Physics Books Collection #1

#1____ 21 GB Physics Books

Hampir 21 GB berisi ratusan buku-buku Fisika 😍

Dari buku2 fisika level basic sampai yg advance. Selamat menelusur!😉

https://drive.google.com/drive/folders/0B9XbEQh3jB9pbzhEX3J0dkhSTTg

#2____Scientific Journals

Situs ini memberikan akses pada berbagai jurnal saintis, artikel dan paper.

https://sci-hub.tw/

#3____ Platform for Physics Books

Channel Telegram ini memberikan 300 lebih buku2 Fisika.

@phybooks

#4____ About Physics

Channel Telegram ini mengupdate informasi terkini ttg fisika.

@fisikafilsafat

Terimakasih, selamat menelusur !!!😍

Iklan
Dipublikasi di Alifis as CIVITAS, Remah2ilmu | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar

ANGSA beranak kwek2

Dari 4 musim penghujan
Angsa usaha penuh harapan
8 telur dalam 5 kali eraman
Gagal menetas gagal idaman

Saat terakhir usaha
2 bebek kwek kwek menyapa
keluyuran dari dekap induknya
kepincut hati dan rasa

Sejak itu
Ibu angsa memanggil selalu
2 bebek kwek kwek yang lucu
Segenap daya upaya, dia anakku

Induk kwek kwek tiada
Saat bertelur lagi diusia tua
2 kwek kwek tidak sedih berlama lama
Pasangan angsa amat sayang menjaga

Bukan cerita rekaan
Naluri hewan asuh peradaban
Kompilasi rasa menyatukan peran
Lewati masa jalani hidup beriringan

Menyindir pemilik akal logika
Yang tersia dengan konfliknya
Apa yang dicari di dunia?
Asah, Asih, Asuhlah wahai manusia

Penfui pagi, 231218 06:53
Sehabis hujan menyejukkan

Dipublikasi di Relief Kehidupan | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar

Titip sebentar

Nuryanti, N., Tanesib, J., & Warsito, A. (2018). PEMETAAN DAERAH RAWAN BANJIR DENGAN PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI KECAMATAN KUPANG TIMUR KABUPATEN KUPANG PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR. Jurnal Fisika Sains Dan Aplikasinya, 3(2), 73-79. Retrieved from https://ejurnal.undana.ac.id/FISA/article/view/604

Lusi, V., Warsito, A., & Louk, A. (2018). SISTEM PNEGUKURAN INDEKS MASSA TUBUH MENGGUNAKAN SENSOR JARAK INFRA MERAH DAN LOAD CELL. Jurnal Fisika Sains Dan Aplikasinya, 3(1), 43-48. Retrieved from https://ejurnal.undana.ac.id/FISA/article/view/593

Piubati, R., Warsito, A., & Husin, A. (2018). ANALISIS PERBANDINGAN KEMUNCULAN SINTILASI IONOSFER DI KUPANG DAN DARWIN. Jurnal Fisika Sains Dan Aplikasinya, 3(1), 21-29. Retrieved from https://ejurnal.undana.ac.id/FISA/article/view/590

| Meninggalkan komentar

Tapak 212

 

Dipublikasi di Alifis Kata | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar

212 dan Pers Indonesia…

Story Highlights

  • Dengan mengamati berbagai halaman muka media, kita bisa mendapat gambaran apa terjadi di balik semua itu? Media bersama kekuatan besar di belakangnya, tengah melakukan agenda setting. 
kumparan

Oleh : Hersubeno Arief

Tanda-tanda pers Indonesia sedang melakukan bunuh diri massal, semakin nyata. Pemberitaan media massa tentang Reuni 212 yang berlangsung di Monas Ahad (2/12), membuka tabir yang selama ini coba ditutup-tutupi. Kooptasi penguasa, kepentingan ideologi, politik dan bisnis membuat pers menerapkan dua rumus baku, framing dan black out.

Peristiwa besar yang menjadi sorotan media-media internasional itu sama sekali tidak “menarik” dan tidak layak berita, bagi sebagian besar media nasional yang terbit di Jakarta.

Sejumlah pembaca Harian Kompas pada Senin (3/12) pagi dibuat terkejut ketika mendapati koran nasional itu sama sekali tidak memuat berita jutaan orang yang berkumpul di Monas. Halaman muka Kompas bersih dari foto, apalagi berita peristiwa spesial tersebut.

Setelah dibuka satu persatu, peristiwa super penting itu ternyata terselip di halaman 15. Dengan judul “Reuni Berlangsung Damai” Kompas hanya memberi porsi berita tersebut dalam lima kolom kali seperempat halaman, atau sekitar 2.500 karakter. Tidak ada foto lautan manusia yang menyemut dan memadati kawasan Monas dan sekitarnya.

Bagi Harian Kompas peristiwa itu tidak penting dan tidak ada nilai beritanya (news value). Halaman 15 adalah halaman sambungan, dan topiknya tidak spesifik. Masuk kategori berita dibuang sayang. Yang penting ada. Karena itu namanya halaman “umum.” Masih untung pada bagian akhir Kompas mencantumkan keterangan tambahan “Berita lain dan foto, baca di KOMPAS.ID.

Kompas memilih berita utamanya dengan judul “Polusi Plastik Mengancam.” Ada dua berita soal plastik, dilengkapi dengan foto seorang anak di tengah lautan sampah plastik dalam ukuran besar. Seorang pembaca Kompas yang kesal, sampai membuat status “Koran Sampah!”

Halaman muka Harian Media Indonesia milik Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh juga bersih dari foto dan berita Reuni 212. Mereka memilih berita utama dengan judul “ PP 49/2018 Solusi bagi Tenaga Honorer.”

Harian Sindo Milik Ketua Umum Partai Perindo Hary Tanoe memilih berita utamanya “ Pesona Ibu Negara di Panggung G-30” dengan foto-foto mereka dalam ukuran besar. Koran Tempo memilih berita utama “Menuju Ekosistem Digital” yang ditampilkan dalam seluruh halamannya.

Hanya Koran Rakyat Merdeka, Republika yang memuat berita dan foto peristiwa Reuni 212 di halaman muka. Rakyat Merdeka menulis Judul “212 Makin lama, Makin Besar Kenapa Ya?.” Republika menulis Judul “Reuni 212 Damai.” Sementara Harian Warta Kota memuat foto lepas, suasana di Monas dengan judul berita yang dengan berita utama yang sangat besar “Ketua RW Wafat Usai Reuni.”

Agenda Setting

Dengan mengamati berbagai halaman muka media, kita bisa mendapat gambaran apa terjadi di balik semua itu? Media bersama kekuatan besar di belakangnya, tengah melakukan agenda setting.

