CAHAYA

Mengapa masih berkhayal
Tentang masa depan nafsu
yang tak puas2nya mencumbu
Purnama telah penuhkan janji
Harapan bulan suci
Ramadhan sebulat hati
Ridho Cinta Jaminan d Cahaya
Kelak seperti azali
Saat bola matahati tak berkedip
Dan wajah berseri-seri
MemandangNya

By @KHMLuqmanHakim

Iklan
Dipublikasi di Alifis Kata | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Telegram : Jaman OLD dan NOW

Ada rasa dan sensasi yang unik saat berkomunikasi berbasis teks semacam telegram jaman OLD, dimana rangkaian kata kata yang dikirimkan, pastinya difikirkan dan dirasakan yang terbaik, penuh makna dan ‘mahal’. Lain halnya dengan era NOW dalam berkomunikasi berbasis aplikasi media sosial. Bahasanya terhamburan, berserakan yang cenderung kurang bermakna dan jadi ‘murahan’ (alifis@corner).

Kring…Kring TELEGRAM

TE

Itulah gaya Pak Pos disaat itu, saat mengantar telegram. Mendengar kata TELEGRAM, orang orang seumuran sy, generasi yang lahir sekitar tahun 1970 – 1980 tentu ingat betul dengan sarana komunikasi tercepat di jaman OLD tersebut. Satu atau dua hari sampai. Surat yang dikirim berbasis sandi Morse ini hampir identik dengan berita penting, darurat atau rahasia. Atau bisa juga berita yang sebenarnya tidak terlalu gawat tapi jika dikirim lewat surat biasa diperkirakan akan terlambat diterima yang berkepentingan, maka telegramlah solusinya. Maklum, saat itu untuk berkirim kabar melalui surat berperangko normalnya bisa memakan waktu seminggu, dua minggu bahkan satu bulan baru sampai ke alamat tujuan, sementara jaringan telefon masihlah mahal dan langka.

telegram

Telegram menjadi pilihan saat mendesak. Tarif dihitung per huruf dan spasi serta simbol. Dengan tarif huruf Rp.150,-. jika kalimat pesan yang dikirim ada 10 kata berarti tarifnya Rp.1.500 + jumlah spasi dan simbol x Rp.150,-. Jadi kira-2 normal biaya telegram sekitar Rp. 2.000,-. Bandingkan dengan biaya makan saat itu sekitar Rp. 500, sepiring. Agak mahal tapi sangat penting dikala genting.

telegram-cinta2

Saat itu, telegram bahkan mengalami diversifikasi dengan beragam varian. Fungsi telegram sudah tidak lagi melulu berita serius, tetapi justru lebih dekat dengan gaya hidup. Saat itu muncul TELEGRAM INDAH. Di saat sedang boomingnya, telegram indah adalah cara yang cepat dan hemat untuk mengucapkan pesan pesan istimewa, seperti selamat hari raya keagamaan (Idhul Fitri atau Natal). Kita tinggal tunjuk no. desain telegram indah yang disediakan Telkom, kasih alamat yang dituju, bayar, beres. Esok harinya telegram indah sudah diterima yang bersangkutan.

Tetapi seiring berkembangnya era wartel (warung telekomunikasi) yang melayani sambungan telepon , komunikasi cakap cakap secara langsung jarak jauh, maka pamor telegram meredup, tenggelam dan akhirnya terlupakan dengan indahnya.

Ada rasa dan sensasi yang unik saat berkomunikasi berbasis TEKS semacam telegram jaman OLD tersebut, dimana rangkaian kata kata yang dikirimkan, pastinya difikirkan dan dirasakan yang terbaik, penuh makna. Lain halnya dengan era NOW dalam berkomunikasi berbasis aplikasi media sosial. Bahasanya terhamburan, berserak yang cenderung kurang makna.

