AWAL SYAWAL 1437 H DIPERSATUKAN OLEH REALITAS ALAM


KONJUNGSI yang menandai akhir siklus lunasi Ramadan 1437 H/2016 M terjadi pada Senin 4 Juli 2016 pukul 18:02:09 WIB, bertepatan dengan 29 Ramadan 1437 H. Atas dasar inilah Kementerian Agama RI akan menggelar sidang itsbat (penetapan) awal Syawal 1437 H pada petang hari tersebut bersama sejumlah ormas Islam, para pakar astronomi maupun ilmuwan lain dari lembaga semisal LAPAN dan BMKG, serta sejumlah perwakilan negara sahabat.
Konfigurasi Matahari–Bumi–Bulan pada saat konjungsi terjadi membuat Bulan yang saat itu berada di rasi Gemini terbenam lebih dahulu daripada Matahari di seluruh kawasan Indonesia. Hal ini berimplikasi pada ketidakmungkinan me-rukyathilal yang dilakukan pula pada petang hari tersebut. Dengan kondisi seperti ini, pascaterbenamnya Matahari, penanggalan Hijriyah akan berlanjut ke tanggal 30 Ramadan 1437 H. Artinya, bulan Ramadan tahun ini akan berjumlah 30 hari, sehingga umat Islam Indonesia masih akan menjalani ibadah puasa pada Selasa 5 Juli 2016.

Mengingat jumlah hari dalam kalendar Hijriyah tidak mungkin kurang dari 29 hari dan tidak mungkin pula lebih dari 30 hari, maka dapat dipastikan hari Rabu 6 Juli 2016 bersesuaian dengan tanggal 1 Syawal 1437 H (yang dimulai sejak terbenamnya Matahari pada Selasa 5 Juli 2016/30 Ramadan 1437 H).

Kegiatan me-rukyathilal pada petang hari Selasa 5 Juli 2016 tidak lagi dalam posisi yang krusial, namun demikian tetap dapat digunakan untuk berlatih mengamati sosok hilal bagi para pelaku pemula sekaligus mengumpulkan data observasi untuk memperkaya pangkalan data hilal berkenaan dengan kondisi hilal yang relatif mudah untuk diamati (Bulan berumur ± 1 hari sejak konjungsi). Data yang berhasil dikompilasi akan sangat membantu dalam menyempurnakan kriteria visibilitas/kenampakan hilal yang lebih baik.

Berikut ini disajikan kurva visibilitas hilal awal Syawal 1437 H pada Selasa 5 Juli 2016 untuk 2 kota, yaitu Biak di Papua (mewakili kawasan timur Indonesia) dan Lhok Nga di Nanggroe Aceh Darussalam (mewakili kawasan barat Indonesia).

image

image

Secara geografis, kawasan yang terletak lebih barat akan lebih diuntungkan, karena akan menjumpai Bulan dalam umur yang relatif lebih tua daripada kawasan di sebelah timurnya.Umur Bulan yang lebih tua pascakonjungsi berarti hilal dengan ukuran sabit yang lebih tebal dan lebih besar pula jarak sudutnya (elongasi) dari Matahari; dua parameter fisik yang membantu hilal untuk dapat diamati dengan mudah.

Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1437 H. Semoga amal Ramadan kita diterima olehNYA dan kita pun berhasil menjadi figur yang konsisten dengan bimbingan-Nya dalam meneladankan nilai luhur Ramadan sepanjang 11 bulan ke depan.Taqobbalallaahu minna wa minkum.

sumber : http://berita.upi.edu/?p=9768, oleh Judhistira Aria Utama

Tentang alifis

penyuka ilmu, baik yang remah2 atau terkuantisasi. penikmat hidup dalam aliran harmoni dan ketenangan.... penikmat tantangan dalam dinamisasi dan idealisasi....
Pos ini dipublikasikan di Sains Alam Semesta dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s