Negeri Alami


BOLENG Part 2
DENYUT NADI INDONESIAKU YANG MASIH ALAMI
LAMPU GENSET, LAMPU SURYA DAN LAMPU POLITIS
Boleng, Manggarai Barat
Catatan : 15 April 2014

DSC_0470

Siang hari sehabis bertugas Wassatdik di SMAN 1 Boleng, aq berkesempatan jalan2 menuju kota Kecamatan Boleng, yaitu di Kota Terang. Baiknya, Bpk Kepala Sekolah meminjami aq motornya sehingga aq bisa jalan ke mana aq inginkan.
Kota terang berjarak 6,5 km dari pertigaan Terang-Lando. Pertigaan ini 500m arah utara dari sekolah SMAN 1 Boeng. Jalan, lumayan bagus, menurut warga. Tapi, jangan membayangkan mulus aspal ! bagus disini adalah tidak terlalu naik turun pegunungan, karena wilayah Lando sampai Terang adalah dataran rendah, atau wilayah lembah menuju muara pantai Boleng.

Dengan mengekor teman-teman Pengawas ruang yang berasal dari SMA Muhammadiyah Terang, sampailah aq di kota Kecamatan Boleng. Skali lagi jangan membayangkan kota yang cukup fasilitaas. Semua keadaan tidak jauh berbeda. Memprihatinkan ! Apalagi berada di wilayah pesisir dengan khas aroma pantai dan rawa. Tentu jangan membayangkan kondisi yang ideal di Wilayah ini. Kecamatan Pemekaran yang mungkin ke depannya akan bergerak lambat, jika fasilitas transportasi, kelistrikan tetap menjadi masalah utama.

Di Lando, sekitar area SMAN 1 Boleng adalah wilayah pertanian yang dihuni oleh etnis Manggarai sendiri, yang berprofesi sebagai petani atau sebagian pendatang yang masih berkerabat dengan warga asli tetapi berasal dari desa/kampung sebelah yang berprofesi sebagai pegawai negeri, guru, dan lain-lain. Lain halnya dengan wilayah Terang, yang lebih dominan dihuni oleh etnis Bima, Bugis dan Makasar. Dari bentuk rumah, bahasa pergaulan sehari-hari cukup kentara terlihat berbeda. Tetapi mereka tetap merasa sebagai satu warga wilayah baru yaitu Boleng.

Foto bersama di SMAN 1 Boleng

Foto bersama di SMAN 1 Boleng

Berbicara Listrik yang masih menjadi kendala utama, ada berbagai siasat yang dilakukan oleh warga. Yang mampu akan membeli genset dengan modal pribadi. Biasanya dinyalakan untuk penerangan dan nonton TV sampai jam 11 malam. Atau mendapatkan kemudahan dengan paket lampu surya yang bisa dicicil pembeliannya melalui nprogram PLN dengan mendapatkan 3 lampu penerangan + panel surya dan baterei kering. Cukup untuk menerangi dalam rumah sampai pagi hari. Ya, PLN memang belum memiliki jaringan di wilayah kecamatan baru ini. Lagi-lagi masalah pemerataan yang kurang, dan kec. Boleng menjadi korban dari wilayah yang belum mendapatkan program elektrifikasi.

Percaya atau tidak, Ada program lampu gratis yang disebarkan oleh caleg/partai ke warga. Lampunya cukup kecil khas dengan warna kental partai tertentu. Sangat praktis, tetapi sangat dibutuhkan. Siang hari cukup dijemur dan malam hari bisa digunakan untuk menerangi teras. Itung-itung gratis, apakah nantinya warga memilih partai tersebut, hati masing-masing yang tahu, warga sudah cerdas dan pintar dalam menentukan pilihan.

Jadi politisasi masih saja terjadi, terutama untuk menarik simpati sekedar satu dua suara, dengan memberikan LAMPU POLITIS, selain yang sudah dikenal warga di kecamatan Boleng yaitu lampu GENSET dan LAMPU SURYA.
Ada yang mau?

Tentang alifis

penyuka ilmu, baik yang remah2 atau terkuantisasi. penikmat hidup dalam aliran harmoni dan ketenangan.... penikmat tantangan dalam dinamisasi dan idealisasi....
Pos ini dipublikasikan di Relief Kehidupan dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s