Jangan Banyak Berharap pd Obama


WRITENOW pada Rabu 21 Januari, menuliskan Barack Hussein Obama pada dini hari hari itu resmi menjadi presiden ke-44 Amerika Serikat. Bahwa Obama menjadi orang kulit hitam pertama yang menjadi presiden di sana, itulah Amerika. Bahwa pelantikannya dihadiri lebih dari 2 juta orang dan disaksikan miliaran pasang mata masyarakat dunia, itulah Amerika. Tapi berharap terlalu lebih kepada Obama, nanti dulu.

Dalam soal gegap gempita, peristiwa warga AS yang menantikan sang presiden baru di acara pelantikan itu memang luar biasa. Saya tidak bisa membayangkan lebih dari dua juta orang yang berkumpul di sekitar US Capitol, semuanya tertib mengelu-elukan sang presiden. Mereka bersorak, melambaikan tangan, khusuk berdoa dan tersenyum menantikan dunia baru.

Banyak orang di dunia yang menanti-nantikan apa gerangan yang akan dikatakan Obama dalam pidatonya setelah disumpah sebagai presiden.

Itulah repotnya kalau kita terlalu bereforia dan berharap “over dosis” kepada Obama. Kasihan Obama. Benar, seperti yang ditulis dalam editorial Media Indonesia hari ini, karena pernah tinggal dan menghabiskan masa kecil di Jakarta, Obama diharapkan jauh lebih memahami dan berempati terhadap jalan pikiran, harapan, impian, dan perjuangan rakyat Indonesia dibandingkan dengan presiden-presiden AS sebelumnya.

Akan tetapi, menurut Media Indonesia, mengharapkan Obama akan memberikan privelese, bantuan, kemudahan, serta perhatian lebih untuk membuat agenda-agenda yang pro-Indonesia dalam kebijakan luar negerinya adalah sikap tidak proporsional.

Berandai-andai kiprah Obama ke depan dengan asumsi-asumsi seperti itu jelas sangat berlebihan. Kalau memang ini yang kita jadikan patokan, sungguh sangat naif.

Oleh sebab itu saya sependapat dengan Mohamad Guntur Romli dalam artikelnya berjudul “Obama, Palestina, dan Timur Tengah” di harian Kompas hari ini. Pada intinya, dia menulis sangatlah berlebihan jika kita terlalu menuntut sangat banyak dari Obama, seolah-olah perubahan yang “harus” dilakukan oleh Obama di dunia internasional sebanding lurus dengan perubahan di dalam negerinya. Obama tetaplah presiden AS yang akan menentukan kebijakan luar negerinya tidak keluar dari garis kepentingan nasional Amerika.

Oleh sebab itu tidak ada alasan apa pun dan siapa pun untuk kecewa kepada Obama jika dalam pidatonya subuh tadi dia tidak banyak menyinggung soal konflik di Gaza. Saatnya kita belajar menerima tanpa harus meminta apalagi menuntut pakai marah-marah lagi.***

Gantyo Koespradono, dari GEKA-WRITENOW
Diedit ulang oleh Ali Warsito, remah2ilmu

Tentang alifis

penyuka ilmu, baik yang remah2 atau terkuantisasi. penikmat hidup dalam aliran harmoni dan ketenangan.... penikmat tantangan dalam dinamisasi dan idealisasi....
Pos ini dipublikasikan di aQ berPole-MIX. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s