Kampanye Capres, SMS dan Pengambilan Sikap


111174Ketika berita Pemilu Legislatif menghangat diberitakan di semua channel TV, bahkan di akhir-akhir masa kampanye Capres-cawapres liputannya semakin memanas, mau tidak mau anak-anak saya yang biasanya mengikuti Bolang- Bocah Petualang, atau kartun-kartun langganannya, ikut menyimak juga liputan pemilu. Dan dari situlah kemudian muncul pertanyaan-pertanyaan unik dan sepele, tetapi susah menjelaskannya untuk bisa dimengerti anak !

Yah, Kampanye Itu Apaan Sih?
Nguingg !!! istilah yang sangat akrab ‘bulan ‘ ini , sebuah pertanyaan yang ringan dan remeh, tetapi susah juga jawabnya. Bahkan mungkin pelaku-pelaku yang terjun di tengah riuh-rendahnya kampanye, yang bersitegang urat lehernya tidak mengerti dan mampu memaknai arti kampanye dengan benar. Hihi…🙂 . Lihat saja setiap ada dialog yang mempertemukan tim sukses masing-masing capres. Aduhh, tidak bermutu.

Saya sebagai ayah, lalu hanya menjawab, “ kampanye itu ngomong tentang cita-cita, Aik Ata. Para calon presiden memiliki impian dan mengungkapkan keinginannya pada rakyat Indonesia. Ya itu sebatas impian dan keinginan. Kenyataannya ya kalau terpilih dan dipilih oleh rakyat”. Kampanye itu juga berarti janji, yang kalau terpilih harus dilunasi, kalau tidak dilunasi berarti membohongi seluruh rakyat indonesia.

Wikipedia mendefinisikan, kampanye adalah sebuah tindakan politik bertujuan mendapatkan pencapaian dukungan, usaha kampanye bisa dilakukan oleh peorangan atau sekelompok orang yang terorganisir untuk melakukan pencapaian suatu proses pengambilan keputusan di dalam suatu kelompok, kampanye biasa juga dilakukan guna mempengaruhi, penghambatan, pembelokan pencapaian. Dalam sistim politik demokrasi, kampanye politis berdaya mengacu pada kampanye elektoral pencapaian dukungan, dimana wakil terpilih atau referenda diputuskan. Dan bla..bla..

Media yang dipakai untuk kampanye, selain oral, juga bisa melalui selebaran, famlet, maupun sekarang melalui SMS. Sedangkan dalam UU Nomor 10/2008 kampanye kotor tersebut dilarang sebagaimana tersebut dalam Pasal 84 ayat (1) huruf c, yaitu menghina seseorang, agama, suku, ras, golongan calon dan/atau Peserta Pemilu yang lain. Ngomong-ngomong regulasi, gak usah aq omongkan. Di Internet di sudut-sudutnya dapat dengan mudah anda temui, hehehe. Sudut tembok kali, hehe ?!! Kalau tidak mau repot, diakhir tulisan saya sertakan sedikit, silahkan baca jika tertarik !!

Ngomong-ngomong tentang kampanye melalui SMS, akhir-akhir ini aq juga sering mendapat SMS kampanye dari teman, sebut saja pak AR. Semoga beliau membaca tulisan ini, dan sudi memberi tambahan komentar dibawah, hehehe. Entah main-main atau lagi jadi tim sukses aq gak tahu. Inilah cuplikan SMS-SMSnya dan jawaban-jawaban yang aq berikan.

AR, 01/07/2009 09:48
Aslm, jangan lupa pilih XX – lebih xx, satu-satunya capres yang bisa xx.Hati-hati dengan bangkitnya xx dengan agen-agen xx berada di tim sukses capres tertentu. Sebarkan.

AQ:
W3, Maaf, aq bukan tim sukses, jadi tidak mungkin sebarkan. Maaf, aq tidak memilih didasarkan sms, jadi pasti aq abaikan. Maaf menilai tidak bisa sesaat, sepenggal dan sekilas, biasanya jadi sesat, dangkal dan bias. Kampanye adalah formalisasi dan realisasi kemunafikan.

Beliau membalas lagi,
AR, 10:20
Pokoknya XX, he3x

AQ balas lagi dengan:
Hehe, ‘pokoknya’ itulah kata kunci anti demokrasi dan sikap otorikrasi. Keperpihakan sesaat disituasi ini cenderung absurd dan ambivalen. Selamat atas pilihannya, semoga direalisasikan di 8 juli 2009. itulah konsistensi bukan berwacana.

