Politik ala FISIKA (bagian dua)

Bagian 2 :
Oportunis Fisika & Politik Oportunis

Percaya atau tidak, seorang fisikawan adalah seorang ‘oportunis’ dan memiliki watak semut hitam, yg berfalsafah “hari ini untuk hari ini”, seperti sebagian besar poliikus di negeri ini. Hadeeh… kejamnya,😦
image

“Eureka…eureka..!!!”, teriak Archimedes seperti orang kesurupan menghambur keluar dr kamar mandi, menuju istana raja, tanpa menyadari dirinya masih telanjang.

Dari bak mandinya yg penuh dg air, Archimedes menemukan ‘potongan’ pola keteraturan alam. Dia mendapatkan solusi untuk menguji keaslian mahkota Raja Hiero II. Apa hubungan air di bak mandi, tubuh Archimedes dan mahkota raja yg terbuat dari emas?

Archimedes memberitahu kita, cara untuk menjadi seorang oportunis. Hanya seorang oportunis yg mampu melihat peluang utk suatu terobosan atau melihat keterkaitan antara satu gejala alamiah dg gejala alamiah lain, meskipun tampak saling terpisah. Manfaatnya saat ini? berlayar dg kapal, piranti pengapung, pesawat terbang dll. Oportunis lainnya dalam sejarah fisika, diantaranya adalah Niels Bohr. Bohr memperlihatkan hubungan spektroskopi dg teori atom, yg saat ini luas aplikasinya, yaitu laser.

Kesemuanya itu sesungguhnya mmpertontonkan watak mendasar ilmu  fisika yaitu mengambil posisi diametral terhadap falsafah semut hitam, yakni “hari ini untuk hari ini”, sehingga ilmu fisika meninggalkan jauh ilmu2 lainnya, dalam imajinasi dan cakupan objek materialnya. Pada gilirannya, konsep2 yg dibangun dm ilmu fisika memberi inspirasi bagi perkembangan ilmu lain. Contohnya:  aljabar operator, teori distribusi, geometri tak komutatif dan grup kuantum, pada ilmu matematika.

Apakah oportunis di dunia fisika selalu baik seperti itu? Mungkin ada yg tidak, atau mungkin sy yg tidak tahu, atau dg menutup mata dan telinga, sy tidak mau tahu. Hidup di jaman ini memang aneh, alurnya kadang aneh, dan apakah kita semua jadi saling ‘aneh’?…
Diam mungkin ‘aneh’, tapi kadang itu jadi sebuah pilihan yg menenangkan.

Apakah politik di negeri ini tidak oportunis? Sangat lekat, lengket susah terlepas, bagai lem alteco!!!

“Proses transisi politik dari otoriter menuju demokratis saat ini masih terperangkap dalam sistem oligarki. Itu terjadi baik di lingkungan partai politik maupun di lembaga-lembaga politik, terutama parlemen mulai tingkat pusat hingga daerah”.

Lebih lanjut, Benny menulis, “Politik oligarki telah menghasilkan aturan UU Pemilu yang didasarkan pada kompromi-kom promi politik yang nyaris bersifat ‘oportunis’. Kebijakan politik yang demikian pada akhirnya hanya akan menghasilkan elite politik baru yang kepeduliannya diragukan untuk memihak kepentingan rakyat banyak”.

Hadeeh…
Jadi, apakah anda ragu2 setiap habis pemilu, pilkada karena merasa tidak akan menghasilkan perubahan terhadap mutu politik legislatif, eksekutif  secara luas? 

“Arti dari semua ini ialah bahwa kita masih menunggu sekian waktu untuk `bersabar’ dan lebih tahan terhadap penderitaan yang berkepanjangan akibat elite politik yang tidak pro rakyat”.

Bisa jadi politik uang memang tidak terlalu tampak dalam modus-modus lama. Namun jika kita melihat begitu besar anggaran yang harus dikeluarkan seorang caleg untuk dipilih sebagai anggota dewan, atau capim partai daftar di partainya untuk jadi Ketua Umum? bayangkan kekuatan politik seorang ‘ketua umum’, yg daftar calon saja musti bayar 1 Milyar.  Itu berarti kita sedang menonton pertunjukan lain bagaimana politik di Indonesia begitu dekat dengan aroma uang.

Demikian juga di semua lini birokrasi, untuk menduduki jabatan tertentu mungkin ada ongkosnya, sehingga ketika sdh duduk akhirnya tidak amanah, yg difikirkan mengembalikan modal, bahkan mencari keuntungan sebanyak2nya mumpung mash menjabat.

