Airnya Turun Tidak Terkira


AIRNYA TURUN, TIDAK TERKIRA…
siklus-air2
Dalam daur air, jutaan meter kubik air dapat terangkut dari laut ke atmosfer, dan kemudian kembali ke daratan. Kehidupan bergantung pada daur raksasa air ini. Jika kita berusaha mengendalikannya, kita tak akan mampu. Tak menjadi soal, sehebat apa pun semua teknologi di dunia yang kita kerahkan untuk itu. Melalui penguapan air di bumi, kita mendapatkan air, sumber pertama dan utama kehidupan, secara gratis dan mudah. Setiap tahun, kurang lebih 45 juta meter kubik air menguap dari lautan. Air yang menguap ini terbawa oleh angin melintasi daratan dalam bentuk awan. Dalam wujud hujan, setiap tahunnya sekitar 3-4 juta meter kubik air dipindahkan dari laut ke daratan, dan akhirnya sampai ke kita. Singkatnya, air dikirim ke kita dengan cara yang teramat istimewa.

1a1

BERKAT GAYA HAMBAT
Hujan turun ke bumi dalam ukuran dan perhitungan yang tepat dalam berbagai halnya. Yang pertama adalah kecepatan jatuhnya air hujan. Saat dijatuhkan dari ketinggian 1.200 meter, sebuah benda berbobot dan berukuran sama dengan setetes air hujan akan terus-menerus mengalami percepatan (peningkatan kecepatan). Akhirnya, benda ini jatuh menumbuk permukaan bumi pada kecepatan 558 km/jam. Tapi anehnya, kecepatan rata-rata butiran air hujan hanyalah 8-10 km/jam; atau sekitar 60-70 kali lebih lambat.
Mengapa demikian? Penjelasannya terletak pada bentuk khusus dan istimewa dari butiran air hujan (untuk penjelasan selengkapnya tentang bentuk air hujan, silakan membaca kolom Editorial di halaman muka). Bentuk butiran air hujan meningkatkan pengaruh gesekan molekul udara terhadapnya. Akibatnya, air hujan mengalami gaya hambat yang berlawanan dengan arah jatuhnya, sehingga memperlambat kecepatannya menumbuk bumi. Apakah ini ada untungnya bagi kita? Lanjutkan membaca tulisan di bawah ini, dan cermati perhitungan dan angka yang ada. Akan dapat Anda bayangkan bencana yang bakal muncul di bumi andai butiran air hujan tidak berbentuk sama dengan yang ada sekarang, atau jika atmosfer tidak memiliki gaya hambat terhadapnya.
Awan sedikitnya berketinggian 1.200 m. Dampak yang ditimbulkan sebutir air hujan yang jatuh dari ketinggian tersebut setara dengan sebuah benda seberat 1 kg yang dijatuhkan dari ketinggian 15 cm. Ada pula awan hujan berketinggian 10.000 m. Dengan ketinggian ini, jatuhnya sebutir air hujan berakibat setara dengan jatuhnya suatu benda berbobot 1 kg dari ketinggian 110 cm. Apa yang Anda rasakan jika tubuh, rumah atau kendaraan Anda tertimpa benda seperti ini?

Menurut perkiraan, setiap detik sekitar 16 juta ton air menguap dari bumi. Angka ini sama dengan jumlah air yang turun ke bumi dalam setiap detiknya. Dalam satu tahun, angka ini mencapai sekitar 505.000.000.000.000 (505 triliun) ton air. Demikianlah, air terus-menerus mengalami daur secara seimbang menurut perhitungan tertentu, dan dikirim ke bumi dengan cara yang paling tidak berbahaya bagi kehidupan. Jumlah 505 triliun ton air sungguh sangat besar. Bayangkan jika air sejumlah ini ditumpahkan ke bumi begitu saja dalam satu waktu, di tempat yang acak, dan tidak diturunkan merata berupa hujan yang meliputi wilayah luas dalam rentang musim tertentu?
NAIK DULU SEBELUM TURUN
Penemuan radar cuaca telah memungkinkan pengetahuan tentang tahap-tahap pembentukan hujan. Pembentukan hujan terjadi dalam tiga tahap. Pertama adalah pembentukan angin; kedua, pembentukan awan; dan ketiga, pembentukan butiran air hujan.
Tahap pertama: akibat pergerakan air laut – misalnya ombak, riak dan pusaran – permukaan air laut senantiasa berbusa atau berbuih. Buih ini membentuk gelembung udara berjumlah tak terhitung, yang terus-menerus pecah dan melepaskan banyak butiran kecil air laut ke udara. Butiran yang kaya garam ini lalu diterbangkan angin dan naik hingga ke atmosfer. Butiran-butiran ini dinamakan aerosol, dan berperan menangkap uap air di udara. Aerosol membentuk awan yang terdiri dari butiran air dengan cara menangkap dan mengumpulkan uap air tersebut, yang menguap naik ke atas dalam bentuk butiran-butiran air teramat kecil.
Tahap kedua: awan terbentuk dari uap air yang mengumpul dan melingkupi butiran-butiran garam atau debu (sebagaimana disebut di tahap I). Karena ukuran butiran air pada awan ini sangatlah kecil (dengan garis tengah 0,01-0,02 mm), awan tersebut melayang dan terhampar di udara. Akibatnya, langit tertutupi oleh hamparan awan.
Tahap ketiga: butiran-butiran air yang melingkupi partikel-partikel garam dan debu menjadi semakin tebal dan jenuh. Akhirnya terbentuklah butiran-butiran air hujan. Tatkala menjadi semakin berat daripada udara atmosfer, butiran-butiran air hujan ini meninggalkan awan dan turun ke bumi sebagai hujan.
Inilah sekelumit tentang turunnya air hujan. Adakah peran manusia dalam daur air ini? Tidak ada sama sekali. Allahlah yang telah merancang daur air, yang dengannya kehidupan dapat berlangsung di bumi.
(Harun Yahya, Insight Magazine)

Tentang alifis

penyuka ilmu, baik yang remah2 atau terkuantisasi. penikmat hidup dalam aliran harmoni dan ketenangan.... penikmat tantangan dalam dinamisasi dan idealisasi....
Pos ini dipublikasikan di Sains Alam Semesta. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s