Seri Fisika Kesehatan – BioOPTIK 02


Pada Biooptik seri kedua ini aq suguhkan materi tentang Tanggap Cahaya dan Tanggap Warna, serta pembahasan terkait, antara lain buta warna. silahkan dibaca, kalo ada pembahasan yang kurang kasih komentarnya, 🙂

TANGGAP CAHAYA
Bagian mata yang tanggap cahaya adalah retina. Ada dua tipe fotoreseptor pada retina yaitu Rod (batang) dan kone(kerucut). Rod dan Kone tidak terletak pada permukaan retina melainkan beberapa lapis di belakang jaringan syaraf.

Distribusi Rod dan Kone pada retina

a. Kone (kerucut)
Tiap mata mempunyai ± 6,5 juta kone yang berfungsi untuk melihat siang hari disebut “fotopik”.
Melalui kone kita dapat mengenal berbagai warna, tetapi kone tidak sensitife terhadap semua warna, ia hanya sensitive terhadap warna kuning, hijau (panjang gelombang 550 mm). Kone terdapat terutama pada fovea sentralis.


b. Rod (batang)
Dipergunakan pada waktu malam atau disebut penglihatan Skotopik. Dan merupakan ketajaman penglihatan dan dipergunakan untuk melihat ke samping: Setiap mata ada 120 juta batang. Distribusi pada retina tidak merata, pada sudut 20° terdapat kepadatan yang maksimal. Batang ini sangat peka terhadap cahaya biru, hijau (510 mm).
Tetapi Rod dan Kone sama-sama peka terhadap cahaya merah (650 – 700 nn), tetapi penglihatan kone lebih baik terhadap cahaya merah jika dibandingkan dengan Rod.

TANGGAP WARNA
Salah satu kemampuan mata adalah tanggap warna, namun mekanisme tanggap warna tersebut belum diketahui secara jelas. Dengan menggunakan pengamatan Skotopik pada intensitas cahaya yang lemah, tidak ada respon terhadap warna tetapi dengan menggunakan pengamatan Fotopik dapat melihat warna namun tidak bisa membedakan warna pada objek yang letaknya jauh dari pusat medan penglihatan.

Teori Tanggap Warna
kone berbeda dengan rod dalam beberapa hal yaitu kone memberikan jawaban vang selektif terhadap warna, kurang sensitif terhadap cahaya dan mempunyai hubungan dengan otak dalam kaitan ketajaman penglihatan dibandingkan dengan rod. Ahli faal Lamanov, Young Helmholtz berpendapat ada tiga tipe kone yang tanggap terhadap tiga warna pokok yaitu: Biru, Hijau, Dan Merah.
•Kone biru
Mempunyai kemampuan tanggap gelombang frekuensi cahaya antara 400 dan 500 milimikron. Ini berarti kone biru dapat menerima cahaya, ungu, biru dan hijau.
•Kone hijau
Berkemampuan menerima gelombang cahaya dengan frekuensi antara 450 dan 650 milimikron. Ini berarti kone hijau dapat mendeteksi warna biru, hijau, kuning, orange dan merah.

•Kone merah
Dapat mendeteksi seluruh gelombang cahaya tetapi respon terhadap cahaya orange kemerahan sangat kuat daripada warna-warna lainnya.

Ketiga warna pokok disebut Trikhromatik. Teori yangdiajukan oleh Lamonov, Young Helmholtz mengenai Trikhromatik sukar untuk dimengerti bagaimana kone dapat mendeteksi warna menengah dari tiga warna pokok. Oleh sebab itu timbul teoti tiga tipe Dikromat yaitu suatu warna menengah terproduksi oleh karena dua tipe kone yang terangsang. Sebagai contoh kone hijau dan merah terangsang bersamaan, tetapi kone hijau terangsang lebih kuat daripada kone merah maka warna terproduksi adalah kuning kehijauan. Apabila kone hijau dan kone biru terangsang warna yang ditampilkan sebagai warna biru hijau. Jika intensitas rangsangan terhadap kone hijau lebih besar dari kone biru warna yang ditampilakan lebih hijau dan biru. Pada suatu percobaan di mana mata disinari denaan spektrum cahaya kemudian dibuat kurva respon dari pigmen peka cahaya akan tampak tiga warna pigmen peka cahaya yang serupa dengan kurva sensitif untuk ketiga tipe kone.

