​MUKIDI, Si Saksi Ahli


Dihari itu, MUKIDI si ‘Tokoh Viral’, menjadi saksi ahli ‘TELEROLOGI’ pd persidangan di balai kampung SIANGIDA, yg saat ini diliputi misteri karena adanya peristiwa secangkir ‘WEDANG KOPI’  yg memabukkan. Warga diyakinkan oleh MUKIYO, aparat setempat bahwa MUKIDI punya ilmu dan pengalaman ttg mabuk, dari yg mabuk POLOSAN sampai mabuk OPLOSAN. Ilmunya Ngeri-Ngeri Sedaap, pokoknya..🙂

Karena dipanggil sbg ahli maka MUKIDI merasa dituntut sangat menguasai bidangnya, shg mempersiapkan argumennya sebaik dan seilmiah mungkin. Maka dibuatlah analisa detail ‘KRONOLOGI WAKTU’ transformasi  Wedang Kopi yg semula PAHIT GURIH NIKMAT menjadi GETIR SUMIR di JIDAT. Untuk mengolah data, jurus model dan simulasi kurva kuadratik dan simpangan baku yg pernah dipelajarinya, dikeluarkan…Ciaattt..!!!

Warga kampung Siangida, terdiam menyimak penjelasan MUKIDI, sambil berkerut-kerut keningnya, sbg reaksi entah faham atau sama sekali tidak nyambung. Tapi begitu MUKIYO tepuk tangan, bgemuruhlah tepuk tangan menyusul membahana. “Plok..plok.. plak..plak… ketoplak, toprak..!!!”. Warga saling lempar senyum, berpandangan, dan saling berguman lirih, “tadi tepuk tangan untuk apa yaa..?” Hadeeh…!!!

MUKIDI merasa lega dan suksess..!!! misi selesai. Dia juga tdk mau berspekulasi ttg nilai2 kebenaran, apakah analisanya mampu memberikan pencerahan atas kegelapan tak berujung, atau justru menjerumuskan dlm opini yg subjektif.

Beberapa hari setelahnya, terdengar kasak kusuk dr segerombolan anak muda kampung Siangida, sebutlah diantaranya MUKIBAS, MUKIJAN, MUKIRAN dan MUKIMAN yg ternyata penggemar intens sidang live di TV yg mendakwa, menuduh Jessica sbg pelaku penabur  Sianida dlm kopi Vietnam.

Berkaca dr kasus Jessica, anak2 muda ini meragukan analisa MUKIDI, yg telah sah dipanggil saksi ahli, bahkan mulai menggugat keilmiahan analisanya.

“Lucu nih, lah model simpangan atau bias yang digunakan kok rumus simpangan baku standar anak-anak SMA?”, celetuk MUKIBAS.

“Setuju Bas, itu rumus ABC yg dipake juga khan sudah usang, ga akurat, lah kok masih dipake?”, timpal MUKIJAN.

“Apakah valid, model kuadratik yang dibuat dan di simulasikan menggunakan data yang sangat terbatas? Bagaimana dg waktu acuan, yg dari beberapa warga tidak cocok?”, sambung MUKIRAN.

“Diukur tdk suhu ruangan saat kejadian dan setelahnya? Belum lagi variable-variabel lainnya yang berpengaruh terhadap output dari model yang disimulasikan, misalnya: pengaruh waktu wedang kopi terhadap udara bebas, bla..bla”, ucap MUKIMAN menggelora.
Seliweran komentar anak2 muda ini, yg disuarakan dg penuh semangat, jd bentuk kritisi yg positif sebenarnya. Tapi sayang, hanya diomongkan di lopo2 nongkrong warung kopi ! Bahkan saking jengkelnya, si MUKIMAKI, nyeletuk,” hmm..hmm..sok ilmiah padahal koplak ..hehehehe..!”. 

Wahh..wahh..kalau ini, sdh keterlaluan anak2 muda, hahaiii…! Hargai dong seorang saksi ahli.

Tapi biarlah, semua akan berlalu… bgitu kepasrahan ala Indonesia. Atau dlm kasus Jessica, jadi optimisme yg berlebih2an, semacam penggiringan opini murahan. 
Biarlah, wong MUKIDI juga tdk peduli lagi dg ocehan anak2 muda yg sok pintar, karena saat ini beliau lg menikmati statusnya sbg saksi ahli, MUKIDI jadi viral… hehehe.
Eee, dasar MUKIDI, si Viral faktor, hehe… 
alifis@corner

280816 : 06:59

Tentang alifis

penyuka ilmu, baik yang remah2 atau terkuantisasi. penikmat hidup dalam aliran harmoni dan ketenangan.... penikmat tantangan dalam dinamisasi dan idealisasi....
Pos ini dipublikasikan di aQ berPole-MIX dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s