Generasi Milenial tentu sudah tidak kenal dengan Telegram Jaman OLD. Beda jaman beda gaya. Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi dengan cepat menenggelamkan produk produk yang tidak memenuhi aspek efisien dan efektif. Berkirim kabar dengan surat, berbasis kertas sudah ditinggalkan sejak lama. Era telefon kabel pun saat ini sudah tidak laku lagi. Smartphone sudah sedemikian menyatu dengan gaya hidup generasi di jaman ini. Di manapun, Kapanpun selama masih dalam jangkauan layanan jejaring sinyal, maka arus komunikasi dan data bisa dilakukan secara real time, saat itu juga, tidak perlu menunggu atau menunda waktu.

TELEGRAM Jaman NOW

Aslinya Telegram tidaklah populer di Indonesia, bahkan sampai saat ini. Lain halnya dengan FACEBOOK, LINE, WHATSAPP, TWITTER. Generasi jaman NOW yang menikmati teknologi media sosial pasti tahu dan minimal pernah menggunakannya. Tetapi TELEGRAM? Banyak yang belum tahu

Screenshot_2018-04-18-01-07-12-352_org.telegram.messenger

TELEGRAM jaman NOW, diciptakan oleh kakak beradik Pavel Durov dan Nikolai Durov diluncurkan pada 2013 silam. Durov bersaudara merancang Telegram sebagai layanan terbuka yang bisa digunakan di perangkat Android, iOS, Windows, maupun Ubuntu. Telegram juga bisa diakses melalui versi situs web.

Salah satu ‘jualan’ utama Telegram adalah fitur keamanan yang rapat. Hal ini menjadikannya salah satu layanan pesan instan terenkripsi yang membungkus konten percakapan agar tak bisa diintip– termasuk oleh perusahaan pembesut. Kelebihan inilah yang sempat membuat berang beberapa negara, termasuk Indonesia yang mengindikasikan jaringan terorisme memanfaatkan telegram dalam membangun selnya.

Di atas adalah gambar yang memperlihatkan Telegram yang sy gunakan berbasis mobile di smartphone, sedangkan yang dibawah yang sy install berbasis desktop pada Notebook.

telegramNOW

Seperti Whatsapp, Telegram juga merupakan layanan perpesanan. Lantas apa bedanya? Silahkan simak !

1. Penyimpanan
Telegram berfokus pada kecepatan dan keamanan. Pesan penggunanya di simpan di cloud, sehingga pengguna tak perlu khawatir kehabisan memori di ponsel dan nyaris tak mengonsumsi memori di ponsel pengguna.

Whatsapp menggunakan penyimpanan di ponsel pengguna. Sehingga, tak heran jika pengguna seringkali mendapat peringatan soal memori ponsel yang hampir habis jika pesan Whatsapp sudah terlalu banyak.

2. Tersinkronisasi otomatis
Karena berbasis cloud, pengguna juga bisa mengirim pesan dari berbagai perangkat, baik ponsel, tablet, juga komputer. Pesan akan tersinkronisasi bersamaan di berbagai perangkat ini.

Sementara Whatsapp tak bisa digunakan bersamaan di berbagai platform. Jika pengguna sudah login di satu perangkat, login yang sama tak bisa digunakan di perangkat lainnya.

3. Jenis dan besar file
Pesan yang dikirim lewat Telegram bisa mengirimkan pesan, foto, video, dan berbagai jenis file. Pengguna tak dibatasi untuk mengirim berapa banyak file. Namun, tiap file besarnya 1,5 GB saja. Pengguna bisa memilih untuk tetap menyimpan pesan tersebut di awan atau mengunduhnya ke ponsel mereka.

Sementara Whatsapp hanya bisa mengirim file dengan besar maksimal 100MB. Belakangan, Whatsapp menambahkan jenis file yang didukung untuk berbagi ke sesama pengguna.

4. Anggota grup

Anggota grup yang ada di layanan ini juga bisa sampai 30.000 orang. Bahkan untuk menyampaikan pesan broadcast, Telegram tidak membatasi jumlah orang yang bisa dijangkau. Pengguna bisa menulis pesan berdasarkan kontak telepon. Cara lain, menemukan pengguna berdasarkan username mereka. Telegram juga mendukung replies, mention, dan hashtag untuk membantu kemudahan pengelolaan pembicaraan dalam grup.

Untuk anggota grup, Whatsapp membatasi hanya 256 orang saja dalam satu grup. Belakangan, Whatsapp juga menambahkan dukungan serupa replies dengan fitur quote. Ditambahkan juga fungsi untuk me-mention seseorang. Namun, belum ada dukungan hashtag.

5. Stiker
Telegram juga mendukung pencarian gambar gif animasi, aplikasi pengeditan foto, dan mendukung platform open sticker.

Sementara Whatsapp baru memiliki sebagian dari fitur ini

6. Keamanan dan kerahasiaan

Telegram juga menawarkan berbagai pilihan perpesanan aman dan rahasia. Mereka memiliki fitur chat rahasia dengan fitur pesan, foto, dan video yang bisa hancur dengan sendirinya. Aplikasi ini juga menawarkan passcode tambahan. Sehingga pengguna perlu memasukkan passcode untuk membuka apikasi.

Pengguna juga bisa mengatur agar akun Telegram mereka hilang dengan sendirinya jika pengguna tak login selama beberapa waktu.

Untuk keamanan perpesanan, Telegram juga menggunakan infrastruktu multi-data center dan enkripsi. Sementara Whatsapp dan layanan perpesanan lain kemudian mengikuti jejak Telegram dengan menambahkan fitur end-to-end encription.

Anda Pilih Mana?

Dari jumlah pengguna, memang Telegram kalah jauh dibanding WHATSAPP atau FACEBOOK yang dalam hitungan milyard pengguna. Telegram baru memiliki pengguna sekitar 200 Juta, tetapi dengan segala kelebihan yang dimiliki, terutama keamanan dan kerahasiaannya, akan berpotensi menjadi media nomor wahid. Apalagi ketika lebih dari 1 jutaan pengguna FACEBOOK Indonesia kemngkinan bocor data pribadinya, PRIVASI ssudah menjadi barang mahal di jaman NOW. Tetapi, memilih untuk meninggalkan medsos seperti WHATSAPP juga justru merepotkan, karena sudah terlanjur dipakai banyak orang.

Media Sosial hanyalah sarana, tergantung kita memanfaatkannya. Selebihnya tinggal anda yang memutuskan !

Catatan : pada tulisan berikutnya akan sy posting artikel “TELEGRAM sebagai MEDIA PEMBELAJARAN”. Media ini sudah sy manfaatkan dalam proses perkuliahan. Dengan model pembelajaran SCL saat ini, media komunikasi, ekspresi dan informasi seperti Telegram sangat powerfull dimanfaatkan.

alifis@corner 180418 : 02:11

pic : Praboto.wordpress.com dan kompasiana.com, sumber : cnn.indonesia

Dipublikasi di Relief Kehidupan | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar

Safana AMFOANG

IMG_20180408_210333

Taman ‘raksasa’ nan indah membentang. Lelogama – Fatumonas nikmat dipandang. Sejuk menelusup disela jejeran pegunungan. Ratusan tahun, tidak pudar dilibas zaman.

Kuda dan sapi berlarian bebas, tiada henti. Asli merdeka betulan, tanpa kekang tali. Rumput tipis terhampar bagai permadani. Ratusan hektar lekuk bukitnya, asri alami.

Masih perlukah mengemis pada penguasa. Tuk menguak apa adanya pada dunia. Bisakah perubahan datang secepat kilat. Bagai mimpi, jalanan mulus mengkilap.

IMG_20180407_093037

Tak perlu lagi berpikir seribu kali. Bumi Amfoang mengundang jejak kaki. Paras dan pesona indahnya, getarkan hati. Tak lama lagi, lirikan maut menghampiri.

Engkau, Menghibur tamu menuju puncak Timau.Nantinya, Observatoriumlah yang dituju. Menelisik bintang langit, kala gelap merayap. Kau, tetaplah safana Amfoang yg memikat.