AR, 10:42
Bukan absurd&ambivalen lagi , malahan sudah mantap ‘kabur’ he3x

Dan kayaknya beliau masih berfikir untuk meyakinkan aq lagi, sehingga belum aq balas sudah kirim lagi SMS,
AR, 10:52
‘kata kunci’ bukan karena saya anti demokrasi dan sikap otorikrasi tapi karena luarbiasa istiqomahnya saya pada sebuah pilihan yang benar2 haq di jalan Allah versus thoqut yang menjelma pada sosok citra diri seperti malaikat tapi sebenarnya iblis laknat Tullah. He3x

Nah ini yang saya suka, semangatnya,hihi. Lalu aq balas:
Ya aq setuju dengan semangatnya pak !

Apa balasan akhirnya, hehe
AR, 10:57
Cuma maen2, ujung2nya golput juga he3x.

Aduh sayang deh, sudah memuji-muji pada akhirnya golput juga, hehe. Tapi semoga semangatnya tetap membawanya ke bilik suara di 8 juli mendatang, hanya untuk sebuah ‘pembuktian’, atau memang tidak perlu dibuktikan ya. Karena sekali lagi hanya sebuah wacana.

Memang, situasi sekarang sedang hangat-hangatnya, dan menarik untuk diperbincangkan ya…. Tak terkecuali melalui SMS.

—————- tidak perlu dibaca, hehehe———————

Regulasi tersebut khususnya Pasal 84 ayat (1) UU Nomor 10/2008 disebutkan:

Pelaksana, peserta, dan petugas kampanye dilarang:
a). mempersoalkan dasar Negara Panasila, Pembukaan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, dan bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia;
b). melakukan kegiatan yang membahayakan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia;
c). menghina seseorang, agama, suku, ras, golongan, calon dan/atau Peserta Pemilu yang lain;
d). menghasut dan mengadu domba perseorangan ataupun masyarakat;
e) mengganggu ketertiban umum;
f). mengancam untuk melakukan kekerasan atau menganjurkan penggunaan kekerasan kepada seseorang, sekelompok anggota masyarakat, dan/atau Peserta Pemilu yang lain;
g). merusak dan/atau menghilangkan alat peraga kampanye Peserta Pemilu;
h). menggunakan fasilitas pemerintah, tempat ibadah, dan tempat pendidikan;
i). membawa atau menggunakan tanda gambar dan/atau atribut lain selain dari tanda gambar dan/atau aribut Peserta Pemilu yang bersangkutan;
j). menjanjikan atau memberi uang/materi lainnya kepada peserta kampanye.

Lebih dipertegas lagi dalam Peraturan KPU Nomor 19/2008 tentang Kampanye, khususnya Pasal 10 ayat (2) disebutkan:

Penyampaian materi kampanye dilakukan dengan cara:
a) sopan, yaitu menggunakan bahasa atau kalimat yang santun dan pantas ditampilkan kepada umum;
b). tertib, yaitu tidak mengganggu kepentingan umum;
c). mendidik, yaitu memberikan informasi yang bermanfaat dan mencerahkan pemilih;
d). bijak dan beradab, yaitu tidak menyerang pribadi, kelompok, golongan atau Peserta Pemilu lain.

Sedangkan di Pasal 11 diatur tentang Pelaksana kampanye dalam menyusun materi dan melaksanakan kampanye Pemilihan Umum, harus:
a), menjunjung tinggi pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945;
b). menjaga dan meningkatkan moralitas dan nilai-nilai agama serta jati diri bangsa;
c). menjaga persatuan dan kesatuan bangsa;
d). meningkatkan kesadaran hukum;
e). memberikan informasi yang benar, seimbang, dan bertanggungjawab sebagai bagian dari pendidikan politik;
f). menjalin komunikasi politik yang sehat antara Peserta Pemilu dan/atau calon anggota DPR, DPD, dan DPRD dengan masyarakat sebagai bagian dari membangun budaya politik Indonesia yang demokratis dan bermartabat.

Pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 84 ayat (1) huruf c termasuk tindak pidana Pemilu, sebagaimana diatur dalam Pasal 270 UU Nomor 10/2008 yang menyebutkan, bahwa “Setiap orang dengan sengaja melanggar larangan pelaksanaan kampanye pemilu sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 84 ayat (1) huruf a, b, c, d, e, f, g, h atau i dipidana penjara 6-24 bulan dan denda Rp. 6.000.000 (enam juta rupiah)-Rp. 24.000.000 (dua puluh juta rupiah).”

Tentang alifis

penyuka ilmu, baik yang remah2 atau terkuantisasi. penikmat hidup dalam aliran harmoni dan ketenangan.... penikmat tantangan dalam dinamisasi dan idealisasi....
Pos ini dipublikasikan di aQ berPole-MIX. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s