POLITIK ala FISIKA (bagian satu)


Bagian 1 : Fisika Politik

image

Logika keilmuan di dunia Fisika bersanding dengan Logika kepentingan dalam politik?

Amat naif sebenarnya, ketika aq menuliskan paduan dua aras ilmu yang ‘aneh’ menurut pandangan umum, yaitu Fisika dan Politik, yang bahkan cenderung disalahfahami karena asumsi ekstrimitas logikanya, yaitu Ilmu Fisika yg terlalu objektif dan Ilmu Politik yg terlalu subjektif.
&& wong ilmunya masih ‘bau kencur’ dan ‘jauh panggang dari api’, sok2an.. maklum penulis amatir,🙂

Pandangan umum telah menunjukkan, Fisika itu ilmu pasti yg sulit karena terlalu banyak rumus, menggunakan analisa matematik transendental yg rumit, terlalu kaku objektifitasnya, membosankan dan tidak indah sama sekali.
&& padahal aku selalu bilang fisika itu menarik, menantang dan mengasyikkan.

Dunia Politik? 
Dunia politik malah berada pada nilai batas yang kontradiktif, berada pada wilayah gak jelas ‘abu-abu’, tidak ada kepastiannya sama sekali, banyak kepentingan dan subjektifitasnya tinggi.
&& kalau lempeng, lurus dan mudah dibaca, apakah masih diperlukan politik?

Wah, terlalu mengada-ada nih ! Sampai sini, pasti prasangka dan cibiran melintas di egoisitas intelektual pembaca, yang mungkin banyak berharap dg judul tulisan ini. Tak kasih tahu, Intinya topik ini tidak penting. Jangan terlalu berharap dengan analisa yg akademik.
&& kebiasaan buruk diri kita, hanya mau baca dr tokoh terkenal dan populer… malas baca kalo yg nulis orang biasa,haha

Politik dalam pemodelan sistem fisika klasik, berwujud sebuah persamaan umum yg  terkait dg variabel2 tak hingga jumlahnya. Solusi eksak secara analitik sangat susah ditemukan. Belum lagi kalau diterapkan variabel waktu, makin runyam, kompleks sistemnya.
&& kayaknya kurang keren kalau hanya menggunakan regresi linear ganda untuk uji korelasi variabel, sbagaimana dlm statistik !

Tidak ada yg pasti dlm politik, dan nilai batas satu-satunya sebagai konstanta terukur hanyalah “politik tak mengenal kawan dan lawan abadi, yang abadi semata kepentingan”. Woouw, konstantanya tak pasti juga…haha. Beda dengan konstanta fisika:  phi=3,14; g=9,8 m/s^2, c=3E08 m/s, dll.
&& apakah ini menjadi justifikasi, orang fisika tdk cocok terjun di politik? Ehm

Tapi, tunggu dulu. Fisika Politik? Bukan hal tabu atau barang baru!. Karena, Sains Fisika sebenarnya dr dulu sdh jauh melampaui asumsi2 diatas, baik secara teoritis maupun terapan.
&& jadi mulai saat ini, rubahlah persepsi anda tentang fisika, hihihi…

Anda mungkin pernah mendengar istilah Fisika Modern, Fisika Kuantum, Fisika Statistik, Komputasi Fisika atau dalam terapan khusus ada Fisika Ekonomi, Fisika Medis,  Astrofisika, Metafisika, Patafisika, dll. Fisika sdh jauh berkembang, walau tetap mengacu pada metode ilmiah,  aspek kuantitatif logik, dan kajian eksperimentasi.
&& Jadi absah dan valid sebagai metode kajian politik. Boleh yak.. yaak.

Analisa kuantitatif saintis, saat ini menjadi andalan dlm setiap ‘apapun itu’ fenomena terjadi, supaya ‘cukup’ logis dan ilmiah. Bahkan, Untuk Hal tertentu, bgitu keterlaluannya, sampai kadang logikaku mampus memahaminya. Contohnya kasus dibawah ini :
(1) Masih ingat dengan peringkat negara2 yg paling bahagia di dunia? # domain kalbu kolektif yg terdigitasi, aneh !
(2) KPK menetapkan aspek korupsi didasarkan niat kejahatan? # domain kalbu yg dijustifikasi, olala..
&& kadang, penyederhanaan yg dipaksakan, memberikan solusi yg menyesatkan, dan aku yakin, dua kasus diatas bukan karya orang fisika, haha…

Nah, dengan dukungan teknologi komunikasi, informasi dan komputasi, benar2 mampu menterjemahkan ‘politik’,  menjadi ruang yang karakteristiknya semakin kasat mata. Kalkulasi kesan publik dapat dg mudah dibaca di layar mungil 5 atau 10 inci. Politik saat ini adalah politik yg saintifik, yg eranya sudah didahului oleh pemahaman Fisika Politik, dibumbui oleh Metafisika Politik dan dipoles oleh Patafisika Politik.
&& pinjam Istilah dan pengetahuan dr Yasraf Amir Piliang dlm YAP Institute, betul2 menarik.🙂