Mereka membuat sebuah skenario menenggelamkan peristiwa Reuni 212, atau setidaknya menjadikan berita tersebut tidak relevan.

Operasi semacam ini hanya bisa dilakukan oleh kekuatan besar, dan melibatkan biaya yang cukup besar pula.

Target pertama black out sepenuhnya. Jangan sampai berita tersebut muncul di media. Untuk kasus pertama ini kelihatannya tidak ada media yang berani mati dan mengabaikan akal sehat.

Reuni 212 terlalu besar untuk dihilangkan begitu saja. Kasusnya jelas berbeda dengan unjukrasa Badan Eksekutif Media Se-Indonesia (BEMSI), dan ribuan guru honorer yang berunjuk rasa ke istana beberapa waktu lalu. Pada dua kasus itu mereka berhasil melakukan black out.

Target kedua, kalau tidak bisa melakukan black out, maka berita itu harus dibuat tidak penting dan tidak relevan. Apa yang dilakukan Kompas, dan Media Indonesia masuk dalam kategori ini.

Target ketiga, diberitakan, namun dengan tone yang datar dan biasa-biasa saja. Contohnya pada Republika. Meski dimiliki oleh Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf, harap diingat latar belakang koran ini adalah milik umat. Tidak mungkin mereka menempatkan berita ini di halaman dalam, apalagi menenggelamkannya.

Bisa dibayangkan apa yang terjadi, bila Republika berani mengambil posisi seperti Kompas? Ketika Erick memutuskan bersedia menjadi ketua tim sukses saja banyak pembaca yang sudah mengancam akan berhenti berlangganan. Apalagi bila sampai berani melakukan black out dan framing terhadap berita Reuni 212. Wassalam.

Target keempat tetap memberitakan, tapi dengan melakukan framing, pembingkaian berita. Reuni memakan korban. Contohnya adalah Warta Kota yang membuat judul “Ketua RW Wafat Usia Reuni.” Berita ini jelas terlihat sangat dipaksakan. Satu orang meninggal di tengah jutaan orang berkumpul, menjadi berita yang menarik dan penting? Sampean waras?

Hal yang sama jika kita amati juga terjadi di media online dan televisi. Hanya TV One yang tampaknya mencoba tetap menjaga akal sehat di tengah semua kegilaan. Mereka masih memberi porsi pemberitaan yang cukup layak dan melakukan siaran langsung dari Monas.

Tidak perlu orang yang punya pengalaman di media untuk memahami semua keanehan yang kini tengah melanda sebagian besar media arus utama Indonesia.

Berkumpulnya jutaan orang dari berbagai penjuru kota di Indonesia, dan juga kota-kota dunia di Lapangan Monas, apalagi pada masa kampanye, jelas merupakan berita besar. Tidak alasan untuk tidak memuat, apalagi mengabaikannnya.

Bagi kalangan media peristiwa itu jelas memenuhi semua syarat kelayakan berita. Mau diperdebatkan dari sisi apapun, pakai ilmu jurnalistik apapun, termasuk ilmu jurnalistik akherat, atau luar angkasa (kalau ada), Reuni 212 jelas memenuhi semua syarat.

Luasnya pengaruh (magnitude), kedekatan (proximity), aktual (kebaruan), dampak (impact), masalah kemanusiaan (human interest) dan keluarbiasaan (unusualness), adalah rumus baku yang menjadi pegangan para wartawan.

Permainan para pemilik dan pengelola media yang berselingkuh dengan penguasa ini jelas tidak boleh dibiarkan. Mereka tidak menyadari sedang bermain-main dengan sebuah permainan yang berbahaya. Dalam jangka pendek kredibilitas media menjadi rusak. Masyarakat akan kehilangan kepercayaan. Mereka akan ditinggalkan.

Di tengah terus menurunnya pembaca media cetak, tindakan itu semacam bunuh diri, dan akan mempercepat kematian media cetak di Indonesia. Dalam jangka panjang rusaknya media dan hilangnya fungsi kontrol terhadap penguasa, akan merusak demokrasi yang kini tengah kita bangun.

Masyarakat, aktivis, wartawan, lembaga-lembaga kewartawanan seperti PWI, AJI, IJTI, maupun lembaga-lembaga seperti Komisi Penyiaran Indonesia, dan Dewan Pers tidak boleh tinggal diam. Terlalu mahal harga yang harus dibayar bangsa ini, karena medianya larut dalam konspirasi dan dikooptasi. end.

 

https://www.hersubenoarief.com/artikel/bunuh-diri-massal-pers-indonesia-jilid-ii/

Dipublikasi di Alifis Jurnalistik | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Kompetisi

fb_img_1463618901799.jpgHidup adalah kompetisi. Bukan hanya untuk menjadi yang terbaik, tetapi juga kompetisi untuk meraih cita-cita yang diinginkan.

Namun sayang, banyak orang terjebak pada kompetisi semu yang hanya memperturutkan syahwat hawa nafsu duniawi dan jauh dari suasana robbani. Kompetisi harta-kekayaan, kompetisi usaha pekerjaan, kompetisi jabatan kedudukan dan kompetisi lainnya, yang semuanya seperti fatamorgana. Indah menggoda, tetapi sesungguhnya tiada. Itulah kompetisi yang menipu. Bahkan, hal yang sangat memilukan ialah tak jarang dalam kompetisi selalu diiringi “suuẓan” buruk sangka, bukan hanya kepada manusia, tetapi juga kepada Allah Swt. Lebih merugi lagi jika rasa iri dan riya ikut bermain dalam kompetisi tersebut.

Lalu, bagaimanakah selayaknya kompetisi bagi orang-orang yang beriman?

Allah Swt. telah memberikan pengarahan bahkan penekanan kepada orang-orang beriman untuk berkompetisi dalam kebaikan sebagaimana firman-Nya:
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ ۚ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

Artinya: “Dan Kami telah menurunkan Kitab (al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjaganya maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Kalau Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu, maka berlombalombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah kamu semua kembali, lalu diberitahukan-Nya kepadamu terhadap apa yang dahulu kamu perselisihkan.” (QS. al-Maidah : 48)

Pada Al-Qur’an Surat al-Maidah ayat 48 Allah Swt. menjelaskan bahwa setiap kaum diberikan aturan atau syariat. Syariat setiap kaum berbeda-beda sesuai dengan waktu dan keadaan hidupnya. Meskipun mereka berbeda-beda, yang terpenting adalah semuanya beribadah dalam rangka mencari riḍa Allah Swt., atau berlomba-lomba dalam kebaikan. Allah Swt. mengutus para Nabi dan menurunkan syariat kepadanya untuk memberi petunjuk kepada manusia agar berjalan pada rel yang benar dan lurus. Sayangnya, sebagian dari ajaran-ajaran mereka disembunyikan atau diselewengkan. Sebagai ganti ajaran para nabi, manusia membuat ajaran sendiri yang bersifat khurafat dan takhayul.

Ayat ini membicarakan bahwa al-Qur’an memiliki kedudukan yang sangat tinggi; Al-Qur’an sebagai pembenar kitab-kitab sebelumnya; juga sebagai penjaga kitab-kitab tersebut. Dengan menekankan terhadap dasar-dasar ajaran para nabi terdahulu, al-Qur’an juga sepenuhnya memelihara keaslian ajaran itu dan menyempurnakannya.

Akhir ayat ini juga mengatakan, perbedaan syariat tersebut seperti layaknya perbedaan manusia dalam penciptaannya, bersuku-suku, berbangsa-bangsa. Semua perbedaan itu adalah rahmat dan untuk ajang saling mengenal.

Ayat ini juga mendorong pengembangan berbagai macam kemampuan yang dimiliki oleh manusia, bukan malah menjadi ajang perdebatan. Semua orang dengan potensi dan kadar kemampuan masing-masing, harus berlomba-lomba dalam melaksanakan kebaikan.

Allah Swt. senantiasa melihat dan memantau perbuatan manusia dan bagi-Nya tidak ada sesuatu yang tersembunyi.

Mengapa kita diperintahkan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan?

Paling tidak ada beberapa alasan, antara lain sebagai berikut.

Pertama, bahwa melakukan kebaikan tidak bisa ditunda-tunda, melainkan harus segera dikerjakan. Sebab kesempatan hidup sangat terbatas, begitu juga kesempatan berbuat baik belum tentu setiap saat kita dapatkan. Kematian bisa datang secara tiba-tiba tanpa diketahui sebabnya. Oleh karena itu, begitu ada kesempatan untuk berbuat baik, jangan ditunda-tunda lagi, tetapi segera dikerjakan.

Kedua, bahwa untuk berbuat baik hendaknya saling memotivasi dan saling tolong-menolang, di sinilah perlunya kolaborasi atau kerja sama. Lingkungan yang baik adalah lingkungan yang membuat kita terdorong untuk berbuat baik. Tidak sedikit seorang yang tadinya baik menjadi rusak karena lingkungan. Lingkungan yang saling mendukung kebaikan akan tercipta kebiasaan berbuat baik secara istiqamah (konsisten).

Ketiga, bahwa kesigapan melakukan kebaikan harus didukung dengan kesungguhan. Allah Swt. berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

Artinya: “…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan…” (Q.S. al-Maidah : 2)

Langkah awal untuk menciptakan lingkungan yang baik adalah dengan memulai dari diri sendiri, dari yang terkecil, dan dari sekarang. Mengapa? Sebab inilah jalan terbaik dan praktis untuk memperbaiki sebuah bangsa. Kita harus memulai dari diri sendiri dan keluarga. Sebuah bangsa, apa pun hebatnya secara teknologi, tidak akan pernah bisa tegak dengan kokoh jika pribadi dan keluarga yang ada di dalamnya sangat rapuh.

dr bacaanmadani

| Meninggalkan komentar

Kaum Terpelajar

belajarKaum terpelajar, menurut almarhum W.S. Rendra, adalah mereka yang “berumah di angin”. Kaum terpelajar mengambil jarak agar senantiasa dapat mengamati dan mempelajari perkembangan di masyarakat dengan objektif dan seksama. Mereka tidak terjun dalam rutinitas persoalan keseharian agar ide-ide yang mereka sumbangkan dapat mewakili kepentingan semua golongan, dengan kesegaran dan ketajaman yang genuine.

Almarhum W.S Rendra memang benar, rumah kaum terpelajar berada di angin. Namun, sejarah juga membuktikan bahwa jika kaum terpelajar memutuskan untuk melangkah dari balik awan dan turun menginjak bumi, maka perubahan-perubahan bisa terjadi.

Apakah kini kaum terpelajar sudah menginjak bumi, atau masih bersembunyi di balik awan?

Kiai Toto Raharjo dlm Caknun.com , pic : tumblr

| Meninggalkan komentar

TAFAKKUR DI KABIN

Ikut berduka bg keluarga korban, sedih pasti, begitu mendadak, dan tidak akan ditemui lg di waktu normal dunia. Ada lorong waktu di batin yg tiba2 terputus, ceritanya akan perlahan terurai bergerak mundur kembali ke masa silam….

3 hari lalu, JT610 pesawat generasi baru buatan 2018 dg membawa 189 penumpang diberitakan hilang kontak dan jatuh diatas perairan Karawang, Jawa Barat. Otoritas terkait menyatakan seluruh penumpang dipastikan tidak ada yg bs bertahan hidup. Upaya yg dilakukan adalah memastikan jenasah/jasadnya dpt diambil dan diidentifikasi shg bs dikembalikan ke keluarga.

Ikut berduka bg keluarga korban, sedih pasti, begitu mendadak, dan tidak akan ditemui lg di waktu normal dunia. Ada lorong waktu di batin yg tiba2 terputus, ceritanya akan perlahan terurai bergerak mundur kembali ke masa silam. Detik demi detik terurai tanpa dapat ditahan. Tidak lg bs bercengkerama dan slg perhatian dg sosok yg selama ini lekat, mewarnai dan menjadi bagian hidup selama hidup di dunia.

Dengan empati dan simpati, smoga keluarga korban kuat dlm kesabaran, ketegaran dan ketabahan. Allah SWT dpt memanggil pulang hambaNya, kapanpun dimanapun dg cara ap\napun yg Allah mau. Takdir telah digariskan.

Ada lingkaran yg bs dikuasai manusia dan lingkaran diluar kuasa manusia. Manusia bs merencsnakan, memprogram, mengendalikan dan mengeksekusi keadaan2 khusus. Tetapi, Allah yg memutuskan keinginan manusia diijabah atau tidak. Allahlah satu2nya yg meng-acc kesuksesan penerbangan (walau pihak evaluator sdh meng-acc kelaikan terbang). Percaya bahwa pilot melaksanakan tugas sebaik2nya dan diatas segalanya, Allahlah yg memperjalankannya.

Pukul 07:49 yd pagi sy dlm perjalanan Kupang-Surabaya. Dalam psikologis dan sikap mental yg sama, sy mengetik tulisan ini dlm keadaan pasrah tawakkal pd Allah atas hidup dan mati. Meninggalkan keluarga, dg tetap berkeyakinan Allah akan bimbing dan lindungi mereka. Di ketinggian sekitar 10.000 kaki hanya itu yg plg bijak dilakukan. berfikir positif dan doa doa sll didengungkan dlm batin.

Sedikit goncangan di ketinggian ibarat peringatan pada penumpang di kabin, bahwa kehidupan tdklah sll mulus, perjalanan hidup tdk sll datar, dan masa depan tidak bisa dipastikan. Kesadaran akal, ketenangan jiwa dan keseimbangannya mesti sll dikalibrasi setiap saat setiap waktu. Goncangan adalah anugerah.

08:34 Lion JT 619 mendarat di Surabaya. Dan sesaat td pukul 09:56 sy sdh di dalam pesawat JT 916 utk mwnuju Bandung. Allah Ya Allah…Bismillah. La haula wala quwwata Illabillah…

Saat manusia membaca posisi di dlm kabin pd ketinggian 10.000 kaki, sebenarnya patutlah banyak beristighfar sekaligus bersyukur. Ksrena fisik tubuh sedang dinaikkan jauh di atas daratan sbg habitatnya yg penuh dg pergumulan kepentingan duniawi, dan disaat yg bersamaan diingatkan utk melihat kebawah, betapa kerdilnya manusia di alam semesta, begitu lemahnya manusia di hadapan Allah.

Di dalam kabin manusia tdk leluasa bertindak karena tindakan ceroboh sekecil apapun yg berkaitan dg sensitivitas perangkat navigasi dan penerbangan akan berpotensi fatal. Demikian jg dlm kehidupan di darat, nun dibawah sana. Perbuatan baik dan buruk sebesar zarrahpun tercatat dan berpotensi membebani diri pd saat timbangan amal di Padang Mashyar.

Mendung seputih kapas, berarak bergerak ibarat kesucian yg mesti sll manusia idam2kan dn usahakan, susah diraih dari darstan di bawah, tapi jg tdk bs disentuh dari dalam kabin pesawat.

Pukul 10:59 saat ini jauh diatas awan.Daratan tak tampak lagi. Hamparan awan sejauh mata memandang berlapis lapis sejauh mata memandang. Dan sesaat melongok jendela, memandang ke atas hanyalah warna langit kebiruan yg entah sampai dimana batasnya, manusia tdk akan memahaminya.

Dikabin ini, dalam benak manusia inilah saat sendiri. Jauh tinggi diatas, tak tahu seberapa jarak keatas. Tapi tidak, manusia tidak pernah sendiri. Jika nyata dirasa, itu adalah saat manusia tidak menyadari keberadaannya. Manusia akan sll berjumpa dg pertanyaan paling mendssar yg berusia seumur sejak manusia ada di dunia. Dari mana dan hendak menuju kemana kita ada?

Surabaya Bandung kuranglebih 1 jam, dan saat ini awan putih seputih kapas sdh kembali terlihat jelas. Sedikit goncangan badan pesawat menandskan mulai menurunnya ketinggian dan jadi sapaan saat permisi menembus awan.

Begitu luas tak terbatas di ketinggian, seakan pesawat diam stagnan melintas negeri di atas awan. Gerak relatifnya begitu kecil dibanding batas batas langit yg tak bertepi. Dan ketika bedzda ditengah awan putih yg tak terbatas, manusia dan pesawat tdk lg bergerak berdasarkan pandangan mata biasa. Pilot hanya bertumpu pd alat navigasi utk menuju arah dan tujuan. Saat diselingi kilat petir yg berkilau menyambar antar awan, manusia dalam kabin hanya terdiam.

Seperti manusia dlm doa. Tak lgi melihat keadaan sekelilingnya. Objek kasat mata menjadi tak bermakna. Hanya kepada Allah azza wajala yang dituju. Dengan energi, kesadaran dan kedalaman penjiwaan bukan lagi dengan indera penglihatan, penciuman dan sentuhan fisik.

Di atas Bandung, begitu berawan. Kota sdh mulai trrlihat. Pesawat sdh mulai bermanuver belok dan terus menurunkan ketinggian. Sebentar lg akan menjejak daratan.

Jam 11:34 pesawat mendarat dg mulus. Alhamdulillah. Trimaksih ya Allah. Smoga sy dan smua insan sll dikarunia kesadaran atas kehadirannya di bumi. Manusia bukan siapa siapa, tidak ada apa apanya. Di atas langit ada langit. Smoga kita sll Sadar penuh hadir utuh.

alifis@corner
Diatas awan Kupang Bandung
311118

Dipublikasi di Relief Kehidupan | Tag , , , , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

24 Porsi Ndeso Klasik, JOSS!!! #1

Sy suka mengamati, memotret bahkan menuliskan sesuatu sbg bagian aktivitas santai dan menyenangkan. Terutama situasi unik atau bentang alam. Kali ini agak aneh, “makanan”. Alasan pasnya, saat bersih2 memori hp, ketemulah foto 24 porsi ndeso dan klasik ini. Sayang kalo dibuang. Jadilah tulisan ini.

Makan bukan hanya kebutuhan ‘kampung tengah’ (perut), tp saat ini telah menjadi lifestyle, gaya hidup. Sdh dipadupadankan dg apapun evennya, makanan sll nyelip didalamnya.

Beraneka bahan dan cara olahnya, sentuhan warna, citarasa, tekstur dan seni penyajiannya, dari yg klasik asli ndeso sampai yg ultra modern, hehehe.

Makan apapun, selera asli sy ad selera ndeso klasik (lidahnya dicetak di desa 😁), cenderung pedas. Maklum Jawatimuran (kadang sepedas ngomongnya, ✌️👌).

24 Porsi Ndeso Kalsik, JOSS!!! ad potret menu ndeso yg kebetulan ingat utk difoto sebelum sy makan, dari tgl 23 Mei s/d 12 Oktober 2018, 5 hr lalu. 24 porsi ini, asli mayoritas buatan Istri, ada beberapa Emak, ada hantaran dr tetangga Bu “Sajiman”, dan beberapa warung kecil di Malang, pas saat backup si Sulung jd maba.

Sekedar iming2, ini makanan kampung yg MURAH tapi bukan murahan. Asal jangan masuk restoran, ini bukan makanan HIGH CLASS yg terkenal “MAHAL”. Pecel, Lompong, Sambel Tumpang, Melinjo, Ikan Pari asap, Tahu dan Tempe sll sedap dinikmati. Inilah wujudnya, hehehe…

DIBALIK 24 PORSI

1. Bothok Sembukan

Potret pertama, skaligus menjawab pertanyaan,”Kenapa tiba2 ingin memotretnya?”

Justru inspirasi dari potret pertama, spontanitas muncul krn saat makan ingat Emak sy. Lauknya istimewa, Bothok “SEMBUKAN” yg dibuatkan Emak, dan dibawakan ke Kupang sama istri. Sembukan sdh langka di jaman ini. Kalo masa kecil di kampung, sering menikmati. Bahan utama daun sembukan, tanaman yg menjalar di pagar kebun, terutama saat musim hujan.

Siang2 pulang ke rumah, laper dpt bothok sembukan, Alhamdulillah. Dikombinasi krupuk uyel2 dan ikan goreng…maknyuss.

2. Nasi Pecel

tobe continue …


alifis@corner

Dipublikasi di Relief Kehidupan | Tag , , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

SAHABAT

#SAHABAT

Sahabat yang sesungguhnya, ialah mereka yang selalu mengingatkan kita akan Allah & mereka yang akan menggiring kita ke syurga.

Diriwayatkan, bahwa jika penghuni syurga tlh masuk ke dlm syurga, lalu mereka tdk menemukan sahabat2 yang dahulu sll bersama saat didunia.

Mereka bertanya kpd Allah:
“Ya Rabb, kami tdk melihat saudara2 kami yang sewaktu di dunia shalat bersama, puasa bersama kami,….”

Maka Allah berfirman: “pergilah ke neraka, keluarkan sahabat2mu yg di hatinya ada iman walau hanya sebesar zarrah” (Riwayat Ibnul Mubarak dlm kitab “az-Zuhd”).

Al-Hasan Al-Bashri berkata: “perbanyaklah sahabat2 mukminmu krn mereka memiliki syafa’at pd hari kiamat”.

Ibnul Jauzi pernah berpesan kpd sahabat2nya sambil menangis:
“Jika kalian tidak menemukanku nanti di syurga bersama kalian, mk tolonglah bertanya kpd Allah: “Rabb kami, si fulan, saat di dunia sll mengingatkan kami ttg Engkau, masukkanlah dia bersama kami di syurga”

SAHABATKU, MUDAH-MUDAHAN DENGAN INI, AKU TELAH MENGINGATKANMU TENTANG ALLAH, AGAR AKU DAPAT BERSAMAMU KELAK DI SYURGA.

Ya Allah, aku memohon kepadaMu, karuniakanlah kepadaku sahabat-sahabat yang selalu mengajakku untuk tunduk taat kepadaMU.

Ya Allah, kekalkanlah persahabatan
kami sampai kami bertemu
denganMU yaa RABB…

أَمِيْن يَا رَبَّ العَالَمِين
آمينَ يَا مُجِيبَ السَّائِلِينَ

Uhibbukum Fillah
(Aku Mencintai kalian karena Allah).

#sahabat
from blog abdazizef. pic: google.Tq

Dipublikasi di Relief Kehidupan | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar

Si Hitam

Kemarin 071018, Bercak darah bening sedikit bercampur air kutemukan bercecer di beberapa titik teras belakang. Bukan darah ikan, ayam atau sejenisnya. Dan bisa dipastikan itu sisa aktivitas kucing di rumah.

Dugaanku langsung pd si hitam, kucing rumah yg sedang hamil. Mungkin mau melahirkan bahkan sdh melahirkan di suatu tempat, gudang atau sela2 balik kandang. Tapi, perutnya msh besar, berarti hendak melahirkan.

Pagi td sdh terdengar suara anak bayi kucing, berarti semalam si hitam sdh melahirkan. Terlihat perutnya sdh kempis dan tentu lapar. Duduk diam di depan pintu dapur, itulah gayanya saat minta makan. Dengan iba hati, ibunya Azka seperti biasa kasih makan pagi ke 7 kucing rumah kami.

Yg ingin sy cerita, tingkah aneh seharian kemarin sebelum melahirkan. Si hitam sejak pagi gelisah mondar mandir mengundang bahkan memaksa 3 anggota kucing terkecil mengikutinya. Kecil jg tidak, tp sejak kami temukan di pinggir jalan trus kami bawa pulang, yg menyusui dan melindunginya ya si hitam ini.

Sedikit flashback. Saat si hitam pertama kali punya anak tahun lalu ( di musim hujan), anaknya tdk dirawatnya dg baik shg sempat lepas dan mati kehujanan di luar kandang. Apakah si hitam menderita blue baby? gak tahu, tapi sejak itu si hitam sll mencari cari kucing lain utk diberi perhatian, dan akhirnya ditumpahkannya pd 3 kucing yatim piatu.

Ketika ke-3 kucing ini tidak respon dg panggilan si hitam, akhirnya si hitam memaksanya menyeretnya utk diajak menuju tempat kelahirannya nanti.

Nah, karena unik sempat sy rekam beberapa moment pemaksaan si hitam pd kucing2 asuhannya, seperti tampak di video postingan ini. Lucu, anak2 asuhnya sdh besar, diseret2 kayak bayi, hehehe…

Tingkahnya dg tak mau lepas dari kucing2 yatim piatu ini apakah ekspresi ketakutan sekedar tdk ingin kehilangan sebagaimana kejadian saat pertama punya anak. Atau bentuk ekspresi kesakitannya menunggu proses melahirkan. Karena saat2 tertentu tenang, dan dikala yg lain seketika gelisah dan mulai memaksa maksa menyeret kucing asuhannya lagi. Ini berlangsung dari pagi sampai hampir sore hari.

Tetapi, sy yakin pd akhirnya usahanya tdk akan berhasil sampai td pagi anak2nya yg baru menyambut dunianya.

Ga tahu berapa anaknya. Yah, slamat si hitam punya anak lagi. Berkah dan tanggungjawabmu utk mengajaknya bermain. Yg jelas tingkahmu tenang, tidak cerewet seperti 2 sodaramu yg kebetulan putih tutul2 hitam. Dalam lapar dan kenyangmu kau diam. Dan asyiknya nanti, setelah besar anakmu akan jd teman berebut makanan 🙂

Teman usil kucing rumah,
alifis@corner
Penfui 08:17 081018.

Dipublikasi di Relief Kehidupan | Tag , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Smartphone Addiction dan Tumbuhnya Kultur Kegoblokan Kolektif

by Yodhia Antariksa

Smartphone addiction. Inilah sebuah fenonema kelam yang mungkin kini kian menyeruak dalam panggung kehidupan kita semua.

