Sondang & Sasando : Antara Idealisasi & KetidakPedulian…


pic_artHari Rabu sore, 28 Desember 2011 aq dibonceng teman Ardi Winangun, sempat berputar-putar keliling di beberapa kawasan Jakarta. Dua hal yang membuatq amat terkesan, pertama, saat melintas di depan Istana Negara, dimana ditunjukkan posisi dimana Sondang nekad berputus-asa membakar dirinya sendiri, demi sebuah ‘idealisasi’ yang sebenarnya amat-amat langka dan sangat-sangat mahal harganya di jaman ini, di negara ini, di negeri ini, di benak rakyat indonesia ini. Kedua, adalah eksistensi Kota tua ditengah ‘modernisasi’ cakaran beton menjulang di langit Jakarta, yang mampu jadi alternatif Taman Hiburan Rakyat (THR).

Nah, keberadaanq di Jakarta karena berstatus anggota Tim, membantu Ketua Tim Hi-Link Undana, Lewi Jutomo dan ‘idea tank’-nya, Muntasir berhalangan karena sedang studi S3 di Makassar. Apa yang selalu kami ingat dari evaluasi Prof. Hadi, termasuk rekam jejak hangatnya kerikil lantai didepan istana negara sisa bakaran tubuh Sondang ? Adalah kekurangpedulian atas sebuah idealisasi…

Idealisasi Sondang dibawa Mati…
Idealisasi bagi Sondang sangat murah dijual, amat mudah digratiskan, dan ‘nyatanya’ berkorban nyawa-pun dilakukan. Perjuangan sebuah idealisasi, kalau tidak tuntas dengan tenaga harta dan raga, jiwapun digadaikan. Dalam keputusasaan, atas ketidakpedulian pengurus NKRI, Sondang tidak peduli lagi dengan nyawanya. Keputusasaan Sondang dijadikan momentum perjuangan idealisasi, tapi juga disayangkan bagi sebuah ‘produk’ generasi bangsa. Apalagi dari sisi religi, tidak ada agama yang menyarankan untuk membinasakan diri sendiri..


Jangan bertanya lagi, siapa2 dan apa2 yang bisa diniatkan orang2 untuk membonceng kematian Sondang. Semuanya bisa, menjadi kendaraan politik, kendaraan kemanusiaan, kendaraan tulisan seperti ide tulisanq ini…
Dan jangan diusik2 lagi, kalau dalam 3 bulan kemudian, kematian Sondang dengan membawa mati ‘idealisasi’nya tidak akan dibicarakan lagi…Karena memang semuanya sudah TIDAK PEDULI !!!.

Idealisasi Habel agar Sasando tidak Mati…

picHabel Edon adalah sosok natural, seniman tulen Sasando di jaman modern ini. Orang tidak akan pernah mengenalnya kalau tidak dikenalkan, karena karakter seninya lebih di-eksploitasikan pada kreativitas pembuatan sasando dalam diam.

Bersama anak-istrinya dan anak didiknyalah idealisasi Sasando diperjuangkan. Tidak berjuang sebatas atas nama keluarga, tapi atas kepentingan budaya. Kalau Budi Priyadi, Kepala Puslitbang Kebudayaan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, berkata, “Kedua alat tersebut sudah didaftarkan ke UNESCO. Yang kami khawatirkan akan hilang bukan karena diklaim negara lain, tetapi karena mereka yang menggeluti musik Sasando dan Noken semakin habis”, tentu bisa difahami, karena Budi Priyadi tidak kenal Bapak Habel.

Sasando adalah warisan budaya yang sangat berharga dan sektor potensial di ‘ekonomi kreatif’. Tapi apakah Budi Priyadi, Pemprov NTT sudah ‘benar-benar’ peduli dengan Sasando? BELUM! Karena belum ada ‘action’ yang fokus realistis untuk mengangkatnya sebagai program unggulan daerah dan aspek budaya Indonesia.

Kalaupun sekedar ‘selalu’ hanya mengikutsertakan didalam promosi budaya, kita tahu sendiri bagaimana sebuah wajah lakon ‘ stand’ pameran. Tidak optimal. Program integratif –lah yang harusnya lebih difokuskan. Pembinaan manajemen usaha profesional, dan tentunya harus juga siap memberikan hibah pendamping, dari sebuah program kerjasama.

Ketika ekonomi kreatifnya Budi Proyadi memberi makna Sasando, hanya sekedar dijadikan cinderamata, pajangan dan barang antik dan tidak ada sosok seperti Habel Edon, maka kekuatirannya akan benar-benar terwujud, Sasando adalah produk budaya masa lalu yang lebih cocok ditaruh di museum2 kusam.

Habel Edon, layak dijadikan pejuang budaya, karena inovasi dan kreasinya membuat Sasando tidak lagi ‘KUNO’, tapi mampu tampil dalam eksotika modern. Idealisasi yang diwujudkannya dalan keuletan dan kerja keras, telah mampu menyentuh ranah interkultural. Sasando tidak lagi dianggap ‘kuno’ oleh generasi muda. Orang-orang barat begitu takjub menikmati kekhasan alat musik Sasando, serta kagum akan kelincahan jari-jemari memproduksi alunan irama yang detail dan indah. Sasando Elektrik buatan Habel Edon, sangat representatif disandingkan dengan alat musik modern, kolaborasinya juga mampu meningkatkan kualitas pagelaran.

Membuat, Mendidik, memainkan, Melestarikan, Mempromosikan…. Sendiri, karena banyak komponen bangsa, khususnya Prov NTT tidak terlalu peduli. Bukan tidak peduli, tapi Kurang Peduli. Tapi Habel Edon akan terus berjuang, walau kadang harus bermain dengan menahan sakit ‘kencing batu’nya…

Warisan budaya amatlah berharga, dan Habel Edon melakukan menyuguhkan sebuah idealisasi, agar Sasando tidak Mati…

Tentang alifis

penyuka ilmu, baik yang remah2 atau terkuantisasi. penikmat hidup dalam aliran harmoni dan ketenangan.... penikmat tantangan dalam dinamisasi dan idealisasi....
Pos ini dipublikasikan di aQ berPole-MIX, Relief Kehidupan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s