Lintang & Refleksi “Cerdas & Tidak Cerdas”


Waktu aq lihat DVD ‘laskar pelangi’ atau lihat komentar orang-orang yang sudah lihat film itu, ada 3 segmen yang paling diingat, yaitu: (1) waktu Lintang di hadang buaya, semua orang sudah panik menunggu dia, (2) waktu penampilan Mahar dan anak” Laskar Pelangi di pawai 17 Agustus-an, dan (3) waktu Mahar, Lintang n Ikal menang lomba cerdas cermat…..

Tapi ada bagian tulisan, (belum selesai semua baca…habis bagus betul tulisannya) ada bagian yang aq baca berulangkali dan merenungkannya , yaitu tentang karakter Lintang yang sangat cerdas. Lintang ‘laskar pelangi’ atau penulisnya Andrea Hirata tentu beda dengan Lintang Blogger ‘kompasiana’, tapi sama-sama cerdas kayaknya.

Atau berikut ini definisi cerdas lain, sebelum cerdas-nya Lintang.
_________________________________________________________
Kecerdasan adalah kemampuan dari setiap eksistensi pada diri manusia untuk melakukan sesuatu atau menciptakan sebuah nilai pada diri manusia. jadi, cerdas adalah ketika seseorang mampu meng optimalkan sebuah/beberapa eksistensi pada dirinya untuk tujuan tertentu.

Dipandang dari dimensi yg ada pd diri manusia, ada 3 eksistensi pokok yang menjelaskan keberadaan manusia : eksistensi raga, otak, dan hati . Otak ada pada dimensi IQ, hati pada SQ, dan raga adalah hasil aplikasi dari IQ dan SQ, yaitu EQ(sikap diri). semua ketiga eksistensi ini membutuhkan IPO( Input, proses , Output). Tanpa ketiga hal ini, raga- otak-hati akan mati . (truthologicallife.wp)
__________________________________________________________
Ngomong-ngomong rekanq sering bilang aq ‘tolol’ yang berarti tidak cerdas karena tidak segera urus Lektor, hehehe… aq tidak marah (apa karena memang tolol ya🙂, dihina kok tidak marah…).

Ya, aq hanya bilang ‘ya segera kok, hanya masalah waktu, (yang sebenarnya adalah) ketika otak dan hatiq sudah kompromi dengan ‘sesuatu itu’, aq pasti sudah urus. Sudah gak usah merenungkan yang ‘sesuatu itu’. wong sebenarnya, dasarnya malas, nah lho !!

Sekarang ini dia, cuplikan tulisan dalam ‘laskar pelangi’ yang membicarakan kecerdasan Lintang !. Selamat merenungkan !🙂

Orang Cerdas …
Orang cerdas memahami konsekwensi setiap jawaban dan menemukan bhw dibalik sebuah jawaban tersembunyi beberapa pertanyaan baru.
Pertanyaan baru tsb memiliki pasangan sejumlah jawaban yang kembali akan membawa pertanyaan baru dalam deretan eksponensial. Sehingga mereka yang benar-benar cerdas kebanyakan rendah hati, sebab mereka gamang pada akibat dari sebuah jawaban. Konsekwensi-konsekwensi itu mereka termui dalam jalur-jalur seperti labirin, jalur yang jauh menjalar-jalar, jalur yang tak dikenal di lokuslokus antah berantah, tiada berujung. Mereka mengarungi jalur pemikiran ini, tersesat di jauh di dalamnya, sendirian.

Godaan2 besar bersemayam di dalam kepala orang2 cerdas. Di dalamnya
gaduh karena penuh dengan skeptitisme. Selesai menyerahkan tugas
kepada dosen, mereka selalu merasa tidak puas, selalu merasa bisa
berbuat lebih baik dari apa yang telah mereka presentasikan. Bahkan
ketiaka mendapat nilai A plus tertinggi, mereka masih saja mengutuki
dirinya sepanjang malam.

Orang2 cerdas berdiri dalam gelap, sehingga mereka bisa melihat
sesuatu yang tak bisa dilihat orang lain. Mereka yang tak dipahami
oleh lingkungannya, terperangkap dalam kegelapan itu. Semakinc
erdas, semakin terkucil, semakin aneh mereka. Kita menyebut mereka:
orang2 yang sulit. Orang2 sulit ini tidak berteman, dan mereka
berteriak putus asa memohon pengertian. Ditambah sedikit saja dengan
sikap introvert, maka orang2 cerdas semacam ini tak jarang berakhir
di sebuah kamar dengan perabot berwarna teduh dan musik klasik yang
terdengar lemat-lemat, itulah ruang terapi kejiwaan. Sebaian dari
mereka amat menderita.

Orang Tidak Cerdas …
Sebaliknya, orang yang tidak cerdas hidupnya lebih bahagia. Jiwanya
sehat walafiat. Isi kepalanya damai, tenteram, sekaligus sepi,
karena tak ada apa-apa disitu. Kosong. Jika ada suara memasuki
telinga mereka, maka suara itu akan terpantul-pantul sendirian di
dalam sebuah ruangan sempit, berdengung-dengung sebentar, lalu
segera keluar kembali melalui mulut mereka.

Jika menyerahkan tugas, mereka puas sekali karena telah berhasil
memenuhi batas akhir, dan ketika mendapat nilai C, mereka tak henti-
henti bersyukur karena telah lulus.

