dan anak keduanya Ipod. Yang baru saja lahir adalah cucu-cucunya bernama “Ipad”, “Facebook”, “twitter” dan “LINE”.

inspirasi  : Camera  branding, Rhenald Kasali

Sumber: h3lwie.wordpress.com dari RichardBejah.com,  “The Stranger”. 

ilustrasi : tekatekitik. WordPress. com

Dipublikasi di Relief Kehidupan | Tag , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

#Mudik2017 : Masjid Cheng Ho, Jejak Thionghoa Muslim di Surabaya

17 Juni 2017 kemarin,  kami ngikut Yangti (panggilan neneknya anak2) yg menjemput Aunti Nindya yg landing jam 17.00 sore di juanda sepulang dr Ambon. Berangkat jam 10. 05 pagi kami melaju dr rumah di kota Pasuruan. Sengaja berangkat awal,  krn kami hendak melihat 2 lokasi wisata ruhani atau kental dg peribadatan. 

Tidak bermaksud SARA,  ketika yg kami tuju adalah saudara sesama anak bangsa di NKRI yg beretnis Thionghoa/Cina, Masjid Cheng Ho di Genteng dan Sanggar Agung di Kenjeran, Surabaya. Tidak juga membuat opini akan polemik di medsos, apakah agama itu warisan? karena sdh jelas dan terang benderang,  agama adalah cahaya kalbu kebenaran yg disinergikan  dg akal fikiran. 

Seperti yg sdh diduga,  perjalanan di luar/pinggiran Surabaya sll lancar, berkebalikan saat di dalam kota.  Sll menghadirkan uji kesabaran setiap terjebak dlm kemacetan, di belahan bumi surabaya yg sdh jauh lebih bermartabat,  rapi,  indah dan teratur. 

Tulisan ini,  khusus mengupas Masjid Cheng Ho,  sementara Utk Sangar Agung Klenteng Budha di Kenjeran, dikelas di tulisan berikutnya. Sdh banyak yg menuliskan keunikan Masjid yg terlihat seperti Klenteng ini.  Salah satunya detik travel yg sebagian sy kutip disini. 

Masjid Cheng Ho

Takjub dan mengagumkan.  Itu kata yg bs terucap,  padahal sdh kedua kalinya sy kemari. Merah,  kuning dan hijau membalut bangunan yang terlihat seperti klenteng (lihat foto diatas, pic by the jazz). Siapa sangka, bangunan ini adalah masjid. Masjid Cheng Ho, paduan unik dari China, Timur Tengah dan Jawa di Surabaya. 

Pengambilan nama Cheng Hoo ini sebagai bentuk rasa syukur dan penghormatan segenap muslim di Surabaya dan Indonesia, terhadap Laksamana, bahariawan asal China beragama Islam. Selama perjalanannya di kawasan Asia Tenggara, Cheng Ho tidak hanya berdagang dan menjalin persahabatan, tapi juga menyebarkan agama Islam di Indonesia.

Masjid yang bernama lengkap Masjid Muhammad Cheng Hoo ini berdiri di atas lahan seluas 21×11 m2 dan luas bangunan utama 11×9 m2. Masjid yang didominasi warna merah, kuning, hijau dengan ornamen bernuansa Tiongkok lama ini memiliki 8 sisi di bagian atas bangunan utama.

Ketiga ukuran dan angka ada maknanya yakni, angka 11 adalah ukuran Ka’bah saat baru dibangun. Sedangkan angka 9 melambangkan Walisongo. Sedangkan 8 artinya melambangkan Pat Kwa (dalam bahasa Tionghoa artinya keberuntungan atau kejayaan). Masjid Cheng Hoo ini mampu menampung sekitar 200 jamaah.

“Perpaduan gaya Tiongkok dan Arab ini memang menjadi ciri khas Masjid Cheng Hoo. Arsitektur Masjid Cheng Hoo diilhami Masjid Niu Jie di Beijing. Masjid Cheng Hoo juga tidak melepaskan nuansa Timur Tengah seperti pintu utama masjid, serta bergaya Jawa seperti tembok yang susunan batu batanya terlihat. 

Di sisi utara Masjid Cheng Hoo terdapat relief dan replika kapal dan wajah Laksamana Cheng Ho. Di lokasi ini, juga sering menjadi tempat foto para wisatawan.
Relief dan replika kapal dan Cheng Hoo bertujuan untuk menunjukkan bahwa Muhammad Cheng Hoo adalah pelaut, muslim dari Tionghoa yang taat, saleh dan utusan perdamaian yang terpuji.

Masjid Cheng Hoo didirikan atas prakarsa para sesepuh, penasehat dan pengurus PITI (Pembina Iman Tauhid Islam). Selain itu, pengurus Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia Jawa Timur dan tokoh masyarakat Tionghoa di Surabaya juga diturutsertakan.

Peletakan batu pertama pada 15 Oktober 2001 bertepatan dengan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Pembangunan masjid selesai pada 13 Oktober 2002. Kemudian diresmikan oleh Menteri Agama RI Prof Dr H Said Agil Husein Al Munawar pada 28 Mei 2003.

Masjid Cheng Hoo juga banyak dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah di Jawa Timur dan Indonesia. Ada yang dari Makassar, Jawa Barat, Jakarta dan berbagai daerah lainnya. Banyak juga wisatawan dari mancanegara baik yang muslim maupun non muslim. Ada dari Malaysia, Arab Saudi, China, selandia Baru, Inggris, Afrika dan lainnya. Kunjungan wisatawan baik dari nusantara maupun mancanegara rata-rata sebulan bisa mencapai 1.500 sampai 2.000 orang. 

Tentu saja, wisatawan mancanegara baik yang muslim maupun non muslim terkagum-kagum dengan Masjid Cheng Hoo,  sekaligus mengakui keberagaman budaya di Indonesia. Termasuk bangunan Masjid Cheng Hoo.

Di area masjid Cheng Hoo ini juga terdapat prasasti tiga bahasa, Indonesia, Mandarin dan Inggris, yang menjelaskan sejarah Laksamana Cheng Hoo di gedung kantor Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo dan Pembina Iman Tauhid Islam (PITI) di depan sisi selatan Masjid Cheng Hoo.

Kebetulan,  saat kami berkunjung, sdg diset di pelataran depan panggung buka puasa bersama Konsulat Jenderal Tionghoa bersama 500 anak Yatim. Smoga kebaikan RRT di Cheng Ho Indonesia diikuti dg sikap politiknya thdp warganya yg muslim.  Smoga… Aamiin. 
alifis@corner 170617 Erlangga,Pasuruan

Dipublikasi di Relief Kehidupan | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar