Hidup Sukses ala Habibie

IPK bukan penentu kesuksesan

Keberhasilan milik orang yg berusaha

Kejar impian sekuat tenaga pantang menyerah

Jadi pribadi yg siaga dan tegar

Selalu ada pengorbanan

Konsisten dalam berkarya

Jangan lupa dengan sesama

sumber : IDNtime.com

Dipublikasi di Remah2ilmu, Sosok & Profile | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar

POLITIK itu MULIA

Jangan emosi menyikapinya
Ketika ekskalasi makin meninggi

Kalo kamu tidak mau bersentuhan dg politik, politik yg akan menarikmu/
Kalo kamu tidak sudi bicara politik, politik yg akan menegurmu/

Kalo kamu menghindar dari politik, politik yg akan menemuimu/

Kalo kamu muak dan benci politik, politik yg akan datang bisik2 dan merayumu/

Kalo kamu tidak mau bekerja dg politik, politik yg akan bekerja untukmu/

Kalo kamu ogah bahkan meludah pd politik, politik jugalah yg akan mengerjaimu/
Bencilah keserakahan, kerakusan, kekejian oleh kekuasaan atas nama kerakyatan. Jangan benci politik. Karena politik itu mulia. Semakin kamu jauhi, politik semakin cepat mendekatimu. Tetapi, lebih baik janganlah punya kebencian, karena kebencianpun akan menggedor gedor ruang batinmu dg kejam.
alifis@corner

23092016

| Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar

​GODEL:  ILMU dan KASIH SAYANG


GODEL Matematikawan terbesar abad 20, kuliah di Universitas Vienna dan bertemu Adele Porkert : his student-days sweetheart, yg akhirnya jd istrinya. Godel yg karya2nya cemerlang menaklukkan rasionalitas, ternyata menghidap extreme irrationality, paranoia berat yaitu takut mati keracunan. Bagaimana bisa?

Adelelah satu2nya manusia yg slalu mendampinginya dengan setia, sejak dr kampus, pelariannya dr jerman ke Princenton, AS. Adelle yg melindunginya dr paranoianya sendiri, mendorong ia tetap berkarya. Sebab Adelle tahu jika dan selama Godel sibuk dg problema matematika, logika atau filsafat ia lupa akan ketakutan2 paranoia. “More than anyone or anything else, she was responsible for keeping him a live and productive”. Sampai Adelle sendiri terserang stroke melumpuhkan. Giliran Godel yg dg penuh kasih sayang merawatnya bertahun-tahun. 

Siapa yg menentramkan hatinya dan mendorongnya tetap produktif? kawan2 sejatinya, Albert Einstein dan Morgenstern. 
Setelah kedua kawan itu mendahului Godel, maka Godel akhirnya harus benar2 menghadapi paranoia seorang diri. Ia meninggal akibat self-starvation, secara harafiah terbunuh oleh irrasionalitas : malnutrisi karena menolak makan minum apapun.

pic by vps280516.ovh.net

Dipublikasi di Sosok & Profile | Meninggalkan komentar

Jembatan Liliba

Orang bilang jembatan GEMBOK CINTA/ Karena ada saja pasangan remaja yg kuncikan cintasetia/ Di gembok jeruji besinya/ Ada inisial nama berdua #Cieee…Cieee…kalau putus, kuncinya hilang cari dimana?

Yang lain, juluki jembatan PENCABUT NYAWA/ karena berulangkali ada yg melompat dlm jurang di kdua sisinya/ Putus asa/ Berlepas nyawa/ #Sampe ada papan yg melarang, walau sdh hilang entah kemana
Terlepas dr itu semua…

Inilah Kantilever 9×135 m yg menghubungkan Barat Kota Kupang dg Penfui dan sekitarnya/ Merentangkan kasih warga Kota yg terpisah lembah menganga/ Walau sudah 22 an thn mengabdi tegar dan setia/ Harap saja di tahun ini dibangun sodara kembarnya/ Biar tak lagi macet,  saat semua melawat dan menyapa/ 

Biar dapat menikmati kemegahan, keindahan alam Timor yang dianugerahkn oleh Yang Kuasa.
alifis@corner

09062016 8:50

Dipublikasi di Alunan Kata, Relief Kehidupan | Tag , , , , , , , | Meninggalkan komentar

​Visa Saksi Ahli : PENCERAHAN YANG TERUSIK

Terhenyak dirimu, tdk nyenyak tidurmu/malam ini/ Geleng2 kepala tak percaya/ Keluh/ Datangmu sia-sia belaka/ Pencerahan niatmu/ Diusik-usik, dirusuhi khadiranmu/


Beng Ong namamu/ Profesor gelarmu/ Patologi Forensik ilmumu/ 2500x aksi post mortemmu/ Catatan kaki di Kosovo dan Bom Bali satu/ Kalau kau datang dg track recordmu/ Jangan2 kau dianggap belagu/
Visamu di tahun itu, sama dg yang kemarin di dalam sakumu/ Tapi saat itu kau datang diundang/ Saat ini, datang kemari sbg saksi ahli/ Di negeri ini, urat kata bisa begitu lentur/ Sekali waktu, bahasa baku menjadi teramat kaku/ Hal itu bisa berarti sama atau jadi jauh berbeda/ Tergantung kepentingannya/
Tahulah/ Sederhana yg sekedar SLILIT/ kadang bisa menjadi RUWET & RUMIT/ atau NJLIMET & SULIT/ Substansi bisa diabaikan dan debat panjang lebar ttg masalah ikutan/ Mencari kebenaran bagai megalomania, yg bangga dg keakuan dan gampang menyalahkan pemahaman orang/ 
Coba tanya berapa banyak ilmuwan dg seabreg kualifikasi dan kompetensi/Galau tak jua fahami/
Yang pragmatis implementasi, berlari mencari aktualisasi dan kebanggaan diri/ Yang  idealis, mengembara dan terjebur ke dimensi analisis/ Yang nasionalis, kembali dan selalu terantuk pd rasa/ asa dan hampa/

Pada akhirnya/ Kemanusiaan hanyalah atas nama/ Semua terjebak dlm persepsi tak pertepi/
alifis@corner
07062016 : 5:27

Dipublikasi di Alunan Kata | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar

​MUKIDI, Si Saksi Ahli

Dihari itu, MUKIDI si ‘Tokoh Viral’, menjadi saksi ahli ‘TELEROLOGI’ pd persidangan di balai kampung SIANGIDA, yg saat ini diliputi misteri karena adanya peristiwa secangkir ‘WEDANG KOPI’  yg memabukkan. Warga diyakinkan oleh MUKIYO, aparat setempat bahwa MUKIDI punya ilmu dan pengalaman ttg mabuk, dari yg mabuk POLOSAN sampai mabuk OPLOSAN. Ilmunya Ngeri-Ngeri Sedaap, pokoknya..🙂

Karena dipanggil sbg ahli maka MUKIDI merasa dituntut sangat menguasai bidangnya, shg mempersiapkan argumennya sebaik dan seilmiah mungkin. Maka dibuatlah analisa detail ‘KRONOLOGI WAKTU’ transformasi  Wedang Kopi yg semula PAHIT GURIH NIKMAT menjadi GETIR SUMIR di JIDAT. Untuk mengolah data, jurus model dan simulasi kurva kuadratik dan simpangan baku yg pernah dipelajarinya, dikeluarkan…Ciaattt..!!!

Warga kampung Siangida, terdiam menyimak penjelasan MUKIDI, sambil berkerut-kerut keningnya, sbg reaksi entah faham atau sama sekali tidak nyambung. Tapi begitu MUKIYO tepuk tangan, bgemuruhlah tepuk tangan menyusul membahana. “Plok..plok.. plak..plak… ketoplak, toprak..!!!”. Warga saling lempar senyum, berpandangan, dan saling berguman lirih, “tadi tepuk tangan untuk apa yaa..?” Hadeeh…!!!

MUKIDI merasa lega dan suksess..!!! misi selesai. Dia juga tdk mau berspekulasi ttg nilai2 kebenaran, apakah analisanya mampu memberikan pencerahan atas kegelapan tak berujung, atau justru menjerumuskan dlm opini yg subjektif.

Beberapa hari setelahnya, terdengar kasak kusuk dr segerombolan anak muda kampung Siangida, sebutlah diantaranya MUKIBAS, MUKIJAN, MUKIRAN dan MUKIMAN yg ternyata penggemar intens sidang live di TV yg mendakwa, menuduh Jessica sbg pelaku penabur  Sianida dlm kopi Vietnam.

Berkaca dr kasus Jessica, anak2 muda ini meragukan analisa MUKIDI, yg telah sah dipanggil saksi ahli, bahkan mulai menggugat keilmiahan analisanya.

“Lucu nih, lah model simpangan atau bias yang digunakan kok rumus simpangan baku standar anak-anak SMA?”, celetuk MUKIBAS.

“Setuju Bas, itu rumus ABC yg dipake juga khan sudah usang, ga akurat, lah kok masih dipake?”, timpal MUKIJAN.

“Apakah valid, model kuadratik yang dibuat dan di simulasikan menggunakan data yang sangat terbatas? Bagaimana dg waktu acuan, yg dari beberapa warga tidak cocok?”, sambung MUKIRAN.

“Diukur tdk suhu ruangan saat kejadian dan setelahnya? Belum lagi variable-variabel lainnya yang berpengaruh terhadap output dari model yang disimulasikan, misalnya: pengaruh waktu wedang kopi terhadap udara bebas, bla..bla”, ucap MUKIMAN menggelora.
Seliweran komentar anak2 muda ini, yg disuarakan dg penuh semangat, jd bentuk kritisi yg positif sebenarnya. Tapi sayang, hanya diomongkan di lopo2 nongkrong warung kopi ! Bahkan saking jengkelnya, si MUKIMAKI, nyeletuk,” hmm..hmm..sok ilmiah padahal koplak ..hehehehe..!”. 

Wahh..wahh..kalau ini, sdh keterlaluan anak2 muda, hahaiii…! Hargai dong seorang saksi ahli.

Tapi biarlah, semua akan berlalu… bgitu kepasrahan ala Indonesia. Atau dlm kasus Jessica, jadi optimisme yg berlebih2an, semacam penggiringan opini murahan. 
Biarlah, wong MUKIDI juga tdk peduli lagi dg ocehan anak2 muda yg sok pintar, karena saat ini beliau lg menikmati statusnya sbg saksi ahli, MUKIDI jadi viral… hehehe.
Eee, dasar MUKIDI, si Viral faktor, hehe… 
alifis@corner

280816 : 06:59

Dipublikasi di aQ berPole-MIX | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar

Sejarah yang Berulang, dari VOC ke IMF

​oleh Dina Sulaiman

medali VOC (sumber foto: huiberts.info)

Di bawah ini saya copas tulisan Sofia Abdullah difacebooknya. Sofia tekun sekali menelaah buku-buku sejarah dan naskah-naskah kuno, beberapa tulisannya pernah saya baca di media online. Tulisannya berikut ini memberi perspektif baru tentang sejarah Indonesia, menarik sekali. Antara lain, bahwa sebenarnya VOC adalah perusahaan multinasional yang menghalalkan segala cara demi meraup keuntungan sebesar-besarnya. Jadi, yang menjajah Nusantara pada awalnya bukan Belanda, melainkan korporasi global.

 

Sejarah berulang hingga kini, ketika kita secara lahiriah merdeka, tapi sejatinya sedang terjajah oleh korporasi global (bukan cuma Indonesia, tetapi juga kebanyakan negara-negara berkembang lainnya). Tengok saja bagaimana perilaku korporasi global hari ini yang memonopoli perdagangan dunia dengan cara-cara kasar, antara lain:
-melobi para politisi untuk meloloskan UU yang menguntungkan mereka; dana pembuatan UU itu pun digelontorkan oleh “lembaga sosial” yang sebenarnya perpanjangan tangan korporasi (baca buku Kudeta Putih, Hadi, et al)
-menggunakan kekuatan IMF dan Bank Dunia untuk memaksakan proyek-proyek yang sebenarnya tidak urgen, dan hanya membuat bangsa-bangsa terjerat utang semakin besar (baca buku John Perkins)
-memaksakan aturan-aturan di WTO agar sesuai dengan kepentingan mereka (baca buku Power in Global Governance, Barnet et al,)

Sedikit info ttg IMF: pemilik saham terbesar dalam IMF adalah AS, Jepang, Jerman, Inggris, dan Prancis (disebut G-5). Kekuatan dominasi G-5 terlihat jelas ketika sebuah negara meminjam uang kepada IMF. IMF baru mengucurkan dana pinjaman bila negara itu telah melaksanakan syarat-syarat yang ditetapkan IMF: mencabut subsidi, meningkatkan pajak, liberalisasi pasar, dan meningkatkan suku bunga. Semua persyaratan itu ujung-ujungnya hanya menguntungkan negara-negara pemegang saham terbesar di IMF dan Bank Dunia (keduanya saling bersekutu; oleh Stiglitz disebut sebagai “pilar globalisasi/pasar bebas”; untuk bisa ngutang di Bank Dunia harus jadi anggota IMF). (Baca: Brics, G20, IMF)

Jadi, terlihat ya, bahwa sejarah itu berulang?

==

Hebatnya Indonesiaku!!

Oleh Sofia Abdullah

Selama bertahun-tahun disekolah, kita di beri pemahaman bahwa Indonesia dijajah Belanda selama 350 tahun!! Entah darimana awalnya pernyataan salah kaprah ini, karena negeri Belanda-nya saja baru resmi terbentuk tahun 1815!! (lih.https://en.m.wikipedia.org/wiki/Netherlands)

350 tahun adalah masa kedatangan bangsa Eropa ke negeri ini, karena sifat mereka yg kasar, Rasis dan ingin menguasai pasaran, penduduk nusantara spontan tidak menyukai mereka dan pada umumnya mengambil sikap bermusuhan. Namun ada juga beberapa bangsa Eropa yg awalnya diterima oleh beberapa penguasa di tanah air karena sikap mereka yg sopan dan menunjukkan sikap mau bekerja sama.

Namun sikap sopan mereka hanya sesaat, tabiat bangsa Eropa yang barbar dan ingin menguasai dan memonopoli perdagangan mulai nampak, kerusuhan pun mulai timbul di berbagai pusat perdagangan akibat ulah mereka, dari sinilah kemudian timbul peperangan di tiap-tiap wilayah.  Dari sejak awal kedatangan bangsa Eropa inilah, penduduk Ind mulai melakukan perlawanan, agar wilayahnya kembali damai seperti seblm kedatangan bangsa Eropa.

Lalu siapa sebenarnya yang menjajah kita???

Buat pecinta sejarah, pecinta film2 dan novel2 perjuangan jadul, selalu dikatakan yg menjajah kita adalah ‘kumpeni’, bukan Belanda, kenapa kumpeni? Karena Kumpeni adalah sebutan yang digunakan untuk VOC.
Kenapa VOC?? Karena penjajah sebenarnya negeri kita adalah persekutuan dagang multinational, yg lebih dikenal dalam bahasa Belanda sebagai VOC, yg merupakan singkatan dari Vereenigde Oost-indische Compagnie yang dalam bahasa Indonesianya berarti gabungan perusahaan dagang HindiaTimur atau dalam bahasa Inggrisnya disebut EIC (East India Company).

Yah! Multinational, dengan kata lain yg menjajah negeri ini bukan cuma 1 negara kecil yang bernama Belanda tapi hampir seluruh negara Eropa barat yang kita kenal sekarang, lebih tepatnya para tuan tanah pendiri negara-negara di Eropa barat yg kita kenal sekarang, termasuk Inggris, Perancis, Belgia dan Belanda serta negara-negara Eropa lainya yang (ternyata baru mulai) berdiri sekitar tahun 1500, kecuali Portugis dan Spanyol. Dengan bantuan pinjaman modal, pasukan dan senjata dari para tuan tanah ini negara-negara Eropa saling bantu untuk menguasai negeri kita tercinta.