Survei yang dilakukan sebuah lembaga ecommerce menyebut, rata-rata orang Indonesia mengecek smarphone mereka hingga 150 kali dalam sehari. Mungkin Anda termasuk salah satu diantaranya.

Lalu mengapa smartphone addiction pelan-pelan bisa memunculkan kultur kegoblokan kolektif?

Mengapa smartphone addiction bisa melahirkan peradaban masyarakat yang terkena sindroma kebodohan massal?

Sejatinya, telah banyak studi saintifik yang melacak tentang impak smartphone terhadap human behavior, dan bahkan juga terhadap struktur sel otak Anda sebagai pecandunya (lihat misalnya buku karangan Nicholas Carr yang bertajuk The Shallow : What the Internet Is Doing to Our Brain).

Kesimpulan dari sejumlah studi itu cukup kelam : tak jarang smartphone addiction justru membikin otak kita makin bodoh – becoming dumber. Smartphone-nya makin smart. Namun usernya dibikin makin goblok.

Secara lebih spesifik, terdapat setidaknya tiga temuan yang layak dikenang tentang impak smartphone addiction terhadap human behavior. Mari kita ulik satu demi satu.

Kegoblokan Kolektif # 1 : Smartphone Bikin Pikiran Kita Makin Dangkal

Salah satu ciri khas smartphone itu adalah ini : serba cepat dan melompat-lompat. Kita scroll-scrolll aneka apps, dengan cepat dan sering tanpa jeda.

Scroll, scroll. Klik ini, klik itu. Lalu scroll-scroll lagi. Lalu klik, klik lagi. Demikian terus berulang.

Pola kebiasaan scroll-scrool, klik, klik semacam itu mendidik otak kita untuk selalu mengkonsumsi informasi dengan serba tergesa dan tanpa kedalaman.

Dan itulah yang juga kemudian disajikan para penyedia konten (entah konten media informasi, media sosial atau aneka situs hiburan).

Misal, begitu banyak media online yang hanya menyajikan berita-berita pendek, dangkal dan alakadarnya. Sering disertai dengan strategi click-bait – atau menggunakan judul yang mis-leading agar diklik banyak pembacanya.

Jutaan status di media sosial juga pendek, dan lebih mengutamakan kuantitas daripada kualitas. Jarang ada kedalaman analisa didalamnya.

Apa akibat dari pola kebiasaan scroll-scroll, serba melompat cepat dari satu app ke app lainya, disertai dengan limpahan informasi yang dangkal itu?

Akibatnya kelam : otak kita di-didik agar tak mampu melakukan deep thinking dan deep analysis – padahal inilah dua elemen kunci bagi kecerdasan. Yang muncul adalah shallow thinking, pikiran yang dangkal dan memicu kegoblokan kolektif.

Begitu banyak komen di media online dan medsos yang asal njleplak, tanpa mikir dan pasti tanpa disertai deep thinking. Ini adalah akibat wajar dari pola yang diuraikan diatas.

Kultur smartphone memang dibangun untuk menciptakan konten asal bunyi dan tanpa mikir.

Betapa paradoks-nya kultur itu : smartphone adalah media yang amat canggih. Namun acapkali gadget yang amat pintar ini hanya menghasilkan kebodohan massal.

Kegoblokan Kolektif # 2 : Smartphone Menghancurkan Daya Resiliensi Anda

Impak kelam lain dari smartphone yang menyumbang bagi kebodohan massal adalah ini : smartphone adalah media yang amat ampuh untuk menghacurkan daya konsentrasi dan daya resiliensi Anda.

Sejumlah studi telah menunjukkan kebiasaan main smartphone memang secara dramatis akan menurunkan daya konsentrasi Anda. Smartphone addiction telah membuat “span of attention control” kita makin pendek.

Kenapa attention span kita dibikin makin pendek oleh smartphone?

Penjelasannya seperti di uraian no 1 diatas. Pola scroll-scroll yang serba melompat dengan cepat dari satu app ke app lainnya mendidik otak kita untuk terus bergegas dan bergerak.

Otak kita dibiasakan untuk terus “bergerak” : klik ini, klik itu, dan secara instan langsung menemukan obyek yang menarik perhatian. Namun durasi perhatian ini amat pendek. Dengan cepat, jempol kita kemudian bergerak lagi, scrol lagi, klik lagi.

Kultur smartphone semacam itu melatih otak kita untuk mudah bosan. Otak kita dilatih untuk nggak mau berlama-lama pada satu titik. Attention span kita dibikin makin pendek.

Dan apa akibat dari pola perilaku semacam itu?

Akibatnya rada kelam : daya konsentrasi kita pelan-pelan menurun secara dratis. Keteguhan mental kita untuk bisa FOKUS pada sebuah aktivitas yang penting, menjadi mudah lenyap.

Daya resiliensi atau daya keuletan kita untuk terus gigih menekuni sebuah aktivitas yang penting; menjadi mudah menguap.

Kita mudah bosan. Kita mudah kehilangan konsentrasi. Kita mudah kehilangan fokus.

Kenapa kita mudah kehilangan fokus? Karena memang kultur smartphone yang kita jalani setiap hari mendidik otak kita untuk mudah kehilangan fokus.

Kultur smartphone dengan sukses telah melatih otak Anda untuk terus melompat-lompat tanpa henti, selalu menghadirkan sensasi instan yang membuat Anda kecanduan.

Dan apa yang terjadi saat Anda mudah kehilangan fokus gara-gara terjebak kultur smartphone?

Proses perjuangan untuk mengubah nasib jadi akan makin sulit. Sebab mengubah nasib amat butuh daya keuletan dan daya resiliensi.

Saat ketangguhan mental dan fokus lenyap, maka perjuangan mengubah nasib biasanya akan gagal. Nasib jadi stagnan.

Dan saat nasib stagnan, maka sel otak kita biasanya akan makin tulalit. Makin plonga plongo.

Kegoblokan Kolektif #3 : Smartphone dan Waktu yang Hilang Sia-sia

Dampak yang terakhir dari smartphone addiction ini mungkin tak kalah powerfulnya : waktu kita bercengkerama dengan smartphone telah merampas begitu banyak waktu produktif kita.

Jutaan orang mungkin telah menghabiskan jutaan jam bersama smartphone-nya : menikmati aneka konten seperti media dan hiburan online yang dangkal, atau juga menikmati aneka game online yang adiktif.

Yang amat kelam : ribuan jam yang telah dihabiskan dengan smartphone itu mungkin sama sekali tidak berdampak bagi peningkatan skills dan income.

