Refleksi Negeri : Nyali Kita Begitu Ciut…


STOP ! Jangan dibaca renungan serampangan ini, kalau Anda tidak ingin berkerut. Karena alur logikanya begitu morat-marit dan tidak ilmiah sama sekali.


Berbagai polemik tentang mengelola negeri ini sepertinya tak ada habisnya, dan menjadi sebuah daftar panjang ketidakjelasan kepribadian bangsa Indonesia. Kekaburan menterjemahkan Pancasila. Mengambangkan cita-cita Adil dan Makmur. Tidak jelas gimana menyikapi ‘ulah’ malaysia yang berulah meng-krangkeng pejabat negara seperti penjahat; Tidak tegas, dengan koruptor-koruptor yang merugikan rakyat sementara KPK semakin lemah adanya; Lembaga peradilan dan kepolisian kredibilitasnya meluncur curam; Sistem pendidikan seperti UN yang tetap diperdebatkan; Terapan teknologi anak negeri yang ‘tidak juga’ segera menyentuh masyarakat luas; dan sebagainya..dan sebagainya…

‘Nyali’nya Ketinggalan Kereta
Percaya atau tidak, kecerewetan Indonesia ( bukan ketegasan nyata) justru membuat pihak Malaysia geregetan ( seperti lagunya Sherina Munaf, geregetan, jadinya geregetan…gitulah reaksinya🙂 ). Gimana tidak, ketika sebagian komponen masyarakat demo ‘ganyang Malaysia, eh pemerintah lunak2 saja hanya memohon kata ‘maaf’ dari Malaysia. Skali lagi ‘memohon’. Terang saja, dianggap sebagai dagelan dan tentu tidak akan minta maaf. [*1]. Nah lho, Kayaknya, nada-nadanya hal ini lebih melegitimasi bahwa selama ini negeri kita ‘tidak bernyali’menghadapi Malaysia, apalagi urusan TKI yang ‘terabaikan’ perlindungannya. Tidak jelas siapa yang tidak punya nyali itu : pemerintah-kah? , militer-kah?, DPR-kah? Atau keseluruhan komponen rakyat Indonesia sekarang lagi ‘tidak bernyali’ alias rendah diri menyikapi ‘saudara’ serumpun yang agak nakal itu.

Nyali itu implisist, jadi tidak transparan.
Kalau DPR teriak2 untuk menyikapi dengan tegas, ya… yang tampak teriakannya, coba diminta bertindak? Presiden SBY? Beliau lebih memilih jalur diplomasi, yang hasilnya biasanya tidak ‘nyata’ dan impact-nya semu juga. Karena geregetannya mungkin, Kolonel AU Adjie Suradji menulis opini di Kompas bertajuk ‘Pimpinan, Keberanian, dan Perubahan’ edisi 6 September. Apakah Nyali Kolonel Adjie, akhirnya bisa mengingatkan nyali negeri ini? Tidakk !!! Nasibnya kayaknya tidak akan jauh-jauh beda dengan Susno Duadji. Orang-orang yang bernyali di negeri ini, di ‘obok-obok’ dosa-dosanya sehingga ‘terbungkam sudah’ gelora kebenarannya. Duadji dijerat kedisiplinan, korupsi dan terima suap, sementara Adjie mulai dijerat masalah korupsi. [*2].

Suara-suara kebenaran di negeri ini sepertinya dibuat frustasi. Gus Dur pernah mensinyalir di kalangan cendekiawan dan budayawan saat itu – apalagi masa kini, tengah terjadi kemalasan dan kemacetan berfikir yang kritis. Bahkan Cak Nun mempertegas itu terjadi di semua kalangan, bahkan yang lebih parah ada di kalangan muda. Di kalangan muda ada semacam keputusasaan.

Nasib Nyali : Kedalam Kejepit, Keluar Lembek
Negeri ini smakin tidak jelas. Ibaratnya ke dalam negeri ngurusin rakyat ‘kejepit’ diantara dinding-dinding kepentingan dan kekuasaan, sementara keluar menghadapi interaksi negatif negara lain ‘lembek’, tidak bernyali dan tidak bertaji.

