Refleksi Awal Semester di Fisika


Mengapa Kuliah di jurusan Fisika?
peace fisika
Lonceng awal semester sudah didentangkan, apa yang bisa qt amati? Kesibukan mahasiswa mempersiapkan studi barangkali, yang jelas suasana kampus lebih ramai, di depan pintu jurusan mahasiswa yang mau konsultasi rencana studinya berjejal dan berbaris panjang. Dengan dosen pembimbing akademiknya terasa ada sedikit perbincangan mengenai studi, diluar itu mahasiswa kabur. Situasi ini untuk mahasiswa yang lama dan Suasana itu tidak akan qt jumpai di hari-hari reguler…

Bagaimana mahasiswa baru?

Suasana hatinya silahkan lihat di New Comers as Civitas Academica…, tapi yang menarik adalah apa motivasinya memilih fisika?
Aq tidak melakukan kuisener khusus, tetapi hanya menanyai beberapa mahasiswa bimbingan akademik dan sedikit ngobrol2 dengan rekan2. Informasi lebih lengkap tentu di jurusan fisika. Dari 4 mahasiswa yang aq tanya, tidak ada yang memilih fisika sebagai pilihan pertama. Tiga mahasiswa masuk melalui pilihan ketiga jalur IPA, dan yang mengherankan, dan memang dalam regulasi SPMB diperbolehkan, ada yang dari SMA bahasa masuk fisika melalui jalur IPC, pilihan ke-tiga juga.
Tentunya, wajar input jurusan fisika disinyalir kurang bermutu dan dalam proses perkuliahannya-pun tentu menjadi berat untuk mencapai output yang berkarakter seperti di tuliskan dalam visi-misi fisika. Rosyid, dkk menuliskan, ini berarti, SDM yang dipersiapkan menjadi Fisikawan bukan berasal dari lapis pertama, melainkan lapis kedua atau bahkan ketiga.

Apakah KBK (kurikulum Berbasis Kompetensi) mampu menjadi solusinya? Smoga ( ucapan doa dan harap, daripada menulis ‘belum tentu’, karena banyak fakta yang mempengaruhi dan saling terkait diantaranya SDM, perangkat lunak dan kerasnya harus juga disiapkan.

Fisika di Mata Masyarakat Indonesia
(referensi Arah &Strategi Pengembangan Riset Fisika di Indonesia oleh Rosyid, dkk – Ristek)
Fisika telah begitu populer di Indonesia, hanya sayangnya dari sisi abu-abu, hehe..😦 . Sudah dikenalkan dari SD dalam ilmi pengetahuan alam sampai SMA, fisika lebih dikenal sebagai mata pelajaran yang menakutkan dibandingkan sebagai ilmu yang bermanfaat. Kata ‘fisika’ selalu dikaitkan dengan rumus yang sudah dan harus dihafal, daripada ‘fisika’ dikaitkan dengan gejala-gejala alamiah yang menarik dan bermanfaat. Jadi, dari awal siswa atau sebagian besar masyarakat indonesia sudah memiliki persepsi yang kurang utuh terhadap ilmu fisika.

Apakah ini salahnya guru sekolah? qt tidak bisa menyalahkan satu fihak, tapi iya memang selama ini sebagian besar guru lebih memilih target siswa mampu dan dapat mengerjakan soal ujian fisika, bukan pada siswa mampu menyelesaikan masalah dengan fisika. Apalagi dikejar target nilai minmal UN. Sehingga tidak heran muncul rumus-rumus singkat untuk menyelesaikan soal-soal ujian fisika, plus diperparah dengan bimbingan belajar yang menitikberatkan penyelesaian soal-soal fisika bukan pada pemahaman fisika itu sendiri. Sehingga tidak salah jika fisika identik dengan ‘rumus’, ‘hitungan’ dan ‘hafalan’.

Ilmu fisika masih dipandang semata-mata urusan sekolah, secara sistematis terpenjara di sekolah, hanya terkait dengan ujian, merupakan wilayah kompetensi guru dan tentor, dan (bahkan) fisika dianggap hanyalah salah satu cabang ‘olimpiade’.

Masyarakat qt memandang fisika tidak memiliki keterkaitan nyata dengan kesejahteraan dan kemakmuran. Dan realitas adilnya seperti itu, qt tidak bisa menuntut respek dan apresiasi masyarakat bagi fisika, sementara riset-riset fisika belum cukup mampu memberi impact pada kesejahteraan dan kemakmuran.

Di negara maju, fisika dan fisikawan sangat dihargai. Di tengah-tengah masyarakat modern, tempat produk-produk teknologi tinggi diciptakan dan diproduksi, peran kunci ilmu fisika sangat difahami. Bagaimana di negara qt saat ini? Ditengah-tengah masyarakat qt produk-produk teknologi ada hanya karena dibeli, sehingga peran ilmu fisika kurang bahkan tidak diketahui (apalagi difahami).

Tetapi memang terungkap bahwa jurusan fisika di semua perguruan tinggi kurang begitu diminati. Latar belakangnya bervariasi, diantaranya anggapan bahwa fisika sukar dan memiliki prospek masa depan yang kurang bagus setelah menyelesaikan kuliah. Prosentasi tahun 2007 adalah 0,16% pengangguran dari lulusan fisika, 99,84% pengangguran adalah dari lulusan non fisika (artinya realitas mengatakan, hampir semua lulusan dari hampir semua jurusan di perguruan tinggi di Indonesia kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan).

Sebenarnya lapangan kerja dibidang fisika sangat banyak dan masih banyak peluang yang dapat dikembangkan. Apakah realitas ini yang harus dibenahi? Ya, dan banyak hal lain juga harus dipecahkan oleh fisikawan, pemerintah sebagai pengambil kebijakan, swasta dan dunia industri, dan semuanya yang terlingkupi dalam stakeholder. Akankah indonesia dapat membuat lompatan dan terobosan seperti di jepang atau india?

Ya, semoga !! Jika hari ini tidak lebih baik dari hari kemarin berarti qt merugi. Jika hari ini lebih buruk dari hari kemarin, celakalah qt !!
Furgive me, is all that you can see !!!

Tentang alifis

penyuka ilmu, baik yang remah2 atau terkuantisasi. penikmat hidup dalam aliran harmoni dan ketenangan.... penikmat tantangan dalam dinamisasi dan idealisasi....
Pos ini dipublikasikan di Relief Kehidupan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s