Silahkan baca, komen dr diskusi bebas tentang demokrasi dan sistem negeri ini, group medsos yg penulis ikuti:
“Pengalaman faktual buat sharing aja; aku bolak balik bikin PT mulai urusan SITU/HO, SIUP, TDP gak akan beres kalau gak Nyuap. Ini urusan PT lokal aja. Aku bikin SIM, anak2ku dah pada gede bikin SIM juga gak beres kalau gak pakai duit extra. Ngurus sertifikat tanah buat Partnerku orang asing, gak kelar kalau gak ada duitnya buat kepala BPN, bikin PMA juga sama, urusan imigrasi sama pekerja asing, bisa diatur dg duit ke petugas & kepala Imigrasinya, konsul ke pengacara urusan pajak juga sama (pajak jg dijadikan kasus oleh BPK yg dg sok benarnya menganulir surat menteri), urusan ke kejaksaan ujung minta duit operasional, di level BKPM dan Kementerian urus ijin tambang, ijin kehutanan, walhasil setiap paraf & TTD ada duitnya. WTF… Gak ngikutin bisnis gak jalan, gak diikutin pola kayak gini sudah sistemik. Belum lagi kalau diajak-ajak urusan partai, ujung2nya ada dana yg digelontorkan partai untuk ini-itu yg bisa dinikmati, diajak jadi pengurus organisasi massa selain partai …huwweeeek podowae… Kondisi seperti ini yg menyelimuti sendi kehidupan kita. Makanya, gak mungkin berharap perubahan dari orang di dalam sistem yg koyak begini. Fenomena Daffa di Jateng adalah simbol   kemurnian sikap yg berani menyatakan kebenaran. Buat orang dewasa, seperti saya rada aneh, tapi senyum juga bahwa cocah ini benar. Siapa yg gak pernah Naik motor di atas trotoar di grup ini angkat jempol… Jempol nya diisap aja kayak bayi balita”.

Hehe, kita semua pernah mendengarnya. Tapi ketika mmbaca kenyataan saat ini, sy juga jd merinding disko. Inilah ‘kebiasaan’ yg saat ini jadi semakin kultural mewarnai setiap lini khidupan.

Mereka yang memiliki dana besar bisa melakukan apa saja untuk merebut simpati rakyat, dan sebaliknya. Arti yang lain, simpati rakyat tumbuh akibat citra dan iklan, bukan dari sikap, perilaku, dan tanggung jawab seorang calon wakil rakyat.

Realitas ini menggambarkan betapa mudahnya uang memanipulasi sebuah kebenaran. Di situlah kita melihat peranan para calo. Tidak hanya calo politik, tetapi juga calo media massa yang mampu menghipnosis publik seolah-olah mereka pantas menjadi pemimpin.

Gejala ini menggambarkan proses transisi demokrasi sebagaimana dikatakan Schmitter, terlalu banyak orang yang berkeinginan menjadi pencari keuntungan dari ketidakpastian era transisi. Mereka sekarang sangat banyak kita jumpai di publik dengan berbagai kedok, sok reformis, sok mengkritik, dan provokatif. Di balik itu semua, ujung-ujungnya rakyat dijadikan objek pelengkap penderita dalam berbagai permainan politik

Fenomena Fisika Kuantum bilang: “tidak ada yang kejadian yang pasti, segala sesuatu bisa terjadi (ada probabilitasnya)”.

Kalau ada yg berpendapat, “Negeri kita Indonesia, saat ini seperti organisasi yang kacau, penuh ketidakpastian; hukum ga jelas : maling ketela dihukum berat, koruptor dibebaskan; penanganan seseorang yg dianggap melawan hukum padahal belum terbukti ‘sungguh’ keterlaluan dianiaya sampai mati; pejabat negara tindakan, ucapannya semakin menyakiti hati rakyatnya, dll…”, ya karena sedang mengalami fenomena Kuantum ini.  Dan rakyat merasa tidak nyaman karena tidak ada kepastian akan masa depan organisasi ini.

Rakyat tetaplah rakyat yang tidak punya kedaulatannya, tetap termarjinalisasi dari akses-akses politik dan ekonomi. Itu semua terjadi karena kultur politik kita masih kultur centeng, sok priyayi meski karbitan. Itulah yang menguasai sendi-sendi kehidupan politik kita. Disadari atau tidak, kita ini sebenarnya dikuasai para calo politik, bukan negarawan.

Benang merahnya disini adalah, pada Teori Ketidakpastian Heidenberg. “Mustahil untuk bisa mengukur secara tepat posisi sekaligus momentum partikel yang bergerak. Apabila posisinya diketahui, maka momentumnya tidak akurat. Sebaliknya jika momentumnya diketahui, maka posisinya lah yang tidak akurat”. Jadi yg dibutuhkan adalah sebuah Kepastian !.

Dibutuhkan team work dan pemimpin yang tegas, punya visi kuat/jelas dan banyak kerja (workaholic) untuk mengatasi suasana kacau (chaos) ini. Seorang yg memiliki karakter ‘Strong Leader’! (jangan dibaca arogan dan diktator). Bagaimana Putin melepaskan Rusia dari kekacauan ekonomi dan politik serta bangkit dari keterpurukan adalah contoh fenomena ini.

Fisikawan Perancis Pierre Simon Laplace berteori bahwa tidak mustahil mengetahui keadaan akan datang jika semua gaya, posisi, dan momentum suatu benda/ bisa diketahui.

Nah loo, mari semua pihak memahami, mempelajari politik dengan baik, diterapkan dengan baik, sesuai kaidah, etika dan norma hukum yg lurus sesuai demokrasi Pancasila.

Sy sll berimajinasi dg demokrasi pancasila, smuanya menyandarkan perilaku dg spiritualitas imannya, sila 1; sehingga saling memuliakan ‘manusia’, sila 2; guyup rukun agawe sentosa,walau beda2, sila 3; regenerasi yg adem tentrem, sila 4; dan semuanya bahagia, yg jd buruh, petani, guru, ustadz, pengusaha, karyawan, pemimpin publik, sampai presiden.  Seperti acara “dari desa ke desa”,  TVRI jaman dahulu…

Tapi kalo itu tdk ‘nyata’ berarti pencitraan sdh dr jaman dahulu.. dan imajinasi sy hanya sekedar ilusii..

Alifis@corner
080516 17:07
Penfui minggu, sore hari

Referensi :
Benny Susetyo : Politik oportunis
MF Rosyid, dkk:  Arah dan Strategi Pengembangan Riset Fisika di Indonesia
Yohanes Surya, Organisasi dan Fisika

rencana tulisan ga penting selanjutnya :
Politik ala Fisika (bagian tiga)
Dialektika Sains Fisika dan Politik

Dipublikasi di aQ berPole-MIX | Tag , , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Dunia Runyam〈7×7〉

image ilustrator: Azka, 4th1bln

{1}
Dunia memang runyam
Sudrun, gak karu-karuan
Itu juga yang dipertanyakan
Malaikat pada Allah saat penciptaan
Manusia di bumi perawan,
Yang hanya akan buat kerusakan,
Penyebab darah tertumpahkan?

{2}
Allah telah titahkan,
Ahlan wa Sahlan…wahai insan
Pembawa Rahmat sekalian alam
Telah diserukan untuk memuliakan
Kebaikan, persaudaraan, saling ingatkan
Rangkul si lemah, fakir dlm rengkuhan
Niscaya iman qolbu sejuk menenangkan

{3}
Dunia jadi kejam…
Tidak ramah, horror dan menyedihkan
Jika semua gampang kepalkan tangan
Pukul bertubi tak tentu arah dan tujuan
Emosi di ujung lidah, kata, juga ingatan
Udara panas, pijakkaki kelimpungan
Terombang ambing nafsu tak keruan

{4}
Jangan jadi tinggi karena merendahkan
Belum tentu lebih baik punya kelakuan
Jangan jadi kuasa dg menginjak insan
Kemlinti menutup jati diri
Smua jadi tak berarti, keji dan ngeri
Bagai memakan bangkai …
Saudara sendiri

{5}
Jangan terbawa bawa
Intrik, konspirasi serakah dunia
Kuatkan jiwa dg AsmaNya
Biarkan kebaikan juga keluhuran
Bawa kedamaian merasuk pelahan
Direlung kalbu…
Dalam sanubarimu..

