Politik ala FISIKA (bagian dua)


Bagian 2 :
Oportunis Fisika & Politik Oportunis

Percaya atau tidak, seorang fisikawan adalah seorang ‘oportunis’ dan memiliki watak semut hitam, yg berfalsafah “hari ini untuk hari ini”, seperti sebagian besar poliikus di negeri ini. Hadeeh… kejamnya,😦
image

“Eureka…eureka..!!!”, teriak Archimedes seperti orang kesurupan menghambur keluar dr kamar mandi, menuju istana raja, tanpa menyadari dirinya masih telanjang.

Dari bak mandinya yg penuh dg air, Archimedes menemukan ‘potongan’ pola keteraturan alam. Dia mendapatkan solusi untuk menguji keaslian mahkota Raja Hiero II. Apa hubungan air di bak mandi, tubuh Archimedes dan mahkota raja yg terbuat dari emas?

Archimedes memberitahu kita, cara untuk menjadi seorang oportunis. Hanya seorang oportunis yg mampu melihat peluang utk suatu terobosan atau melihat keterkaitan antara satu gejala alamiah dg gejala alamiah lain, meskipun tampak saling terpisah. Manfaatnya saat ini? berlayar dg kapal, piranti pengapung, pesawat terbang dll. Oportunis lainnya dalam sejarah fisika, diantaranya adalah Niels Bohr. Bohr memperlihatkan hubungan spektroskopi dg teori atom, yg saat ini luas aplikasinya, yaitu laser.

Kesemuanya itu sesungguhnya mmpertontonkan watak mendasar ilmu  fisika yaitu mengambil posisi diametral terhadap falsafah semut hitam, yakni “hari ini untuk hari ini”, sehingga ilmu fisika meninggalkan jauh ilmu2 lainnya, dalam imajinasi dan cakupan objek materialnya. Pada gilirannya, konsep2 yg dibangun dm ilmu fisika memberi inspirasi bagi perkembangan ilmu lain. Contohnya:  aljabar operator, teori distribusi, geometri tak komutatif dan grup kuantum, pada ilmu matematika.

Apakah oportunis di dunia fisika selalu baik seperti itu? Mungkin ada yg tidak, atau mungkin sy yg tidak tahu, atau dg menutup mata dan telinga, sy tidak mau tahu. Hidup di jaman ini memang aneh, alurnya kadang aneh, dan apakah kita semua jadi saling ‘aneh’?…
Diam mungkin ‘aneh’, tapi kadang itu jadi sebuah pilihan yg menenangkan.

Apakah politik di negeri ini tidak oportunis? Sangat lekat, lengket susah terlepas, bagai lem alteco!!!

“Proses transisi politik dari otoriter menuju demokratis saat ini masih terperangkap dalam sistem oligarki. Itu terjadi baik di lingkungan partai politik maupun di lembaga-lembaga politik, terutama parlemen mulai tingkat pusat hingga daerah”.

Lebih lanjut, Benny menulis, “Politik oligarki telah menghasilkan aturan UU Pemilu yang didasarkan pada kompromi-kom promi politik yang nyaris bersifat ‘oportunis’. Kebijakan politik yang demikian pada akhirnya hanya akan menghasilkan elite politik baru yang kepeduliannya diragukan untuk memihak kepentingan rakyat banyak”.

Hadeeh…
Jadi, apakah anda ragu2 setiap habis pemilu, pilkada karena merasa tidak akan menghasilkan perubahan terhadap mutu politik legislatif, eksekutif  secara luas? 

“Arti dari semua ini ialah bahwa kita masih menunggu sekian waktu untuk `bersabar’ dan lebih tahan terhadap penderitaan yang berkepanjangan akibat elite politik yang tidak pro rakyat”.

