UN 2013 begitu ‘cetar membahana’ seantero nusantara. Mulai dari keterlambatan distribusi, paket soal tercecer kesana kemari, kurang lengkap hingga menimbulkan tertundanya jadwal yang tidak serempak di seluruh provinsi.
Tak terkecuali di kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), sebuah kabupaten yang berjarak 120 km dari Kota Kupang, ibukota di Provinsi NTT. Sampai jam 07.00 malam di hari rabu 15 April 2013, Panitia Kab/Kota, Pengawas satuan pendidikan dari FST Undana, dan yang terhormat, Bapak/Ibu Kepala Sekolah daratan TTS serta didampingi petugas dari kepolisian, berkumpul menunggu keputusan jadi/ tidaknya pelaksanaan UN esok harinya ( hari kamis kemarin, sesuai surat Mendikbud No. 74/MPK/LL/2013. Mengapa saat itu saya lebih menaruh hormat pada Bapak/Ibu Kepala Sekolah ?
Beliau-beliau ini adalah pahlawan yang sebenar-benarnya. Sudah dari hari minggu 14 April sudah berkumpul di kota Soe, dan harus menerima berita pahit ditelan, UN ditunda. Dalam ketidakpastian, tidak mungkin pulang pergi ke sekolah masing2 yang jaraknya bisa ditempuh dengan berangkat pagi sampai sore, sehingga sebagian besar tinggallah di kota Soe. Kenyataan daratan TTS, yang membentang diatas bumi Timor tidak seenak yang dibayangkan orang kota. Pahit betul. Transportasi ke hampir semua daerah begitu parah. Jangankan mobil, sepeda motor bahkan kuda-pun pada daerah-daerah tertentu sulit melaluinya. Masih untung ini musim sudah masuk kemarau, sehingga tidak terhadang banjir, becek dan jalanan licin.
Bermalam dalam keresahan, memikirkan anak didiknya, masa depan generasi bangsa yang juga belum jelas gambarannya, ditambah begitu banyak keterbatasan. Wajar kalau dalam pertemuan di sore harinya, ada protes sana-sini. Tapi sebagian besar, dengan lapang dada mau menunggu dan menunggu dengan berlapang dada, dan walau sudah 4 hari dalam ketidakpastian. Ketika ditanya Koordinator panitia dari Dinas PPO, bagaimana kesiapannya untuk bergerak di malam gelap menuju daerah masing-masing, semua berkata SIAP. Dalam kondisi transportasi yang sangat darurat demi pagi harinya jam 07.30 anak didik bisa mengerjakan soal UN. … ( semua demi anak didik). Yang menuju perbatasan Belu, daerah pesisir selatan seperti Boking, mungkin tidak akan sempat tidur. Luar biasa sekaligus memprihatinkan.
Jam 07 malam lebih, keputusan UN berlangsung esok pagi, dan semua bergerak menyebar ke seluruh daratan TTS, dan paginya sekaligus terdengar justru di Kota Kupang UN tertunda kembali. Ketegaran dan lapangdada Beliau-beliaulah yang mengirimkan semangat positif, bahwa UN jangan tertunda lagi. Aq tidak membahas A-Z prosedur pihak pengambil keputusan, karena dari media TV, internet, atau sudah banyak disiarkan dan bukan wilayah kewenanganq.
Tidak cukup hanya simpati, empati dari semua pihak yang harus dihadirkan dan diimplementasikan dari semangat, kesabaran dan ketulusan hati Baliau-beliau, tetapi harus jadi kerja nyata sehingga UN kedepan (masih ada atau dalam bentuk lain) harus lebih baik lagi, dan tidak membebani semua pihak di daerah.
UN tahun ini begitu kacau balau, tapi semuanya harus mengambil hikmah positifnya. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, itulah ‘kerugian’. Jika hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka ‘Celaka betul’.