Moral Hazard 03 : Menghargai Jalan Pintas, Menghindari Proses ?


Otakq berkata Jreeeng !!!

Pada awal bulan yang lewat, kebetulan aq diminta untuk menjadi dosen pendamping pelatihan penulisan proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), dimana pesertanya adalah mahasiswa2 ( anggaplah terbaik) dari perwakilan jurusan di Fakultas.. Intinya mahasiswa diberi materi untuk bisa menyusun proposal penelitian dan bisa sukses. Kuncinya, harus memiliki 3 aspek untuk berhasil yaitu ada pengetahuan (ilmu), ketrampilan ( menulis dan metode) serta punya motivasi (kemauan). Tapi, bukan inti kalimat diatas yang mau aq ungkap disini.

Yang menarik adalah ketika aq sempat mengemukakan komentar pada sesi tanya jawab tentang ,“Mahasiswa umumnya tidak secara sungguh-sungguh menjalani proses, dari penuangan ide sampai mengirimkan proposalnya. Bahkan, mereka tidak akan mengirimkan kalau tidak kita support. Dalam menulispun harus kita pancing dengan kalimat pembuka,….. !!”

Apa tanggapan pemateri, “ya memang begitu. Kalau kita hanya menunggu, mungkin tidak ada yang kirim. Harus kita yang memberikan ide dan kalau perlu menuliskan intinya. Dimana-mana terjadi seperti itu. Sehingga mungkin lebih baik kita saja yang membuatkan proposalnya, nanti kalau diterima kita buat perjanjian dengan mahasiswa untuk fifty – fifty !. ( otakq : Jreeenggg !!!). Bahkan kalau berminat, saya sudah menyiapkan 10 proposal yang bisa diambil kalau berminat ! ( nuraniq : Jreeeng !! Jreeeng !!). Dengan otak dan nuraniq yang agak goyang, aq berfikir : Inikah pragmatisme yang telah melekat di seluruh urat nadi kehidupan? tidak terkecuali di dunia pendidikan? Duhai dunia pendidikan yang begitu jujur, santun, idealis dan menghargai proses, sekarang semakin jauh….!!!

Mau ikut arus atau Tidak ?

Menghargai Jalan Pintas, Menghindari Proses. Itulah motto kehidupan yang ‘sangat’ pragmatis di jaman ini. Orang-orang yang bergelut di dunia pendidikan-pun, maaf… bahkan lebih ‘istiqomah’ dengan pilihan prinsip ini. Tidak peduli, yang bertitel master, doktor, bahkan profesor-pun menjadi ‘makmum’nya yang paling setia. Tengok saja, dalam urusan kenaikan pangkat dan fungsional dosen. Budaya sogok-menyogok orang-orang kampus yang notabene ‘intelektual’ dilakukan dengan orang yang bisa mem’by pass’ di jakarta sana. Initial ‘CC’ sudah sangat dikenal di kampus.

Ikut Arus ?

Sudah jamannya, aliran arusnya yang begitu deras membawa aras pemahaman pembenaran, bahwa pengikut dan suara terbanyaklah yang benar ! Jika engkau melawan arus tersebut berarti , pastilah terpinggirkan dan ironisnya mungkin tersingkirlah dari dunia ‘normal’. Tapi bagi sebagian kecil orang ‘pinggiran’ masih kok berpegang pada : Menghargai Proses, Menghindari Jalan pintas. Walau, sikap Idealis yang dilontarkan hanya jadi bahan tertawaan. Ketulusan menikmati proses, dicemooh dan diprotes !!! Bahkan keteguhan sikap yang kokoh, diolok-olok dan di anggap sikap yang ‘bodoh’.
Di bangku kuliah, istilah SKS (Sistem Kredit Semester) lebih populer diplesetkan menjadi Sistem Kebut Semalam. Suatu refleksi pola pikir yang sempit yang hanya berorientasi pada upaya mengejar hasil akhir dengan target nilai yang memuaskan namun dengan tanpa ikhtiar yang wajar. Tidak kita sadari, bahwa proses belajar dan waktu yang dialokasikan, amat menentukan hasil akhir yang ingin dicapai. Ganbatte ! Ganbatte Kudasai, yang kira-kira berarti bekerja keraslah, lakukan pekerjaan dengan sungguh-sungguh. Itulah motto orang Jepang. Mereka sangat menghargai usaha dan kesungguhan seseorang.

