JUANDA

Pagi ini ku belajar,  jd murid kehidupan/5 SKS dalam kebiasaan delay macan kanginan/Kuberdiam penuh perhatian/Terserak pesan dr langkah2 ketergesaan/Diantara celoteh, nasihat, gelaktawa & rayuan/Takputus2 pelayan tawarkan dagangan/Seakan tdk ada hari esok dlm perjumpaan
Bersandar duduk tak sabaran/Ujung sepatu bergoyang  perlahan/menghibur keakuan utk menahan luapan/Kerinduan akan suasana impian/Yg tertunda tunda krn ketidakpedulian

Terbatuk2 pelayan memohon kunjungan/Terkantuk2 penumpang di kursi panjang/burung besi yg dinanti tak kunjung datang/Terantuk2 tas berbenturan di roda berjalan/Berderak2 tas terseret paksa  bersliweran/Semuanya berjalan melintas kehidupan

Dari bergulirnya waktu tak terpikirkan/Sebagian dg wajah serius tak terkesan/Yg lainnya Ceria sedih bergantian/Datang pergi,  Jumpa Perpisahan/Terjadi di Juanda tanpa kesudahan

Harapan & keputusasaan/Semangat & kelunglaian/Empati & ketidakpedulian/Juanda jd pangkalan/Ujung yg tiada batasan/Dlm rangkaian huruf tak berkesudahan

Juanda,  210917 10:10

alifis@corner 

Juanda International Airport (SUB)
Jl. Ir. H. Juanda, Betro, Sedati, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur 61253
(031) 2986200

https://goo.gl/maps/62mJe6yqvD72

Iklan
Dipublikasi di Alunan Kata | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar

SAYUR LOMPONG PETE 😘

Kemaren siang,  kami dibawain sayur lompong PETE lagi.  jadi ini terhitung yg kedua sejak balik libur mudik lebaran.  Alhamdulillah… 

Saat itu kesannya aq tuliskan  juga di IG.  Kesan yg sama,  uenakk, lezat, sangat bercitarasa Jawa… hahaha

Ini tulisan aq,  yg terdahulu. 

Obat Rindu Citarasa Tradisional Jawa

____________________________________

Siang tadi,  istri bawa sayur LOMPONG PETE, pemberian dr Bu Sajiman, sedulur Jawa di Kel. Penfui. Lompongnya IMPOR dr Jogja, dioleh2i tetangga yg datang. Wikk, LOMPONG nya nyebrang 5 provinsi, puluhan pulau,  Di ketinggian 10.000 kaki,  trus dimasak…. Amazing bangett. 

Surprise benar,  krn selama di NTT ini kali yg kedua ketemu sayur khas Jawa,  yg mungkin orang Jawa yg di Jawa sendiri sdh jarang memasaknya. Alhamdulillah… 

______________________________referensi

Lompong/Talas (Colocasia esculentia Schott) saat disayur diambil batangnya.  Sayuran ini memiliki kandungan yang sangat penting bagi manusia, diantaranya yaitu ada protein, karbohidrat, lemak, kalsium, vitamin, fosfor, dan zat besi. Dan kandungan yang peling terkenal dari Lompong adalah polifenolnya. 

Kasiat nya,  diantaranya (Kasiat.co.id) 

1. Mengobati Diare

2. Menyembuhkan Biduren

3. Mencegah Sakit Maag

4. Kaya Akan Vitamin

5. Menjaga Kesehatan Mata

6. Menyembuhkan Sakit Kepala

7. Bikin Badan Jadi Sixpack

8. Membantu Meregenerasi Sel yang Rusak

9. Mencegah Diabetes Mellitus

10. Menjaga Kesehatan Otak

Dipublikasi di Jasmerah, Relief Kehidupan | Tag , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Bila Usiamu Telah Sampai 40 Tahun

Berkenaan dengan usia 40 tahun, Allah SWT berfirman:

حَتَّى إَذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِيْنَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِى أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِى أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِى فِى ذُرِّيَّتِى إِنِّى تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّى مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

“…Apabila dia telah dewasa dan usianya sampai empat puluh tahun, ia berdoa: ‘Ya Tuhanku, tunjukkanlah aku jalan untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu-bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang Engkau ridhai dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir terus sampai kepada anak-cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang Muslim’ (QS. Al-Ahqaf:15)

Bila usia 40 tahun, maka manusia mencapai puncak kehidupannya baik dari segi fisik, intelektual, emosi, maupun spiritualnya. Ia benar-benar telah meninggalkan masa mudanya dan melangkah ke masa dewasa yang sebenar-benarnya.

