POTRET WILAYAH TERISOLASI


BOLENG Part 1
POTRET WILAYAH INDONESIAKU YANG TERISOLASI
Trisura Ala Boleng Manggarai: Transportasi, Elektrifikasi dan Isolasi
Boleng, Manggarai Barat
15 April 2014

Siang hari 13 April 2014, kami mendarat di Bandara perintis Laboan Bajo, Kab. Manggarai Barat. Rombongan besar dengan 18 dosen yang akan bertugas sebagai Pengawas UN, dikomandoi oleh Dekan FST Undana, Prof. Lumban Gaol, PhD, sebagai koordinator Pengawas Kabupaten. Aq sendiri bertugas sebagai Pengawas Satuan Pendidikan (Wassatdik) di SMA Negeri Boleng.

Berpose dengan pak Jonshon Tarigan dan pak Jehunas Tanesib, sebelum menembus wilayah manggarai barat

Berpose dengan pak Jonshon Tarigan dan pak Jehunas Tanesib, sebelum menembus wilayah manggarai barat

Sehari sebelumnya, aq coba searching di Google earth, Wikimapia untuk mendapatkan sekolah tersebut. Tidak ketemu, maklum menurut informasi di web adalah kecamatan pemekaran dari Wilayah Komodo. Dominan belantara yang kudapatkan. Wilayah yang terpetakan berpenghuni dengan komunitas warga yang cukup banyak, ditunjukkan oleh Wikimapia terkonsentrasi di lembah Terang, yang ternyata adalah Kota Kecamatan. Disalah satu berita di web, Terang berjarak 65 km dari Labaun Bajo. Waooo jauh juga ! pikirku naik apa pergi kesana?
Jam 15.30, setelah tim Undana bertemu dengan Kadis PPO sekaligus menggali informasi tentang keberadaan sekolah-sekolah yang dituju oleh semua rekan2 Wassatdik, barulah masing-masing mendapatkan gambaran cukup jelas. Aq yang ditugaskan di SMA Negeri Boleng, masing harus menempuh jarak 55 km menuju jalur Lando – Ruteng. Sekolah tersebut ada di kelurahan/desa Lando yang berjarak 6,5 km sebelum menuju kota kecamatan yaitu Terang. Rekanq kebetulan dapat tugas di SMA Muhammadiyah Terang, sehinga kami memutuskan berangkat esok paginya ke lokasi, dengan menggunakan ojek. Paling murah 50 ribu rupiah, sampai. Jadi malam harinya aq coba nikmati dulu malam di Labuan Bajo.

perairan labuan bajo dari atas hotel

perairan labuan bajo dari atas hotel

Sekedar jalan-jalan sekitar pesisir menikmati deburan ombak dermaga dengan lampu-lampu kapal yang berjejer rapat, dan ramainya penjual makanan ala sea foot sepanjang pantai. Turis-turis asing pun berkeliaran, mirip seperti kawasan Legian kuta, di tahun 93an. Legian yang sekarang sudah banyak berubah.

panorama alam perairannya mempesona

panorama alam perairannya mempesona

Laboan Bajo, saat ini menjadi wilayah favorit baru bagi turis2 asing yang menempuh bermil2 dari rumah dan negaranya untuk mendapatkan kenikmatan alami, setelah Bali yang kurang alami lagi. Gugusan pulau-pulaunya yang kecil-kecil berjejer dan menjulang, menampilkan keindahan yang luar biasa indahnya. Komodo, Kadal Raksasa menjadi ikon yang sudah mendunia.
Perjalanan Ketetapan Hati
Pagi itu aq bersama ak Jefry berangkat dibonceng 2 buah ojek menuju tujuan. Bukan Bapak atau Om om yang jadi jokinya, tetapi anak masih SMA yang libur sekolah, yang mungkin kakinya belum tegar menyangga motor yang terlihat kebesaran dibanding posturnya. Demikian juga teman satunya, yang belum pernah mengenal medan perjalanan. Kami sangsi dengan jokinya, tetapi bagaimana lagi. Hati harus diteguhkan dan selalu waspada dan berdoa.

ke pedalaman yang menantang

ke pedalaman yang menantang

Ternyata jalan yang kami lalui luar biasa sulit ( ternyata di kemudian hari, lebih sulit lagi saat balik lagi ke laboan bajo, karena menembus hujan ). Dan tubuhq pun harus beradaptasi dengan goncangan, ayunan, bantingan posisi diatas motor supaya tidak jatuh. Harus aq akui nyali joki yang aq tumpangi luarbiasa, tidak seperti posturnya yang kecil kerempeng. Sekian kilometer jalan mulus selepas laboan bajo, selebihnya berlncat-loncatan di atas sepeda motor, yang terkadang memaksa kami turun oleh medan yang tidak memungkinkan.
Aq merasa dengan sedemikian sulit medannya sepertinya ongkos 50 ribu cukup murah. Dan jam 08.30 aq tiba di sekolah dan langusng melaksanakan tugas. Sementara badan mendapatkan efek goyang-goyang sama seperti kalau habis turun dari perjalanan kapal laut. Melekat kesannya, terlatih nyaliq dan serasa badan kuat kembali setelah melalui tantangan alam.

sekolah generasi muda boleng untuk masa depan yang lebih baik

sekolah generasi muda boleng untuk masa depan yang lebih baik

Boleng betul-betul alami, listrik tidak ada, sinyal ponsel tidak muncul, suara alamlah yang mendominasi dibalik dengusan nafas kita sendiri. Kalau di kupang nafas kita tenggelam dalam kebisingan, maka di Boleng, manusia mungkin sadar disetiap helaan nafasnya. Betul-batul alami…
Tapi generasi muda Boleng yang sudah sempat mencicipi dunia luar, apakah ke jawa, sulawesi dll, sadar bahwa kondisi seperti ini tidak harus dipertahankan tetapi perlu diperjuangkan. Slogannya adalah Trisuara Boleng Manggarai: Perjuangkan Transportasi Layak, Seiakan Elektrifikasi dan Jebol Isolasi. Selamat Berjuang Warga Boleng, Manggarai Barat.

Tentang alifis

penyuka ilmu, baik yang remah2 atau terkuantisasi. penikmat hidup dalam aliran harmoni dan ketenangan.... penikmat tantangan dalam dinamisasi dan idealisasi....
Pos ini dipublikasikan di Relief Kehidupan dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s