Ketika pemateri berujar seperti itu, dimanakah aspek moralnya? Bahkan mahasiswa peserta yang diharapkan menjadi pioner-pioner muda dalam penelitian, ehh sudah dicekoki ‘prinsip’ pragmatis seorang dosen. Aduhh…ngeri membayangkannya ! Ketika mahasiswa menerima materi tentang etika penulisan dan trik sukses membuat proposal, sebuah pembelajaran ‘negatif’ telah disuguhkan. Mau uang banyak…cring..cring…cring… atau mau memilih idealis belajar yang menjadi pintar tapi miskin dan menderita, hehehe. Semut-pun akan tahu mana pilihan yang membuatnya dapat tersenyum🙂 . Sebuah sikap pragmatis yang merugikan di lingkungan ‘proses’ pembelajaran.

Kenapa begitu? Iya, karena…
Secara fisiologis, lingkungan meliputi segala kondisi dan material jasmaniah di dalam tubuh seperti gizi, vitamin, air, zat asam, suhu, sistem saraf, peredaran daerah, pernafasan, pencer¬naan makanan, kelenjar-kelenjar indokrin, sel-sel pertumbuhan, dan keseliatan jasmani.
Secara psikologis, lingkungan mencakup segenap stimulasi yang diterima oleh individu mulai sejak dalam konsesi, kelahiran sampai matinya. Stimulasi itu misalnya berupa: sifat-sifat “ge¬nes”, interaksi “genes”, selera, keinginan, perasaan, tujuan¬tujuan, minat, kebutuhan, kemauan, emosi, dan kapasitas inte¬lektual.
Secara sosio-kultural, lingkungan mencakup segenap stimu¬lasi, interaksi dan kondisi eksternal dalam hubungannya dengan perlakuan ataupun karya orang lain. Pola hidup keluarga, per¬gaulan kelompok, pola hidup masyarakat, latihan, belajar, pen¬didikan pengajaran, bimbingan dan penyuluhan, adalah termasuk di dalamnya.

Belajar-lah dengan proses, mau ?
Akhirnya, Belajar itu ibarat sebuah pengembaraan: proses, seluruh tatanan kehidupan kita berada dalam proses. Kita mengada, tobe, bukan mengada-ada atau bertubi-tubi. Bukan mengada-ada, absurd, nyaring bunyi tiada isi,nihilism. Atau bertubi-tubi berjalan dengan mendongak_berbusung rusuk, lupa pijakan: narsisis. Bukan pula bersembunyi dibalik antara –minder dan pongah-nya gedung kampus, canggung merambah sungai gelantara hikmah: abstain.
Uthubul ilma minal mahdi ilal lahdi. Long life education. Memang harus begitu. Tersenggal mendaki mahameru kemuliaan dari kaki rahim sampai kehabisan nafas sebelum sampai dipuncaknya.

Ilmu musti dicari sepanjang laku urip kita. Tak kan ada puasnya dengan pengetahuan yang kita dapat, apalagi dengan hasil prestasi yang masih kalah jauh dengan figur dan saingan kita. Belajar musti komprehensif : diukur dari berbagai sudut pertimbangan.Anutan ini yang akan bisa membawa kita menjadi kaum intelektual: Rausyanfikr, dari bahasa persia yang berarti pemikir yang tercerahkan.Kita tidak layak merasa –apalagi berhak- disebut intelek, ataupun merasa ngerti tentang terma intelektual. Wong jadi ilmuwan saja belum, karena ilmu kita belum diakui, mau njamah atmosfer intelektual. Terlalu mimpi…

Tentang alifis

penyuka ilmu, baik yang remah2 atau terkuantisasi. penikmat hidup dalam aliran harmoni dan ketenangan.... penikmat tantangan dalam dinamisasi dan idealisasi....
Pos ini dipublikasikan di aQ berPole-MIX dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s