Buta Warna
Buta warna adalah suatu kondisi ketika sel-sel retina tidak mampu merespon warna dengan semestinya. sel-sel kerucut di dalam retina mata mengalami kelemahan atau kerusakan permanen.
a. Klasifikasi Buta Warna
– Trikromasi
Yaitu mata mengalami perubahan tingkat sensitivitas warna dari satu atau lebih sel sel kerucut pada retina. Jenis buta warna inilah yang sering dialami oleh orang-orang. Ada tiga klasifikasi pada Trikromasi:
•Protanomali, seorang buta warna lemah mengenal merah.
•Deuteromalin, warna hijau akan sulit dikenali oleh penderita.
•Trinomali, kondisi di mana warna biru sulit di kenali penderita.
– Dikromasi
Keadaan ketika satu dari tiga sel kerucut tidak ada. Ada tiga klasifikasi turunan:
• Protanopia, sel kerucut warna merah tidak ada sehingga tingkat kecarahan warna merah atau perpaduannya kurang.
• Denteranopia, retina tidak memiliki sel kerucut yang peka terhadap warna hijau.
•Tritanopia, sel kerucut warna biru tidak ditemukan.

– Monokromasi
Monokromasi sebenarnya sering dianggap sebagai buta warna oleh orang umum. Kondisi ini ditandai oelh retina mata mengalami kerusakan total dalam respon warna. Hanya warna hitam dan putih yang mampu diterima retina.
b. Penyebab Buta Warna
Buta warna adalah kondisi yang diturunkan secara genetik di bawah oleh kromoson X pada perempuan, buta warna diturunkan kepada anak-anak. Ketika seseorang mengalami buta warna, mata mereka tidak mampu menghasilkan keseluruhan pigmen yang dibutuhkan untuk mata berfungsi dengan normal.
c. Fakta-Fakta Tentang Buta Warna
Buta warna lebih sering terjadi pada jenis kelamin laki-laki dibandingkan dengan perempuan sebanyak 99% seorang buta warna tidak mampu membedakan antara warna hijau dan merah. Juga ditemukan kasus penderita yang tidak bisa mengenali perbedaan antara warna merah dengan hij au.
Cacat mata ini merupakan kelainan genetik yang diturunkan oleh ayah atau ibu. Belum dapat dipastikan berkaitan jumlah penderita, akan tetapi sebuah penelitian menyebutkan sebesar 8-12% lelaki Eropa mengidap buta warna. Sementara presentase perempuan Eropa yang buta warna adalah 0,5-1%. Tingkat buta warna benua lain tentu bervariasi.

Tidak ada cara mengobati buta warna karena ia bukan kelainan cacat mata. Bisa jadi seorang buta warna akan merasa tersiksa dengan keadaan ini. Sebagian perusahaan menetapkan syarat bahwa pekerjaan harus tidak buta warna.

Untuk mengetahui apakah seseorang menderita buta warna, dilakukan dengan menggunakan plat bernama Tshilhara.
Seringkali orang awam menganggap penyandang buta warna hanya mampu melihat warna hitam dan putih, seperti menonton film bisa hitam putih. Anggapan ini sebenarnya salah besar.

Banteng ternyata buta warna. Kesan yang ditimbulkan warna merah mengakibatkan binatang tersebut melonjak emosinya, bukan akibat warna merah itu sendiri.

Pada perang dunia ke II, serdadu yang buta warna dikirim untuk melaksanakan misi tertentu. Ketidakmampuan mereka untuk melihat warna hijau dialihfungsikan untuk mendeteksi adanya kemunafikan yang dilakukan pihak lawan.
Setiap orang terlahir buta warna saat pertama kali lahir.
Penyandang buta warna selalu dihantui oleh pertanyaan “warna apakah ini?.
Jika seorang tidak mempunyai kone merah, ia masih dapat melihat warna hijau. kuning, orange dan warna merah dengan menggunakan kone hijau tetapi tidak dapat membedakan secara tepat antara masing-masing warna tersebut oleh karena tidak mempunyai kone merah untuk kontras atau membandingkan dengan kone hijau.
Demikian pula jika seseorang kekurangan kone hijau, ia masih dapat melihat seluruh warna tetapi tidak dapat membedakan antara warna hijau, kuning, orance dan merah. Hal ini disebabkan karena warna hijau yang sedikit tidak mampu mengkontraskan dengan kone merah. Jadi tidak adanya kone merah atau hijau akan timbul kesukaaran atau ketidakmampuan untuk membedakan warna antara, keadaan ini disebut dengan keadaan buta warna merah hijau. Kasus yang jarang sekali tetapi bisa terjadi seseorang kekurangan kone biru, maka orang tersebut sukar membedakan warna ungu, biru dan hijau. Tipe buta warna ini disebut kelemahan biru.

(sumber : gabriel, fisika kedokteran & handoko, fisika kesehatan)

Tentang alifis

penyuka ilmu, baik yang remah2 atau terkuantisasi. penikmat hidup dalam aliran harmoni dan ketenangan.... penikmat tantangan dalam dinamisasi dan idealisasi....
Pos ini dipublikasikan di Fisika Kesehatan dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Seri Fisika Kesehatan – BioOPTIK 02

  1. cahaya matahari berkata:

    klo bisa ch contoh2nya jg harus ada dlm khidupan shari2

  2. Frengki Lollo berkata:

    Terima kasih Pak untuk materinya!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s