Moral Hazard 04 : Substansi Pendadaran


Di sebuah padepokan Nusa Maya, di negeri Nusa Fantasia, konon telah berlaku sebuah tradisi, atau rutinitas yang sudah menjadi ‘kebiasaan’ yaitu ketika berlangsung sidang majelis pendadaran, si anak murid musti ( walau awalnya sebenarnya hanya himbauan, selayaknya, sebaiknya ) menyediakan konsumsi para Mahaguru. Tradisi itu telah menjadi produk budaya/kultur di padepokan Nusa Maya.

Apa jadinya jika si anak murid tidak menyediakan konsumsi, sekedar snack + minum, atau lebih mantap sekotak nasi? Belum ada kejadian seperti itu, sehingga tidak bisa diukur bagaimana respon dari para Mahaguru.

Pertanyaan lanjutannya, kenapa si anak murid begitu repotnya ngurusi konsumsi sebelum pendadaran, padahal khan lebih utama si anak murid mempersiapkan materi pendadaran? Ternyata, antar anak murid sudah ada tim teknis, dan kalau urusan seksi konsumsi, dimanapun itu berada, banyak yang mengajukan diri jadi anggota tim, hehe… Tapi, ada semacam bisik-bisik rahasia diantara si anak murid, yaitu Ternyata yang mereka lebih takutkan adalah ‘tidak menyediakan konsumsi’ daripada ‘tidak bisa menjawab’ pertanyaaan uji dari si Mahaguru. Ada apa ini ???

Apakah para Mahaguru akan lebih kehausan atau cepat kelaparan, yang imbasnya pada ‘ketidakstabilan rasio’, dan yang paling ditakuti –kata si anak murid – adalah kekuatiran akan ‘percikan emosional’ di ruang pendadaran yang terhormat, sehingga akan berimbas pada ‘keobjektifan’ nilai akhir. Nah Lho ! Yang benar ‘keobjektifan’ atau sebaliknya ‘ketidakobjektifan’ ??

Jangan salah menilai, Mahaguru itu penuh kebijakan hidup. Dan jangan berfikir hanya gara-gara konsumsi yang tidak substansi, keobjektifan si Mahaguru jadi tergadai. Mahaguru tidak serta merta menganut slogan ‘Menyelesaikan masalah tanpa masalah’. Bagi pegadaian itu sangat berarti, tapi bagi Mahaguru..harus berfikir dua, tiga kali.

Kultur konsumsi yang sangat ‘indonesia’ ini, yang juga menjadi PR di salah satu sudut otak si anak murid ketika pendadaran, mungkin tidak spenuhnya bermakna ‘seyogyanya’ lagi, tidak bermakna ‘sepantasnya’ lagi, karena menurut si anak murid mungkin membebani, dan ini tidak di negeri ‘Ngayogyakarta’ tapi di negeri Nusa Fantasia. Si anak murid juga sudah memahami apa itu ‘nilai-nilai ekonomi’, sehingga beban ekonomi pengadaan konsumsi ya musti dikonversi dengan sebuah ‘nilai’ tambah pada sisi akademis. Nah Lho….

fenomena ini, akibat tradisi ini ternyata membingungkan logika berfikir si anak murid, ternyata !! Bagaimana dengan logika berfikir si Mahaguru? Apakah juga sudah terbolak-balik? Jangan bahas itu dulu…itu masalah very-very sensitive !!!
Logika berfikir si anak murid jadi terbalik-balik, seperti sesi goro-goro di pewayangan, dimana gunungan dilepas dari tempatnya dan dijungkir-balikkan sama si Dalang. Dunia bolak-balik….. Jangan berbicara tentang logika kebenaran. Kebenaran di dunia Fantasia, tidak sempurna. Isi kepala tiap-tiap anak murid, pasti berbeda, isi kepala tiap-tiap Mahaguru juga pasti berbeda, karena masing-masing punya dunianya. Yang salah adalah kalau isi kepala diminta seragam semua…

Tapi yang aneh, tentang urusan perut yang satu ini, yang ‘sepatutnya’ ada di sidang pendadaran di padepokan Nusa Maya ini, kok si anak-anak murid, mengiyakan tanpa ada penolakan dan tanpa ada keluhan…Apakah sinyalir nilai ekonomi = nilai tambahan ada benarnya ? Hanya si anak murid yang tahu. Yang diketahui si Mahaguru adalah setiap sidang pendadaran konsumsi sudah menjadi tradisi, dan apakah membebani si anak murid, tidak penting lagi, karena tidak pernah terdengar keluhan dari kata ‘seyogyanya’, ‘ sepatutnya’ itu….

Si anak murid miskin tapi pinter, mungkin tidak ada masalah dengan substansi materi pendadaran, jadi tidak berharap ada nilai tambahan yang ‘aneh’ dari sebuah proses uji materi. Yang jadi masalah baginya adalah ya..konsumsi itu sendiri, apalagi kalau orangtuanya sudah ngomel duluan karena ketiadaan anggaran khusus tersebut, wong untuk makan sehari-hari saja kembang-kempis, belum menyiapkan SPP semesteran.

Repotnya, kalau si anak murid bandel tapi pinter, tidak peduli miskin atau kaya. Lah substansi materi khan sudah tidak masalah karena pinter. Tapi bandelnya itu, bisa diimplementasikan dalam pemilihan jenis makanan atau snaak-nya. Bagaimana kalau dihidangkan, jajanan pasar yang super aloot.. super lengket, sehingga untuk berdiskusi saja repoot, hehe…

Semua warga negeri Nusa fantasia memahami bahwa substansi dari sidang pendadaran seorang anak murid adalah materi keilmuan akademis, yang nantinya menjadi bekal ketika terjun di dunia sesungguhnya, dunia kerja dan dunia sosial kemasyarakatan ! Apa jadinya kalau di padepokan keilmuan sebagai miniaturnya dunia nyata, si anak murid sudah dibiasakan untuk mempraktekkan hal-hal yang tidak wajar, tidak objektif dan tidak difahaminya?

Sebaiknya bagaimana menurut warga Nusa Fantasia? Boleh2 saja berkomentar…hehe🙂

Tentang alifis

penyuka ilmu, baik yang remah2 atau terkuantisasi. penikmat hidup dalam aliran harmoni dan ketenangan.... penikmat tantangan dalam dinamisasi dan idealisasi....
Pos ini dipublikasikan di Relief Kehidupan dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Moral Hazard 04 : Substansi Pendadaran

  1. Zan berkata:

    Mahaguru seharusx mahatau persoalan2 mahasepele spt itu bro!! Atau mahaguru adalah mahabodoh yg sdng mengalami goro2…whe.he.he…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s