Lembaga Peradilan, Kepolisian bahkan KPK-pun sekarang tidak punya taji dan ‘tidak bernyali’. Kasus2 besar ‘ketidak adilan’, ‘keserakahan’ yang melibatkan perangkat internal-nya membuat ‘tidak percaya diri’ untuk unjuk gigi. Unjuk diri kepolisian sudah dilakukan dengan sukses seperti menumpas terorisme, tapi ‘berlebihan’ dengan langsung menembak mati tanpa proses verifikasi. Akibatnya bumerang juga, diprotes oleh ‘kemanusiaan’ rakyat Indonesia. Kenapa ‘kebinatangan’ diterapkan pada manusia?. Atau kalau yang bertaji dan punya nyali bersuara seperti Susno Duadji dan Adjie langsung di’gampar’ sendiri. Di’kurung’ di terali besi.

Ketika Indonesia terpaksa (karena keluguannya) berkomitmen melakukan skema REDD mengurangi dampak Global Warming dengan dana Barat ( yang kemudian menjadi utang anak cucu kita), Negara barat menipu dengan melakukan trik : “Ketimbang mengurangi emisi minimal 30-40 persen pada 2020, negara maju malah menaikkan emisi 8 persen. Hal ini dilakukan dengan melakukan trik dalam kalkulasi pengurangan emisi. Trik ini adalah penggunaan pasar karbon untuk melegalkan emisi sebanyak 30 persen di negara maju dengan kompensasi pelestarian di negara lain.[*3] . Kanapa negara India dan China tidak diikutkan? Karena mereka sadar akan kepentingan barat dan tidak akan menurut seperti sapi dicocok hidungnya.

Negeri yang Kalah?
Apakah karena proses ’kekalahan’ baik desain-desain ekonomi maupun politik seperti inilah, studi kasus seperti jatuhnya Sipadan Ligitan, TKI yang berserakan mengais nasib di Malaysia, atau Alutsista yang ketinggalan jaman, dan lain-lain, yang terasakan membebani ‘nyali’ Indonesia ketika bersikap ? Mungkin. [*4] . Tapi memang diakui atau tidak, bangsa ini telah berubah. Coba ingat sejarah, “Ganyang Malaysia !”, “Keluar dari PBB !”. Rasanya Indonesia begitu bernyali dan membuat keder bangsa lain. Nah, komponen2 bangsa ini, sekarang berubah. Kepercayaan menjadi Ketidakpercayaan, kemungkinan dan peluang menjadi kemustahilan.

Sains dan Teknologi menjadi Anak Tiri
Coba kita tengok India sebagai perbandingan. Menteri pengembangan Sumber Daya manusia India, Kapil Sibal menggandeng mahasiswa dan dosen teknik di universitas elit India untuk mengembangkan tablet US$35 (Rp315 ribu). Ia berharap pada akhirnya biaya bisa turun menjadi US$10. Seorang jurubicara kementerian Mamta Varma mengatakan biaya hardware dan desain yang cerdas membuat harga jadi masuk akal. Tablet itu tidak memiliki hard disk, melainkan menggunakan kartu memori, seperti telepon selular. Desain tablet juga mengurangi biaya perangkat keras disamping penggunaan perangkat lunak open source.[*5]. “Ini adalah jawaban kami pada komputer US$100 (Rp 900 ribu) MIT,” kata menteri pengembangan sumber daya manusia Kapil Sibal.

Bayangkan, betapa kompetitifnya India dalam teknologi, sehingga MIT-pun dianggap bukan satu-satunya pioneer teknologi. Kami Bisa !!!. Bahkan saat ini India berkeyakinan menjadi negara maju berkat teknologi informasi, industri medis, dan industri otomotif. Bersama China, India diperediksi menjadi salah satu satu raksasa ekonomi di masa depan. Dengan jumlah penduduk hampir 1,2 miliar dan pertumbuhan ekonomi yang sangat cepat, India memenuhi banyak syarat untuk meninggalkan kelasnya sebagai negara berkembang dan menjadi negara maju. [*6].

Bukankah penduduk indonesia juga membludak, kenapa tidak bisa seperti India? India dulu juga miskin kenapa sekarang pertumbuhan ekonominya paling pesat? Dan lain-lain….
India bersikap terbuka dan membuka diri dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, bukan sekedar slogan dan omong kosong belaka. Pemimpin india memiliki skala prioritas dan paham betul tentang dinamika sejarah pada setiap momentumnya. India memiliki teknologi Nuklir, sementara di Indonesia nuklir masih jadi perdebatan yang tak kunjung usai. Coba baca:[*7] untuk yang negatif, atau [*8] untuk yang positif.

Coba berkaca di propinsi indonesia Timur, Nusa Tenggara Timur. Infrastruktur yang tidak tersedia seperti ketersediaan sumber Listrik, menyebabkan banyak investor mengurungkan niatnya berperan disana. Di bidang teknologi informasi juga cukup ketinggalan kalau tidak mau dibilang ‘tertinggal jauh’. Konsep Kupang Cybercity baru diseminarkan di Kampus Undana dibulan Agustus 2010, padahal kota-kota lain sudah mengimplementasikan jauh lebih dahulu. Slogan ‘global University’ pun baru sebatas mimpi yang kini diperjuangkan, karena mahasiswa juga belum dengan leluasa mendapatkan layanan ‘wifi’ sebagai infrastruktur masyarakat global sehingga harus tetap rental di warnet untuk mengikuti perkembangan ‘dunia luar’.

Atau renungkan, langkah yang diambil India, jika harga laptop hanya Rp 300,000 atau 100,000 yang bisa terbeli kantung pelajar dan mahasiswa kita. Tentu sebuah terobosan besar ! Kita, kita bagaimana??
Masalah Blackberry terkait dengan Rahasia Negara, Negara kita masih lunak2 saja. “Kami tidak tahu apakah data yang dikirim melalui BlackBerry dapat disadap atau dibaca oleh pihak ketiga di luar negeri,” kata Juru Bicara Kementrian Komunikasi dan Informasi. [*9]. Padahal masalah itu menimpa pengguna BlackBerry di Abu Dhabi, yang melakukan upgrade software ditawarkan oleh operator Etisalat, sehingga UEA memblokir BB di sana. Menurut penyelidikan lembaga independen, baterai itu cepat terkuras karena digunakan oleh program mata-mata, dan BB pun mengakuinya. [*10]. . India juga sudah mengultimatum BB, [*11].

Cak Nun pernah menuliskan di krisis kebudayaan yang ketinggalan kereta, “ apa yang sebenarnya mungkin, sekarang menjadi mustahil. Kita menjadi takut. Kita telah mapan oleh keadaan yang membuat kepasrahan itu menjadi sah. Lanjutnya, dulu kita pernah mbayangin dalam tiga puluh tahun ke depan akan ada perubahan yang mendasar. Tapi lama-lama ternyata enggak juga. Ini kekalahan yang sifatnya global maupun yang mungkin parsial. Faktor utamanya adalah kalahnya manusia oleh negara. Jadi manusia disitu digantiin otaknya maupun sel-selnya. Yang gantiin adalah onderdil-onderdil dari negara dan kapitalisme “.
“Eksperimentasi –eksperimentasi sejarah menjadi sangat jarang dilakukan. Kita tidak berani banyak membayangkan bahwa banyak hal yang bisa coba dirintis, yang diharapkan bisa memberi output-output positif. Kita menjadi takut”.
Apakah aq menjadi berani setelah menuliskan ini? Tidak juga, hehe…karena aq bagian dari rakyat Indonesia, aq juga masih belum beranjak dari ‘tidak bernyali’, hanya mampu menulis tulisan tidak bermutu ini, di blog ini, daripada berkeluh kesah di FB, yang lantas menertawakan ‘kepengecutan’ bersama-sama, itu sangat tidak etis, walaupun tindakan pengecut itu sendiri sebenarnya ‘sama sekali’ tidak etis.Llebih baik aq tertawakan sendiri saja, sehingga tidak menyinggung nasionalisme sebagian rakyat Indonesia. Itupun ciri ‘pengecut’ dan ‘penakut’ hehe. Karepmu-lah🙂.

Tentang alifis

penyuka ilmu, baik yang remah2 atau terkuantisasi. penikmat hidup dalam aliran harmoni dan ketenangan.... penikmat tantangan dalam dinamisasi dan idealisasi....
Pos ini dipublikasikan di aQ berPole-MIX dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Refleksi Negeri : Nyali Kita Begitu Ciut…

  1. alifis berkata:

    biar ga berkerut kayak aq, tq bang admin @info-terkini.com tlah mampir…🙂

  2. infoter berkata:

    STOP ! Jangan dibaca renungan serampangan ini, kalau Anda tidak ingin berkerut. Karena alur logikanya begitu morat-marit dan tidak ilmiah sama sekali.

    kok di postingkan😀 kalo g boleh di baca😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s