#Mudik2017 : Masjid Cheng Ho, Jejak Thionghoa Muslim di Surabaya


17 Juni 2017 kemarin,  kami ngikut Yangti (panggilan neneknya anak2) yg menjemput Aunti Nindya yg landing jam 17.00 sore di juanda sepulang dr Ambon. Berangkat jam 10. 05 pagi kami melaju dr rumah di kota Pasuruan. Sengaja berangkat awal,  krn kami hendak melihat 2 lokasi wisata ruhani atau kental dg peribadatan. 

Tidak bermaksud SARA,  ketika yg kami tuju adalah saudara sesama anak bangsa di NKRI yg beretnis Thionghoa/Cina, Masjid Cheng Ho di Genteng dan Sanggar Agung di Kenjeran, Surabaya. Tidak juga membuat opini akan polemik di medsos, apakah agama itu warisan? karena sdh jelas dan terang benderang,  agama adalah cahaya kalbu kebenaran yg disinergikan  dg akal fikiran. 

Seperti yg sdh diduga,  perjalanan di luar/pinggiran Surabaya sll lancar, berkebalikan saat di dalam kota.  Sll menghadirkan uji kesabaran setiap terjebak dlm kemacetan, di belahan bumi surabaya yg sdh jauh lebih bermartabat,  rapi,  indah dan teratur. 

Tulisan ini,  khusus mengupas Masjid Cheng Ho,  sementara Utk Sangar Agung Klenteng Budha di Kenjeran, dikelas di tulisan berikutnya. Sdh banyak yg menuliskan keunikan Masjid yg terlihat seperti Klenteng ini.  Salah satunya detik travel yg sebagian sy kutip disini. 

Masjid Cheng Ho

Takjub dan mengagumkan.  Itu kata yg bs terucap,  padahal sdh kedua kalinya sy kemari. Merah,  kuning dan hijau membalut bangunan yang terlihat seperti klenteng (lihat foto diatas, pic by the jazz). Siapa sangka, bangunan ini adalah masjid. Masjid Cheng Ho, paduan unik dari China, Timur Tengah dan Jawa di Surabaya. 

Pengambilan nama Cheng Hoo ini sebagai bentuk rasa syukur dan penghormatan segenap muslim di Surabaya dan Indonesia, terhadap Laksamana, bahariawan asal China beragama Islam. Selama perjalanannya di kawasan Asia Tenggara, Cheng Ho tidak hanya berdagang dan menjalin persahabatan, tapi juga menyebarkan agama Islam di Indonesia.

Masjid yang bernama lengkap Masjid Muhammad Cheng Hoo ini berdiri di atas lahan seluas 21×11 m2 dan luas bangunan utama 11×9 m2. Masjid yang didominasi warna merah, kuning, hijau dengan ornamen bernuansa Tiongkok lama ini memiliki 8 sisi di bagian atas bangunan utama.

Ketiga ukuran dan angka ada maknanya yakni, angka 11 adalah ukuran Ka’bah saat baru dibangun. Sedangkan angka 9 melambangkan Walisongo. Sedangkan 8 artinya melambangkan Pat Kwa (dalam bahasa Tionghoa artinya keberuntungan atau kejayaan). Masjid Cheng Hoo ini mampu menampung sekitar 200 jamaah.

“Perpaduan gaya Tiongkok dan Arab ini memang menjadi ciri khas Masjid Cheng Hoo. Arsitektur Masjid Cheng Hoo diilhami Masjid Niu Jie di Beijing. Masjid Cheng Hoo juga tidak melepaskan nuansa Timur Tengah seperti pintu utama masjid, serta bergaya Jawa seperti tembok yang susunan batu batanya terlihat. 

Di sisi utara Masjid Cheng Hoo terdapat relief dan replika kapal dan wajah Laksamana Cheng Ho. Di lokasi ini, juga sering menjadi tempat foto para wisatawan.
Relief dan replika kapal dan Cheng Hoo bertujuan untuk menunjukkan bahwa Muhammad Cheng Hoo adalah pelaut, muslim dari Tionghoa yang taat, saleh dan utusan perdamaian yang terpuji.

Masjid Cheng Hoo didirikan atas prakarsa para sesepuh, penasehat dan pengurus PITI (Pembina Iman Tauhid Islam). Selain itu, pengurus Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia Jawa Timur dan tokoh masyarakat Tionghoa di Surabaya juga diturutsertakan.

Peletakan batu pertama pada 15 Oktober 2001 bertepatan dengan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Pembangunan masjid selesai pada 13 Oktober 2002. Kemudian diresmikan oleh Menteri Agama RI Prof Dr H Said Agil Husein Al Munawar pada 28 Mei 2003.

Masjid Cheng Hoo juga banyak dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah di Jawa Timur dan Indonesia. Ada yang dari Makassar, Jawa Barat, Jakarta dan berbagai daerah lainnya. Banyak juga wisatawan dari mancanegara baik yang muslim maupun non muslim. Ada dari Malaysia, Arab Saudi, China, selandia Baru, Inggris, Afrika dan lainnya. Kunjungan wisatawan baik dari nusantara maupun mancanegara rata-rata sebulan bisa mencapai 1.500 sampai 2.000 orang. 

Tentu saja, wisatawan mancanegara baik yang muslim maupun non muslim terkagum-kagum dengan Masjid Cheng Hoo,  sekaligus mengakui keberagaman budaya di Indonesia. Termasuk bangunan Masjid Cheng Hoo.

Di area masjid Cheng Hoo ini juga terdapat prasasti tiga bahasa, Indonesia, Mandarin dan Inggris, yang menjelaskan sejarah Laksamana Cheng Hoo di gedung kantor Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo dan Pembina Iman Tauhid Islam (PITI) di depan sisi selatan Masjid Cheng Hoo.

Kebetulan,  saat kami berkunjung, sdg diset di pelataran depan panggung buka puasa bersama Konsulat Jenderal Tionghoa bersama 500 anak Yatim. Smoga kebaikan RRT di Cheng Ho Indonesia diikuti dg sikap politiknya thdp warganya yg muslim.  Smoga… Aamiin. 
alifis@corner 170617 Erlangga,Pasuruan

Iklan

Tentang alifis

penyuka ilmu, baik yang remah2 atau terkuantisasi. penikmat hidup dalam aliran harmoni dan ketenangan.... penikmat tantangan dalam dinamisasi dan idealisasi....
Pos ini dipublikasikan di Relief Kehidupan dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke #Mudik2017 : Masjid Cheng Ho, Jejak Thionghoa Muslim di Surabaya

  1. Firman's Blog berkata:

    keren ulasannya….dari surabaya juga sy asli tp tdk pernh mngulasnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s