Bisa jadi politik uang memang tidak terlalu tampak dalam modus-modus lama. Namun jika kita melihat begitu besar anggaran yang harus dikeluarkan seorang caleg untuk dipilih sebagai anggota dewan, atau capim partai daftar di partainya untuk jadi Ketua Umum? bayangkan kekuatan politik seorang ‘ketua umum’, yg daftar calon saja musti bayar 1 Milyar.  Itu berarti kita sedang menonton pertunjukan lain bagaimana politik di Indonesia begitu dekat dengan aroma uang.

Demikian juga di semua lini birokrasi, untuk menduduki jabatan tertentu mungkin ada ongkosnya, sehingga ketika sdh duduk akhirnya tidak amanah, yg difikirkan mengembalikan modal, bahkan mencari keuntungan sebanyak2nya mumpung mash menjabat.

Silahkan baca, komen dr diskusi bebas tentang demokrasi dan sistem negeri ini, group medsos yg penulis ikuti:
“Pengalaman faktual buat sharing aja; aku bolak balik bikin PT mulai urusan SITU/HO, SIUP, TDP gak akan beres kalau gak Nyuap. Ini urusan PT lokal aja. Aku bikin SIM, anak2ku dah pada gede bikin SIM juga gak beres kalau gak pakai duit extra. Ngurus sertifikat tanah buat Partnerku orang asing, gak kelar kalau gak ada duitnya buat kepala BPN, bikin PMA juga sama, urusan imigrasi sama pekerja asing, bisa diatur dg duit ke petugas & kepala Imigrasinya, konsul ke pengacara urusan pajak juga sama (pajak jg dijadikan kasus oleh BPK yg dg sok benarnya menganulir surat menteri), urusan ke kejaksaan ujung minta duit operasional, di level BKPM dan Kementerian urus ijin tambang, ijin kehutanan, walhasil setiap paraf & TTD ada duitnya. WTF… Gak ngikutin bisnis gak jalan, gak diikutin pola kayak gini sudah sistemik. Belum lagi kalau diajak-ajak urusan partai, ujung2nya ada dana yg digelontorkan partai untuk ini-itu yg bisa dinikmati, diajak jadi pengurus organisasi massa selain partai …huwweeeek podowae… Kondisi seperti ini yg menyelimuti sendi kehidupan kita. Makanya, gak mungkin berharap perubahan dari orang di dalam sistem yg koyak begini. Fenomena Daffa di Jateng adalah simbol   kemurnian sikap yg berani menyatakan kebenaran. Buat orang dewasa, seperti saya rada aneh, tapi senyum juga bahwa cocah ini benar. Siapa yg gak pernah Naik motor di atas trotoar di grup ini angkat jempol… Jempol nya diisap aja kayak bayi balita”.

Hehe, kita semua pernah mendengarnya. Tapi ketika mmbaca kenyataan saat ini, sy juga jd merinding disko. Inilah ‘kebiasaan’ yg saat ini jadi semakin kultural mewarnai setiap lini khidupan.

Mereka yang memiliki dana besar bisa melakukan apa saja untuk merebut simpati rakyat, dan sebaliknya. Arti yang lain, simpati rakyat tumbuh akibat citra dan iklan, bukan dari sikap, perilaku, dan tanggung jawab seorang calon wakil rakyat.

Realitas ini menggambarkan betapa mudahnya uang memanipulasi sebuah kebenaran. Di situlah kita melihat peranan para calo. Tidak hanya calo politik, tetapi juga calo media massa yang mampu menghipnosis publik seolah-olah mereka pantas menjadi pemimpin.

Gejala ini menggambarkan proses transisi demokrasi sebagaimana dikatakan Schmitter, terlalu banyak orang yang berkeinginan menjadi pencari keuntungan dari ketidakpastian era transisi. Mereka sekarang sangat banyak kita jumpai di publik dengan berbagai kedok, sok reformis, sok mengkritik, dan provokatif. Di balik itu semua, ujung-ujungnya rakyat dijadikan objek pelengkap penderita dalam berbagai permainan politik

Fenomena Fisika Kuantum bilang: “tidak ada yang kejadian yang pasti, segala sesuatu bisa terjadi (ada probabilitasnya)”.

