Quick Count menurut Einstein


Pemilu 9 April 2009, lalu menyisakan sekelumit komentar tentang metode Quick Count yang ditanggapi petinggi partai dengan cukup beragam. Ilmiah atau tidak? Akurat atau sekedarnya? Bisa menjadi representasi hasil akhir atau tidak sama sekali? hehe…
Yang hasilnya bagus, percaya! yang hasilnya gak bagus sama sekali tidak percaya. katanya” itu kan pesanan dan berorientasi pada hasil pemesan!!”.
qc
Bagaimana ceritanya ada QC?
Detik.com mencatat quick count atau penghitungan cepat atau sebagian kalangan menyebutnya exit poll pertama dilakukan pada tahun 1986 di Pemilu Philipina. Sebuah LSM yang bernama NAMFREL melaksanakan PVT (parallel vote tabulation) yaitu pencatatan atau penabulasian secara paralel hasil penghitungan suara pemilu. Di Indonesia, metode quick count sebenarnya sudah dilaksanakan sejak pemilu 1997 dan pemilu 1999 oleh LP3ES. Namun waktu itu LP3ES tidak terlalu mempublikasikan secara besar-besaran hasilnya. Seiring berjalannya waktu, teknik yang digunakan dalam quick count semakin berkembang. Dengan menggunakan prinnsip dasar statistika, penyelenggara quick count tidak perlu menempatkan orang di setiap TPS. LP3ES menyebutkan quick count atau penghitungan suara cepat adalah proses pencatatan hasil perolehan suara di ribuan TPS yang dipilih secara acak.
img0672a
Dodi Ambardi, sepupuku yang jadi direktur riset LSI, dan menantunya arief budiman-salatiga [ pamer, bukan wong aku juga belum pernah ketemu.🙂 aslinya sepupu maitua aq] menyatakan dalam election channel metro TV bahwa
Quick count adalah prediksi hasil pemilu berdasarkan fakta bukan berdasarkan opini. Karena itu ia tidak sama dengan jajak pendapat terhadap pemilih yang baru saja mencoblos atau yang biasa disebut exit poll. Untuk kepentingan quick count ribuan relawan diturunkan untuk mengamati pemilu secara langsung demi memperoleh informasi yang diperlukan. Mereka mencatat ke dalam formulir yang telah disediakan mengenai informasi proses pencoblosan dan penghitungan suara di TPS yang diamati, termasuk perolehan suara masing-masing kandidat. Setelah selesai mereka akan menyampaikan temuan-temuannya ke pusat data (data center).

Detik.com menambahkan, mengapa kita bisa mempercayai hasil quick count? Pertanyaan ini seringkali diajukan ketika banyak pihak yang meragukan akurasi data. Jawabannya karena quick count tidak mendasarkan diri pada opini siapapun, melainkan berbasis pada fakta lapangan, yaitu perolehan suara di TPS. Organisasi yang melakukan Quick Count mengumpulkan data dari tiap TPS, dan berusaha melakukan penghitungan cepat dari daerah pantauan yang dipilih secara acak. Para pemantau berada di TPS, dan melaporkan secara langsung proses pemungutan dan penghitungan surat suara. Quick count dapat memperkirakan perolehan suara Pemilu secara cepat sehingga dapat memverifikasi hasil resmi KPU. Lebih jauh quick count mampu mendeteksi dan melaporkan penyimpangan, atau mengungkapkan kecurangan. Banyak contoh membuktikan Quick Count dapat membangun kepercayaan atas kinerja penyelenggara pemilu dan memberikan legitimasi terhadap proses pemilu. Selanjutnya agar kita bisa memahami quick count, kita pun harus mengerti metodologi dan cara penarikan sampel yang dipilih penyelenggara. Karena kekuatan data quick count sebenarnya bergantung pada bagaimana sampel itu ditarik. Sebab, sampel tersebut yang akan menentukan mana suara pemilih yang akan dipakai sebagai basis estimasi hasil pemilu. Sampel yang ditarik secara benar akan memberikan landasan kuat untuk mewakili karakteristik populasi. Seberapa akuratkah hasil quick count bila dibandingkan dengan hasil resmi pemilu atau pilkada? Estimasi quick count akan akurat apabila mengacu pada metodologi statistik dan penarikan sampel yang ketat serta diimplementasikan secara konsisten di lapangan. Kekuatan Quick Count juga sangat tergantung pada identifikasi terhadap berbagai faktor yang berdampak pada distribusi suara dalam populasi suara pemilih. Apabila Pemilu berjalan lancar tanpa kecurangan, akurasi quick count dapat disandarkan pada perbandingannya dengan hasil resmi KPU. Tetapi apabila Pemilu berjalan penuh kecurangan, maka hasil quick count dapat dikatakan kredibel meskipun hasilnya berbeda dengan hasil resmi KPU. Oleh karena itu Quick Count biasanya diiringi dengan kegiatan lain yaitu pemantauan yang juga menggunakan metode penarikan sampel secara acak!

Menurut Einstein, Bagaimana?
einstein
Enstein dalam wawancara imajiner bilang, QC belum populer dijaman saya, jadi tidak berpendapat. Tapi berbicara acak, estimasi dan ramalan kejadian dalam probabilitas kan aku yang memulai?.
Tambahnya, kalau itu dalam koridor ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan secara akademik ya sah-sah saja. Namanya Quick Count khan untuk lebih menyemarakkan pemilu. itulah pendapat Einstein.:)

Masak sih,
Siapa bilang, sudah banyak caleg yang sekarang gangguan jiwa, dibilang menyemarakkan, hehe…:). Koran lokal Pos Kupang, tanggal 15 April memuat beberapa panti jiwa menolak kedatangan caleg yang gagal dengan tujuan untuk menyembuhkan kejiwaannya, dengan alasan sederhana: panti melayani orang tidak mampu, bahkan ada yang sudah gantung diri! Welwh-weleh..keterlaluan memang efek dari pesta demokrasi di negeri ini.

Ya sudahlah….
Tapi ngomong-ngomong aq sempat ikuti berita ada partai yang akan class action gara-gara tintanya bisa langsung terhapus. Lhah di kuku jari tangan kiriku kok masih sisa ya padahal sudah 7 hari. Perasaan setiap mandi juga aq gosok. Mana yang benar???
Tanyalah pada rumput yang bergoyang !!
Yang penting, tidak berkelahi sesama anak bangsa seperti anak aq yang bergaya bruce lee lawan ultraman tiga. hehe🙂
img0608a

Tentang alifis

penyuka ilmu, baik yang remah2 atau terkuantisasi. penikmat hidup dalam aliran harmoni dan ketenangan.... penikmat tantangan dalam dinamisasi dan idealisasi....
Pos ini dipublikasikan di aQ berPole-MIX. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Quick Count menurut Einstein

  1. Physic~Mania berkata:

    Einstein main yoyo di jaman pemilu, ko

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s