Einstein, Tuhan bukan modus berfikir Teologis


Di depan Princenton Theological Seminary tahun 1939, Einstein berkata,
Ilmu pengetahuan hanya dapat diciptakan oleh mereka yang dipenuhi dengan gairah untuk mencapai kebenaran dan pemahaman. Tetapi, sumber perasaan itu berasal dari tataran agama. Termasuk di dalamnya adalah keimanan pada kemungkinan bahwa semua peraturan yang berlaku pada dunia wujud itu bersifat rasional. Artinya, dapat difahami oleh akal. Saya tidak dapat membayangkan ada ilmuwan sejati yang tidak mempunyai keimanan yang mendalam seperti itu. keterangan ini dapat diungkapkan dengan gambaran: ilmu tanpa agama lumpuh, agama tanpa ilmu pengetahuan buta.

bagi Einstein, tidak terbayangkan ada ilmuwan yang tidak punya keimanan yang mendalam. makin jauh kita masuk pada rahasia alam, makin besar pula kekaguman dan penghormatan kita pada Tuhan.

Einstein juga melihat Tuhan dalam aluna musik yang mempesona. Sambil berloncat ia berkata, ” Jetzt weiss ich, dass es einen Gott im Himmel gibt” – sekarang aku tahu bahwa ada Tuhan di langit.

Tentang alifis

penyuka ilmu, baik yang remah2 atau terkuantisasi. penikmat hidup dalam aliran harmoni dan ketenangan.... penikmat tantangan dalam dinamisasi dan idealisasi....
Pos ini dipublikasikan di Sosok & Profile dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s