Bila usia 40 tahun, maka manusia hendaklah memperbarui taubat dan kembali kepada Allah dengan bersungguh-sungguh, membuang kejahilan ketika usia muda, lebih berhati-hati, melihat sesuatu dengan hikmah dan penuh penelitian, semakin meneguhkan tujuan hidup, menjadikan uban sebagai peringatan dan semakin memperbanyak syukur.

Bila usia 40 tahun, maka meningkatlah minat seseorang terhadap agama, meski semasa mudanya jauh sekali dengan agama. Banyak yang akhirnya menutup aurat dan mengikuti kajian-kajian agama. Jika ada orang yang telah mencapai usia ini, namun belum ada minatnya terhadap agama, maka ini pertanda yang buruk dari kesudahan umurnya di dunia.

Bila usia 40 tahun, maka tidak lagi banyak memikirkan “masa depan” keduniaan, mengejar karier dan kekayaan finansial. Tetapi sudah jauh berpikir tentang nasibnya kelak di akhirat. Bahkan tak hanya memikirkan dirinya semata, tapi juga nasib anak-istrinya, seperti ujung doa indah ayat di atas “…dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku…”

Bila usia 40 tahun, maka akan sulit diubah kebiasaan pada usia-usia sesudahnya. Jika masih gemar melakukan dosa dan maksiat, seperti meninggalkan shalat, berzina, dll, maka akan sulit baginya untuk berhenti dari kebiasaan tersebut.

Bila usia 40 tahun, maka perbaikilah apa-apa yang telah lewat dan manfaatkanlah dengan baik hari-hari yang tersisa dari umur yang ada, sebelum ruh sampai di tenggorokan. Ingatlah menyesal kemudian tiada guna.

Abdullah bin Abbas ra berkata: “Barangsiapa mencapai usia 40 tahun dan amal kebajikannya tidak mantap dan tidak dapat mengalahkan amal keburukannya, maka hendaklah ia bersiap-siap ke neraka.”

Imam asy-Syafi’i rahimahullah tatkala mencapai usia 40 tahun, beliau berjalan sambil memakai tongkat. Jika ditanya, maka beliau menjawab: “Agar aku ingat bahwa aku adalah musafir. Demi Allah, aku melihat diriku sekarang ini seperti seekor burung yang dipenjara di dalam sangkar. Lalu burung itu lepas di udara, kecuali telapak kakinya saja yang masih tertambat dalam sangkar. Komitmenku sekarang seperti itu juga. Aku tidak memiliki sisa-sisa syahwat untuk menetap tinggal di dunia. Aku tidak berkenan sahabat-sahabatku memberiku sedikit pun sedekah dari dunia. Aku juga tidak berkenan mereka mengingatkanku sedikit pun tentang hiruk-pikuk dunia, kecuali hal yang menurut syara’ lazim bagiku. Di antara aku dan dia ada Allah.”

Abdullah bin Dawud rahimahullah berkata: “Kaum salaf, apabila di antara mereka ada yang sudah berumur 40 tahun, ia mulai melipat kasur, yakni tidak akan tidur lagi sepanjang malam, selalu melakukan shalat, bertasbih dan beristighfar. Lalu mengejar segala ketertinggalan pada usia sebelumnya dengan amal-amal di hari sesudahnya.” (Ihya Ulumiddin IV/410)

Imam Malik rahimahullah berkata: “Aku dapati para ahli ilmu di negeri kami mencari dunia dan berbaur dengan manusia hingga datang kepada mereka usia 40 tahun. Jika telah datang usia tersebut kepada mereka, mereka pun meninggalkan manusia (yaitu lebih banyak konsentrasinya untuk meningkatkan ibadah dan ilmu).” (At-Tadzkirah hal 149)

Muhammad bin Ali bin al-Husain rahimahullah berkata: “Apabila seseorang telah mencapai usia 40 tahun, maka berserulah penyeru dari langit: ‘Waktu berpulang semakin dekat, maka siapkanlah perbekalan.’