Hebatnya, walaupun nusantara telah di keroyok sedemikian banyak negara-negara Eropa yang tergabung dalam VOC, baru setelah 200 tahun mereka dapat menguasai hampir seluruh wilayah nusantara dengan berbagai cara, dari mulai monopoly perdagangan, pembantaian, Adu domba antar wilayah nusantara, hingga peperangan terbuka. Sejak kedatangan bangsa Eropa ke negeri ini, leluhur nusantara selalu dalam posisi siaga tempur, untuk mempertahankan negeri tercinta.

Sebenernya apa sih VOC itu?? Dan apa tujuan dibentuknya VOC/EIC ?

Tujuan utama dibentuknya VOC dan EIC adalah untuk menguasai dan memonopoli pasar dagang di Hindia Timur. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya VOC atau EIC ini adalah persekutuan dagang multi nasional.

Persekutuan atau gabungan perusahaan dagang ini dimodali oleh tuan tanah-tuan tanah Eropa yang memiliki tanah atau wilayah pecahan kekaisaran Romawi Barat yang runtuh tahun 476M.

Tuan tanah-tuan tanah ini sering disebut juga ‘pettite kingdom’ atau kerajaan-kerajaan kecil karena mereka py wilayah, penduduk dan raja di dalam wilayah-wilayah mereka yg di terlindungi di dalam kastil-kastil berbenteng.

Hindia Timur adalah nama yang digunakan bangsa Eropa utk menyebut wilayah Asia Tenggara sd kepulauan Indonesia sekarang dan Hindia Barat untuk menyebut negeri India sekarang.
Awalnya kerajaan-kerajaan kecil di Eropa ini datang perorangan dengan bendera dari perusahaan dagang mereka masing-masing dari tiap-tiap klan keluarga bangsawan pemilik perusahaan dagang yang ada di Eropa saat itu, namun mereka kalah saing dengan portugis dan spanyol ditambah lagi barang dagangan mereka tidak laku di pasar tanah air kita, karena mereka tidak mampu mengalahkan pedagang2 dari negeri Asia lainnya.

Karena kalah dalam persaingan dagang inilah para tuan tanah Eropa mengalami kerugian, jangankan menguasai wilayah, dalam persaingan dagang pun mereka kalah saing.
Dengan alasan inilah kemudian perusahaan dagang-perusahaan dagang Eropa ini bersatu, mengumpulkan modal bersama membuat persekutuan dagang multinasional yang di sebut VOC.

Dengan suntikan dana yang ada, VOC mengumpulkan pasukan dari berbagai bangsa yg telah mereka kuasai, dan merekrut para kriminal yang mereka bebaskan untuk dijadikan prajurit upahan mereka. VOC memiliki kekuasaan yang luas selain meminjamkan modal usaha bagi perusahaan perusahaan dagang anggotanya, mereka juga memproduksi senjata, mengeluarkan mata uang, memutuskan perang dan berbagai keperluan perang lainnya, seperti layaknya sebuah negara, karenanya VOC sering dikatakan sebagai ‘ Negara dalam Negara’.

Dengan kata lain segala yang di perlukan untuk menguasai Hindia Timur (Indonesia) disediakan oleh VOC dalam bentuk HUTANG, karena untuk menguasai Hindia Timur mereka membutuhkan senjata, pasukan dan modal yang besar, yang tidak mungkin di miliki oleh satu perusahaan dagang.

Dengan mengetahui sejarah di bentuknya VOC ini sebenarnya kita dapat mengetahui bahwa tujuan mereka sesungguhnya adalah menguasai Hindia bukan untuk berdagang, seperti yang selama ini kita baca dalam buku-buku sejarah umum.

Perdagangan yang mereka lakukan hanyalah kamuflase untuk menguasai Hindia Timur untuk mendapatkan GOLD (emas), GLORY (kejayaan/kekuasaan) GOSPEL (penyebaran agama Kristen), BUKAN rempah2..kalau tujuan mereka hanya untuk mendapatkan rempah-rempah, mereka gak perlu susah payah membentuk VOC.

Hindia Timur yang Maju menjadi latar belakang terbentuknya VOC

Bangsa kita adalah bangsa yang maju, dalam berbagai catatan perjalanan para pelaut Arab, Cina, Eropa dan negara-negara Asia lainnya di kisahkan bahwa pelabuhan2 sepanjang pantai utara jawa adalah pelabuhan2 Internasional, terlengkap pada masanya. Kota-kota pelabuhan ini berfungsi sebagai pusat perdagangan yang memberikan berbagai fasilitas dan jasa bagi kapal2 asing yang berlabuh dan mengadakan perdagangan, seperti misalnya penukaran uang, penginapan, bengkel kapal dsb.

Sementara kondisi Eropa sebaliknya, sejak runtuhnya kekaisaran Romawi pada tahun 476 M, negara-negara di Eropa terpecah menjadi beberapa kerajaan-kerajaan kecil yang selalu berperang memperebutkan wilayah. Karena selalu berperang antar wilayah, penduduknya menjadi terbelakang dan buta pengetahuan, hingga kemunduran bangsa Eropa mencapai puncaknya pada tahun 700-an hingga 1500-an, kemunduran ini disebut dengan ‘dark ages’.

Singkat kisah, munculnya agama Islam, invasi bangsa Arab ke benua Eropa hingga perang salib yang terjadi selama ratusan tahun, telah menyadarkan bangsa Eropa bahwa peradaban mereka telah tertinggal jauh dengan peradaban Islam dan negara2 Asia lainnya.
Perang salib yang terjadi selama 500thn pada dasarnya adalah perebutan kekuasan antara penguasa Eropa yang dikuasai oleh kekuasaan gereja dan mengatas namakan Kristen dan penguasa Arab yang mengatasnamakan Islam.

Perang salib ini selain memiliki dampak merusak seperti pada umumnya perang, ternyata juga memiliki dampak positif bagi bangsa Eropa, diantaranya adalah tersebarnya informasi ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh para ilmuwan muslim saat itu ke dunia barat, termasuk buku-buku karya ilmuwan Yunani dan Romawi yang telah ditinggalkan di negaranya namun masih tersusun rapi dalam perpustakaan-perpustakaan Islam.

Perkembangan Islam yg pesat, invasi bangsa Arab hingga ke wilayah Eropa, menimbulkan rasa Khawatir bangsa Eropa dan memaksa para penguasa Eropa mencari ‘Dunia baru’, yang akan mereka jadikan sebagai negara Eropa kedua. Dunia Baru bernama ‘India’, yang namanya mereka temukan dalam literatur Islam yang di salin dari buku karya ilmuwan Yunani bernama Plato, akhirnya menjadi tujuan utama mereka. Dimulailah era pencarian dunia baru yang diawali dengan perjalanan darat Marcopolo (1254-1324), seorang pedagang dan pengelana dari Venesia, utusan gereja Romawi Timur (Constantinopel).

India dalam benak bangsa Eropa saat itu adalah sebuah bangsa primitif, kanibal dan terbelakang. Kebayangkan gimana kagetnya bangsa Eropa ketika akhirnya mereka berhasil menemukan India, sebuah negara maju dengan penduduk yang beradab dan berfikiran maju, dan mayoritas penguasa wilayahnya dan penduduknya saat itu telah memeluk agama Islam.

Kota pelabuhan yang ramai, dengan para pedagang dari berbagai bangsa yang menjual berbagai barang dagangan, sistem pemerintahan yang teratur, bersatu, dengan hukum yang telah di jalankan dengan tertib, tentunya bukan saingan bagi bangsa Eropa, yang pada masa itu tertinggal jauh dibelakang baik dalam dunia perdagangan maupun ilmu pengetahuan. Dari titik inilah mereka akhirnya menyadari, bahwa hanya dengan bergabung mereka dapat mencapai tujuan mereka, hingga dibentuklah VOC pada tanggal 20 Maret 1602.

VOC, Sekutu, IMF & Lembaga sejenis

Setelah 200 tahun berkuasa dan menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan kekuasaannya, pada tanggal 31 Desember 1799, VOC akhirnya dibubarkan, dengan alasan korupsi, manipulasi dsb.
Tapi menurut kami, berdasarkan data-data yang telah kami pelajari dari berbagai sumber, VOC dibubarkan karena memang misi-nya untuk menguasai Nusantara telah selesai, walaupun kemudian Hindia timur di kuasai oleh Belanda, para pemegang saham VOC tetap mendapat keuntungan terbesar dari pembagian keuntungan berupa hasil bumi dan kekayaan alam dari negara-negara yang pernah menjadi anggota VOC yang diambil dari negara-negara jajahannya.

Secara de facto dan de Jure VOC, EIC dan gabungan perusahaan dagang Eropa lainnya dengan bahasa-nya masing2, memang dibubarkan, namun sejarah membuktikan pada kita bahwa persekutuan itu tetap ada hingga saat ini dan tetap mempraktekkan cara-cara lama untuk keberhasilan tujuan mereka, hanya namanya saja yang berganti.

VOC dibubarkan kemudian berganti nama menjadi sekutu pada PD I dan II, setelah PD I & II untuk menekan negara-negara yang dianggap berpotensi membahayakan mereka membentuk NATO pada tahun 1949. Negara-negara dengan kekayaan alam yang besar mereka ikat dengan hutang melalui keanggotaan IMF yang di bentuk tahun 1945.

para pecinta sejarah tentu masih ingat bagaimana Belanda dengan liciknya ingin menguasai kembali Indonesia dengan menjadi bagian dari tentara sekutu yang datang ke nusantara untuk melucuti senjata tentara Jepang. Hadirnya Belanda dalam pasukan sekutu yang kemudian ikut andil dalam perang mempertahankan kemerdekaan setelah proklamasi antara 1945-1948 adalah bukti yang jelas bahwa kerjasama untuk menguasai wilayah Nusantara itu masih ada dan terus ada hingga saat ini dengan berbagai caranya.

Banyak kejanggalan seputar VOC/EIC atau apapun namanya dalam bahasanya masing-masing, bila dikatakan satu lembaga yang berbeda, dan bahkan saling bersaing antara yang satu dengan lainnya, bersaing untuk mendapatkan wilayah perdagangan antar perusahaan dagang secara perseroan mungkin iya, tapi dalam banyak hal mereka tetap bersatu dan bekerjasama di bawah 1 bendera VOC atau EIC dan mendapat fasilitas yang sama, itu sebabnya ketika tujuan mereka telah berhasil, VOC atau EIC yang fokus di wilayah malaysia dan Indochina dibubarkan dalam waktu hampir bersamaan.

Pada tanggal 31 Desember 1799, VOC dibubarkan setelah sebagian besar Jawa, Kalimantan dan Sumatera telah mereka kuasai, demikian pula EIC dibubarkan tahun 1858 setelah tujuan untuk menguasai semenanjung Malaysia, sebagian Indochina dan anak benua India telah mereka dapatkan.

Kebetulan? Kami rasa tidak, baik VOC ataupun EIC di bubarkan karena memang misi mereka telah selesai, ketika para tuan tanah, pemegang saham utama VOC tinggal ‘menikmati’ hasil kerja yang mereka usahakan dengan menghalalkan berbagai cara selama 200 tahun kedatangan mereka di bumi Nusantara.

Bila dianalogikan pada masa kini persekutuan dagang VOC atau EIC ini ibarat Sekutu, Nato atau IMF (International Monetary Fund), yang dengan cara yang halus mengambil keuntungan dengan meminjamkan uang, pasukan, senjata dan modal utk berperang atau dalam bahasa mereka ‘meredakan konflik internal’, namun anehnya untuk meredakan ‘konflik internal’ ini mereka menggunakan kekuatan dari luar.
Kekayaan yang didapat oleh lembaga-lembaga sejenis ini diperoleh dari pembayaran hutang dari negara-negara anggota yang meminjam kepada mereka, beserta bunganya. ketika suatu negara tidak lagi membutuhkan IMF, mereka akan menciptakan konflik dalam negara tersebut, meminjamkan pasukan, uang dan senjata dengan cara ini mereka akan memenuhi kas2 negara mereka masing-masing.

Refleksi 17 Agustus

Walaupun telah menguasai sebagian besar pulau dan wilayah di Nusantara, tidak membuat leluhur kita menyerah dan pasrah pada penjajahan, perjuangan terus berlanjut, letupan-letupan perjuangan di berbagai daerah melawan pemerintah kolonial selalu ada hingga puncaknya dengan berakhirnya perang Jawa (1830) dan dikuasainya Aceh oleh pemerintah kolonial Belanda sekitar tahun 1910-12 dengan cara yang licik.
Sebagai bangsa Indonesia kita seharusnya bangga dengan perjuangan leluhur kita yang tidak pernah mengenal kata menyerah, dengan kekuatan keyakinan dan semangat perang Jihad yang dirintis para ulama, kaum Santri, dan para pejuang negeri ini yang telah mengorkan jiwa dan raganya untuk membebaskan nusantara tercinta dari cengkraman penjajahan.

17 Agustus 1945 adalah pernyataan sikap kita sebagai bangsa yang merdeka, bangsa yang berdaulat, yang selama ratusan tahun berjuang menghadapi penjajah baik penjajah asing ataupun penjajah yang berkedok ‘pribumi’.

Kemerdekaan adalah mereka yang terbebas dari belenggu-belenggu yang tercipta pada era kolonial, yang menjadikan bangsa Indonesia terjajah lahir dan batin. Belenggu Adu domba, iming2 harta dan kekuasaan, fanatik buta, doktrinisasi dan sebagainya yang dijadikan alat untuk mencapai segala keinginan penjajah.
Pahlawan-pahlawan hebat negeri ini seperti Diponegoro, Cut Nyak Dien, Untung Surapati, para pendahulu dan penerus mereka adalah sosok yang merdeka lahir dan bathin, walaupun secara lahir mereka dikalahkan, disiksa, dipenjara dan dihinakan, mereka tidak pernah termakan hasutan, rayuan duniawi, Adu domba, fanatisme dan segala hal yang merugikan manusia lain yang melemahkan bangsa ini secara langsung ataupun tidak.

Kemerdekaan berada pada jiwa-jiwa yang merdeka, jiwa yang tidak terbelenggu oleh keinginan-keinginan duniawi yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya.
Kemerdekaan berada pada jiwa yang terbebas dari segala bentuk Adu domba, hasutan, fanatisme, ketidak pedulian, dan lain sebagainya.

Apakah kita sudah merdeka? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing..

Semoga Allah SWT memberi kita kekuatan untuk menjadi orang yang merdeka lahir dan batin, seperti yang diajarkan Rasul saw dan Ahlilbaitnya yang suci..

Sholawat dan Fatihah kepada rasul dan ahlulbaitnya dan kepada para pahlawan bangsa yang telah menjadi kan rasul saw dan ahlulbaitnya sebagai sumber kekuatan perjuangan mereka untuk memperoleh kemerdekaan bagi negara Indonesia, pengakuan sebagai bangsa yang bebas dan merdeka, yang telah dengan tulus dan ikhlas mengorbankan jiwa dan raganya bagi kemerdekaan Nusantara tercinta..

Ditulis oleh Sofia Abdullah
Disarikan dari sumber-sumber di bawah ini :
1. Ricklefs, M.C, Sejarah Indonesia Modern
2. Heuken, Adolf, Historical sites of Jakarta
3. Biografi Raden Saleh, berkisah ttg sikap penduduk Banten dan Cirebon ‘menyambut ‘ kedatangan bangsa portugis.
4. Blackburn, Susan, Jakarta Sejarah 400 tahun
5. Stockdale,John Joseph, Sejarah Tanah Jawa
6. Van Kessel, Inneke, Serdadu Afrika di Hindia Belanda 1831-1945
7.https://en.m.wikipedia.org/wiki/Dutch_East_India_Company

8.https://en.m.wikipedia.org/wiki/East_India_Company

9.https://en.m.wikipedia.org/wiki/NATO

10.https://en.m.wikipedia.org/wiki/International_Monetary_Fund

11.https://en.m.wikipedia.org/wiki/Allies_of_World_War_I

12.https://en.m.wikipedia.org/wiki/Allies_of_World_War_II

 

Dipublikasi di Jasmerah | Tag , , , , | Meninggalkan komentar