SNI di NTT Sudah Perlukah?


SNI, yang samar-samar aq kenal karena hanya sekedar melihat di label produk atau kemasan makanan/minuman, akhirnya sedikit menjadi lebih ngeh ( ya, masih sedikit) saat mengikuti Workshop perumusan SNI Kerjasama Pusat Standardisasi –BPPI kementerian Perindustrian dan Dinas Perindag Provinsi Nusa Tenggara Timur, di Hotel Maya Kupang, tanggal 19 Maret 2010. Dalam workshop ini, yang lebih tepat disebut ‘Sosialisasi’ tentunya tidak menghasilkan ‘apa-apa’. Belum mampu mengupas ‘potensi sesungguhnya’ produk-produk NTT yang diarahkan memiliki Standar Nasional. Substansi baru menyentuh dasar pemahaman tentang SNI, perumusan dan teknis pengusulannya.

Runyamnya ada disini, NTT secara umum industri dan produknya masih berskala kecil atau menengah lokal, sementara Mekanisme Perumusan dan Penetapan SNI lebih menyentuh dan berkepentingan untuk tataran industri skala Nasional dan Internasional. Bayangkan, untuk memperoleh SNI yang hanya berlaku 4 tahun ini, menurut Bpk David – prosesnya melalui pengusulan/permohonan (biaya minimal 7 juta), uji lab ( lebih dari 1 uji tentu >> 10 juta), biaya administrasi, transport ke jakarta dll. Intinya, tidak murah !!!. Dan tentunya berbagai jenis kain tenunan, keripik jagung atau komoditas lain khas NTT tidak akan mungkin di SNI-kan. Terlalu mahal lai !

Apa gunanya juga urus SNI?Mengapa biayanya bisa begitu besarnya? Apakah tidak bisa diringkas birokrasinya? Dengan prosedur yang singkat dan mudah. Tapi kata orang, Inilah filosofi birokrasi indonesia sesungguhnya, ‘jika bisa dipersulit kenapa harus dipermudah’ ! birokrasi telah menjadi ‘industri’ dalam industri. Dan lebih lanjut, inilah wajah birokrat indonesia dengan Keblingeran yang lebih ‘canggih’ lagi, yaitu ‘jika dana anggaran tidak habis dan dikembalikan berarti pejabat tersebut bodoh alias ‘stupid’. Alasannya, lho khan sudah di-anggarkan, berarti ‘rugi’ kalau tidak dihabiskan. Tidak bisa dijawab dengan ‘pasti’ di Republik ini untuk pertanyaan tentang biaya.
Di sisi lain, pengembangan SNI sebenarnya memiliki 6 prinsip yang salah duanya adalah (a) openess ‘terbuka’, bagi siapa saja untuk berpartisipasi dalam proses perumusan standar melalui jalur PT (Panitia Teknis) atau Mastan, dan (b) Prosesnya melalui suatu prosedur yang dapat diikuti secara transparan melalui media IT.

Partisipasi bersifat Terbuka atau Terbatas?
Ketika ‘terbuka’ diikuti melalui jalur PT atau Mastan, hal ini perlu dicermati. Terbuka disini lebih ditekankan pada keterlibatan secara terbatas dari panitia teknis saja ( meliputi produsen, konsumen, regulator, pakar akademis, asosiasi dan laboratorium), itupun menurut Bp. Sutarto komposisinya bisa diatur, sehingga menurut q juga berpotensi terjadinya penyimpangan. Panitia teknis sifatnya terbatas, sehingga sekaligus menutup kemungkinan khalayak umum ikut berpartisipasi.

Demikian juga, ‘transparan’ dari proses RSNI tidak menampakkan batang hidungnya secara utuh da katanya melalui media IT. Buktinya, coba tengok web BSN. SNI yang telah diterbitkan-pun belum semuanya tersedia sertifikatnya. Atau kalau qt sesekali menengok SNI untuk berbagai keperluan, komentar cukup sederhana, “berkas belum tersedia”, dan dibawah terdapat tambahan penjelasan, ”terdiri dari 12 halaman’. Bayangkan, padahal SNI yang qt cari ditetapkan sejak 1994? Apakah hal ini juga menjadi cerminan transparansi qt? Media IT untuk keperluan ini masih bersifat terbatas dan lebih memberi kesan tidak transparan.
Mengapa tidak dengan media IT prosedur perumusan SNI diproses? Memanfaatkan jaringan internet untuk pengusulan SNI, administrasi dan monitoringnya tidak menuntut pemrakarsa untuk ke jakarta. Gagap teknologi? Perindag punya tanggung jawab disini untuk lebih bisa berperan melayani dan mengembangkan industri di NTT atau Dinas-dinas lainnya terkait dengan produk yang diusulkan.

Yaa, jalan akan lebih berliku. SNI belum bisa diterima lebih terbuka bagi masyarakat industri menengah lokal atau kecil di NTT. Selebihnya minta maaf !!!

Tentang alifis

penyuka ilmu, baik yang remah2 atau terkuantisasi. penikmat hidup dalam aliran harmoni dan ketenangan.... penikmat tantangan dalam dinamisasi dan idealisasi....
Pos ini dipublikasikan di aQ berPole-MIX dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s