Bosscha: Pengamatan Hilal Menjelang Syawal 1439H

Pagi ini, setelah ba’da Subuh, hari ke 27 ramadhan, sy dan anak Ata sempat tengokkan diri dan berhenti sejenak di pinggir jalan, sekedar memotret langit di belahan timur. Matahari sudah menyapa malu2 dg rona merahnya, diatasnya bulan menyipitkan diri bagai sabit di ketinggian.

Bulan diburu banyak pihak/institusi yg memiliki amanah utk memberi pertimbangan dan keputusan terkait awal dan akhir Ramadhan. Seluruh umat muslim sll menunggu, akankah menggenapi puasa 30 hari atau cukup 29 hari tergantung dari sidang isbat, dan salah satu pertimbangan utama adalah hasil pengamatan hilal di seluruh belahan negeri.

Bosscha, adalah institusi observatorium dibawah astronomi ITB yg memiliki SDM sangat berkompeten terkait pengamatan hilal, disamping ada LAPAN, BMKG, dan badan Astronomi lembaga/ormas Islam.

Terkait hal diatas berikut sy sertakan press release Pengamatan Hilal Menjelang syawal 1439H / 2018M oleh Bosscha, yg linknya dikirimkan di WA sy.

Trimaksih Ibu Nana, Premana W Premadi, Direktur Observatorium Bosscha yg telah berbagi info dan ilmunya.

___________________________________________

PRESS RELEASE: Pengamatan Hilal Menjelang Syawal 1439 H/2018 M

Sebagai institusi pendidikan dan penelitian di bidang astronomi, Observatorium Bosscha melaksanakan kegiatan pengamatan Bulan sabit muda pada hampir setiap bulan. Bulan sabit yang ingin diamati pada tanggal 14 Juni 2018 adalah Bulan sabit penanda beralihnya bulan Ramadhan ke bulan Syawal dalam kalender Hijriyah 1439 H.

Kalender Hijriyah merupakan sistem penanggalan yang mengacu kepada siklus periodik fase Bulan. Urutan kemunculan fase Bulan digunakan sebagai penanda waktu dan periode dalam kalender lunar (Bulan sabit sebagai penanda awal atau akhir bulan dan Bulan purnama menandakan pertengahan). Satu bulan pada kalender lunar ditetapkan sebagai panjang waktu atau periode satu siklus Bulan mengeliling Bumi, yakni selama rata-rata 29,53 hari (disebut periode Sinodis).

Penghitungan hari dalam kalender Hijriyah dimulai saat Matahari terbenam dan penetapan awal bulan pada kalender Hijriyah dimulai setelah terjadi konjungsi. Konjungsi adalah saat posisi Bulan dan Matahari berada pada posisi garis bujur ekliptika yang sama. Konjungsi ditetapkan sebagai batas astronomis antara bulan yang sedang berlangsung dengan bulan berikutnya dalam sistem kalender lunar. Pada saat konjungsi, Matahari, Bulan, dan Bumi dalam konfigurasi segaris sehingga Bulan berada pada fase Bulan mati diamati dari permukaan Bumi.

Peralihan bulan dalam kalender Hijriyah menjadi menantang ketika kita masukkan faktor “melihat” atau “sighting” bulan sabit setelah konjungsi terjadi sebagai kriteria. Terlepas dari perbedaan kriteria yang muncul di masyarakat, keberhasilan teramatinya Bulan sabit muda yang tipis secara astronomis merupakan kombinasi dari banyak faktor penentu, antara lain, posisi relatif Bulan terhadap Matahari dari posisi tertentu permukaan Bumi, usia Bulan, porsi kecerahan Bulan (iluminasi), dan tentu saja kondisi langit dan cuaca di sekitar horison.

Pengamatan dilaksanakan di Lembang

Tim Observatorium Bosscha melaksanakan pengamatan hilal di Lembang (Jawa Barat) pada 14 Juni 2018. Pengamatan akan dilakukan menjelang sore hari hingga Bulan terbenam guna memverifikasi interpretasi data astronomis posisi Bulan.