Penfui, 080418 22:20

 

 

 

Dipublikasi di Alifis Kata | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar

Filosofi Lampu

Lampu adalah sumber cahaya buatan, memiliki daya tarik yaitu di saat kegelapan. Memang bukan hal yang fantastik atau apalah namanya, namun itulah bukti “indah pada waktunya”.

“Golek dalan padhang.” Wong Jowo lekat dg nasehat ini. Hidup di dunia, mesti mencari jalan terang. Padhang (terang) berarti tempat yg dekat pd sumber cahaya.

Makna spiritualitas dg keberadaan lampu adalah untuk selalu mendekat pd Allah, sumber kebaikan, menuntun jalan yg benar, tidak mendekati kegelapan—yang bisa diartikan sebagai hal-hal yg menyesatkan.

Di saat manusia terjerumus dalam kegelapan, dibutuhkan cahaya penerang untuk menyinari hatinya. Dengan cahaya itu manusia tidak akan merasakan yang namanya kegelapan

Saat kita berada dlm suatu masalah, ibarat dlm kebuntuan solusi, dlm kegelapan. kemudian menemukan ide solusi. Itulah yg disebut titik terang. Jalan itulah yang membuat hati, pikiran, dan perasaan mampu mengarahkan tindakan pada nilai-nilai positif yang akan membawa kebaikan.

Agar lampu tetap menyala, kita harus terus mengisi minyak di dalamnya. Dengan belajar, dg membagi ilmu, dg beramal dan lain sebagainya.

Orang menikah, Sekolah, Bekerja mencari nafkah, itu berarti bagian dr ibadah, menjalani jalan terang, utk dirinya sendiri, keluarga dan orang lain.

Namun, menjalani jalan terang jg mesti bijak pd diri sendiri. Tidak berlebih lebihan, tdk jg kurang. Kalau berlebihan silau, tak tampak lg jalan dan menjerumuskan. Kisah laron-laron dan lebah yg euforia pd cahaya, bukan terangnya yg didapat tetapi panasnya yg membakar. Kalau cahaya yg menerangi jalanan tidak cukup terang, maka bisa kesasar pd gang gang sesat yg menuntun pd kebinasaan dan kehinaan.

Sekian. 010418 17:30

pic: pohon lampu, Naka Hotel

Dipublikasi di Relief Kehidupan | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar

Ghost Fleet & Logika Biner

yippyehey

Ghost Fleet, kapal hantu menggemparkan Indonesia !!! Fenomenal, walau ga sementereng The Flying Dutchman, kapal hantu di Pirates of the Caribbean. Ghost Fleet. hanyalah judul dari sebuah buku novel. Novel non fiksi dg latar perang dunia ketiga yg melibatkan 3 negara besar Tiongkok, Amerika Serikat dan Rusia di tahun 2030-an. Salah satu penulisnya, Peter Warren Singer adalah seorang peneliti politik dan perang, tentu amat wajar isinya cukup representatif terkait dg konstelasi geopolitik wilayah Pasifik dlm perebutan cadangan energi minyak bumi.

Tengok 2 karya Singer yg lain di amazon.com. “Wired for War: The Robotics Revolusioner and conflict on the 21centurys” dan “Cybersecurity and Cyberwar. What Everyone Needs to Know“. Tidak jauh dr Perang, hegemoni politik global, teknologi perang mutakhir, Artificial Intelligency. Semuanya Best Seller!!!.

Selain itu, Singer dikenal sebagai editor lepas dari majalah sains dan teknologi, ‘Popular Science’. Sah, artinya Singer bukan penulis biasa, dan ‘A Novel of The Next World War. Ghost Fleet‘, bukan karya ‘kacangan’.

Aslinya, urusan yg satu ini, Singer jg bukan yg pertama. Jared Diamond, ilmuwan asal Amerika Serikat (peraih penghargaan bergengsi Pulitzer 1997), dalam sebuah pidatonya pernah mengatakan bahwa negara seperti, Indonesia, Columbia dan Philipina, adalah contoh termasuk peradaban yang sebentar lagi akan punah. Nah loh, 😦

Kok ‘Ghost Fleet’ bs ramai dan fenomenal di Indonesia?

Pertama. Indonesia musnah. Ada secuplik alur cerita yg menyebut Indonesia. Itu jelas, walau bukan plot utama. Anggaplah peran pelengkap, tp yg tdk enak. Mengapa?

Ada gambaran ttg hancurnya negara Indonesia di tahun 2030. Pada masa ’12 tahun ke depan’ itu, Indonesia ditulis sebagai negara yang ‘gagal’, terjadi kekacauan di mana-mana, dan yg ‘bikin baper’ terjadinya perang di Timor. Nah Loh!? ini Khan di wilayah yg saat ini kupijak, 🙂 .

Kenapa di Timor? Singer yg punya data dan argumen. Menyangkut sengketa Celah Timor yg kaya minyak? Atau kerusuhan regional terkait chaos ekonomi, politik? Dalam negeri atau konflik perbatasan? Kita tidak tahu, hanya berharap hal tersebut tak terjadi. Semua bersifat prediktif dan asumtif.

Kedua. Sosok Prabowo. Yg mengungkap sekeping ‘Indonesia’ yg berkeping-keping di 2030 adalah sosok penting di Republik ini, Prabowo. Sosok negarawan yg saat ini dlm posisi sbg mitra kritis pemerintah. Berbagai respon muncul atas ungkapan Prabowo yg mungkin lbh bermaksud sbg bentuk ‘kewaspadaan’ masa depan Indonesia, menjadi konten yg entah ‘disengaja atau tidak’ menjadi bernada ‘negatif’, ‘pesimistis’, dll. Sepertinya karakter itu tak lucu mampir di profil Prabowo yg selama ini dikenal tegas, wibawa, teguh pendirian.

Tapi, ‘wong cilik’ kayak sy, tentu tak bs menjangkau lebih dalam. Franklin Roosevelt bilang,”dalam politik tidak ada kejadian yang tidak direncanakan/ insidentil. Meskipun itu terjadi, maka yakinlah, itupun direncanakan agar terlihat seolah insidentil”.

Ketiga. Ini Tahun Politik, Broo… Apapun yg terlontar di publik berkaitan dg kekuasaan, politik, kepentingan publik, perekonomian, demokrasi, hak asasi, kedaulatan rakyat, dan lain lain, pasti rame diperbincangkan. Sekian Tera Byte (TB) data digital tiap waktunya digelontorkan dr jempol2 yg bercuap-cuap, tarik ulur argumen dan kepentingan. Di tahun ini, tidak ada lagi kata yg tdk dimaknai. Semua kata menjadi bersayap, bak kupu kupu yg melayang entah kemana tujuan…hehehe.

Keempat. Publik Terbelah. Samuel Huntington tahun 1992 pernah mengatakan bahwa dunia akan menghadapi fenomena Clash of Civilization setelah perang dingin usai, teori itu mengatakan bahwa identitas budaya dan agama seseorang akan menjadi sumber konflik utama di dunia di masa depan. Meski dikritik banyak orang, teori Huntington tersebut nampak ada benarnya juga ketika kita melihat berbagai konflik yang terjadi di dunia saat ini.

Namun ketika saat ini internet dan media sosial tidak bisa kita pisahkan dari kehidupan sehari-hari, benturan-benturan peradaban justru terjadi dalam skala dan ruang lingkup yang kecil, bukan lagi benturan antar bangsa atau antara peradaban, tapi yang terjadi adalah benturan antar kelompok masyarakat atau bahkan antar individu. Alvara Research Center menyebutnya Clash of “We”. Silahkan klik untuk membacanya, [Clash of We]

Masyarakat menjadi semakin terbelah antara aku atau kamu, antara kami atau mereka. Perdebatan tidak produktif semakin kerap terjadi, perdebatan itu bukan lagi untuk mencari yang benar atau salah tapi lebih menjurus pada menang-kalah. Kita pada akhirnya hanya akan mencari informasi yang cocok dengan keyakinan kita dan kita akan merasa puas apabila menemukan informasi yang mendukung argumentasi kita dalam mengalahkan pihak “lawan” meski informasi itu tidak jelas sumber dari mana.

Cermati di medsos. Menurut survey 2015 37,8% (93,4 juta jiwa) warga Indonesia sdh terkoneksi internet dan dominan diusia anak muda. Tahun depan, 2019 diprediksi menjadi 133,5 juta jiwa. Woow, internet menjadi penjajah baru di rumah2 tangga, anak anak direbut dari ortunya. Sesungguhnya musuh yg paling berbahaya adalah yg plg dekat dg diri kita, sialnya diri pribadi justru terlena karena tidak menyadarinya. Televisi, smartphone, radiasi EM, dll. Unik baca di tulisan yg dicuplik Renald Khasali, tentang keberadaan televisi di awal2 70, yg mampu merebut harmoni cinta dalam keluarga. Untuk saat ini, hangpong hangpong menjadi idola ‘hantu’ jaman NOW. Kalo mau baca lihat postingan sy terdahulu : [Orang Asing : The Stranger].

Logika Biner…

Prihatin ya, medsos menjadi media penggerak jiwa-jiwa generasi muda Indonesia saat ini. Baik buruknya, positif negatifnya, konstruktif destruktifnya medsos saat ini, dan bagaimana generasi seusia ‘mahasiswa’ saat ini berproses, itulah wajah bangsa Indonesia di tahun 2045. Saat dimana usia kemerdekaan sudah 100 tahun? sampaikah kita di 2045, Indonesia Emas? atau sudah terhenti di 2030 sesuai dengan prediksi di Novel Ghost Fleet?

Kita tidak tahu dan tidak bs meyakini ini akan terjadi di masa depan. Langkah yg terbaik adalah WASPADA, sebagai pengingat bangsa Indonesia adalah bangsa kaya yg besar, dimana bangsa lain berambisi utk menguasainya. Prabowo tidak salah dalam konteks kewaspadaan.

Jadi jangan membiasakan diri berfikir biner !!!. Kata Derrida dlm Dekonstruksi, kebiasaan berpikir “oposisi biner” itu implikasinya akn melahirkan “hirarki dan sub-ordinasi”, biasanya alam bawah sadarnya cenderung menganggap yg satu tinggi dan yg satu rendah, satu konotasinya positif dan satu konotasinya negatif, satu di atas satu di bawah. Itu namanya “hirarki dan sub-ordinasi”. Benar di saya, salah di kau !!! Ampyunn…

Yang menyarankan utk berfikir ‘optimis’ dan ‘positif’ jga betul asal tidak secara bersamaan menghujat aspek kehatihatian, kewaspadaan. Karena berfikir positif dengan menyalahkan dan menganggap pendapat yg lain negatif dan tidak membawa manfaat, itu juga bentuk egoisme. Nah khan…

Yang paling bijak, berfikir dan bersikap bijak…hahaiiii. Jadilah orang bijak. Bagaimana trik menjadi orang bijak? Tidak ada triknya, karena trik itu cara cara instan. Jadi jangan berprinsip instan. Bagaimana menghindari utk bertindak instan, ya tentu menghargai proses. Kalau anda masih baca tulisan saya sampai alinea ini, berarti anda orang yg mngkin sukses dalam berproses…karena tulisan ngelantur bgini masih diikuti…hahaha.

Slamat siang. Ijin upload dan undur diri utk menunaikan tugas, mengisi kepala-kepala anak muda yg jd pemimpin di 2045. INDONESIA EMAS…

alifis@corner 270318 13:31

pic by yippiehey

Dipublikasi di Alifis Jurnalistik | Tag , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Melaju Dalam Jiwa

Berkendara dlm sanubari
Membelah berkas mentari pagi
Meresapi angin menerpa tubuh ini
Senyum simpul menikmati

Membelah jalanan meretas ramai
Semburat manusia penduduk bumi
Menjemput rejeki dan berkah hari
Alunkan dzikir menata hati

Raga tak lelah mengamini
Seakan menyepi, tdk peduli
Semua hal di sekitar diri
Jadi orkestra indah mengiringi

Tiada lelah terasa
Walau sejuta laksa mengembara
Hati akal beresonansi dlm irama
puja puji pd Allah Ta’ala

Pandangan menebar seluas cahaya
Syukur dan damai kian terasa
Hati tertunduk dalam dalam
Menyejukkan langkah perjalanan

130318 07:17 Selepas Ternak
alifis@corner
pic: dakwatuna

Dipublikasi di Alifis Kata | Tag , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Mengenal Android: si Robot Hijau (Free Ebook)

Hadiah menarik bagi yg ingin belajar pemrograman Android. Semua lapisan masyarakat jaman NOW, tentu sdh merasakan kemudahan dari teknologi si ‘Robot hijau’ ini.

Beranekaragam produk2 berformat ‘apk’ dpt ditemui baik di Google Play atau portal2 web. Semuanya dibangun dg platform android. Ya, itu bahasa pemrograman yg digunakan untuk membangun sistem operasi pd perangkat ‘mobile’ dan termasuk mendesain aplikasi virtual, database, game, animasi, informasi, dll.

Berikut modul-modul resmi dari Google Berbahasa Indonesia yang bisa kamu akses. Modul tersebut berlisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 jadi kamu bisa mengunduhnya gratis bahkan menyebarkannya ke teman-teman kamu.

Ada dua modul pembelajaran yang disediakan yaitu modul teori (concept) dan praktik (practical). Disini saya pilihkan link berbahasa Indonesia.

Modul Teori Pemrograman Android

Modul ini berisi konsep dan teori dasar pemrograman android.

Cover Ebook Android Developer Fundamentals Course – Concept

Unduh Bahasa Indonesia:

|PDF | ePub | Mobi |

Materi yang akan kamu pelajari dari modul teori ini ialah

Unit 1. Pengenalan Dasar Pemrograman Android
Unit 2. Merancang UI/UX
Unit 3. Background Task
Unit 4. Menggunakan Database
Unit 5. Penutup

Modul Teori Pemrograman Android

Modul ini berisi praktek pemrograman android, dilengkapi dengan tugas yang harus dikerjakan.

Cover Ebook Android Developer Fundamentals Course – Practical

Unduh Bahasa Indonesia:

|PDF | ePub | Mobi |

Materi yang akan kamu pelajari dari modul praktikum ini ialah

Unit 1. Pengenalan Dasar Pemrograman Android
Unit 2. Merancang UI/UX
Unit 3. Background Task
Unit 4. Menggunakan DatabaseTugas

Video Tutorial Pemrograman Android

Jika kamu mengalami kesulitan dalam mempelajari buku, Google juga menyediakan video tutorial untuk membantu kamu lebih mudah memahami. Kamu bisa menonton video dengan transkrip Bahasa Indonesia di Udacity berikut.

Beginner Level: https://www.udacity.com/courses/ud834 & https://www.udacity.com/courses/ud836
Intermediate Level: https://www.udacity.com/courses/ud851
Advanced Level: https://www.udacity.com/courses/ud855

Slide Deck Presentasi Pemrograman Android dan Silabus Rencana Pembelajaran

Selain modul dan video, Google juga telah menyediakan slide deck presentasi berikut dengan rencana pembelajarannya. Slide deck ini lebih ditujukan untuk pengajar, guru atau dosen. Namun slide deck ini juga cocok untuk digunakan Fasilitator Indonesia Android Kejar tetapi harus di cocokkan dengan materi di Udacity.

Contoh Slide Deck Presentasi Pemrograman Android

Kamu bisa mengunduhnya di Google Drive

Souce Code atau Kode Sumber

Kode sumber ini lebih baik kamu gunakan jika kamu ingin meemeriksa apakah kode kamu sudah benar. Kamu bisa mengunduh kode sumber dari semua pembelajaran diatas melalui repository Github ini

Semoga bermanfaat!

sumber: Anna Ardiawan, cromplex.com

Dipublikasi di Remah2ilmu | Tag , , , , , , , | Meninggalkan komentar