SUNNATU-LLAAH


SUNNATU-LLAAH .

Secara etimologis , Sunnatu-Llaah berarti: tradisi Allah, hukum Allah, ketentuan Allah.

Sedang , secara terminologis :
Sunnatu-Llaah
adalah himpunan semua ketetapan / ketentuan / peraturan / hukum yang ditetapkan secara pasti oleh Allah SWT :

(1) yang mengikat segala sesuatu yang ada ( wujud , maujud ) di seluruh penjuru alam semesta ciptaan Allaah SWT.
(2) yang mengikuti hukum kausalitas ( sebab-akibat ) tertentu.
(3) yang mengambil : tempat , waktu , sifat , dan ukuran ( dimensi , qadar ) tertentu.

Maqsud / Tujuan Allah SWT menetapkan Sunnatu-Llaah :

[1] Demi keteraturan dan keselarasan ‘alam semesta.
(QS 55 ayat 1-13).

[2] Demi kesejahteraan dan keselamatan manusia ( sebagai mahakarya makhluq ciptaan-Nya ) zhahir & bathin , di dunia & di akhirat.
( QS 2 ayat 147-151 )
( QS 4 ayat 13 )
( QS 5 ayat 6 )
( QS 23 ayat 17-22 ).

Alam semesta ini diciptakan oleh Allah SWT, diperuntukkan bagi manusia (QS 31 ayat 20), untuk diamati & diobservasi (QS 10 ayat 101), agar dieksplorasi & dimanfaatkan bagi kesejahteraan manusia. (QS 23 ayat 17-22).

Manusia, sebagai makhluq berakal, oleh Allah SWT didorong, dianjurkan dan digalakkan agar mengamati, mengobservasi, dan meneliti alam semesta
( QS 2 ayat 164 )
( QS 3 ayat 190 – 191 )
( QS 10 ayat 101 )( QS 88 ayat 17 – 20 ) ,
sedemikian rupa sehingga menimbulkan keyakinan akan Kemahabesaran & Kemahakuasaan Allah SWT
[ QS Ali ‘Imran ayat 191 – 194 ] ,
sekaligus menjadi inspirasi & ilham dalam pemanfaatan & pendayagunaan sumber daya alam demi kesejahteraan & kemakmuran manusia ( QS 31 ayat 20 ) berdasarkan paradigma Tauhidu-Llaah . ( QS 18 ayat 107-108 ) ( QS 21 ayat 107-108 ).

Sunnatu-Llaah , terdiri dari 2 kluster :

(1) Ayat-ayat kauniyah / Al Kaun , yang tersebar di seluruh alam semesta , yang lazim kita sebut Hukum Alam ( Hukum Alam ).

(QS 6 ayat 96)
(QS 31 ayat 29)
(QS 41 ayat 53)
(QS 51 ayat 20-21)
(QS 54 ayat 49)
(QS 55 ayat 5).

(2) Ayat-ayat Qur-aaniyah atau sering kita sebut juga ayat-ayat Qauliyah , yang diwahyukan kepada para Nabi & Rasul
( QS 10 ayat 1 )
( QS 42 ayat 13 )
( QS 45 ayat 18 )

dengan keyakinan bahwa yang murni dan terpelihara sampai akhir zaman , adalah kompilasi wahyu terakhir , yaitu Kitab Suci Al Qur-aan .
( QS 15 Al Hijr ayat 9 ).

Sifat Sunnatu-Llaah :

[1] Pasti / eksak.

( QS 15 Al Hijr ayat 21 )
( QS 25 Al Furqan ayat 2 )
( QS 65 Ath Thalaaq ayat 3 ).

[2] Tetap / tidak berubah.

( QS 6 Al An’aam ayat 115 )
( QS 17 Al Isra’ ayat 77 )
( QS 48 Al Fath ayat 23 ).

[3] Obyektif.

( QS 15 Al Hijr ayat 21 )
( QS 33 Al Ahzab ayat 38 ).

Respon ideal kita terhadap Sunnatu-Llaah di atas :

[1] Terhadap Ayat-ayat Qur-aaniyah :

Membacanya , Mengimaninya , Menafsirkannya , Mengambil hikmah & ‘ibrah , Memahaminya , Menaatinya , Mengamalkannya ,

( QS 2 Al Baqarah ayat 285 )
( QS 3 Ali ‘Imran ayat 7 – 8 )
( QS 103 Al ‘Ashr ayat 1 – 3 )
( QS 57 Al Hadiid ayat 25 ),

sehingga melahirkan ilmu-ilmu keagamaan Islam [ Dirasah Islamiyyah ] dalam perspektif Tauhidu-Llaah.

[2] Terhadap Ayat-ayat Kauniyah :

Melakukan pengamatan ( observasi ) , riset ( penelitian ) , mengambil ‘ibrah , pembelajaran , serta pemikiran inovatif

( QS 10 ayat 101 )
( QS 88 ayat 17 – 20 )
( QS 3 ayat 137 )
( QS 12 ayat 111 ) ,

sehingga lahirlah ilmu pengetahuan alami [ilmu alam], ilmu sosial [ilmu sosial], dan humaniora (humaniora), serta penerapan & pengembangannya dalam wujud teknologi yang aman & ramah lingkungan.

Kelompok Ayat-ayat
Al Qur-aan yang menjadi inspirasi pengembangan Sains & Teknologi :

[1] Ketinggian posisi Ilmu di mata Al Qur-aan :

Kata ‘alima-ya’lamu-‘ilman tertera sebanyak 854 kali di dalam Al Qur-aan.

Allaah SWT meninggikan derajat para ‘ulamaa / ilmuwan .
( QS 58 Al Mujadalah ayat 11 )
( QS 35 Faathir ayat 28 ).

[2] Ayat-ayat yang mendorong dan menggalakkan penggunaan akal & panca indra , pengamatan
(observasi ) & penelitian ( riset ).

( QS 10 Yunus ayat 101 )
( QS 2 Al Baqarah ayat 164 )
( QS 3 Ali ‘Imran ayat 190 – 191 )
( QS 88 Al Ghaasyiyah ayat 17 – 20 ).

[3] Ayat-ayat yang memuliakan dan menghargai para ilmuwan & cendekiawan dengan berbagai sebutan / gelar :

Uluul Albaab ( QS 3 ayat 190 – 194 )
Uluun Nuhaa ( QS 20 ayat 54 )
Uluul Abshaar ( QS 3 ayat 12 )
Ahludz Dzikri ( QS 16 ayat 43 )
‘Ulamaa ( QS 35 ayat 28 )
Ar Raasikhuna fil ‘ilmi ( QS 3 ayat 7 ).

Wa-Llaahu a’lam bish shawaab.

Salam takzim.
Samsoe Basaroedin.

avatar Tidak diketahui

About alifis

Apa adanya ...
Pos ini dipublikasikan di Remah2ilmu dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan komentar