Dari Observatorium Bosscha pada 14 Juni 2018, Bulan akan diamati terbenam 36 menit 43 detik setelah (menyusul) Matahari. Berdasarkan kondisi tersebut, dikombinasikan dengan posisi projektif Bulan yang dekat dengan Matahari (elongasi sekitar 9,24°), dan iluminasi rendah (0,66%), maka Bulan sulit diamati dengan mata telanjang. Observatorium Bosscha akan menggunakan bantuan teleskop optik dalam pengamatan ini.

Penentuan awal Ramadhan dan Syawal

Di Indonesia, pihak yang berwenang menentukan awal Ramadhan dan Syawal adalah pemerintah Republik Indonesia melalui proses sidang itsbat.

Tugas Observatorium Bosscha adalah menyampaikan hasil perhitungan, pengamatan, dan penelitian tentang hilal kepada unit pemerintah yang berwenang jika diperlukan sebagai masukan untuk sidang itsbat. Masyarakat dapat mengakses data dan hasil pengamatan hilal di website Observatorium Bosscha https://bosscha.itb.ac.id.

Lampiran Data

Pengamatan dari Observatorium Bosscha, Lembang, Jawa Barat
koordinat: -6° 49’ LS, 107° 37’BT; waktu (UT +7 jam); ketinggian: 1310 m dpl

Data teknis Hilal Syawal 1439 H (kiri); Ilustrasi konfigurasi Bulan dan Matahari beserta keterangan parameternya

Catatan: Ijtimak disebut juga konjungsi geosentris: peristiwa segarisnya titik pusat Bulan-Matahari dipandang dari pusat Bumi.

Simulasi posisi Bulan saat Matahari terbenam pkl. 17:41 WIB diamati dari Observatorium Bosscha (sumber: Stellarium)

File press release dapat diunduh melalui tautan:

Press Release Jelang Syawal 1439 H/2018 M

Animasi posisi Bulan dan Matahari saat pengamatan Hilal Menjelang Syawal 1439 H/2018 M bisa dilihat pada tautan berikut.

Kontak Penghubung:

Anton Timur Jaelani antontj@as.itb.ac.id

(022) 278-6027

Premana W. Premadi premadi@as.itb.ac.id

+62 811-246-601

Iklan
Dipublikasi di Sains Alam Semesta | Tag , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Baju Baru

Memikirkan pakaian baru sah-sah saja, itu adalah bagian dari yang dihalalkan. Namun jika karena memikirkan baru menjadikan kesibukan seorang muslim di akhir-akhir Ramadhan adalah di mall dan tempat perbelanjaan, sangatlah disayangkan. Baju baru jadinya hanya membuat seseorang luput dari nikmatnya shalat tarawih, indahnya bermunajat dengan Allah lewat i’tikaf, juga tilawah Al Qur’an di akhir Ramadhan. Padahal yang lebih dipentingkan adalah pakaian takwa. Dan di akhir Ramadhan, itulah puncak pahala amalan akan semakin besar. Karena innamal a’malu bilkhawatim, setiap amalan akan dinilai akhirnya.

Ingatlah, tujuan ibadah puasa adalah untuk menggapai takwa,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan bagi kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan pada orang-orang sebelum kalian agar kalian menjadi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183).

Pakaian takwa itulah yang terbaik dibanding pakaian lahiriyah. Allah Ta’ala berfirman,

يَا بَنِي آَدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآَتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ

Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik.” (QS. Al-A’raf: 26).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menjelaskan bahwa pakaian itu ada dua macam, yaitu pakaian lahiriyah dan pakaian batin. Pakaian lahiriyah yaitu yang menutupi aurat dan ini sifatnya primer. Termasuk pakaian lahir juga adalah pakaian perhiasan yang disebut dalam ayat di atas dengan riisya’ yang berarti perhiasan atau penyempurna.

Pakaian batin sendiri adalah pakaian takwa. Pakaian ini lebih baik daripada pakaian lahir yang nampak.

Setelah menyebutkan dua penjelasan di atas, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin menjelaskan, “Kita dapati bahwa orang-orang begitu semangat sekali memperhatikan bersihnya pakaiannya yang nampak. Jika ada kotoran yang menempel di pakaiannya, maka ia akan mencucinya dengan air dan sabun sesuai kemampuannya. Namun untuk pakaian takwa, sedikit sekali yang mau memperhatikannya. Kalau pakaian batin tersebut kotor, tidak ada yang ambil peduli. Ingatlah, pakaian takwa itulah yang lebih baik. Itu menunjukkan seharusnya perhatian kita lebih tinggi pada pakaian takwa dibanding badan dan pakaian lahir yang nampak. Pakaian takwa itulah yang lebih penting.” (Syarh Riyadh Ash-Shalihin, 4: 266).