An-Nakha’i rahimahullah berkata: “Sebelumnya mereka menggapai dunia, di saat menginjak usia 40 tahun mereka menggapai akhirat” (At-Tadzkarah al-Hamduniyah VI/11)

Wahai saudaraku, bagaimana dengan dirimu? EH / Islam Indonesia : https://islamindonesia.id/hikmah/bila-usiamu-telah-sampai-40-tahun.htm

Dipublikasi di Relief Kehidupan | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar

​Pesona PURNAMA Bulan 🌕🎑🌇


Putih bulat menyapa di halaman
Mengintip disela hijau dedaunan

Dilangit gulita pekat kehitaman

Hiburlah orang2 yg kesepian

Temanilah insan yg kasmaran

Mulia hadirmu,  tak tergantikan
#bulan #bulanpurnama #malam #penfui #timor #ntt #alifis #asliindonesia

Dipublikasi di Relief Kehidupan | Tag , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

​Clash of We: Ketika Publik Semakin Terbelah

Oleh : Hasanuddin Ali

Penetrasi pengguna internet di Indonesia beberapa tahun belakangan ini memang fantastis, menurut laporan yang di rilis oleh Statista, tahun 2015 pengguna internet di Indonesia mencapai 93.4 juta orang atau mencapai 37,8 %  dari seluruh populasi penduduk Indonesia sudah terkoneksi dengan internet. Pengguna internet Indonesia akan terus bertambah dan diprediksikan tahun 2019 akan mencapai 133.5 juta jiwa.
Selain jumlah pengguna internet yang besar, tingkat konsumsi pengguna internet Indonesia juga termasuk tinggi, hasil survey yang dilakukan oleh Alvara Research Center tahun 2015 menyebutkan pengguna internet Indonesia menghabiskan waktu rata-rata 3 – 4 jam dalam sehari dalam mengkakses internet. Akses internet yang tinggi itu sebagian besar digunakan untuk akses browsing, social media, dan instant messaging.
Banyak yang mengatakan bahwa dalam era internet ini informasi menjadi semakin tidak terbatas, sekarang kita masuk di era informasi dimana selain informasi yang sangat melimpah, peredaran dan perputaran informasi semakin cepat dan dinamis. Informasi datang dan pergi dengan begitu cepatnya.
Menyikapi fenomena ini mesin pencari raksaa Google “harus mengatur” search engine nya dan Facebook mengkastemisasi newsfeednya agar sesuai dengan karakter dan interest setiap akun Facebook.

Cobalah Anda bersama teman-teman Anda memasukkan kata kunci yang sama di mesin pencari Google, maka Anda dan masing-masing teman Anda akan mendapatkan hasil pencarian yang berbeda. Begitu juga coba amati Facebook Anda, Anda akan tersadar bahwa yang ditampilkan di newsfeed Anda akan cenderung memiliki topik yang sama dari teman yang itu-itu saja.
Kenapa bisa demikian? Karena Google dan Facebook secara “diam-diam” telah mengamati dan mempelajari perilaku kita ketika berselancar di internet dan social media. Ketika kita sering posting terkait kuliner maka Facebook kita akan banyak dihiasi oleh kuliner. Jika kita sering mencari perihal kegamaan dari paham tertentu maka mesin pencari Google maka akan secara otomatis Google menampilkan hasil yang sesuai dengan paham keagamaan yang sering kita cari.
Niat baik dari Google dan Facebook tadi dalam jangka pendek mungkin bagus, karena informasi-informasi yang sampai kepada kita adalah informasi yang relevan dengan kepentingan dan kebutuhan kita. Namun dalam jangka panjang secara tidak sadar informasi yang sampai kepada kita hanya itu-itu saja. Kita terjebak kepada frame informasi dan pemikiran monoton dan monolitik. Kita pada akhirnya kehilangan keragaman informasi yang sebetulnya berguna untuk memperkaya wawasan kita.Konsekwensi logis dari fenomena ini adalah semakin terbelahnya publik akibat dari perbedaan-perbedaan informasi yang kita peroleh.
Samuel Huntington tahun 1992 pernah mengatakan bahwa dunia akan menghadapi fenomena Clash of Civilization setelah perang dingin usai, teori itu mengatakan bahwa identitas budaya dan agama seseorang akan menjadi sumber konflik utama di dunia di masa depan. Meski dikritik banyak orang, teori Huntington tersebut nampak ada benarnya juga ketika kita melihat berbagai konflik yang terjadi di dunia saat ini.
Teori Huntington itu muncul sebelum era internet dan social media mewabah didunia, sehingga tesis itu merespon fenomena global. Namun ketika saat ini internet dan social media tidak bisa kita pisahkan dari kehidupan sehari-hari, benturan-benturan peradaban justru terjadi dalam skala dan ruang lingkup yang kecil, bukan lagi benturan antar bangsa atau antara peradaban, tapi yang terjadi adalah benturan antar kelompok masyarakat atau bahkan antar individu. Saya kemudian menyebutnya Clash of “We”.
Masyarakat menjadi semakin terbelah antara aku atau kamu, antara kami atau mereka. Perdebatan tidak produktif semakin kerap terjadi, perdebatan itu bukan lagi untuk mencari yang benar atau salah tapi lebih menjurus pada menang-kalah. Kita pada akhirnya hanya akan mencari informasi yang cocok dengan keyakinan kita dan kita akan merasa puas apabila menemukan informasi yang mendukung argumentasi kita dalam mengalahkan pihak “lawan” meski informasi itu tidak jelas sumber dari mana.
Lalu apa yang harus kita lakukan dalam mengurangi dampak clash of “we” ini?. Pertama dan yang terpenting adalah perlu adanya kedewasaan diri dalam mencerna setiap informasi yang kita terima, selalu gunakan akal sehat, jangan mudah terseret dalam arus informasi yang muncul. Kedua, biasakan selalu cross check setiap informasi yang kita terima, informasi terpercaya adalah apabila informasi sudah diberitakan oleh media-media yang kredibel. Ketiga, yang terakhir jaga dan batasi jempol kita untuk tidak mudah menshare setiap informasi baik di social media atau grup-grup instant messaging yang kita ikuti.
Web ; hasanuddinali.com

*Sumber Gambar: https://foundersgrid.com/social-media-marketing/
 

Dipublikasi di Relief Kehidupan | Tag , , | Meninggalkan komentar

​#Mudik2017 : Flying With The Wind …✈✈✈

__________________________________🌲🌲🌲

Langit biru di gugusan Nusa Tenggara/Bagai kanvas luas tiada batas/Dilukisi comulus yg sesekali menyapa/Selebihnya  bersih jernih bagai permadani surga. . 
Ini harusnya jd tulisan penutup dari seri #Mudik2017, krn menelisik sepenggal perjalanan balik ke rumah,  di Tanah Timor,  NTT.  Kupang-Surabaya-Nganjuk-Kediri-Pasuruan-Malang. Itu Kota2 di Jawa Timur yg kami jelajahi.  Selintas petualangan dan kesan di persinggahan Kota2 tersebut.  Dari bendungan Kulak Secang,  Pertapaan Syekh Belabelu, Masjid Cheng Ho, Sanggar Agung Tri Dharma, Pujon Batu,  Cuban Rondo, Gumul, Kolam kodok.  Mudah dijangkau… 

Hanya Bromo, Penanjakan dr arah Probolinggo dg view dan petualangan eksotis, yg sdh direncana dr awal malah tdk jadi. Selebihnya,  kumpul silaturahmi dg keluarga. Kumpul keluarga, itulah momen yg paling membahagiakan. 

Back to Home… Home Sweet Home.  ada mudik ada balik. Banyak hal,  kesan,  pengalaman baru,  pembelajaran,  yg sll menyertai dlm sebuah perjalanan yg unik “mudik”. 

Tidak bs diceritakan satu persatu,  tdk mampu dituliskan runtut seiring waktu.  Jd tulisan di Blog ini ttg #mudik2017 sepertinya tdk akan dpt dibaca seperti rangkaian kisah yg terurut. 

Nusantara,  khususnya Nusa Tenggara dr angkasa pd ketinggian 8000 ~ 10000 kaki, sll menarik.  Inilah beberapa hasil jepretan yg menunjukkan betapa indahnya Indonesia,  kalo disadari oleh warga negaranya.  

Allah Maha Indah,  Allah Maha Kaya, Allah Maha Pencipta,  dan Allah Maha Kuasa. 

__________________________________⚓⚓⚓

Laut dalammu biru menua/Laut dangkalmu renyah tertawa/Garis pesisirmu bak perawan dlm pingitan/Alami berserak tak tersentuh perompak. ……… __________________________________🌵🌵🌵

Saat ini, Musim berganti, kemarau menghampiri/Tanah karangmu bagai mimikri/Kehijauan, Kekuningan lalu kecoklatan/Disinilah di Timor, Tanah airku. 

#timor #tanahjawa #mytripmyadventure #fly #mudik2017 #idulfitri1438h #idulfitri #kupang #explore #01Juli2017

| Meninggalkan komentar

#Mudik2017 : Referensi Sungkeman

Sungkeman bs menjadi sebuah kajian menarik yg perlu dicermati dg sebaik2nya. Terutama dlm Islam,  sungkeman ad bukan Rukun Islam maupun Iman. Pro kontra dlm memaknai sungkeman ad hal biasa dlm urusan khilafiah. Berikut referensi yg aq copy mentah2 dr aslinya,  dg sy tertekan link.  
Wujud (menyembah) itu memang hanya kepada Allah, bukan kepada orang tua. Lalu bolehkah kita sungkem? Atau adakah sujud yang bukan menyembah? Bagi yang terbiasa tidak sungkem, mungkin tidak mengapa, tetapi bagi orang yang terbiasa merendahkan dirinya dihadapan orang tua. Pada momen idul fitri, sungkem terasa sebagai berjuta bakti yang sulit diungkap dikarenakan sayang tak berhingga dari kedua orang tua kita. 
​Memang sungkem adalah gerakan membungkuk kepada orang tua, sebagai wujud kerendahan seorang anak kepada orang tua, dan bukannya bersujud atau menyembah orang tua. Sebenarnya membungkukkan badan tidaklah dilarang. Sebagaimana firman Allah swt dalam surah Al Israa ayat 24 Allah yang artinya:

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”

Ternyata, Banyak orang mengira bahwa arti atau makna sungkem adalah sujud yang diidentikkan dengan menyembah, sehingga banyak orang yang berpikir bahwa sungkem itu adalah menyekutukan-Nya. Anggapan semacam itu tentu tidak benar, mengingat kisah dimana Nabi Yusuf pernah menaikkan kedua orang tuanya ke atas sebuah Singgasana dan menerima sujud dari kedua orang tuanya. Sujud disini tidak diartikan sebagai menyembah, melainkan suatu penghormatan. Kisah sujud yang tidak semata-mata menyembah terdapat dalam Al-Quran surah Yusuf ayat 101 yang Artinya:

“Dan ia menaikkan kedua ibu-bapanya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. Dan berkata Yusuf: “Wahai ayahku inilah ta’bir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan. Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir, setelah syaitan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.

Sujud disini ialah sujud penghormatan bukan sujud ibadah. Persoalan hubungan kepada Allah taala dan juga hubungan kepada orang tua sangat tegas dalam Al-Quran. Kita dituntut untuk berbuat baik kepada orang tua, bahkan kita disuruh merendahkan diri kita dihadapan mereka, kecuali jika kita disuruh menyembah orang tua.

Sungkem dilakukan dalam posisi orang tua sedang duduk, sehingga jika si anak merendahkan diri tentunya dia harus melakukan jongok. Dalam hal ini, memang ada adat sungkem yang menggunakan sungkem secara berlebihan, dengan gerakan mirip “sembah” (kedua telapak tangan bertemu, diletakkan di atas kepala dan wajah), misalnya di kraton. Apabila gerakan itu memang ditujukkan untuk menyembah dan bukannya untuk sekedar menghormati, maka itu bisa dipastikan haram dan memang dilarang. Sebagaimana Allah swt berfirman dalam surah Al-Ankabut ayat 9 yang Artinya:

“Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu- bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”.

Batasan antara menyembah dengan penghormatan tentunya bukan dilihat dan didefinisikan dari sebuah gerakan, melainkan dari niatnya. Gerakan menyembah di tiap agama, budaya, bangsa akan berbeda. Ada yang menyembah dengan bersujud, membakar dupa, berjongkok, berbaring, bahkan juga berdiri dll. Tentunya perbedaan antara menyembah dengan bukan menyembah, adalah terletak pada niatnya. Berbuat baik, patuh dan menuruti perkataan orang tua, tetapi tidak menyembah mereka juga tertulis dalam surah Al Isra ayat 24. Allah SWT menegaskan:

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”

Sungkem adalah wujud kerendahan diri, bakti seorang anak kepada orang tua sebagaimana telah dibahas dalam surah Al Isra ayat 24 di atas. Allah menyuruh anak berbakti kepada orang tua agar supaya dijauhkan dari perbuatan sombong lagi durhaka. Sebagaimana firmannya dalam surah Maryam ayat 15 yang Artinya:

“dan seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka”.

Kesadaran untuk berbuat baik kepada mereka karena sesungguhnya orang tualah yang telah membesarkan dan merawat kita diwaktu kecil. Sebagai mana Allah SWT berfirman dalam surah As Syura ayat 16 yang artinya:

” Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”

Apapun penafsiran dan sangkaan manusia dalam setiap baik dan buruknya amalan kita, sesungguhnya bagi diri kita adalah bagaimana niat kita dalam menjalankan ibadah. Niat inilah yang membedakan antara menyembah ataupun menghormat, dan sesungguhnya Allah lah yang maha mengetahui segala sesuatu. Sebagai mana Allah berfirman dalam surah Yunus ayat 37;

“Dan kebanyakannya dari mereka, tidak menuruti melainkan sesuatu sangkaan sahaja, (padahal) sesungguhnya sangkaan itu tidak dapat memenuhi kehendak menentukan sesuatu dari kebenaran (iktikad). Sesunguhhnya Allah Maha Mengetahui akan apa yang mereka lakukan”

Niat inilah yang membedakan antara perbuatan baik dan buruk juga dijelaskan dalam kitab Riyadhus sholihin: Dari Amiril Mukminin-Abu Hafash-Umar bin al-Khaththab bin Nufail bin Abdul Uzza bin Riyah bin Abdillah bin Qurth bin Razah bin Ady bin Ka’ab bin Luayyin bin Gholib al-Qurasyi al-Adawi r.a. berkata:

“Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: sesungguhnya segala perbuatan itu bergantung pada niatnya. Sesungguhnya tiap-tiap orang mempunyai sesuatu yang diniati (baik maupun buruk). Maka, barang siapa yang berhijrah (dari tempat tinggalnya ke madinah) untuk mencapai ridha Allah dan rasulNya (dan hijrah tersebut diterimaNya). Barang siapa yang hijrahnya untuk mencari harta dunia atau seorang perempuan yang akan dikawininya, maka hijrahnya (bukan untuk mencapai ridha Allah dan Allah tidak menerimanya), tapi hijrahnya untuk tujuan hijrah itu sendiri,” (H.R. Muttaaq alaih).

Sesungguhnya ridha orang tua kita adalah ridha Allah, sebagaimana hadits berikut :

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad, Ibnu Hibban, Hakim dan Imam Tirmidzi dari Sahabat dari sahabat Abdillah bin Amr dikatakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ridha Allah tergantung kepada keridhaan orang tua dan murka Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad (2), Ibnu Hibban (2026-Mawarid), Tirmidzi (1900), Hakim (4/151-152))

Berbakti Kepada Orang Tua Merupakan Sifat Baarizah (yang menonjol) dari Para Nabi. Dalam surat Ibrahim ayat 40-41: “Wahai Rabb-ku jadikanlah aku dan anak cucuku, orang yang tetap mendirikan shalat, wahai Rabb-ku perkenankanlah doaku.Wahai Rabb kami, berikanlah ampunan untukku dan kedua orang tuaku. Dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab.”

Kemudian dalam An Nahl ayat 19 tentang nabi Sulaiman ‘alaihi salam. Maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa, “Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah engkau anugrahkankepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan untuk mengajarkan amal shalih yang Engkau ridlai dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih.”

Ayat-ayat diatas menunjukan bahwa bakti kepada orang tua merupakan sifat yang menonjol bagi para nabi. Semua nabi berbakti kepada kedua orang tua mereka. Dan ini menunjukan bahwa berbakti kepada orang tua adalah syariat yang umum. Setiap nabi dan rasul yang diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala ke muka bumi selain diperintahkan untuk menyeru umatnya agar berbakti kepada Allah, mentauhidkan Allah dan menjauhi segala macam perbuatan syirik juga diperintahkan untuk menyeru umatnya agar berbakti kepada orang tuanya.

Bahwa berbakti kepada kedua orang tua dalam amal adalah yang paling utama. Dengan dasar diantaranya yaitu hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disepakati oleh Bukhari dan Muslim. Dari sahabat Abu Abdirrahman Abdulah bin Mas’ud radliallahu ‘anhu:

“Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang amal-amal paling utama dan dicintai Allah? Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘pertama Shalat pada waktunya (dalam riwayat lain disebutkan shalat diawal waktunya), kedua berbakti kepada kedua dua orang tua, ketiga jihad di jalan Allah’.” [HR. Bukhari I/134, Muslim No. 85, Fathul Baari 2/9]

referensi :

http://www.indonesiamenulis.com/2009/09/pengertian-dan-hukum-sungkem-sungkeman.html

ilustrasi : solopos

| Tag , , , , , , , | Meninggalkan komentar