{6}
Menyelam…
Di dunia plural penuh dinamika
Jangan-janganlah hanyut melena
Terbawa arus maya tak kentara
Fahami diri sepenuh hati
Sadar penuh…
Hadir utuh

{7}
Berenang…
Dalam seabreg rutinitas harian
Juga bisa lelah menjemukan
Raga boleh diam, jiwa jangan
Akal fikiran kadang stagnan…
Segarkan…
Dzikirkan

{Conclusi 7×7}
Dunia memang runyam
Takdir telah dituliskan
Terbaik yg bisa dilakukan
Jangan terlenakan….
Nikmati, syukuri
Sadari, saatnya nanti
Kembali kehadirat Illahi

Introspeksi diri
Dipagi, hening Suci

alifis@corner
Penfui, 260416 07:57

Dipublikasi di Alunan Kata | Tag , , , , , , , | Meninggalkan komentar

POLITIK ala FISIKA (bagian satu)

Bagian 1 : Fisika Politik

image

Logika keilmuan di dunia Fisika bersanding dengan Logika kepentingan dalam politik?

Amat naif sebenarnya, ketika aq menuliskan paduan dua aras ilmu yang ‘aneh’ menurut pandangan umum, yaitu Fisika dan Politik, yang bahkan cenderung disalahfahami karena asumsi ekstrimitas logikanya, yaitu Ilmu Fisika yg terlalu objektif dan Ilmu Politik yg terlalu subjektif.
&& wong ilmunya masih ‘bau kencur’ dan ‘jauh panggang dari api’, sok2an.. maklum penulis amatir,:)

Pandangan umum telah menunjukkan, Fisika itu ilmu pasti yg sulit karena terlalu banyak rumus, menggunakan analisa matematik transendental yg rumit, terlalu kaku objektifitasnya, membosankan dan tidak indah sama sekali.
&& padahal aku selalu bilang fisika itu menarik, menantang dan mengasyikkan.

Dunia Politik? 
Dunia politik malah berada pada nilai batas yang kontradiktif, berada pada wilayah gak jelas ‘abu-abu’, tidak ada kepastiannya sama sekali, banyak kepentingan dan subjektifitasnya tinggi.
&& kalau lempeng, lurus dan mudah dibaca, apakah masih diperlukan politik?

Wah, terlalu mengada-ada nih ! Sampai sini, pasti prasangka dan cibiran melintas di egoisitas intelektual pembaca, yang mungkin banyak berharap dg judul tulisan ini. Tak kasih tahu, Intinya topik ini tidak penting. Jangan terlalu berharap dengan analisa yg akademik.
&& kebiasaan buruk diri kita, hanya mau baca dr tokoh terkenal dan populer… malas baca kalo yg nulis orang biasa,haha

Politik dalam pemodelan sistem fisika klasik, berwujud sebuah persamaan umum yg  terkait dg variabel2 tak hingga jumlahnya. Solusi eksak secara analitik sangat susah ditemukan. Belum lagi kalau diterapkan variabel waktu, makin runyam, kompleks sistemnya.
&& kayaknya kurang keren kalau hanya menggunakan regresi linear ganda untuk uji korelasi variabel, sbagaimana dlm statistik !

Tidak ada yg pasti dlm politik, dan nilai batas satu-satunya sebagai konstanta terukur hanyalah “politik tak mengenal kawan dan lawan abadi, yang abadi semata kepentingan”. Woouw, konstantanya tak pasti juga…haha. Beda dengan konstanta fisika:  phi=3,14; g=9,8 m/s^2, c=3E08 m/s, dll.
&& apakah ini menjadi justifikasi, orang fisika tdk cocok terjun di politik? Ehm

Tapi, tunggu dulu. Fisika Politik? Bukan hal tabu atau barang baru!. Karena, Sains Fisika sebenarnya dr dulu sdh jauh melampaui asumsi2 diatas, baik secara teoritis maupun terapan.
&& jadi mulai saat ini, rubahlah persepsi anda tentang fisika, hihihi…

Anda mungkin pernah mendengar istilah Fisika Modern, Fisika Kuantum, Fisika Statistik, Komputasi Fisika atau dalam terapan khusus ada Fisika Ekonomi, Fisika Medis,  Astrofisika, Metafisika, Patafisika, dll. Fisika sdh jauh berkembang, walau tetap mengacu pada metode ilmiah,  aspek kuantitatif logik, dan kajian eksperimentasi.
&& Jadi absah dan valid sebagai metode kajian politik. Boleh yak.. yaak.