Dari penjelasan Syaikh di atas, kita lihat bahwa yang mesti diperhatikan adalah pakaian takwa.

Bahkan pakaian takwa inilah yang jadi bekal terbaik. Allah Ta’ala berfirman,

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, “Bekal yang sebenarnya yang tetap mesti ada di dunia dan di akhirat adalah bekal takwa, ini adalah bekal yang mesti dibawa untuk negeri akhirat yang kekal abadi. Bekal ini dibutuhkan untuk kehidupan sempurna yang penuh kelezatan di akhirat dan negeri yang kekal abadi selamanya. Siapa saja yang meninggalkan bekal ini, perjalanannya akan terputus dan akan mendapatkan berbagai kesulitan, bahkan ia tak bisa sampai pada negeri orang yang bertakwa (yaitu surga). Inilah pujian bagi yang bertakwa.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hlm. 92)

Al-Qasimi berkata, “Persiapkanlah ketakwaan untuk hari kiamat (yaumul ma’ad). Karena sudah jadi kepastian bahwa orang yang bersafar di dunia mesti memiliki bekal. Musafir tersebut membutuhkan makan, minum dan kendaraan. Sama halnya dengan safar dunia menuju akhirat juga butuh bekal. Bekalnya adalah dengan ketakwaan pada Allah, amal taat dan menjauhi berbagai larangan Allah. Bekal ini tentu lebih utama dari bekal saat safar di dunia. Bekal dunia tadi hanya memenuhi keinginan jiwa dan nafsu syahwat. Sedangkan bekal akhirat (takwa) akan mengantarkan pada kehidupan abadi di akhirat.” (Mahasin At-Ta’wil, 3: 153. Dinukil dari Kunuz Riyadh Ash-Shalihin, 10: 125)

Tak masalah memang memiliki baju baru karena asalnya mubah. Namun jangan melalaikan dari menyiapkan bekal hakiki untuk akhirat yaitu takwa.

Semoga bermanfaat.

Bagian dari Buku Mutiaran Nasihat Ramadhan (seri ke-2) terbitan Pustaka Muslim

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber : https://rumaysho.com/13835-ada-yang-lebih-baik-dari-baju-baru.html

| Meninggalkan komentar

Malam 25: Transit dlm MUDIK

Di seluruh pelosok negeri, pelosok dunia berbondong2 menyambut Idul Fitri, dg mudik. Mudik ini mudik primordial utk menuntaskan kerinduan pd keluarga.

Pertemuan primordialis, istilah utk mewakili fenomena sosial. Yg merantau, ada kerinduan yg mesti dituntaskan utk kembali ke kampung halaman.

Bukankah, dimana2 tempat di dunia ini adalah kampung dan bumi Allah, untuk manusia sbg khalifah fil ard. Tetapi alasan pribadi utk mudik adalah menapaktilasi proses kehidupan yg tak terlupa, berawal dari kampung halaman. Sangat personal dlm kentalnya kultural.

Orang yg mudik, begitu siapnya utk melaksanakan mudik sosial ini, berbagai bekal telah disiapkan. Perjalanan yg melalui beberapa transit pun sdh dipersiapkan.

Itulah uniknya, mudik menjadi fenomena yg sll dirindukan.

Sudahkah kita siap utk mudik kepada Allah SWT?

Rasulullah 63 th, manusia tertua 300 th. Kapankah dan siapkah bekal kita utk mudik pd Allah SWT? Yang celaka adalah mudik kepada Allah hanya membawa bekal kesombongan, status sosial, dll.

Transit pertsma mudik ke Allah adalah alam kubur. Manusia yg terbaik adalah manusia yg mempersiapkan diri utk bertemu Allah SWT.

Berapa lamanya perjalanan di alam kubur, sementara bekal yg dibawa hanya seadanya. Pangkat kedudukan, harta kekayaan, tidak berguna.

Mari kita pertahankan komitmen primordial, komitmen keimanan, dalam kontekstual mudik.