Mereka hidup di dalam terang. Sebuah senter menyiramkan sinar tepat
di atas kepala mereka dan pemikiran mereka hanya sampai pada batas
lingkaran cahaya senter itu. Diluar itu gelap. Mereka selalu bicara
keras-keras karena takut akan kegelapan yang mengepung mereka. Bagi
sebagian orang, ketidaktahuan adalah berkah yang tak terkira.

Aku pernah mengenal berbagai jenis orang cerdas. Ada orang genius
yang jika menerangkan sesuatu .lebih bodoh dari orang yang paling
bodoh. Semakin keras ia berusaha menjelaskan, semakin bingung kita
dibuatnya. Hal ini biasanya dilakukan oleh mereka yang sangat
cerdas. Ada pula yang kurang cerdas, bahkan bodoh sebenarnya, tapi
kalau bicara ia terlihat paling pintar. Ada orang yang memiliki
kecerdasan sesaat, kekuatan menghafal yang fotografis, namun tanpa
kemampuan analitis. Ada pula yang cerdas tapi pura-pura bodoh, dan
lebih banyak lagi yang bodoh tapi pura-pura cerdas.

Namun, sahabatku Lintang memiliki hampir semua dimensi kecerdasan.
Dia seperti toko serba ada kepandaian. Yang paling menonjol adalah
kecerdasan spasialnya, sehingga ia sangat unggul dalam geometri
multidimensional.Ia dengan cepat dapat membayangkan wajahs ebuah
konstruksi suatu fungsi jika digerak-gerakan dalam variable derajat.
Ia mampu memecahkan kasus-kasus dekomposisi modern yang runyam dan
mengajari kami teknik menghitung luas polygon dengan cara membongkar
sisi-sisinya sesuai Dalil Geometri Euclidian. Ingin kukatakan bahwa
in sama sekali bukan perkara mudah.

…

Kecerdasannya yang lain adalah kecerdasan linguistic. Ia mudah
memahami bahasa, efektif dalam berkomunikasi, memiliki nalar verbal
dan logika kualitatif…

Saat itu aku mendapat kritikan tajam dari ayahku karena nilai bahasa
iNggris yang tak kunjung membaik. Akupun akhirnya menghadap pemegang
kunci ilmu filsafat untuk mendapat satu dua resep ajaib. Aku
keluhkan kesulitanku memahami “tense”

“Kalau tak salah jumlahnya sampai enam belas, dan jika ia sudah
berada dalam sebuah narasi aku kehilangan jejak dalam konteks tense
apa aku berada? Pun ketika ingin membentuk sebuah kalimat, bingung
aku menentukan tensenya. Bahasa Inggrisku tak maju-maju!”

“Begini,” kata Lintang sabar menghadapi ketololanku. Ketika ia
sedang memaku sandal cunghainya yang menganga seperti buaya lapar.
Kupikir ia pasti mengira bahwa aku mengalami disorientasi waktu dan
akan menjelaskan makna tense secara membosankan. Tapi petuahnya
sungguh tak kuduga.

“Memikirkan struktur dan dimensi waktu dalam sebuah bahasa asing
yang baru saja kita kenal tidak lebih dari hanya akan merepotkan
diri sendiri. Sadarkah kau bahwa bahasa apapun di dunia ini, di
manapun, mulai dari bahasa Navajo yang dipakai sebagai sandi tak
terpecahkan di perang dunia kedua, bahasa Gaelic yang amat langka,
bahasa Melayu pesisir yang berayun-ayun, sampai bahasa Mohican yang
telah punah, semuanya adalah kumpulan kata-kata, paham kau sampai
disini?”

Aku mengangguk, semua orang tahu itu.

Lalu ia melanjutkan,”Nah, kata apapun, pada dasarnya adalah kata
benda, kata kerja, kata sifat, dan kata keterangan, paham? Ini bukan
masalah bahasa yang sulit tapi masalah cara berpikir.”

Sekarang mulai menarik.

“Berangkatlah dari sana, pelajari bagaimana menggunakan kata benda,
kata kerja, kata sifat, dan kata keterangan dalam sebuah kalimat
Inggris, itu saja, Kal. Tak lebih dari itu!”.

Belajar kata terlebih dahulu, bukan belajar bahasa, itulah inti
paradigma belajar bahasa Inggris versi Lintang. Sebuah ide cemerlang
yang hanya terpikirkan oleh orang2 yang memahami prinsip-prinsip
belajar bahasa. Dengan paradigma ini aku mengalami kemajuan pesat,
bukan hanya karena aku dapat mempelajari bahasa Inggris dengan
bantuan analogi bahasa Indonesia, tapi petuahnya mampu melenyapkan
sugesti kesulitan belajar bahasa asing yang umum melanda siswa2
daerah. Bahwa bahasa, local maupun asing, adalah permainan kata-
kata, tak lebih dari itu!

Yah, itulah dunia. Baiklah kalau begitu [ opera van Java ],🙂

Tentang alifis

penyuka ilmu, baik yang remah2 atau terkuantisasi. penikmat hidup dalam aliran harmoni dan ketenangan.... penikmat tantangan dalam dinamisasi dan idealisasi....
Pos ini dipublikasikan di Remah2ilmu dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s