Pokemon Go : menuju pendekatan sosial, bagi Game Boy?


“Kids play inside their homes now, and a lot had forgotten about catching insect” (Tajiri, Pokemon Designer, 1999)


Kukayuh speda sambil pegang smartphone mi4i diikuti Ata, anakku dg sepedanya dibelakang. Pagi tadi, sambil bersepeda kami berdua asyik berburu Monster kecil, dg Pokemon Go disekeliling sawah dan pemukiman dekat rumah Erlangga, Pasuruan.

Percaya atau tidak, jarak tempuh sepeda kami cukup jauh, yg secara normal biasanya kami hanya 1-2 kilometer, pagi ini, bisa 10an lebih km. Berkeringat tentu, tapi nilai lebih lagi adalah jadi lebih mengenal lingkungan, bangunan2 publik, dan jalan2 yg selama ini tidak pernah dilewati. hehehe…

Apa sih menariknya? kok jutaan orang di seluruh belahan dunia begitu menggandrungi game ini, booming !!!  sampai menimbulkan pro kontra, sampai setingkat kementerian bahkan negara cawe2…? 
Mana sy tahu sebelumnya, 3 km dekat rumah ada SMP 7, yg didalamnya ada mushola megah? maklum mudikpun setahun sekali. Saat kami bergerak sesuai panduan GPS ke lokasi pokedot, ternyata yg tertuju adalah bangunan mushola di dalam sekolah tersebut. hehe…tentunya, kami tdk lanjut karena saat itu ramai anak2 sekolah sedang masuk gerbang, dan pak Satpam mengatur aktivitas kerumunan sepeda. Disini peran sy sbg ayah tuk memberi pemahaman etika di dalam mencapai tujuan.

Demikian, beralihlah kami ke lokasi yg lain. Yang unik, sekian banyak pokedot yg kami jumpai adalah mushola dan masjid. maklum lokasi2 publik yg banyak tersebar di perkampungan, dan Pasuruan identik dg seribu masjid/mushola…

Bagaimana Ortu menyikapi ?

Silahkan menganalisis sesuai kompetensi masing2, yg sampai tataran politik spiritualitas? Apakah bermain Pokemon berarti sy Yahudi? membocorkan rahasia negara, karena pemetaan real time? menjerumuskan anak dlm tindakan ekstrim?

Harusnya tidak membabi buta menyikapilah !!! apalagi kalau blm mencoba dan merasakan sendiri trus melarang / menjustifikasi ini itu, bgini bgitu pada anak. Mending, pd anak sendiri, bgaimana kalo share ke semua yg ditemui baik di lingkungan atau media sosial. Jadi bijak itu tidak susah !!! Kalau mau mencoba dan kira2 berkelana seperti apa yg dimau… akan lebih menarik, dibicarakan dg anak2.. ya nggak,😀

Ketika Satoshi Tajiri menciptakan Pokémon di 1996, dia ingin menangkao pengalamannya di masa kecil berlarian melintasi persawahan dan sungai di kotanya, untuk mengumpulkan serangga.  

Inilah yg Tajiri maksudkan dg kalimat diawa tulisan. Anak2 sekarang lebih banyak berdiam diri di kamar, duduk2 di rumah, tenggelam dengan gadgetnya. Jauh berkurang aktivitas fisiknya dibanding masa kecil sy dl. 

Fenomena ini, sangat umum dilihat dan dirasakan oleh orangtua. Sy sendiri, ada kekuatiran sbg ortu, anak2 sekarang kalau tidak kita fahamkan, akan memenjarakan ‘diri sendiri’ dalam imajinasi tanpa interaksi fisik. Kenapa ketika ada Augmented Reality seperti Pokemon, ortu yg membabi buta. 

Ini yg sy dan Ata, rasakan. Ada aspek petualangan, olahraga olah fisik, dan tentunya menambah wawasan lokal kedaerahan, serta keakraban ayah dan anak..hehe. Dan aneh, skaligus gembira, ketika anak2 pagi2 sdh ajak ayahnya, “yuuk keliling pagi, bersepeda yah..”. Atau si sulung, bolang antusias pd tantenya, “Aik ikut belanja ya..”, demi keluar rumah siapa tahu menjumpai monster di jalanan, haha…

Kata mereka, positif

Pokemon GO bukan sekadar permainan yang dimainkan di sofa atau kasur. Game ini membuat para penggunanya ke luar rumah, jalan, gunung, ataupun alam liar demi menangkap seekor Pokemon. 

Clinic Compare, lembaga kesehatan swasta di Inggris, meneliti fenomenaPokemon GO dan kaitannya dengan pengurangan berat badan. Hasil penelitian lembaga tersebut menyatakan menangkap 60 Pokemon setiap hari selama lima-enam hari bisa mengurangi berat badan sekitar 500 gram. 

Atau bisa juga menangkap seratus Pokemon dalam tiga-empat hari untuk dapat mengurangi berat badan dalam jumlah yang sama.
Anies Baswedan dlm Tempo.co (17/7/2016) berkomentar, “Permainan ini di satu sisi memberi kesempatan anak untuk bermain dan bergerak. Tapi, di sisi lain, jika pergerakannya tidak terkontrol, bisa membahayakan. Mirip dengan kebiasaan bermain layang-layang pada zamannya yang berakhir dengan mengejar layangan putus, yg lupa, tdk mmperhatikan jalanan, sepeda motor, ada kendaraan, akhirnya tertabrak”.

Meski tidak dilarang, Anies mengimbau para pelajar bisa mengatur waktu bermain. “Jadi intinya adalah permainan apa pun ada dosisnya. Intinya, atur waktu.” Selain itu, orang tua diharapkan berperan sebagai alarm untuk mengingatkan anak jika bermain berlebihan.

Tania Dobbs, ibunda Tom Currie sang pemburu pokemon, mengatakan, “Neneknya dan saya tidak mengerti permainan tapi saya ingat Tom sangat mencintai game di masa kecilnya. Saya senang dia keluar menikmati hidup dan melihat begitu banyak kawasan. Saya dukung dia 100 persen.”

Be POSTIVE… !!!

alifis@corner, 22 Juli 2016

link artikel latar :

https://overland.org.au/2016/07/pokemon-go-and-the-politics-of-digital-gaming-in-public/

Tentang alifis

penyuka ilmu, baik yang remah2 atau terkuantisasi. penikmat hidup dalam aliran harmoni dan ketenangan.... penikmat tantangan dalam dinamisasi dan idealisasi....
Pos ini dipublikasikan di aQ berPole-MIX dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Pokemon Go : menuju pendekatan sosial, bagi Game Boy?

  1. alifis berkata:

    asyiikk….maen bareng2 donk

  2. Aleeyaa berkata:

    Yang repot kalau da bapak or ibu2 ikut demam pokemon go jugaaa….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s