Yg menjadi penting, Allah sudah mengingatkan, Hai jiwa yg tenang,…masuklah kamu dlm golongan hamba2ku. karena perjalanan kubur itu perjalanan yg sangat panjang….

Dg ramadhan sebagai bulan edukasi, smoga menjadikan kita Pribadi unggul, paripurna utk mencapai derajat laalakum tattaqun.

9 Juni 2018

| Meninggalkan komentar

Menangislah…

Menangislah
Sebelum Ramadhan Pergi …
Kita pernah berjanji mengkhatamkan Qur’an..
Setelah Ramadhan di akhir hitungan, kita tak jua beranjak dari juz awalan..

Menangislah
Sebelum Ramadhan Pergi …
Kita pernah berjanji menyempurnakan qiyamullail yang bolong penuh tambalan …
Setelah Ramadhan di akhir hitungan, kita tak jua menyempurnakan bilangan …

Menangislah
Sebelum Ramadhan Pergi …
Kita berdoa sejak Rajab dan Sya’ban agar disampaikan ke Ramadhan..
Setelah Ramadhan di akhir hitungan..
Ternyata masih juga tak bisa menahan dari kesia-siaan..
Ternyata masih juga tak bisa menambah ibadah sunnah..
Bahkan..
Hampir terlewat dari menunaikan yang wajib…

Menangislahwahai saudaraku …
Biar butir bening itu jadi saksi di yaumil akhir..
Bahwa ada satu hamba yang bodoh, lalai, sombong lagi terlena..
Sehingga ramadhan yang mulia pun tersia-sia.

Menangislah
Dan tuntaskan semuanya malam ini..
atas i’tikaf yang belum juga kita kerjakan..
atas lembaran Qur’an yang menunggu di khatamkan..
atas lembaran mata uang yang menunggu di salurkan..
atas sholat sunnah yang menunggu jadi amal tambahan..

Menangislah
Lebih keras lagi…
Karena Allah tidak menjanjikan apapun untuk ramadhan tahun depan, apakah kita masih disertakan…

✒ (Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan, MA)

| Meninggalkan komentar

Lantai 12

Akhirnya gadis remaja itu bertemu juga dengan abangnya di bandara Paris-Charles de Gaulle. Ini adalah kali pertama bagi si gadis menginjakkan kaki di Perancis. Wajahnya berbinar-binar seperti seorang anak kecil yang diberi permen lolipop.

Abangnya sudah empat tahun kuliah di sana. Selama itu pula si gadis menabung agar dapat wisata ke negeri mode nomor satu di dunia itu. Selain Menara Eiffel, ia ingin sekali berbelanja di Galeries Lafayette dan menghabiskan seluruh tabungannya di sini.

Maklum, hobinya memang berburu barang-barang branded. Keesokan harinya, si gadis diantar abangnya menuju mall kebanggaan kota Paris tersebut. Tentu saja ia begitu heboh melihat merk-merk favoritnya ada di sana semua. Ia tidak bisa diam seperti balita yang baru bisa bicara!

Tetapi setiap kali mau membeli barang yang diinginkan, abangnya selalu menahannya, “Nanti saja belanjanya di lantai 12. Kita lihat-lihat dulu saja!”

Padahal si gadis sudah tidak sabar. Barang-barang seperti baju, tas, sepatu, seperti memiliki sihir saja di sini, karena semua begitu menggoda untuk diborong!

Singkat cerita, kedua kakak beradik ini sudah seharian melihat-lihat setiap gerai yang ada di lantai demi lantai. Kini mereka tiba di lantai paling atas. Abangnya pun membuka rahasia,

“Kamu sudah menahan diri sampai lantai kesebelas, nah di sinilah waktunya kamu belanja! Karena di lantai 12 ini semua barang yang kamu inginkan tadi di diskon besar-besaran. Habiskan uangmu di sini kamu gak akan rugi!”

Si gadis bagaikan mendapat durian runtuh. Ia menyaksikan sendiri semua barang branded dibandrol sangat murah. Dengan harga yang sama, merk terkenal seperti Versace, Hermes, Colette, bisa dapat tujuh puluh barang serupa dibandingkan jika ia belanjakan tadi di lantai yang lain. Wow. Murahnya kelewatan!

Si gadis tidak melewati kesempatan ini. Seluruh uang di dompetnya dikuras habis. Ia berbelanja sepuas-puasnya.

