Menuju Nol KiloByte: Rama & Nilai Kata “Ma’af”


jedi @DetikInet


Jujur, Aq lama ter’cenung’ – [tercengang /terkejut bercampur merenung, karena tidak mau disebut shock] saat mengikuti ‘pengakuan dosa’ seorang Rama yang ‘tuna netra’. Haru biru perasaanq membaca alur kejiwaannya: sebuah kegigihan, keuletan berbuah kesuksesan, tapi ada ‘sesuatu’ noda mengiringi jejaknya, ada tekanan dan kebimbangan, keterpurukan kepercayaan dan diakhiri dengan kata ‘Maafkan’. Tidak di dunia nyata dia bersimbah asa, di dunia maya-pun dianggap ‘pendosa’.

Aq tidak hendak ikut2an menghakimi Rama. bahkan aq add comment di multiply-nya : “alhamdulillah ada moment utk menjadi lurus dik Rama, itulah kasih Allah mengingatkan umatnya. Tidak ada insan yang sempurna, Bersyukurlah dalam diammu. Aq mendukungmu, semoga menjadi insan yang lebih baik”.

“Semua Terjadi Begitu Saja……”

Kebohongan selalu dimulai dengan ketidaksadaran. Keadaan dimana keseimbangan akal dan nurani sedang ‘fuga’ tidak membumi. Situasi akal yang kadang-kadang mengijinkan ‘pembiaran’ sesuatu yang tidak ‘nyaman’ terjadi, sementara nurani sebenarnya kesal dengan diri sendiri. Bukankah ketika akal-nurani, raga-jiwa, jasmaniah-ruhaniah sedang dis-harmoni kita berada dalam keadaan ‘tidak nyaman’. Apakah Aq pernah berbohong? Jujur “pernah”, bahkan mungkin sampai detik2 kehidupanq sampai saat ini. Hanya saat khilaf itu hadir, Astaghfirullah dan semoga tidak terulang !!

“Mengaku sebagai pembuat musik game tercetus begitu saja” kata Rama dengan nada pelan Jumat (20/8). Ia mengaku tidak ada niatan sama sekali melakukan kebohongan sebagai pecipta musik game baru Nintendo. Semua berjalan begitu saja…. (akhir kebohongan Eko Ramaditya Adikara @ republika.co.id). Blogger, Eko Juniarto, pemilik ryosaeba.wordpress.com, menganggap tindakan plagiarisme yang dilakukan Rama itu adalah hal lumrah di jagat maya. Seseorang bisa dengan mudah melakukannya untuk meraih kepercayaan dari sesama netter.Kasus kayak gini adalah hal yang mudah terjadi di dunia maya. Di internet itu, untuk bisa dipercaya itu adalah dengan membangun reputasi. Sayangnya, Ramaditya melakukannya dengan cara yang salah. (Sikap Rama Lumrah, tapi Disayangkan, kompas tekno).

Nilai Kata Ma’af

Ma’af menjadi sebuah kata yang sangat berat diucapkan, tapi tidak oleh Rama. Di saat keadaan tertekan dengan realitas yang tidak diinginkan, banyak yang berusaha menolak, menyanggah segala cara demi kredibilitas – yang sebenarnya sudah hancur – tapi Rama ikhlas. Apapun pendapat orang yang Rama dapatkan berupa caci maki, sumpah serapah, Rama terima lapang dada.

Inilah tulisan pamitnya di ramaditya.multiply.com :
Sehubungan dengan kesalahan besar seputar kebohongan publik yang saya perbuat, saya mohon ijin untuk pamit dari dunia maya (Multiply, Facebook, dll) untuk sementara waktu. Saya ingin introspeksi dan membenahi diri. Insya Allah, saya akan tetap bertanggungjawab atas apa yang telah saya lakukan. Sekali lagi, saya mohon maaf dari hati yang paling dalam, pada Allah, orangtua, keluarga, teman, dan seluruh pihak yang telah dirugikan atas tindakan saya. Mungkin saya tidak dapat merubah apa yang sudah terjadi, tapi Insya Allah saya akan berusaha untuk memperbaiki kesalahan tersebut, termasuk tidak lagi melakukan kesalahan yang sama.

Saya ucapkan terima kasih bagi yang dapat memaafkan, itu akan memberi saya motivasi untuk tetap maju dan berkarya. Saya juga ucapkan terima kasih bagi yang tidak atau belum memaafkan, itu pun menjadi motivasi bagi saya untuk semakin memperbaiki diri. Akhir kata, “Mohon maaf lahir batin, dan pamit…”

Aq menyukai istilah “Nol Kilobyte”nya Kang Wicak dalam tulisannya Ramaditya dan Sisi Gelap seorang Jedi di DetikInet. Catatan Nol Kilobyte ini dibuat untuk mencoba memberi sudut pandang tambahan pada kisah Ramaditya. Semoga lewat kisahnya, kita semua dapat meraih pelajaran tentang kejujuran dan lebih baik lagi: tentang kebesaran hati.
Marilah saling memaafkan, betapapun besarnya kesalahan yang telah diperbuat. Mari kembali ke Nol Kilobyte.

Senada dengan Kang Wicak, Aq bisa tuliskan, “Rama terpeleset ‘korsleting’ dunia maya dalam misteri bilangan biner, yang menyaru dalam kombinasi heksadesimal, menyelinap sebagai selaksa byte-byte, mencuat menjadi alphanumerik komunikasi dunia digital, tapi ‘reset’ di dunia nyata menuntunnya untuk starting kembali.

Bangkit dan Semangat kembali, Rama !

Tentang alifis

penyuka ilmu, baik yang remah2 atau terkuantisasi. penikmat hidup dalam aliran harmoni dan ketenangan.... penikmat tantangan dalam dinamisasi dan idealisasi....
Pos ini dipublikasikan di aQ berPole-MIX, Relief Kehidupan dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s