Analisa kuantitatif saintis, saat ini menjadi andalan dlm setiap ‘apapun itu’ fenomena terjadi, supaya ‘cukup’ logis dan ilmiah. Bahkan, Untuk Hal tertentu, bgitu keterlaluannya, sampai kadang logikaku mampus memahaminya. Contohnya kasus dibawah ini :
(1) Masih ingat dengan peringkat negara2 yg paling bahagia di dunia? # domain kalbu kolektif yg terdigitasi, aneh !
(2) KPK menetapkan aspek korupsi didasarkan niat kejahatan? # domain kalbu yg dijustifikasi, olala..
&& kadang, penyederhanaan yg dipaksakan, memberikan solusi yg menyesatkan, dan aku yakin, dua kasus diatas bukan karya orang fisika, haha…

Nah, dengan dukungan teknologi komunikasi, informasi dan komputasi, benar2 mampu menterjemahkan ‘politik’,  menjadi ruang yang karakteristiknya semakin kasat mata. Kalkulasi kesan publik dapat dg mudah dibaca di layar mungil 5 atau 10 inci. Politik saat ini adalah politik yg saintifik, yg eranya sudah didahului oleh pemahaman Fisika Politik, dibumbui oleh Metafisika Politik dan dipoles oleh Patafisika Politik.
&& pinjam Istilah dan pengetahuan dr Yasraf Amir Piliang dlm YAP Institute, betul2 menarik.:)

Jangan heran, sudah sejak 2002 Fisika Politik dikenal. Untuk anak muda yg baru sedikit faham politik atau sekedar tahu ilmu politik sepenggal-penggal sepertiku, Fisika politik sdh dicetuskan oleh  John Protevi dalam publishnya, Political Physics sebagai sebuah relasi fungsi dari berbagai kekuatan fisik aneka skala mulai dari perorangan, kelompok, partai politik, agama, pengusaha, kekuatan ummat (kelompok Agama), Militer, Teknologi, Bahkan Akademisi sebagai material penyokong pondasi suatu kekuatan politik.
&& Nyinyir dan nyindir, ketika belajar politik sepenggal penggal, wawasannya jadi tersenggal-senggal, dan jadi kacau balau ketika memaksakan diri ikut berkomentar soal politik di media. Namanya juga belajar, yg penting eksis dl.. Hihi
&& melihat pengalaman,banyak akademisi kampus yg gagal di politik, karena paradigma idealisasi keilmuan yg jujur dan ‘menganggap sdh purna’ dibawa dlm politik yg luwes, penuh intriks, dan transaksional (kaget, frustasi atau uforia).

Politik, pada akhirnya selalu disertai mesin perang fisika yang dikerahkan sebagai cara mendapatkan kekuasaan. Fakta2 di setiap gelaran demokrasi dapat kita amati, dan selalu begitu seperti rentetan algoritma panjang bak kode pemrograman, meliputi pengerahan massa, pawai kampanye, money politics, hadiah (kaus, topi, jaket), bantuan sosial (pembangunan jalan, masjid, sekolah).
&& ada ambisi personal yg mungkin tdk merakyat diboncengkan dlm ambisi komunal, lokal, nasional atas nama rakyat. WaspadaLah..waspadalah..!!!

Hukum2 dlm Fisika, selalu kental dengan fenomena alam, karena disarikan dari situ, Tak terkecuali analisa perilaku politik. Hukum Newton selalu menarik dan menjadi sandaran setiap fenomena ‘gerak’, termasuk gerakan politik. Nah lhoo…
&& Newton mungkin sedih, temuannya dimanipulasi, hahaha…

Johanes Surya, sang legenda hidup, Profesor Fisika menuliskan bagaimana seorang Ahok, telah memberikan gaya ‘shock terapy ‘bagi SDM DKI yg berbodi besar (massa besar), untuk tidak berada dlm zona inersia, kemalasan, kelembaman, sesuai dengan Hukum I Newton. Sy setuju, fenomena DKI adalah miniatur fenomena negeri Indonesia, yg terdiri dari 33an propinsi. Dan masalah itu, juga berurat berakar di kultur Indonesia.

Sy merasa tergelitik, ketika ungkapan Newton yg mensinyalir : massa yg diam cenderung tetap diam, itu juga menjelaskan kenapa pejabat yg sudah duduk di kursi empuk, susah untuk melepaskannya. Satu periode tidak cukup, inkumben ikutan lagi.

Atau kalau jabatan itu dimaknai sebagai gerak dinamis, ungkapan Newton :massa yg bergerak cenderung tetap bergerak, bisa menyebabkan seseorang yg malang melintang bergerak dlm dunia birokrasi, menjadi kesusahan ‘power syndrome’ ketika turun jabatan, karena dimaknai akhir dunia, berdiam diri. Perlu ada gaya eksternal, dukungan keluarga menciptakan suasana dinamis. Olala…
&& bacalah alinea diatas Secara psikologis, bukan fisiologis, haha…

Balik ke Yohanes Surya, bahkan dlm perkembangan saat ini, sepertinya bukan hanya SDM birokrat dan politik DKI, bahkan negeri Indonesia, yg terkena imbas gaya eksternal, shock terapy dari fenomena Ahok. Saat ini juga seluruh komponen bangsa, perlu ‘belajar lagi’, lebih pintar lagi menggali nilai2 Pancasila, yg pernah kita pelajari di butir2 Pancasila, yg sdh terlupakan, dan mendalami esensi kemanusiaan dlm kitab suci masing2, tanpa harus mempertentangkannya. Lakum dinukum waliyadin. untukmu agamamu, untukku agamaku.
&& Saat ini banyak yg melupakan, menyalahkan, mempertentangkan, menggugat Pancasila, padahal tidak jelek. Tidak terlalu ke kanan, juga tidak kekiri. Kita tidak hidup sendiri, jadi Balance saja.

Jadi, idealnya boleh bawa agama dalam politik, tapi silahkan dikonsumsi di lingkungan sendiri, dikalangan umat agamanya sendiri. Bukan gunjing dimedia online.. yg ujung2nya SARA, sesuai Hukum III Newton, ada aksi ada reaksi. Kalau sdh berlarut larut, tidak tahu lagi siapa yg memicu aksi. Bagai reaksi inti pada peluruhan zat radioaktif, mentrigger reaksi inti selanjutnya, sampai inti stabil. Kalau SARA dipicu, lamaa stabilnya, dalam lukanya, pedih hatinya. Itu masalahnya. Hadeeehh…

Lanjutan di :
Politik ala Fisika bagian kedua :
Trend Metafisika Dan Patafisika Politik

180416 @11:51
Alifis@Corner

Dipublikasi di aQ berPole-MIX | Tag , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Terang di Tanah Karang

Sekarang, musim terang di tanah karang
Paparan mentari maksimal tanpa penghalang
Yang lemah niat, sembunyi bagai ngengat
Orang NTT tak pernah malas karena panas

Besong jangan bilang tana timor sonde bae.
Besong jangan bilang FLOBAMORA sonde bae.
Bae sonde bae, bae sonde bae tana timor lebe bae.
Bae sonde bae, bae sonde bae Flobamora lebe bae. *)

Semilir angin sudah menghangat
Terik mentari siang mulai menyengat
Bulir muka air terjebak menjerit menguap
Yang sempat sembunyi tergesa meresap

Di Sumba sana ada kuda Sandelwud.
Di Flores sana ada si Komodorensis.
Di Alor sana ada buah Kenari.
Di Timor sini ada wangi cendana. **)

Bentang alampun bermetamorfosa
hijau gading, merah orange berbunga
Lalu kering, pasrah coklat merana
Anehnya, selalu indah dipandang mata

Bae Sonde Bae, Tanah Timor Lebe Bae

170416
Alifis@Corner,
Orang Timor, Penfui
*,**) Lirik Lagu Bae Sonde Bae
(Lagu POP Timor – NTT)

Dipublikasi di Alunan Kata, Relief Kehidupan | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar

Anomali Politik

image

Menarik mencermati atmosfer politik negeri tercinta, Indonesia. Tak terkecuali di media sosial, bahasan politik tak ada habisnya dikomentari oleh netizen, baik hanya sekedar urun komentar, ilmiah dlm rangka aktualisasi, atau tendensius sebagai partisipan tokoh atau tim cyber calon tertentu.

Politik negeri ini, lagi mengalami anomali, adem panas ekstrem kadang hipotermi, lebih sering hipertermi… gara2 ‘Fenomena Ahok’, (Fenomena Ahok, istilah dari Bapa Zadrach, Ahli Meteorologi ITB), yg kebetulan sy temukan berkomentar di medsos.

Siapa yg tidak tahu Ahok. Semua masyarakat mungkin tahu gayanya. Ada yg suka, tidak suka, membencinya,atau biasa2 saja. Kalau ada yg menduga2 bagaimana sikap sy? sy tidak suka politik, hanya kadang mengikuti kejadian politik. Tidak suka debat politik, hanya suka baca dan sedikit menuliskannya. Tidak peduli Ahok, karena bukan warga DKI dan tentu tidak punya hak suara. Yang sedikit sy pedulikan adalah komentar2 di medsos yg sangat bermuatan SARA dan hilang etika, Walau Akhirnya pasti juga ga ngaruh, hahaha…

Anomali’ yaitu “penyimpangan” terhadap sesuatu yang biasa atau normal dan telah menjadi kondisi umum atau mayoritas dalam suatu lingkungan tertentu. Dari sisi bahasa,  Penyimpangan disini kesannya berkonotasi negatif, tapi dlm dunia politik bermakna ganda, bisa negatif bisa positif tergantung pada landasan normatifnya.

Kondisi umum kepemimpinan di negeri ini, korupsi sdh biasa terjadi, biasa dilakukan, akhirnya menjadi kebiasaan, karena terbiasa.
Baik di legislatif, eksekutif dan judikatif. Bahkan, kongkalikong terjadi antar lembaga negara tersebut, dan selamanya pasti selalu merugikan masyarakat di negeri ini.

Kalau terbukti, Ahok ‘bener2’ tidak korup (sy betul2 tdk tahu krn sy  bukan pihak yg berkompeten menilai) dan dg gagah berani melawan sistem ‘korup’  DPRD, itulah Anomali Perilaku.  Tidak umum, seorang eksekutif secara frontal melawan legistatif. Ditambah, gaya Ahok yg brutal ceplas ceplos temperamental (tidak biasanya pejabat berperilaku seperti itu) menguatkan juga adanya Anomali Perilaku pada diri Ahok dari sisi yg lain.

Masih hangat diingatan, Hal itu dilakukan Gus Dur sewaktu jadi Presiden, yg akhirnya dilengserkan secara politik juga. Gus Dur yg bercelana pendek dan bilang anggota legislatif seperti Anak TK, juga Anomali perilaku. Bahkan di umat muslim sendiri, keanehan perilaku Gus Dur sendiri menimbulkan pro dan kontra.

Dalam Webster’s New Dictionary of Synonyms, dikatakan an anomaly is something that is contrary to what it should be. Anomali juga disinonimkan dengan paradox dan antinomy. Paradox adalah sesuatu yang berlawanan, sedangkan antinomy adalah sesuatu yang contradiction between two laws, principles or conclusions (albantani)

Nah, Apakah korupsi yg dilakukan anggota legislatif baik secara sembunyi sendiri atau berjamaah itu, bukan anomali? betull… itu adalah Anomali Norma, yaitu norma kelembagaan legislatif dalam menjalankan peran dan fungsinya sebagai institusi perwakilan politik rakyat.

Kenapa begitu? Karena istilah lain yang sepadan dengan anomaly adalah deviance/deviant artinya orang yang meyimpang dari patokan-patokan atau ketentuan-ketentuan. Menurut Albert K. Cohen (Sills, 1968), deviant behaviour (perilaku menyimpang) adalah perilaku yang melanggar aturan-aturan normatif, toleransi atau harapan-harapan dari sistem sosial.

Norma kelembagaan institusi legislatif secara universal tertuang dalam apa yang disebut tugas dan fungsi, yaitu: merespon dan mewujudkan aspirasi masyarakat; menciptakan kebaikan bersama atau kepentingan publik; membawa konflik dalam masyarakat ke dalam sistem politik; berbicara dan mewakili kehendak rakyat; bertanggungjawab kepada masyarakat atau konstituen; melaksanakan fungsi legislasi, pengawasan dan budget; menerapkan good governance; taat pada ketentuan dan norma kepatutan masyarakat (albantani)

Dalam menjalankan tugas dan fungsi tersebut para wakil rakyat dibimbing oleh beberapa norma, yaitu: asas pemerintahan yang baik, yaitu kepastian hukum, tertib penyelenggaraan negara, kepentingan umum, keterbukaan, profesionalitas, dan akuntabilitas; wajib tidak melakukan perbuatan korupsi dan kolusi; melaksanakan tugas dengan penuh tanggungjawab, tidak melakukan perbuatan tercela, tanpa pamrih baik untuk kepentingan pribadi, keluarga, kroni maupun kelompok (albantani).

Akhirnya, Anomali menjadi relevan untuk diterjemahkan tidak sekedar penyimpangan dari pengertian yang umum atau biasa atas kondisi mayoritas, tapi lebih luas mencakup penyimpangan terhadap norma yang terjadi pada fungsi-fungsi pemerintahan yang dilakukan oleh pejabat publik, termasuk wakil rakyat dalam institusi legislatif.

Apakah Ahok yg kebetulan terlahir Cina, dan kebetulan jadi Gubernur DKI adalah Anomali  juga di DKI? Iyaa.. Itu adalah Anomali dari aspek Fisik. Hanya yang disayangkan kalau sdh subjektif dan bernada SARA yg ujung2nya debat kusir dlm kebencian, kayak ga ada sisi baiknya, ga ada benar semuanya. Itu yang kadang membuatku jadi sedih, haha..

Dan ketika Ahok bener2 tidak korup, berarti  luarbiasa. Ahok ‘sang Anomali Perilaku’ mungkin akhirnya menang versus legislaif ‘sang Anomali Norma’, Walau juga tidak menjamin pada akhirnya menang Pilgub DKI, karena banyak ada faktor Fisika Politik, Metafisika dan Patafisika Politik.

Tapi kalau Ahok nantinya terbukti koruptor juga, dan anomali gayanya hanya untuk menutupi kepentingan politiknya, Wuahh runyam Ahok. Dan negeri ini memang perlu taubat nasuha, perbaiki sistem politiknya atau buang saja ke laut itu oknum2 politikusnya. Masih akan ramee…

Apakah reaksi para netizen, tokoh2 dunia politik, birokrat, spiritual juga mengalami anomali? Nada2nya iyaa…

Perilaku menyimpang ini pada tingkat yang paling fatal dapat membawa pada apa yang dinamakan situasi anomie, yaitu suatu situasi ketiadaan nilai-nilai umum dalam sebuah masyarakat. Chaos…

Ya smoga semua pihak segera sadar, berpolitik yg santun, membela rakyat dan kebutuhannya. Rakyat juga akan patuh, tunduk dan tidak neko2 kalo pemimpin2 yg diatas amanah dan mengayomi… Smogaa…Amiin.

Alifis@corner
Penfui, 15042016
Sumber : konsep anomali, muhsin albantani

Dipublikasi di aQ berPole-MIX | Tag , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Monyet, Imperial World & Batu Kapala

Perjalanan singkat sehabis dari Barat
Daratan Timor yg alami, cerah memikat
Bukan kitab suci yg dicari, sobat
Tapi, Sun Go Kong punya kerabat
Monyet nakal, lapar, gesit melompat

image

Taman rekreasi gua monyet...

image

Sigap menyapa pengunjung..:)

image

Sisi jalan hamparan batu karang menjulang

image

Landscape padang ilalang

Jalan berlanjut melintas Imperial
Imperial World di cadasnya batu koral
Sejatinya jadi kawasan hunian mahal
Yang terlantar, ditumbuhi rumput liar
Mungkin menunggu kambing2 dijagal

image

image

image

image

Akhirnya, istirahat sesaat di Nunhila
Batu Kapala, tamansari batas cakrawala
Tadabur alam dg Non Aliya dan Azka
Syukur padaNya atas alam semesta
Harmonisasi kalbu, tenang tiada tara

image

image

image

image

image

image

Nikmat manalagi yg kan diingkari?
Alifis@corner, 100416

Dipublikasi di Relief Kehidupan | Tag , , , , , , , | Meninggalkan komentar

TERDENGAR….

pic by Ata~Paud2011image

Diluar terdengar, 
Angin berkejaran dg hujan deras,
Sayup terdengar berpilin dan menghempas, 
Sejenak kemudian,..terhenti.

Didalam terdengar, 
Tasbih gerimis berderak pelan menyapa genting, 
Lebih lirih dari detak konstan jam dinding,

Diluar dan didalam,
mewakili entitas dinamis dan stagnan,
Menyelam didunia dinamis, sering hanyut melenakan
Berenang dlm rutinitas stagnan, juga bisa menjemukan

Yah, itulah..
insan hobi mengeluh, lupa diri dan ingatan,
Lima waktu saja dianggap mainan,
padahal obat laras keseimbangan,
antara rasa dinamis dan stagnan, 

nasehat eyang,
cukup dg berdiri ruku sujud dan salam
Saat kerjo, jogrogan, rebahan atau dlosoran, 
Elingoo leeee,  nduuuk, tenanan
Ben gak ono penyesalan…

alifis@corner
#introspeksi diri
penfui, 201215

| Meninggalkan komentar