_________________________________________
Ehmmm…

Mari kita tinggalkan sejenak gadis remaja tersebut berbelanja. Lagipula cerita ini hanya fiksi, sebab faktanya Galeries Lafayette di kota Paris hanya punya sepuluh lantai. Hehehe.

Justru cerita tentang kita-lah yang bukan fiksi. Cerita yang nyata adalah kita sudah menunggu sampai sebelas bulan, dan sudah berada dalam bulan Ramadhan hari ini. Di sinilah waktunya kita ibadah! Karena di bulan ini semua ibadah dilipatgandakan besar-besaran. Habiskan seluruh tenaga di sini kita gak akan rugi!

Kita yang sebenarnya sedang mendapat durian runtuh. Dengan perbuatan yang sama, ibadah-ibadah seperti shalat, tadarus, sedekah, bisa dapat tujuh puluh kali lipat jika dibandingkan di bulan lain. Wow. Pahalanya kelewatan!

Maka seorang muslim yang cerdas ia tidak melewati kesempatan ini. Seluruh waktunya dikuras habis. Ia pasti beribadah sepuas-puasnya.

dari @Arafat_channel , 😁🙏🙏

Slamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan, sedulur semua, smoga menjadi manusia yg berTAQWA. Aamiin.

Dipublikasi di Remah2ilmu | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar

Masihkah Kita Manusia?

Asah, Asih, Asuh…JIWA RAGA 📚📖 PARADOKS KEMANUSIAAN _______________🔍

Manusia itu sendiri pada dasarnya adalah paradoks. RAGA manusia terbatas dan ‘BERHINGGA’ usianya. Demikian jg akal logikanya. JIWA pada manusia ‘TAK BERBATAS’ keleluasaannya dalam mencari kebahagiaan, keharmonisan, kemuliaan, kebenaran krn adanya RUH yg ‘TAK BERHINGGA’ tidak musnah ketika raga kembali ke asalnya, yaitu tanah.

Didalam area akal pemikiran, kita berjumpa dg fenomena yang bisa diketahui hingga yang tidak mungkin diketahui, paradoks-paradoks kecil tersebar berupa kebenaran-kebenaran yang BENAR didalam ilmu pengetahuan, filsafat, dan religi, dan seterusnya. .
📓🔖Dan ketika kita berhasil memahami paradoks-paradoks kecil tersebut, maka petualangan kita mencari kebenaran yang agung, yg benar-benar BENAR, berakhir. Saat manusia kembali pd Allah SWT, sebagai pemilik TUNGGAL kebenaran Hakiki, dan pencipta segala paradoks.
. 📓🔖Saat seorang manusia gagal dan menyimpang dari petualangan ini, alur persepsinya akan membuahkan pemikiran-pemikiran dan pemahaman-pemahaman yang parsial dalam menginterpretasikan eksistensinya di dlm kehidupan. Bahkan sangat mungkin TERJEBAK di kebenaran lokal, BENAR “ANTARA”, yg sdh dianggapnya BENAR “HAKIKI”. Semoga kita menjadi manusia PARIPURNA. AAMIIN YRA.

#meaningoflife #maknahidup #tafakkur
thanks videos : the brains by @yippiehey, Fabric by @thobiasgremmler, and Tense by @zolloc

| Meninggalkan komentar

PASCAL for Rp>14.000

Program Moneter;
Uses BEIb;
Const eps=5E+3;
Var Rp, Hutang, X,hargX, Kmoditi : Real;
Rkyat :char;
Begin
HargX := hargX + X*[Kmoditi]*Rp;
If Rp >=14.000 then
Begin
Hutang :=Hutang(1+eps));
HargX :=HargX(1+eps));
Rkyat=”Bingung+Resah”
End;
Else write(“NOT ERROR !!!”);
End.

=============================

After success compiling and Running…

#$@^&*$ee”;]::[^&@;;###beep.beep

Error system. Stack off memory. Maybe system infected. Shutdown please !!!

🤔😀😀😁😂

alifis@corner 080518

#sekedar humor #psikologis #moneter

Tq very much, Giphy.com for the best gif, 👍

Dipublikasi di Remah2ilmu | Tag , , , , , , , | Meninggalkan komentar