Kenapa begitu? Ya karena konten online (berita, hiburan dan game) yang dinikmati via smartphone itu memang SAMA SEKALI TIDAK ada kaitannya dengan skills yang krusial bagi perubahan nasib dan income.

Betapa sia-sianya waktu yang hilang bersama smartphone.

Misal ada seseorang yang bisa menghabiskan 3 jam setiap hari untuk main smartphone : scrol-scrol IG Stories yang semu, klik berita online yang dangkal, cek status medsos yang isinya penuh dengan keributan, lalu scroll-scroll lagi. Klik, klik lagi. Lalu ulangi tiap hari.

Bayangkan jika waktu 3 jam tiap hari itu dia ubah menjadi waktu untuk belajar dan praktek tentang Internet Marketing. 3 jam sehari. Ulangi tiap hari. Saya cukup yakin, dalam bulan ke 7, income dia bisa naik 2 kali lipat.

Sayangnya, waktu 3 jam tiap hari itu selama ini lenyap sia-sia bersama IG Stories yang semu, aneka berita online yang dangkal, dan konten medsos yang penuh kegaduhan.

DEMIKIANLAH, tiga impak dari smartphone addiction yang pelan-pelan bisa membikin kebodohan massal, dan stagnasi nasib.

Ketiganya adalah :
Smartphone Impact # 1 : Bikin Pikiran Kita Makin Dangkal
Smartphone Impact # 2 : Menghancurkan Daya Resiliensi Anda
Smartphone Impact # 3 : Waktu yang Hilang Sia-sia

Selamat bekerja, teman. Selamat menikmati smartphone-mu.

sumber : http://strategimanajemen.net/2018/10/01/smartphone-addiction-dan-tumbuhnya-kultur-kegoblokan-kolektif/

pic : getty image

Dipublikasi di Relief Kehidupan | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Memetakan Dampak Gempa dan Tsunami Palu via Citra Satelit

Oleh : Aqwam Fiazmi Hanifan
Di media sosial dan aplikasi pesan WhatsApp beredar sebuah video yang memperlihatkan rumah, pepohonan, dan bangunan bergerak amblas seakan ditelan lumpur hidup. Video berdurasi 2:05 ini tersebar pada Sabtu, 29 September, atau sehari setelah gempa dan tsunami di Kabupatan Donggala, Kota Palu, dan Kabupaten Sigi.

Video itu beredar bersamaan dengan informasi bahwa “ada banyak korban yang masih hilang terendam lumpur” di beberapa desa di Sigi, kawasan tetangga Palu, yang dikenal memiliki Danau Lindu, sebuah kawasan yang kaya flora dan fauna endemik Sulawesi.

Semula ada yang menyangsikan kabar ini. Namun, tiga hari pasca-gempa dan seiring tim pencarian dan penyelamatan bergerak ke Sigi, kabar ini sahih.

Kejadian itu, dengan mengidentifikasi menara dan rumah beratap merah dari detail gambar yang direkam video tersebut, lalu mencocokkan ke Google Maps, berada di sekitar Desa Jono Oge, Kecamatan Sigi Biromaru.
Dari objek yang terekam video tersebut, rumah dan menara seakan bergerak ke arah kiri dari si perekam. Namun, menilik arah mata angin, pijakan si perekamlah yang terseret ke arah barat. Dalam video, mata lensa si perekam terhalang pepohonan padahal di sekitarnya tak ada pohon. Video juga memperlihatkan pondasi menara masih ajek. Teranglah bahwa tempat si perekamlah yang bergerak ke arah barat.

Dari ciri-ciri atap tempat pijakan si perekam, sangat mungkin ia berjarak 400-an meter ke arah timur laut dari rumah beratap merah. Akibat peristiwa likuifaksi itu, atap rumah yang jadi pijakan si perekam bahkan bergeser hingga setengah kilometer.

Likuifaksi

Gambar 1: Sudut pandang perekam dalam peristiwa tanah amblas di Desa Jono Oge, Kab. Sigi.

Rekaman video amatir ini juga dicermati oleh Adrian Tohari, peneliti longsor dan gerakan tanah dari Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI. Ia berkata bahwa tanah yang bergerak seperti dalam video tersebut karena sifat tanah tidak padat atau labil, lalu kena getaran gempa.

“Nah, topografi permukaan tanah agak curam yang membuatnya seolah-olah longsor. Jadi terseret ke bawah,” ujat Adrian kepada Tirto.
Meski begitu, Adrian lebih cenderung menilainya sebagai tanah amblas atau longsor. “Kecenderungan saya, kemungkinan dulu di situ rupa bumi berupa cekungan yang terisi endapan, kemudian amblas,” ujarnya.
Adrian ragu karena lokasi di video bukanlah daerah pesisir, “Tapi apakah itu masuk fenomena likuifaksi atau bukan? Belum bisa saya ketahui.”

Peristiwa di Desa Jono Oge juga terjadi di Kelurahan Petobo dan Desa Sidera, Kota Palu. Longsoran tanah di tiga lokasi ini bergerak ke arah tanggul Sungai Palu, yang melintang dari selatan hingga ke Teluk Palu. Akibatnya, daerah-daerah ini termasuk yang rusak parah pasca-gempa.
Gelombang likuifaksi juga terjadi di Perumnas Balaroa, yang bikin rumah-rumah di daerah ini amblas sedalam lima meter. “Setelah guncangan tanah, [rumah] langsung amblas. Orang teriak-teriak,” ujar seorang warga di Balaroa kepada Tirto.
Pengakuan saksi mata menyebut saat kejadian juga tanah bergeser ke arah Pantai Talise—keterangan yang justru cocok dengan yang diperlihatkan dalam citra satelit.

Batas tepi timur perumahan Balaroa adalah sesar Palu-Koro, satu dari empat sesar besar dan paling aktif di Pulau Sulawesi. Sesar ini dari utara ke selatan sepanjang 500 kilometer, melintasi Laut Sulawesi, Kota Palu, dan Teluk Bone. Saat gempa, tanah Perumnas Balaroa di sayap kiri bergerak menubruk sayap kanan di arah timur laut, lokasi Pantai Talise.

Likuifaksi

Gambar 2: Kawasan Perumnas Balaroa yang amblas pasca-gempa. Sumber: Copernicus

Dampaknya, kawasan perumahan ini mengalami kerusakan terparah. Menilik peta efek bencana yang dilansir Copernicus, kerusakan di Balaroa yang menampung sekitar 400-an kepala keluarga terlihat seakan terisolir. Dari peta tampak tak terjadi amblas di pemukiman sekitanya.

