Listrik 3 : Byar Pet & Kebimbangan Hati


Menuju pergantian musim dari penghujan ke kemarau kali ini, sudah 2 – 3 kali listrik mengalami gangguan lagi. Hari minggu kemarin dan hari minggu ini. Bahkan saat aku tulis artikel ini-pun perlu sedikit bantuan cahaya lilin untuk memetakan posisi tekan tombol-tombol. Kebutuhan primer satu ini, memang tidak bisa lagi diabaikan. Karena saat listrik bermasalah, masalah yang lain-pun muncul.

Tak terhitung berapa kali, pemberitaan kebakaran rumah terjadi di Kupang, hanya karena masalah lilin. Dan hal ini juga terpicu, kebanyakan rumah-rumah penduduk di pedesaan NTT masih tradisional, terbuat dari ‘bebak’ atau kayu dan atap susunan daun lontar. Angin yang kencang juga menjadi ‘gara-gara’nya. Angin ‘kebingunan’ menentukan orientasi di musim pancaroba. Pendiriannya mulai goyah, yang semula dominan dari arah timur (Australia), sekarang lebih banyak diselingi dari arah Barat.

Listrik yang byar-pet hari minggu tadi, juga karena gangguan ‘badai angin hujan’ yang bimbang mengikuti denyut alam ,🙂 . Bukan hanya ‘angin’ yang sempat bikin bimbang kontinuitas ‘nyala’ lampu di NTT. PT ‘T’, perusahaan budidaya mutiara dari jepang yang berlokasi di bibir perairan Bolok-pun sempat membimbangkan listrik NTT, ketika calon dermaga batubara PLTU Bolok di bibir pantai terhambat dibangun karena ‘tercaplok’ oleh-nya. Begitu ketatnya pengawasan kawasan budidaya ini, sehingga tidak setiap orang bisa mendekat. Aq ‘pernah’ merasakannya bersama tim ‘lingkungan’ mengambil data di titik koordinat perairan, sekitar kawasan budidaya mutiara tersebut., diusir-usir oleh penjaga kawasan perairannya. Bahkan teman dari rekanan PLN-pun sempat mencak-mencak ‘sendiri’. Bagaimana pemprov tidak bimbang juga? Listrik penting tapi PT T juga banyak menyumbang ‘pundi-pundi’ ke kas pemprov. Nah khan,…🙂

Ketertinggalan ekonomi penduduk sekitar kawasan Bolok, juga membimbangkan. Penduduk juga menebarkan harapan pada budidaya tradisional rumput laut disekitar calon dermaga batubara PLTU. Kalau dua tahun yang lalu, saat aq melintasi bibir ‘tebing’ lautnya masih sedikit keberadaan ‘botol-botol’ terapung, setahun lalu, hampir menutupi kawasan sisi kanan calon dermaga. Akankah keberadaan kawasan industri Bolok ke depannya, bisa mengangkat ekonomi masyarakat sekitar? Bijaksananya begitu. Tidak adil, kalau alam yang telah mereka diami, gauli, tinggali sekian dekade, tiba-tiba dieksploitasi ‘orang’ tanpa meninggalkan ‘sirih-pinang’ (balas budi).

Kebimbangan memang akan selalu terjadi, tapi keputusan yang benar adalah yang dinanti. kebimbangan adalah semacam pergolakan pemikiran, dengan mengkalkulasi sebanyak mungkin aspek-aspek yang bisa diajak meng-amini, keputusan mana yang kemudian akan diambil.

Tapi, kalau esensinya untuk kepentingan masyarakat NTT, untuk ketersediaan listrik pulau Timor, harusnya ‘pendulum’ sudah condong menuju ke sana. Jangan kemudian juntrungannya menjadi tidak jelas, seperti dalam PSSI, yang tidak normal-normal. Komite normalisasi yang harusnya menormalkan kembali arah PSSI, dengar-dengar malah mau dinormal-kan. Atau rencana pembangunan gedung DPR yang sungguh tidak ‘normal’. Aq membayangkan, wah coba dialihkan untuk masyarakat NTT dalam menyediakan rumah murah.

Ya, itu…. hehe, mampunya hanya membayangkan ! Senada dengan tulisan-tulisan yang telah lewat ini :

[1] Listrik 1 : Tekad Boss Dahlan Iskan…
[2] Listrik 2: Si Pencuri Teknologi !!!
[3] Byar Pet Listrik NTT & Solusi PLTU 2Ă—16,5 MW Bolok
[4] PLN [ Padam Lupa Nyala ] Kupang…!!!

Sama juga seperti impian jodhy judono dalam alunan ‘Ini Negeri, Sungguh Punyamu, Nak!‘,
Teruslah berjalan nak, terus ke timur, ke tanah yang kurang terperhatikan orang-orang Jakarta yang lebih mabuk kuasa ketimbang mengangkat derajat saudara-saudara kita di bagian timur negeri. Wayang sasak, komodo, upacara nyalamak di laut, perburuan paus, upacara nyale, adalah keindahan yang ditawarkan oleh tanah ini.

Teruslah melangkah, nak. Sulawesi, ya, itu negerimu juga, ayah pernah hingga ke pantai bira, bulukumba tempat para petualang membangun kapal-kapal phinisi. Ya, teruslah melaju ke timur negeri, hingga ke papua untuk menyantap keindahan raja ampat, hutan-hutan perawan, serta aneka tumbuhan berkhasiat.

Sungguh nak, ini semua milik kita. Jika sebagian di antaranya telah tergadai pada pemodal asing, jangan ragu, rebut kembali dari tangan mereka. Sebab semua yang kau punya, adalah hak dan juga takdirmu sebagai penghuni negeri ini. Sungguh, nak, kami dan juga pemimpin-pemimpin kami, pernah tak berdaya justru karena ketamakan kami yang telah melalap mentah-mentah uang utang tanpa pernah ingat bahwa kami juga memiliki engkau, anak keturunan kami.

Tentang alifis

penyuka ilmu, baik yang remah2 atau terkuantisasi. penikmat hidup dalam aliran harmoni dan ketenangan.... penikmat tantangan dalam dinamisasi dan idealisasi....
Pos ini dipublikasikan di aQ berPole-MIX dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s