Jangan heran, sudah sejak 2002 Fisika Politik dikenal. Untuk anak muda yg baru sedikit faham politik atau sekedar tahu ilmu politik sepenggal-penggal sepertiku, Fisika politik sdh dicetuskan oleh  John Protevi dalam publishnya, Political Physics sebagai sebuah relasi fungsi dari berbagai kekuatan fisik aneka skala mulai dari perorangan, kelompok, partai politik, agama, pengusaha, kekuatan ummat (kelompok Agama), Militer, Teknologi, Bahkan Akademisi sebagai material penyokong pondasi suatu kekuatan politik.
&& Nyinyir dan nyindir, ketika belajar politik sepenggal penggal, wawasannya jadi tersenggal-senggal, dan jadi kacau balau ketika memaksakan diri ikut berkomentar soal politik di media. Namanya juga belajar, yg penting eksis dl.. Hihi
&& melihat pengalaman,banyak akademisi kampus yg gagal di politik, karena paradigma idealisasi keilmuan yg jujur dan ‘menganggap sdh purna’ dibawa dlm politik yg luwes, penuh intriks, dan transaksional (kaget, frustasi atau uforia).

Politik, pada akhirnya selalu disertai mesin perang fisika yang dikerahkan sebagai cara mendapatkan kekuasaan. Fakta2 di setiap gelaran demokrasi dapat kita amati, dan selalu begitu seperti rentetan algoritma panjang bak kode pemrograman, meliputi pengerahan massa, pawai kampanye, money politics, hadiah (kaus, topi, jaket), bantuan sosial (pembangunan jalan, masjid, sekolah).
&& ada ambisi personal yg mungkin tdk merakyat diboncengkan dlm ambisi komunal, lokal, nasional atas nama rakyat. WaspadaLah..waspadalah..!!!

Hukum2 dlm Fisika, selalu kental dengan fenomena alam, karena disarikan dari situ, Tak terkecuali analisa perilaku politik. Hukum Newton selalu menarik dan menjadi sandaran setiap fenomena ‘gerak’, termasuk gerakan politik. Nah lhoo…
&& Newton mungkin sedih, temuannya dimanipulasi, hahaha…

Johanes Surya, sang legenda hidup, Profesor Fisika menuliskan bagaimana seorang Ahok, telah memberikan gaya ‘shock terapy ‘bagi SDM DKI yg berbodi besar (massa besar), untuk tidak berada dlm zona inersia, kemalasan, kelembaman, sesuai dengan Hukum I Newton. Sy setuju, fenomena DKI adalah miniatur fenomena negeri Indonesia, yg terdiri dari 33an propinsi. Dan masalah itu, juga berurat berakar di kultur Indonesia.

Sy merasa tergelitik, ketika ungkapan Newton yg mensinyalir : massa yg diam cenderung tetap diam, itu juga menjelaskan kenapa pejabat yg sudah duduk di kursi empuk, susah untuk melepaskannya. Satu periode tidak cukup, inkumben ikutan lagi.

Atau kalau jabatan itu dimaknai sebagai gerak dinamis, ungkapan Newton :massa yg bergerak cenderung tetap bergerak, bisa menyebabkan seseorang yg malang melintang bergerak dlm dunia birokrasi, menjadi kesusahan ‘power syndrome’ ketika turun jabatan, karena dimaknai akhir dunia, berdiam diri. Perlu ada gaya eksternal, dukungan keluarga menciptakan suasana dinamis. Olala…
&& bacalah alinea diatas Secara psikologis, bukan fisiologis, haha…

Balik ke Yohanes Surya, bahkan dlm perkembangan saat ini, sepertinya bukan hanya SDM birokrat dan politik DKI, bahkan negeri Indonesia, yg terkena imbas gaya eksternal, shock terapy dari fenomena Ahok. Saat ini juga seluruh komponen bangsa, perlu ‘belajar lagi’, lebih pintar lagi menggali nilai2 Pancasila, yg pernah kita pelajari di butir2 Pancasila, yg sdh terlupakan, dan mendalami esensi kemanusiaan dlm kitab suci masing2, tanpa harus mempertentangkannya. Lakum dinukum waliyadin. untukmu agamamu, untukku agamaku.
&& Saat ini banyak yg melupakan, menyalahkan, mempertentangkan, menggugat Pancasila, padahal tidak jelek. Tidak terlalu ke kanan, juga tidak kekiri. Kita tidak hidup sendiri, jadi Balance saja.

Jadi, idealnya boleh bawa agama dalam politik, tapi silahkan dikonsumsi di lingkungan sendiri, dikalangan umat agamanya sendiri. Bukan gunjing dimedia online.. yg ujung2nya SARA, sesuai Hukum III Newton, ada aksi ada reaksi. Kalau sdh berlarut larut, tidak tahu lagi siapa yg memicu aksi. Bagai reaksi inti pada peluruhan zat radioaktif, mentrigger reaksi inti selanjutnya, sampai inti stabil. Kalau SARA dipicu, lamaa stabilnya, dalam lukanya, pedih hatinya. Itu masalahnya. Hadeeehh…

Lanjutan di :
Politik ala Fisika bagian kedua :
Trend Metafisika Dan Patafisika Politik

180416 @11:51
Alifis@Corner

Tentang alifis

penyuka ilmu, baik yang remah2 atau terkuantisasi. penikmat hidup dalam aliran harmoni dan ketenangan.... penikmat tantangan dalam dinamisasi dan idealisasi....
Pos ini dipublikasikan di aQ berPole-MIX dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s