Kalau ada yg berpendapat, “Negeri kita Indonesia, saat ini seperti organisasi yang kacau, penuh ketidakpastian; hukum ga jelas : maling ketela dihukum berat, koruptor dibebaskan; penanganan seseorang yg dianggap melawan hukum padahal belum terbukti ‘sungguh’ keterlaluan dianiaya sampai mati; pejabat negara tindakan, ucapannya semakin menyakiti hati rakyatnya, dll…”, ya karena sedang mengalami fenomena Kuantum ini.  Dan rakyat merasa tidak nyaman karena tidak ada kepastian akan masa depan organisasi ini.

Rakyat tetaplah rakyat yang tidak punya kedaulatannya, tetap termarjinalisasi dari akses-akses politik dan ekonomi. Itu semua terjadi karena kultur politik kita masih kultur centeng, sok priyayi meski karbitan. Itulah yang menguasai sendi-sendi kehidupan politik kita. Disadari atau tidak, kita ini sebenarnya dikuasai para calo politik, bukan negarawan.

Benang merahnya disini adalah, pada Teori Ketidakpastian Heidenberg. “Mustahil untuk bisa mengukur secara tepat posisi sekaligus momentum partikel yang bergerak. Apabila posisinya diketahui, maka momentumnya tidak akurat. Sebaliknya jika momentumnya diketahui, maka posisinya lah yang tidak akurat”. Jadi yg dibutuhkan adalah sebuah Kepastian !.

Dibutuhkan team work dan pemimpin yang tegas, punya visi kuat/jelas dan banyak kerja (workaholic) untuk mengatasi suasana kacau (chaos) ini. Seorang yg memiliki karakter ‘Strong Leader’! (jangan dibaca arogan dan diktator). Bagaimana Putin melepaskan Rusia dari kekacauan ekonomi dan politik serta bangkit dari keterpurukan adalah contoh fenomena ini.

Fisikawan Perancis Pierre Simon Laplace berteori bahwa tidak mustahil mengetahui keadaan akan datang jika semua gaya, posisi, dan momentum suatu benda/ bisa diketahui.

Nah loo, mari semua pihak memahami, mempelajari politik dengan baik, diterapkan dengan baik, sesuai kaidah, etika dan norma hukum yg lurus sesuai demokrasi Pancasila.

Sy sll berimajinasi dg demokrasi pancasila, smuanya menyandarkan perilaku dg spiritualitas imannya, sila 1; sehingga saling memuliakan ‘manusia’, sila 2; guyup rukun agawe sentosa,walau beda2, sila 3; regenerasi yg adem tentrem, sila 4; dan semuanya bahagia, yg jd buruh, petani, guru, ustadz, pengusaha, karyawan, pemimpin publik, sampai presiden.  Seperti acara “dari desa ke desa”,  TVRI jaman dahulu…

Tapi kalo itu tdk ‘nyata’ berarti pencitraan sdh dr jaman dahulu.. dan imajinasi sy hanya sekedar ilusii..

Alifis@corner
080516 17:07
Penfui minggu, sore hari

Referensi :
Benny Susetyo : Politik oportunis
MF Rosyid, dkk:  Arah dan Strategi Pengembangan Riset Fisika di Indonesia
Yohanes Surya, Organisasi dan Fisika

rencana tulisan ga penting selanjutnya :
Politik ala Fisika (bagian tiga)
Dialektika Sains Fisika dan Politik

Tentang alifis

penyuka ilmu, baik yang remah2 atau terkuantisasi. penikmat hidup dalam aliran harmoni dan ketenangan.... penikmat tantangan dalam dinamisasi dan idealisasi....
Pos ini dipublikasikan di aQ berPole-MIX dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s