Valkaniotis Sotiris, ahli geologi asal Yunani, yang spesialis likuifaksi dan longsor, menyebut fenomena di kawasan Perumnas Balaroa biasa terjadi pada sedimen tanah longgar yang mengandung air tanah berlimpah. Itulah mengapa air dan lumpur membuncah di lokasi ini.
Sotiris berkata bahwa proses likuifaksi dan tanah mengencer bak bubur biasanya ditandai deformasi luas (long multiple open fractures) dan keretakan parah permukaan tanah. “Ini bisa merusak bangunan yang memiliki pondasi kuat sekalipun,” ucapnya.

Pemicu Tsunami dari Pencitraan Peta

“Sama seperti yang lain, saya berpikir tidak mungkin ada tsunami,” ucap ahli geofisika Jasson R. Patton kepada Tirto. “Namun, segera setelah gempa, orang mulai mengunggah video tentang tsunami di media sosial. Saat itulah kami, para ahli, mulai tersadar,” kata ilmuwan yang menjabat asisten profesor di Universitas Humbolt California ini.

Data seismik mengungkap sesar Palu-Koro adalah penyebab gempa yang bergerak secara horizontal, bukan vertikal. Kalaupun terjadi gempa, tidak akan besar. Hasil simulasi tsunami dengan memakai parameter gempa yang diulik Aditya Gusman, peneliti Universitas Tokyo, angka ketinggian tsunami relatif pendek, hanya 25 sentimeter.

Namun, gempa di Kabupaten Donggala pada Jumat sore, 28 September 2018, termasuk gempa besar dan menyebabkan tsunami. Bagaimana hal ini terjadi dan di luar perkiraan peneliti?
Berdasarkan hipotesis awal Patton, kemungkinan besar penyebab tsunami adalah tanah longsor di dasar laut. Ini terlihat dari banyak kejadian tanah longsor di darat seperti peristiwa likuifaksi di beberapa daerah di Kota Palu dan Sigi. Sementara di wilayah pesisir, Patton menilai ada beberapa lokasi yang amblas, banyak di antaranya di daerah tambang pasir dan tanah kerikil.

Keruntuhan struktur tanah di pesisir bisa terlihat dari rekaman video yang diambil kapten Batik Air, beberapa saat sebelum ombak menerjang Teluk Palu. Video ini merekam rangkaian gelombang buih raksasa di lepas Teluk Palu.

Likuifaksi

Gambar 3: Sebagian tanah longsor di pesisir Palu pasca-gempa. Sumber: PlanetLabs

Sebagai kota yang terbentuk di atas delta sungai, menurut Patton, dua penanda di atas cukup membuatnya mengajukan hipotesis ilmiah soal apa yang disebutnya delta slope failure. “Setelah melihat tanah longsor cukup luas di garis pantai dan di darat juga, masuk akal untuk menganggap terjadi longsoran di lereng bawah laut,” ujarnya.

Meski begitu, peneliti dari Yunani, Valkaniotis Sotiris berkata bahwa seba-sebab tsunami di Palu amatlah kompleks. “Dengan kekuatan gempa bumi yang mencapai magnitudo lebih dari 7 skala Richter, tsunami disebabkan dua kombinasi, tak hanya longsor bawah laut,” ujarnya.

“Pergerakan sesar Palu-Koro yang melintang dari pantai barat ke utara, pasti akan menimbulkan tanah longsor yang dipicu oleh gempa. Ini butuh penelitian lanjut menentukan sumber tsunami,” kata Sotiris kepada Tirto.

sumber : https://tirto.id/memetakan-dampak-gempa-dan-tsunami-palu-via-citra-satelit-c362

(tirto.id – wam/fhr)

Dipublikasi di Relief Kehidupan | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Husnuzh-zhan pd Allah terhadap Bencana

“Sungguh Kami akan menguji kalian dengan sebagian rasa takut, rasa lapar, serta kekurangan harta, jiwa, dan buah. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan,”Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Mereka itulah yang mendapatkan berkah yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS 2:155)

http://wacanamizan.com/artikel/memelihara-prasangka-baik-kepada-tuhan-dalam-musibah/

Allah Yang Maha Kuasa dan Penyayang pasti punya tujuan baik dengan penciptaan alam semesta. Tapi, tak seperti persepsi sebagaimana kita, tujuan baik itu – meski kita dituntut selalu berupaya membaikkan keadaan – bukanlah akan dicapai melalui suatu dunia yang bebas kesulitan, kekurangan dan kesedihan. Allah berfirman:

“Sungguh Kami akan menguji kalian dengan sebagian rasa takut, rasa lapar, serta kekurangan harta, jiwa, dan buah. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan,”Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Mereka itulah yang mendapatkan berkah yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS 2:155)

Betapa tidak?

Berkenaan dengan penciptaan hidup dan mati, Allah mengajarkan:

“Mahasuci Allah yang menguasai (segala) kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih sempurna amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun.” (QS 67:1-2)

Tampak dari kedua ayat di atas, Allah ingin menyampaikan bahwa untuk kebaikan manusia sendiri, penanaman dan pengembangan akhlak sabar dan ihsan lbh penting bagi manusia dan lebih tinggi prioritasnya dibanding hidup yang bebas dari kesulitan dan kesedihan.

Sehingga pada puncaknya Allah mengajarkan:

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS 2:216).

Sedemikian sehingga para filosof, termasuk Imam Ghazali, menyebut kehidupan dengan segala kebaikan dan ke-buruk-annya adalah “yang terbaik dari dunia yang mungkin diciptakan” (laysa fil imkan ahsan min maa kaan, the best of all the possibke worlds, atau kadang disebut ahsanun-nizham saja).

Semua yang dari Allah adalah baik, kitalah yang menjadikannya buruk:

“Kebaikan apa pun yang kamu peroleh adalah dari sisi Allah dan keburukan apa pun yang menimpamu, itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”(QS 4: 79)

Apa kesalahan kita? Tidak husnuzh-zhan kepada Allah, tidak mau sabar kepada ketetapanNya. Tidak mau ber-ihsan dalam menghadapi ujianNya. Sehingga kita tak dapat menimba hikmah darinya, dan malah justru berkeluh-kesah sehingga hanya keburukan yang kita dapat dari ujian Allah itu.

Mudah-mudahan Allah selalu berikan rahmatNya kepada orang-orang yang sedang dalam kesulitan dan kesusahan, dan mudah-mudahan hidayah, taufik, dan ‘inayahNya selali terlimpah kepada kita semua.

Teriring doa bagi Sulteng,

Tawangmangu, 29 September 2018

Alfaqir: Haidar Bagir

Dipublikasi di Relief Kehidupan | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar