Ketika Hujan Menjadi Alasan


Manusia,
Suka Berkeluh Kesah, dan Bermalas-Malas
Gemar Mematut Diri, dan Mengasihani Diri Sendiri
dalam Kelakuan keseharian,
Hal Yang Sudah Biasa, Ketika Hujan Menjadi Alasan

Karena Aq Manusia, maka…
Perasaan manusia-pun bisa dipermainkan oleh hujan. Ketika hujan menghampiri dengan begitu bersemangatnya, seperti saat ini, tidak hanya dipagi hari, di siang hari, di sore hari, bahkan di malam hari-pun, perasaan dan akal ikut kebat-kebit.
Bagaimana tidak? Kala sebagian orang mungkin mulai merencanakan aktivitas sehari penuh nantinya dengan penuh optimis, atau bahkan sebagian yang lain malah sudah akan bersiap-siap beraktivitas dengan penuh semangat, tiba-tiba hujan gerimis datang, berbagai solusi alternatif dikeluarkan dalam mengantisipasi hujan.

Ketika suasana hati lagi optimis, Yang berkendara sepeda motor ya siap-siap jas hujan, sepatu boleh disimpan dalam kresek plastik. Yang bermobil, atau naik oto angkutan kota-pun bisa lebih santai dengan hanya menyiapkan payung. Tanpa payung juga bisa, tinggal berlari-lari kecil sedikit begitu masuk di dalam mobil aman sudah, tidak kehujanan lagi. Jangan coba-coba yang naik sepeda motor pakai payung, atau coba-coba melaju dengan berharap di daerah yang dituju tidak hujan, hehe…

Nah, karena Hujan tidak bisa ditebak, demikian juga rasa optimis menembus hujan tidak selalu dipunyai oleh semua orang, maka sebagian lainnya pasti menjadi ‘penganut’ pesimisme saat itu juga. Ketika ‘keberadaan diri’ di tempat tujuan tidak begitu penting, ketika ‘harga diri’ di sana tidak begitu diperhatikan, ketika ‘tanggungjawab diri’ disana masih bisa ditunda, ketika ‘ diri sendiri’ mulai mengasihani ‘diri sendiri’, maka muncullah berbagai alasan untuk menjadikan Hujan sebagai Alasan. Meminimalisir ‘pengorbanan’ (kedinginan, kehujanan yang beresiko sakit) bagi diri sendiri sudah menjadi hal yang dimaaf-kan, toh banyak orang yang melakukannya. Toh bisa melakukan kegiatan positif yang lain dirumah seperti bersih-bersih rumah, mencuci, merenung, atau seperti aq saat ini – membuat tulisan ‘Hujan Menjadi Alasan’ ini, sambil meng-update antivirus AVG laptop istri yang sudah expire, hehe…

Tapi tidak bagi sebagian orang, yang memiliki argumentasi yang ‘kuat’. Apakah karena ‘kesadaran diri’ dan ‘rasa tanggung jawab’ yang sudah berurat berakar, hujan bukan menjadi suatu halangan? Apakah karena ‘terpaksa’ berkorban, karena aspek independensi seperti absensi yang ketat, bos yang galak, client yang bisa lari, dll. ? Yang jelas, karena berbagai sebab, mengakibatkan ketidaksempurnaan realisasi dari sebuah perencanaan di hari itu, maka Hujan ‘boleh’ Bisa Menjadi Alasan.

Kemarin sore, hujan deras juga mengguyur Penfui, harusnya aq memberi kuliah. Sudah mandi, berganti baju dan celana bersih, Sudah siap berangkat, tinggal menunggu hujan sedikit reda. Sambil aq sms koordinator mahasiswa-nya. “Disini hujan pak, saya juga masih dirumah, belum berangkat !” . Ini nih, ‘trigger’ yang tepat. Okey…”Tolong infokan ke tman2, kita tidak kuliah sore ini, ya”, dan balasannya, “ Ya, pak. Trimakasih, pak!”. Hehe…

Sebuah konspirasi. Persekongkolan yang merugikan, karena Hujan Menjadi Alasan? Hehe… terserah Anda menilainya. Alasan-alasanq sedemikian banyak untuk mendukung Hujan Menjadi Alasan. (1) Hujan telah berlangsung dari siang, sampai sore tidak juga reda, (2) Kemungkinan besar yang hadir hanya beberapa gelintir mahasiswa. Sebenarnya kasihan mereka yang berangkat dan berniat mencari ilmu -maafkan ya, tapi aq punya alasan, ‘tidak efektif’ !. Toh pekan depan akhirnya harus di-review lagi. (3) Koordinator mahasiswa yang paling rajin saja masih di rumah, apalagi yang lain. Mau alasan apa lagi, hehehe… ini semua gara-gara ‘Hujan Menjadi Alasan’.

Karena ‘Hujan Menjadi Alasan’ jugalah, jalanan menjadi licin, pohon tua tumbang, sepatu basah-jamuran, jemuran tidak kering-kering, rekening listrik naik, motor sering macet, anggaran membengkak, tubuh masuk angin, sekolah libur, UN di beberapa daerah NTT tertunda, banjir kiriman merendam 150-an rumah di Oesao, tanaman rusak tak bisa panen, dll….

Karena ‘Hujan Menjadi Alasan’ pulalah, Aq agak sebel juga. Tukang yang menggarap pagar pekarangan belakang juga terlambat datang, pekerjaan jadi molor tak keruan. Lama-lama karena ‘Hujan Menjadi Alasan’ maka besi akan berkarat, semen akan membatu, batako akan merapuh, bahkan pasirpun akan meluber bercampur tanah. dan Barusan datang sms, Tukang tidak bisa datang, karena ‘Hujan Menjadi Alasan’. Hehe…

Apalagi yang kurang,🙂 ? Anda boleh berkomentar segudang dari berbagai pengalaman, ketika ‘Hujan Menjadi Alasan’ !!

Tentang alifis

penyuka ilmu, baik yang remah2 atau terkuantisasi. penikmat hidup dalam aliran harmoni dan ketenangan.... penikmat tantangan dalam dinamisasi dan idealisasi....
Pos ini dipublikasikan di aQ berPole-MIX dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Ketika Hujan Menjadi Alasan

  1. nion berkata:

    “ketika hujan menjadi alasan”

    banyak orang menganggap hujan,hari dimna mereka bisa bermalas-malasan tetapi tidak bagi penjual es campur dll.
    bagi mereka jika hujan turun adlah kerugian yang sangat besar,akibatnya dagangan mereka tidak habis yang lebih parahnya tidak terjual sama sekali

    kasihan sekali😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s