Panik Moral & Puisi Keadilan


Sepekan ini, media banyak menuliskan tentang ‘gayus’ seorang PNS IIIA, yang tersangkut ‘markus’ atau makelar kasus Pajak, yang kemudian memicu terbukanya berbagai bentuk ‘mafia-mafia’ ketidakadilan . Semua komponen bangsa ‘kaget’, tidak hanya sekali, bahkan terkaget-kaget. Ternyata..ternyata…Ternyata…, dan selama ini rakyat hanya hidup di alam ilusi, tidak nyata. Itulah, Panik Moral.

Tiada hentinya, proses Indonesia yang lebih baik, baik itu disisi HAM, Demokrasi, Keadilan bahkan Kepemimpinan Nasional menimbulkan efek ‘Panik Moral’. Menurut Kenneth Thompson konsep panik moral sebenarnya menandakan sesuatu yang positif, yakni masyarakat mulai terfokus pada problematika sosial yang sungguh penting untuk dihadapi. Pada takaran yang tepat, panik moral akan menghasilkan kesadaran yang tinggi untuk mencegah terjadinya krisis sosial lebih jauh. (Thompson, 1998)

Tetapi akankah tataran kredibilitas telah ‘membumi’ dalam peri-keadilan Republik ini? Kayaknya tidak? Kasus Century yang telah menyita begitu banyak Energi, tidak memberi efek dan manfaat, karena hanya mempertontonkan kuasa dan ambisi, Berlanjut ke kasus Gayus, Cyrus atau kasus-kasus apa lagi. Semuanya menyedot perhatian rakyat Indonesia. Giringan media juga selalu mengarahkan pada liputan kasus yang tiada ujungnya. Dan sekali lagi, gayus-pun mungkin hanya ‘ikan teri’ yang terlalu rakus, sementara ‘hiu’nya lolos tak dapat diberangus.

Tetapi, kita bisa fahami itulah proses, dan suara-suara moral rakyatlah yang paling berperan dan bisa mengarahkan ke mana ‘keadaan yang lebih baik’ bisa tercapai. Padahal masih banyak agenda Republik ini yang juga memerlukan ‘kepanikan moral’, diantaranya narkoba, moralitas generasi bangsa, iklim dan kelestarian alam yang porsinya agak terabaikan. Itulah ketidakadilan yang mengkuatirkan, dan berpotensi menjerumuskan bangsa lebih dalam lagi.

Setidaknya ada empat ciri dari panik moral yang sehat, seperti yang telah dirumuskan Thompson, dalam tulisan Rezaantonius di Rumah Filsafat.

Yang pertama adalah keberadaan suatu fenomena yang mengancam nilai-nilai kehidupan masyarakat. Perubahan iklim dan pemanasan global mengancam kehidupan manusia secara langsung. Potensi bencana dalam bentuk kelaparan, kekeringan, dan anomali alam lainnya, seperti badai dan tsunami, langsung menghantam eksistensi manusia secara utuh. Sudah selayaknya perubahan iklim dan pemanasan global menjadi bagian dari panik moral dan keprihatinan masyarakat di seluruh dunia, dan terutama di Indonesia.

Yang kedua, ancaman dari suatu fenomena yang sungguh dapat dikenali dan didefinisikan secara tepat oleh masyarakat, terutama media. Perubahan iklim dan pemanasan global dapat langsung dikenali gejalanya oleh masyarakat. Media massa dan LSM, baik nasional dan internasional, telah berulang kali menyuarakan keprihatinan mereka soal hal ini.

Yang ketiga, fenomena tersebut berhasil menggerakan sebagian besar masyarakat untuk segera bertindak. Di Indonesia wacana tentang korupsi dan keadilan publik sedang menjadi panik moral, namun belum wacana mengenai perubahan iklim dan pemanasan global. Ketiganya memang wacana yang sangat penting. Oleh karena itu ketiganya harus menjadi bagian dari keprihatinan moral masyarakat luas.

Yang keempat, panik moral akan bermuara pada terjadinya perubahan sosial. Para pembuat kebijakan dan tokoh publik akan menggerakan opini publik ke arah yang sama sekali baru. Akankah itu disadari dan telah menjadi empati tokoh-tokoh bangsa?

Atau sudah mulai ribet dan gaduh dengan gontok-gontokan kekuasaan lagi?? Sementara rakyat terombang-ambingkan dalam opini-opini lembut dan berdasi? Wallahu Alam..
Aq rakyat biasa, jadi hanya bisa merenungkan, menyuarakan atau menuliskan, serta menanam pohon-pohon di sekitar rumah dengan harapan bumi lebih sejuk dan damai… Amin.

Almarhum Rendra, pernah menuliskan puisi ‘keadilan’, demi Orang-orang Rangkasbitung:

Saya telah menyaksikan
Bagaimana keadilan telah dikalahkan
oleh para penguasa
dengan gaya yang anggun
dan sikap yang gagah
Tanpa ada ungkapan kekejaman

diwajah mereka
Dengan bahasa yang rapi
mereka keluarkan keputusan-keputusan

yang tidak adil terhadap rakyat
Serta dengan budi bahasa yang halus
mereka saling membagi keuntungan
yang mereka dapat dari rakyat

yang kehilangan tanah dan ternaknya
Ya, semuanya dilakukan
sebagai suatu kewajaran
Demi Orang-Orang Rangkasbitung…
W.S Rendra

Tentang alifis

penyuka ilmu, baik yang remah2 atau terkuantisasi. penikmat hidup dalam aliran harmoni dan ketenangan.... penikmat tantangan dalam dinamisasi dan idealisasi....
Pos ini dipublikasikan di Relief Kehidupan dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Panik Moral & Puisi Keadilan

  1. semanga…salam kenal…

    di tungu kunjungan baliknya…

    terima kasih,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s