​#Mudik2017 : Sungkem Bapak Emak…


Begitu berharganya waktu mudik, shg menemani ngobrol Pake / Make menjelang dan sesudah sholat berjamaah,  atau saat aktivitas ringan beliau2 aq bs ikut nimbrung dengarkan cerita kisah2 hidup dg suka sukanya, menjadi sangat istimewa. 

Puncak dr substansi mudik adalah sungkeman. momennya adalah setelah sholat Id, dan saat kluarga besar berkumpul.  Orang tua dlm hal ini Bapak Emak duduk di sofa dan anak2 beserta cucunya secara berurutan akan sungkem, duduk ngobrol,  menghaturkan hormat dan memohon maaf atas sgala salah dan khilaf anak selama ini. 

Singkatnya dlm bahasa jawa, bilang “Pake/Make ngaturaken sedoyo kalepatan kulo”.   “Bapak/Ibu mohon maaf atas sgala kesalahan ananda”.  setelahnya,  Pake Make akan menerima maaf anaknya,  dan juga meminta maaf jika ada salah serta mendoakan anak2 sukses di masa depan,  hidup bahagia dunia akhirat. 

Demikian jg,  anak2ku Aik,  Ata dan Azka selanjutnya jg sungkem ke Ortunya yaitu aq sbg Ayah dan istriku sebagai Ibunya. selanjutnya seluruh keluarga besar Anak2 dan cucu  Pake dan Make. 
Selesai bermaafan dilanjut dikeluarga besar Nenek Kakek sekampung dg berjalan kaki bersama… 
Istilah sungkem /sungkeman hanya dikenal di kultur Jawa. Bentuk lain bs dg salam2an dan berjabat tangan. Sungkeman lebaran adl mediasi eksistensial ortu dan anak2nya, harmonisasi dr nilai-nilai luhur penyadaran diri,  penghormatan, kerendahan hati,  wujud ucapan trimaksih, rasa sesal dan permohonan maaf seorang anak dlm dekapan orangtua.. seperti saat masa kecil. 

Sejarah Sungkeman dan maknanya

Seperti kita telah ketahui Indonesia adalah negara yang unik, tidak hanya kaya akan panorama alam memukau, budaya masyarakatnya pun sangat luhur. Kembali mengenai sungkeman, sungkem memiliki arti bersimpuh atau duduk berjongkok sambil mencium tangan orang yang lebih tua, biasanya adalah orangtua kita.

Di Indonesia sendiri tradisi sungkeman telah dilakukan secara turun-temurun sejak entah berapa tahun yang lalu. Khususnya di masyarakat suku Jawa, sungkeman tercatat telah dilakukan pada masa pemerintahan KGPAA, Sri Mangkunegara I, di mana pada waktu itu beliau bersama prajuritnya berkumpul bersama dan saling bermaafan saaat merayakan hari raya Idulfitri. Bahkan, pada tahun 1930, saat terjadi prosesi sungkeman di gedung Habipraya, Belanda nyaris saja menangkap Ir. Soekarno dan dr. Radjiman Widyodiningrat yang waktu itu menjabat sebagai dokter pribadi Sri Paku Bowono X, raja keraton Surakarta. (www.kompasiana.com)

Mengingat betapa luhurnya nilai-nilai sungkeman, mari kita cari tahu apa saja makna yang terkandung dari tradisi ini. Dikutip dari beberapa sumber, berikut rangkumannya.

Ritual penyadaran diri

Melalui sungkeman setiap orang diajak untuk menyadari bahwa dirinya bukanlah apa-apa tanpa hadirnya orangtua dalam kehidupannya. Sehingga orangtua wajib diperlakukan secara hormat oleh seluruh anak-anaknya. 

Melatih kerendahan hati

Sungkeman adalah ajakan kebaikan untuk menyadarkan, mendisiplinkan serta menghilangkan sikap ego di dalam diri. Hal ini terlihat dari bagaimana cara seseorang merendahkan tubuhnya dan dengan tulus “menyembah” orang yang telah berjasa dalam hidupnya.

Wujud ucapan rasa terima kasih

Khususnya dalam pernikahan kedua mempelai biasanya akan menjalani ritual sungkeman kepada orangtua kedua belah pihak. Prosesi ini adalah wujud rasa terima kasih dari anak kepada orangtuanya yang telah berjasa melahirkan dan membesarkannya. Selain itu, sungkeman adalah awal bagi anak untuk meminta izin kepada orangtua sebelum memasuki kehidupan berumah tangga serta memohon doa dan restu dari mereka berdua. (Upacara Perkawainan Adat Sunda, Pustaka Sinar Harapan, 1990)

Wujud rasa sesal dan permohonan maaf

Setiap orang tidak luput dari perbuatan salah, bahkan dalam hubungan antara orangtua dan anak hal ini kerap terjadi. Di sinilah nilai luhur sungkeman terbukti ampuh untuk memulihkan kembali hubungan yang telah rusak, di mana rasa sakit hati terobati dan rasa percaya dipulihkan.
Jika digali lebih dalam masih ada banyak nilai-nilai luhur sungkeman yang bisa kita pelajari. Namun, yang terpenting saat ini adalah bagaimana budaya sungkeman mampu dilestarikan sebagai salah satu warisan leluhur yang layak kita banggakan sebagai orang Indonesia.

Iklan

Tentang alifis

penyuka ilmu, baik yang remah2 atau terkuantisasi. penikmat hidup dalam aliran harmoni dan ketenangan.... penikmat tantangan dalam dinamisasi dan idealisasi....
Pos ini dipublikasikan di Remah2ilmu dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s